Terkadang dunia ini berputar di atas sebuah kebohongan. Karena apa yang terlihat sering kali tidak seperti kejadian sebenarnya. Mereka kerap kali menyebutnya kebohongan putih, berbohong demi kebaikan. Sementara yang lainnya kebohongan hitam, berbohong demi sesuatu yang buruk. Putih maupun hitam, bukankah semuanya sama saja? Rasanya tak ada beda ketika kebohongan tetap dilakukan untuk sebuah pembenaran. Sering kali kenyataan tampak kejam, dan faktanya semua orang tidak pernah jujur pada siapapun, termasuk dirinya sendiri.
Kita semua berbohong, seperti itu kenyataan yang ada. Tak jarang gelak tawa sahut menyahut dalam setiap ucapan yang sarat akan ketidak jujuran. Mudah, mungkin seperti bernapas. Apalagi untuk orang orang tertentu. Baiklah, itu palsu dan kita semua tahu. Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Uang, kehormatan, keindahan? Dunia beserta isinya? Semua itu, bukankah untuk mereka yang terbiasa bermain-main dengan topeng? Menyembunyikan kebenaran.
Bukankah manusia memang terlahir untuk saling menipu satu sama lain?
It is really true?
Lantas mengapa tidak pergi? Kemarilah, berlari menjauh dari semua kehidupan fana ini. Mungkin keadannya akan berubah, mungkin situasi akan membaik. Mungkin ... semuanya benar-benar akan menjadi seperti yang kita mau. Karena pada kenyataannya, kita sudah terlena terlalu jauh.
Bukankah manusia begitu menikmati semua kebohongannya?
Benar, 'kan?
◇•◇•◇
Begitu pagi menjelang Ellen dan Ravi sudah bersiap-siap untuk pergi ke ibu kota. Sebenarnya Ellen tak begitu menyukai tujuan utama mereka, yaitu kediaman Keluarga Saac. Dia masih kesal pada Isabella dan segala kisah tentang gadis itu di naskah. Namun ia tidak bisa menolak titah dari Ratu Arielle. Mereka berangkat dengan sebuah kereta kuda kerajaan, didampingi oleh Jayden dan ksatria pelindung istana lainnya.
Kereta kuda mereka melewati jalan setapak yang tertutup bunga es putih sisa badai semalam. Ellen masih belum bicara apa-apa pada Ravi sejak keluar dari istana; sementara Ravi cuma mengulum senyum sedari tadi. Lelaki itu tahu betul kalau wanitanya masih kesal, akan tetapi mengingat kejadian semalam justru membuatnya semakin ingin mengerjai Ellen.
“Ell, bagaimana pandanganmu mengenai Nona Isabella?” Ravi membuka percakapan, “Katanya dia sangat terkenal di kalangan gadis bangsawan.”
Ellen tidak menjawab, ia malah membuka jendela kereta kuda dan mengeluarkan separuh kepalanya. Menghabiskan hari-hari di istana sungguh membuatnya tidak mengenal dunia luar. Bayangkan saja, selama di Orient Ellen belum pernah sekalipun jalan-jalan. Kecuali perjalanan ke perbatasan yang tidak bisa diakui sebagai jalan-jalan, bahkan oleh Ravi sekalipun.
“Kabarnya Nona Isabella juga menjadi salah satu lulusan terbaik di Gerrard tahun lalu, pantas saja sihirnya hebat sekali!” Ravi bicara lagi, dengan suara yang sengaja ia keraskan. “Young Lady secantik itu, pasti beruntung sekali, ya, yang bisa menjadi suaminya.”
Putri Mahkota masih bergeming dengan posisi yang sama, bukannya membalas wanita itu malah asyik memperhatikan keadaan Oraca, ibu kota Orient yang merupakan pusat aktivitas para bangsawan. Ketukan suara sepatu kuda membelah jalanan kota, membawa mereka pada keramaian yang tiba-tiba saja dirindukan Ellen. Meskipun tidak seramai New York, setidaknya dia bisa melihat sedikit perubahan suasana.
“Ell ….”
