Would it be ok if I took some of your time?
Would it be ok if I wrote you a rhyme?
Would it be ok if I opened my heart?
Would it be ok if I took on the part
Of being your man and showed you a view,
One that only a real man could do?
Would it be ok if I could make you smile?
Would it be ok if I held you awhile?
Would it be ok if I kissed your face?
Would it be ok if I were to replace
All the men in your past that just wouldn't do
And vow to be faithful and always be true?
Would it be alright to look in your eyes?
Would it be alright to never tell lies?
Would it be alright to find a way?
Would it be alright to long for the day
To pull you close and whisper in your ear
And tell you our feelings are nothing to fear?
Would it be ok if I took some of your time?
Would it be ok if I wrote you a rhyme?
To tell you there's nothing I'd rather do
Than spend my whole life loving only you...
a sweet love poem by Ryan Stiltz
◇•◇•◇
Ellen masih mematut dirinya di cermin, kemudian menatap tubuhnya dari ujung rambut hingga jempol kaki. Sudah hampir dua jam ia menatap kaca berukuran besar yang memantulkan seluruh bayangannya itu. Demi apapun, Ellen sangsi. Terutama pada hal-hal yang berhubungan dengan Isabella.
“Tuan Putri, kenapa Anda tidak mengeringkan rambut dengan benar?” Frita tiba-tiba berdiri di belakang Ellen, kemudian meletakkan nampan yang dia bawa sebelum mengambil handuk kecil. “Di musim dingin seperti ini jangan sampai tidur dengan rambut basah, nanti Putri bisa sakit.” lanjutnya.
Ellen masih menatap bayangannya di cermin. Baru kali ini ia merasa tidak puas dengan kecantikannya sendiri, padahal ketika masih di New York dulu dia sangat percaya diri dengan penampilannya. Bahkan wanita itu sempat mendapatkan gelar sebagai The Most Beautiful Woman In The World’ saat tahun pertamanya debut. Mungkin kalau Bella hidup di New York, dia akan menjadi juara bertahan untuk kategori itu.
“Frita, apa aku cantik?” Ellen menangkup wajahnya sendiri, bola mata karamel yang terpantul di cermin memancarkan keraguan.
“Tentu saja, Tuan Putri!” Frita masih melanjutkan aktivitasnya, “Putri Mahkota kami adalah yang paling cantik sejagat raya!”
“Eiy, berlebihan sekali.” Ellen tertawa kecil, “Masa, sih, tidak ada gadis bangsawan yang lebih cantik dari aku?”
“Tentu saja,” Frita menjawab yakin, “Bahkan kalau pun ada gadis paling cantik di Orient selain Tuan Putri, maka dia akan tetap berlutut dan memberi hormat pada Anda. Jadi, jangan khawatir, Putri. Anda adalah harta rakyat Orient yang berharga.”
Lengkungan manis itu tercetak jelas pada bibir Ellen, entah kenapa perasaannya jadi lebih baik dibanding sebelumnya. Ucapan Frita mungkin sederhana, tapi tidak salah. Meskipun ada orang lain diluar sana yang lebih cantik, bahkan jika orang itu adalah Bella sendiri, Putri Mahkotanya tetap Eleanor Thyra Orient dan bukan Isabella Saac, Ellen membatin lega.
“Ell, kau baru mandi?” Ravi tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan mendapati Frita masih mengeringkan surai panjang Ellen, “Kenapa malam sekali? Lihat, sudah pukul berapa ini?”
Frita membungkuk, kemudian berdiri di samping Ellen. Wanita itu kemudian menyisir sedikit rambutnya yang sekarang sudah kering, “Frita, terima kasih atas bantuannya.”
“Kemuliaan dan Kejayaan Orient bagi Putra dan Putri Mahkota.”
Detik berikutnya Frita menghilang di balik pintu, tepat sehabis membungkuk hormat pada Putra dan Putri Mahkota. Setelahnya Ravi menghampiri Ellen yang masih duduk di depan meja riasnya. Lelaki itu kemudian berdiri di belakang Ellen sambil memegangi pundak wanita itu.
“Ada apa?” Ellen memegang tangan Ravi yang meremas lembut bahunya.
“Ada sedikit kabar baik,” Ravi tersenyum sambil menatap istrinya dari cermin, “Besok kita akan jalan-jalan ke ibu kota.”
Mata Ellen berbinar-binar, “Yang benar?”
