Aku melihatmu sepeti api, merah menyala dan sangat menakutkan. Pikiranku melayang jauh sekali, sampai-sampai aku merasa bahwa semua ini benar-benar tidak nyata. Padahal ketika aku membuka mata wujudmu hanya sebatang lilin kurus, yang panjang dengan sumbu menyala kecil. Menghangatkan, menerangkan, dan sangat bermanfaat. Aku kira tadinya sebatang lilin kecil sama sekali tak berbahaya. Tapi nyatanya ia sanggup membumi hanguskan sederet rumah dalam semalam.
Api, pergilah. Aku sama sekali tak menginginkan panas merah menyala darimu.
◇•◇•◇
Sampai waktu pesta tiba Ellen tetap tidak bisa tenang. Dalam hati ia bertanya-tanya perihal apa yang akan dilakukan Octavius terhadap Ravi. Sebelum itu kedatangan Octavius dan Isabella menjadi sorotan. Dan perasaan sang Putri semakin tidak karuan saat pria paruh baya itu membawanya pergi entah kemana.
Lelaki itu berbalik sebentar, menghampirinya cepat-cepat dan membuat Octavius menunggu di tempatnya berdiri sekarang.
“Eleanor,” Ravi memanggil pelan sebelum jarak mereka terlampau jauh. “Kau sepadan dengan mahkota di kepalamu.”
Ellen tidak menjawab, masih menerka maksud ucapan Ravi barusan. Kemudian, lelaki itu mengulurkan tangannya dan mengambil wajah mungil Ellen. Sebelum akhirnya Ravi mendekatkan wajah lalu membisikkan, "Kau sangat cantik malam ini."
Ellen tersenyum malu-malu, dan tanpa sadar pipinya bersemu merah. Ravi kemudian melangkah kembali dan menghampiri octavius. Mereka mendekati sebuah meja bundar yang berada di dekat Sisi luar ballroom. Kemudian sang pangeran tampak mengakrabkan diri dengan orang-orang yang yang lebih dulu berada di sana.
Tanpa sadar, semakin aku menikmati peranku … hatiku juga akan ikut jatuh padamu. Sedalam-dalamnya tenggelam di laut lepas, sejatuh-jatuhnya terjun dari ketinggian. Harapanku adalah, semoga semua perasaan ini tidak menjeratku--membimbing diri ini dalam kematian dengan kebodohan tanpa batas. Aku mengandalkanmu, akal sehat. Kumohon, berpikirlah jernih walau hanya sesekali.
Malam semakin larut, akan tetapi meriahnya suasana pesta sama sekali tidak terlihat surut. Semarak kegembiraan tidak hanya terlihat di dalam Aula Orion saja, akan tetapi sampai ke teras terluar. Di bagian depan terdapat kebun bunga campuran yang dihiasi dengan cahaya lampu kelap-kelip dari sihir. Entah bagaimana caranya, langit sama sekali tidak terlihat gelap. Semuanya tampak temaram dan nyaman. Orang-orang bersuka cita. Netra Ellen bergerilya kesana-kemari, mencari celah untuk menunggu sampai Ravii selesai. Namun, tanpa diduga-duga sesosok perempuan yang kehadirannya sama sekali tidak diharapkan muncul.
Wanita itu menatap Ellen dengan bola mata birunya yang jernih. sungguh, Sang Putri sama sekali tidak menyukai keadaan yang seperti ini. Dia tahu betul bahwa keberadaan orang itu akan menghancurkan segalanya. Bahkan bisa jadi membunuhnya lebih cepat. Ellen berusaha untuk mengalihkan pandangannya, sebelum akhirnya memutuskan untuk berbalik dan pura-pura tidak melihat perempuan itu. Namun, langkahnya yang terburu-buru terbaca jelas oleh gadis bernetra yang sempat menatapnya barusan. Perempuan itu lantas mengikuti langkah Ellen, sampai akhirnya bisa menyusul.
“Terimalah salam dan hormat saya, Yang Mulia, semoga kejayaan dan kemuliaan Orient selalu bersama Anda.”
Ellen terhenyak, menarik napas dalam-dalam begitu mendengar sopran lembut yang masuk ke rungunya. Benar, itu adalah suara Isabella. Semuanya terlanjur basah, kalau sudah begini … bahkan posisinya sebagai Putri Mahkota pun tak bisa ia jadikan alasan untuk kabur. Mungkin bukan tidak bisa, melainkan pengetahuan Ellen yang belum mumpuni untuk menghadapi hal-hal semacam ini. Dia sudah menghindari orang ini sejak tadi, terlebih ketika mengingat fakta kematiannya akibat perempuan yang sedang tersenyum cerah di depannya ini.
“Apa ada yang bisa saya bantu, Nona Saac?” Akhirnya cuma itu yang bisa keluar dari mulut Ellen. Ia sama sekali tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Memang, selama ini Sang Putri sudah mulai rutin menghadiri kelas tata krama … tapi sumpah, gurunya yang merupakan bangsawan tingkat satu sama sekali tidak pernah membahas sesuatu yang seperti ini.
“Saya lihat Anda sedang sendiri, dan kalau berkenan maukah Yang Mulia Putri Mahkota duduk satu meja dengan saya dan mengobrol?” Isabella menundukkan pandangannya, tapi ia tersenyum dengan simpul yang tipis tapi terlihat begitu manis. “Itu pun kalau Tuan Putri tidak keberatan.” lanjutnya.