“Aku tuli, jangan bicara padaku, dasar menyebalkan!” Ellen tahu-tahu memotong kalimat Ravi cepat-cepat, kemudian bersungut marah sambil turun dari kereta kuda.
Ravi cekikikan sendiri, kemudian menyusul Ellen turun. Di depan mereka berdiri sebuah mansion mewah milik Keluarga Saac. Nampak pria setengah abad itu berdiri di depan menyambut mereka, tentu saja bersama putri tercintanya … Isabella. Ellen mendadak merasa serba salah. Ia sama sekali tak tahu apa yang harus dilakukan, baik pada orang-orang di depannya atau pada perasaannya. Ayo, Eleanor, kau pasti bisa. Beraktinglah dengan sempurna seperti biasa.
“Suatu kehormatan dapat menyambut Anda dan Putri Mahkota di rumah kami yang sederhana, Yang Mulia,” Octavius membungkuk hormat diikuti anak gadisnya, “Mari masuk, saya sudah menyiapkan jamuan kecil untuk menyambut Anda.”
Ravi mengangguk, kemudian menjabat tangan Octavius bergantian dengan Isabella. Ellen tersenyum ramah pada keduanya, akan tetapi ada yang aneh dari gelagat Bella. Bukan apa-apa, tapi sang Putri yakin bahwa ia baru saja melihat senyuman yang tersipu malu saat Ravi menjabat tangannya. Hell no, b***h!
“Tujuan kami kemari adalah untuk mengantarkan undangan pada Tuan Octavius dan Nona Isabella sebagai tamu kehormatan di pesta ulang tahunku besok malam.” Ravi menjelaskan maksud dan tujuannya; sementara Ellen mengekor di belakang tanpa mengucapkan apa-apa.
Octavius kemudian membawa mereka ke ruang seni milik keluarganya. Dimana banyak sekali benda-benda bersejarah yang memiliki nilai seni tinggi. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar, dengan satu vas bunga mawar segar di tengahnya. Bella lantas mempersilahkan mereka duduk dengan isyarat tangannya, dan Ravi langsung menarik kursi untuk Ellen.
“Jadi, bagaimana kabar Baginda Ratu?” Octavius kemudian menepuk tangan dan para pelayan berdatangan untuk menyajikan teh, “Ini adalah teh bunga krisan, sangat bermanfaat untuk meredakan stress dan meningkatkan kekebalan tubuh. Silahkan diminum, Yang Mulia.”
“Keadaan Ibunda Ratu terus membaik,” Ravi menjeda ucapannya, kemudian menyesap tehnya, “kami bersyukur Nona Isabella datang waktu itu, sehingga Ibunda Ratu bisa diselamatkan.”
“Sebuah kehormatan bagi saya untuk menyelamatkan Yang Mulia Ratu Arielle, Pangeran.” Bella mengangguk sopan.
Ellen menyesap tehnya dalam diam. Perempuan itu benar-benar sangat malas bahkan untuk berbicara. Kedatangan Isabella seolah menjadi momok yang menakutkan bagi Putri Mahkota. Ravi memang sudah menyatakan dengan jelas bahwa ia sangat-sangat-sangat mencintai Ellen, tapi tetap saja gadis itu dibuat paranoid oleh alur cerita aslinya.
“Ngomong-ngomong, Anda pendiam sekali, ya, Tuan Putri.” Octavius tersenyum simpul, menatap ramah pada Ellen dengan sorot mata kebencian, “Bukankah setidaknya Anda harus mengatakan sepatah-dua patah kata untuk kami yang rendah ini?”
Ellen langsung mengulas senyum. Sebuah lengkung manis lebar yang membuat bulan sabit itu tercetak jelas di mata Putri Mahkota. “Astaga, Tuan Saac, bagaimana bisa aku mengabaikan semua ini?” wanita muda itu tertawa, “Tidak ada alasan bagiku untuk mengomentarimu, apalagi kalau duduk disini memiliki tingkat kenyamanan yang sama persis seperti di istana. Belum lagi ada Bella juga yang menemaniku.”
“Semoga damai dan kasih Orient menyertai Anda,” Bella ikut tersenyum, “Kehormatan seperti ini dimana lagi bisa aku dapatkan, kalau Yang Mulia Putri Mahkota sendiri yang mengakui aku?”