“Ya, kita akan pergi ke kediaman Saac untuk mengantar undangan, dan setelahnya kita bisa jalan-jalan.” Ravi memeluk perempuan itu dari belakang, kemudian menyelipkan kepalanya di antara bahu dan tengkuk Ellen, “Kita belum pernah jalan-jalan keluar, ‘kan?”
“Tapi waktu ke perbatasan ….”
“Itu pengecualian, aku minta maaf soal jalan-jalan yang satu itu.” Ravi mengeratkan pelukannya, “Besok aku akan menmanimu seharian.”
Ellen mengulum senyum, membayangkan betapa menyenangkannya berada di luar istana. Tiba-tiba ia membayangkan gemerlap New York, tapi dalam skala yang jauh lebih kecil, tentu saja. Setidaknya ia bisa mencoba duduk di kafe-kafe seperti bangsawan, atau mengajak Ravi menonton opera. Mungkin juga mereka bisa menunggang kuda di sepanjang alun-alun yang ditutupi salju. Tapi tunggu! Kenapa kami harus mengantar undangan khusus untuk Isabella?
“Eum, Ravi, kenapa kita yang harus mengantarkan langsung undangannya pada Bella?” Ellen mengerjap beberapa kali sebelum melanjutkan, “Bukankah utusan dari istana saja sudah cukup?”
“Ibunda Ratu menginginkan Nona Isabella sebagai tamu kehormatan di pesta nanti.” Ravi menarik napas panjang, “Dia sudah berjasa menyelamatkan nyawa Ibunda Ratu, bukankah itu hal yang sangat pantas ia terima?”
“Tapi itu ulang tahunmu, kenapa dia yang jadi tamu kehormatan? Bagaimana denganku?” Ellen mencebik lucu, “Kenapa juga kau harus memanggilnya Nona?”
“Kau tidak suka?” Ravi mengusap lembut pucuk kepala Ellen, “Meskipun Nona Isabella datang sebagai tamu kehormatan, tapi tetap saja bintang utamanya Putri Mahkota. Jadi apa masalahnya, Tuan Putri?”
“Ah, tidak tahu! Aku mau tidur saja.” Ellen malah kesal, “Bicara saja besok pada Nona Isabella-mu itu!”
Perempuan itu kemudian bangkit dari kursi dan menghempaskan tangan Ravi; sementara pria itu cuma terkekeh geli. Ellen kemudian buru-buru naik ke tempat tidur dan menarik selimut sampai menutupi wajahnya Ravi mengulum senyum, kemudian menyusup masuk ke dalam selimut lalu menarik pinggang Ellen hingga tak ada jarak di antara mereka.
Ellen berbalik dan memunggungi lelaki itu alih-alih memeluknya erat seperti biasa. Dia kemudian mendengus kesal saat tangan Ravi memeluk erat tubuhnya.
“Hey, aku cuma bercanda, Ellen.” Ravi berbisik dengan suara baritonnya, “Jangan marah, ya ….”
Sang Putri malah menutup telinganya rapat-rapat, sontak Pangeran membalik tubuhnya. Memenjarakan gadis itu dalam kukungan tangan-tangan kuatnya. Ellen menutup mata, akan tetapi Ravi kemudian mengecup keningnya, lalu turun ke kedua kelopak matanya, dan beranjak lagi pada hidung beserta pipi sebelum akhirnya mengecup bibir Ellen perlahan.
Sepasang manik karamel itu lantas terbuka, dan mendapati jarak antara mereka semakin terkikis. Ravi tersenyum lembut, kemudian menarik tangan Ellen yang masih menutupi kedua telinganya.
“Kau lucu sekali kalau cemburu begitu,” Ravi berbisik lembut, “Dan karena itu aku semakin mencintaimu, Eleanor.”
Ellen bergeming, kemudian membiarkan dirinya terlelap dalam pelukan pria yang entah sejak kapan sudah menjadi dunianya. Aku juga mencintaimu, Ravi. Dan semakin dalam perasaan ini, semakin besar ketakutanku pada Isabella.
◇•◇•◇
Halo! Akhirnya aku bisa up! Haha. di chapter ini aku cuma mau kasih yang manis manis aja buat kalian. so, here we are. Intinya aku lagi pengen nulis yang bagus bagus dulu buat Ravi sama Ellen. Jadi ... kalian jangan lupa untuk dukung mereka. Tap LOVE pada cerita FAKE PRINCESS LOVE agar kalian mendapat notif setiap aku update. Baiklah, see you on the next chapter, ya~