Ellen bimbang. Kalau langsung ditolak akan sangat mencurigakan jadinya, tapi kalau diterima, ia tidak mau membuang-buang waktu meladeni seorang Isabella. Meskipun begitu, Ellen harus mengakui bahwa pesona Isabella Saac memang kuat. Entah bagaimana, setiap ucapan atau tindakan kecilnya selalu bisa membuat dirinya yang seorang Putri pun menjadi rendah diri. Pesona pemeran utama? Ellen sama sekali tidak percaya dengan yang seperti itu.
Menimbang sejenak, Tuan Putri akhirnya mengangguk. “Kita cari tempat di mana bisa menatap bulan telanjang.”
Bella tidak membantah, ia cuma tersenyum simpul lalu mengangguk mantap. Diam-diam Ellen memperhatikan, dan memang … pesona Isabella lembut sekali. Pembawaan dan sikapnya membuat ia menjadi kandidat terkuat, begitu kabar yang tersebar seantero istana. Mungkin kalau Ellen masuk ke dalam naskah saat hari sebelum pemilihan Putri Mahkota, dia akan kalah telak. Sisi baiknya kalau itu terjadi adalah, dia pasti tidak akan terancam dihukum mati karena seorang Isabella Saac. Tapi … kalau itu terjadi, Ellen mungkin akan menyesalinya juga. Sebab, ia harus menghapus seluruh pengalamannya dengan Ravi.
“Apa ada hal yang sedang mengganggu pikiran Anda, Tuan Putri?” Isabella membuka percakapan, tepat saat mereka sampai di satu set meja bundar terluar. “Apa menjadi Putri Mahkota itu sangat melelahkan?”
Ellen melirik sekilas, menatap wajah yang tersenyum lembut itu. Apa maksud pertanyaannya barusan?
Sebelum Sang Putri sempat menjawab, Bella sudah bicara lagi. “Ah, aku ini bicara apa, sih?” Dia tertawa kecil, matanya menyipit begitu bertemu manik karamel milik Ellen. “Seharusnya aku tahu jelas kalau kehidupan Anda sudah pasti menyenangkan.”
“Nona Saac, apa kau punya masalah denganku?” Ellen bertanya cepat, tegas, dan dingin.
Seketika suasana begitu canggung. Isabella kehilangan senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya, sementara Ellen sudah terpancing emosi. Wajah perempuan itu pucat, terlebih ketika mendengar nada bicara Putri Mahkota menjadi kaku dan tidak bersahabat.
“Maafkan saya, Yang Mulia!” Dia berseru takut, pupilnya gemetar.
Semua orang mulai memandang mereka, ingin tahu persoalan yang terjadi sampai seorang gadis bangsawan terkenal menunduk takut pada Sang Putri. Ellen peka terhadap keadaan sekitar, itu menjadi salah satu keunggulannya. Dulu, ia dikenal sebagai seorang oportunis sejati karena kepiawaiannya memanfaatkan peluang untuk memperdaya orang-orang.
“Nona Saac, kenapa kau melakukan itu?” Ellen mengulum senyum, menekan emosinya dalam-dalam sambil mengembalikan akting yang sempat hilang. “Aku cuma bercanda, ya ampun!” Detik berikutnya dia tertawa, sangat lepas dengan suara yang ramah.
Bella tampak kebingungan, meskipun akhirnya dia ikut mengulum senyum. Gadis bangwasan itu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, namun satu hal yang pasti adalah … ia yakin betul bahwa Ellen sangat serius tadi. Tapi kenapa--
“Bella, kenapa kau suka sekali berada di sekitarku?” Ellen mengalihkan pembicaraan, sekaligus membuat suasananya lebih santai. “Apa karena aku adalah Putri Mahkota?”
Bella menggeleng, polos sekali.
“Lalu kenapa?”
“Karena aku merasa bahwa terkadang kita berada di pihak yang sama. Anda adalah orang yang paling dihormati setelah Baginda Raja, Ratu, dan Putra Mahkota. Bagaimana bisa saya menjadikan itu sebagai alasan?”
“Kenapa tidak?” Ellen jadi penasaran. “Seperti yang kau bilang, aku adalah perempuan nomor dua paling dihormati setelah Ibunda Ratu.”
“Saya sudah menganggap Anda sebagai seorang teman, Putri.” Isabella berucap pelan, tampak malu-malu.
Ellen lantas mengangguk paham, tapi tentu saja jauh di lubuk hatinya ia sama sekali tidak mempercayai Bella. Bukan tidak mungkin ia akan jadi seperti Octavius.Waktu berjalan terus menerus. Orang-orang yang berada di luar Aula Orion mulai berkurang, mereka masuk ke dalam ballroom untuk menghangatkan diri. Kini tersisa Ellen dan Isabella. Duduk kedua wanita muda itu antara santai tapi kaku, mereka sibuk menghabiskan makanan yang disediakan pelayan. Menatap pada satu arah yang sama, yaitu pmandangan bulan purnama yang bersinar indah. Tidak ada pembicaraan lagi bagi keduanya, namun jauh di lubuk hati para wanita itu tersimpan keinginan dan rencana masing-masing.
Tepat saat jam di Aula Orion berdentang dua belas kali, Isabella pamit meninggalkan meja dan makanannya. Ellen mendelik, kemudian berseru dalam hati, inilah waktunya!
◇•◇•◇
Hai, double update, yuhu~!
Jangan lupa TAP LOVE dan terus dukung FAKE PRINCESS LOVE, ya~!