Mereka tertawa, dengan senyuman lebar dan mata yang menyipit. Akan tetapi dengan sorot mata terselubung di dalam benak masing-masing.
“Bella, boleh aku tahu dimana letak toiletnya?” Ellen mengangkat bokongnya dari kursi, kemudian berdiri anggun di sebelah Ravi.
Bella sontak berdiri, “Mari saya antar, Tuan Putri.”
Dua perempuan itu kemudian pergi meninggalkan ruangan. Bella memimpin jalan, sementara Ellen mengekor di belakangnya. Ravi bangkit lalu melihat-lihat benda seni yang di panjang; sementara Octavius ada urusan mendadak dan ikut pergi meninggalkan ruangan. Kalau ada kesempatan dimana waktu bisa berjalan sangat lambat, mungkin inilah saatnya.
Ellen masuk ke kamar mandi saat ia mendengar suara yang aneh secara tiba-tiba. Sejak awal perasaannya sudah sangat tidak enak begitu masuk ke mansion besar ini. Dan benar saja, begitu ia mengintip dari celah pintu yang terbuka wanita itu menangkap sosok bayangan Octavius dan Bella.
“A-ayah.”
Octavius membekap mulut putrinya, kemudian matanya bergerilya ke sekitar. Detik berikutnya pria tua itu memegang pundak Bella dan meremasnya pelan. Gadis bersurai pirang itu tampak tidak mengerti dengan apa yang dimaksud ayahnya, namun ia tetap bungkam.
“Kau menyukai Putra Mahkota?” Octavius berucap pelan, hampir berbisik.
“Tidak mungkin, Ayah,” Bella menggeleng keras, mata jernihnya memancarkan kekhawatiran yang mendalam, “Bagaimana mungkin aku berani jatuh cinta pada Putra Mahkota yang sudah menikah?”
“Gadis bodoh!” Octavius menangkup kasar wajah mungil Eleanor dengan satu tangan, “Kau harus menyukainya dan mengambil posisi si jalang itu sebagai calon ratu.”
“A-ayah tapi aku-”
“Kau tahu jelas apa yang paling tidak aku sukai, Bella.” pria itu mengancam, “Jangan membuatku semakin ingin membunuhmu.”
Isabella diam, kaku di tempatnya.
“Besok saat ulang tahun Putra Mahkota kau harus menggodanya, menjebaknya untuk bermalam di kamarmu. Paham?”
Ia masih bergeming tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.
“Isabella Saac, apa kau paham?” Octavius menekankan kata-katanya, “Yang harus kau lakukan cuma menyerahkan dirimu padanya. Sisanya biar aku yang menentukan.”
Giliran Ellen yang membekap mulutnya sendiri, berusaha mengendalikan keterkejutan yang teramat sangat itu. Ia sudah menduga bahwa Octavius akan melakukan serangan, tapi tidak di sangka secepat ini. Tak lama kemudian Ellen dengan sengaja mengucurkan air dari pancuran selama beberapa saat, dan keluar setelah mencuci muka.
Begitu melihat Bella di depan pintu, ia tahu bahwa gadis itu tidak baik-baik saja. Namun untuk beberapa waktu ini Ellen tidak bisa membantunya. Dia harus menyelamatkan Ravi dan pernikahan mereka bagaimanapun caranya. Aku adalah Putri Mahkota Orient yang berharga, jadi aku tidak akan menyerah.
◇•◇•◇
Haloo~! Kali ini aku datang buat tebar-tebar sedikit spoiler wkwkwk. Jadi, sebentar lagi akan masuk ke konflik utama, lho. Lalu eps ini sengaja aku buat untuk menunjukkan dengan jelas kalau Bella, mulai jatuh hati ke Ravi. Nah loh! Terus Ellen gimana? Ya enggak gimana gimana. Dia tetap berjuang kok. Makanya, jangan lupa dukung Ellen dengan TAP LOVE untuk cerita FAKE PRINCESS LOVE. Tambahkan cerita ini ke perpustakaanmu dan rasakan sensasi menyebalkan Isabella di chapter chapter selanjutnya.
See you in the next chapter~!