Silence is never being golden if it hurt you every day. You know that I won't be silent.
◇•◇•◇
Beberapa jam sebelumnya….
Suara musik mengalun lembut begitu Ellen dan Ravi memasuki Aula Orion. Lelaki itu kemudian melepaskan gandengan tangannya dan berlutut di depan gadisnya. Putra mahkota lantas mengulurkan tangan, meminta sang Putri menerima ajakan dansa itu. Semua mata tertuju pada mereka, Ellen akhirnya pasrah lalu meletakan tangannya pada Ravi untuk mengiyakan.
“Kau masih ingat pelajaran Madam Gwen, ‘kan?” Ravi berbisik begitu Ellen tertarik kepadanya, “Dansa ini belum sempat kita tampilkan sewaktu Rose Night.”
“Tentu saja,” Ellen tersenyum lebar, “Madam Gwen bilang aku sangat berbakat.”
Detik berikutnya Pangeran menarik sang Putri ke dalam dekapannya, menempatkan tangannya pada pinggang ramping wanita itu sambil mengikis jarak mereka. Ellen meletakkan sebelah tangannya pada Ravi untuk di genggam, kemudian yang lainnya berpegangan pada lengan atas pria itu.
Denting piano yang mengalun lembut memenuhi seluruh aula. Ellen melangkahkan kakinya dengan teratur, mengikuti gerak irama Ravi yang senada dengan musik. Detik berikutnya lelaki itu mundur, kemudian melepaskan tangan gadisnya. Sang Putri lantas bergerak anggun, memutar tubuhnya dengan gerakan yang lembut sebelum kembali meraih tangan Pangerannya.
“Bagaimana?” Ellen berbisik begitu masuk ke dalam dekapan Ravi, “Aku hebat, ‘kan?”
Ravi tersenyum geli, kemudian menuntun Ellen dengan gerakan awalnya. Akan tetapi detik berikutnya gerakan pria itu tiba-tiba berubah, tangannya mengulur tubuh Ellen kebelakang sebelum melepasnya sekali lagi. Namun keterkejutan perempuan itu membuatnya limbung, tanpa sengaja ia menarik tangan Ravi dan berbalik maju, kemudian--
Dukk!
Ravi menarik napas, kemudian meringis tertahan; sementara Ellen menahan napas sambil melihat ke bawah, memeriksa hasil perbuatannya.
“Astaga, ini yang dibilang hebat oleh Madam Gwen, ya?” Ravi berbisik sambil menahan sakit.
“Maafkan aku,” Ellen jadi malu sendiri, “Salahmu yang mengubah gerakannya tiba-tiba.” Dia malah menyalahkan Ravi, “tapi sakit, tidak?” Tanyanya.
“Sakit,” Ravi masih meringis, “Memangnya kakiku terbuat dari kayu?”
Ellen tidak menjawab, kemudian mengikuti gerakan Ravi dengan hati-hati.
“Tapi tidak heran, sih,” Ravi terkekeh, “Kakimu memang kuat, ‘kan? Bahkan saat berlatih sihir kau hampir membunuh satu regu prajurit.”
Ellen mendadak bisu, rasanya salivanya tersangkut di kerongkongan. Kemudian Ravi melanjutkan gerakannya, tapi kali ini gadis itu malah tak siap. Tubuh Putra Mahkota yang melangkah maju malah jadi mendorongnya, sedangkan gaunnya yang terlalu panjang membuat sepatunya tersangkut. Ellen limbung, aku akan jatuh?!
Detik berikutnya Ravi menatapnya intens, kemudian lelaki itu mengubah posisi berdirinya. Tangannya mantap memegang kedua pinggang Ellen sebelum mengangkatnya ke udara. Gerakan memutar yang seharusnya dilakukan gadis itu diambil alih oleh Ravi, dan Ellen hanya bisa diam saat tubuhnya menjulang sambil menatap obsidian kelam yang menyedotnya itu.
Tepat setelah menurunkan Ellen musik berakhir, kemudian Ravi mengambil posisi mundur setelah mencium punggung tangan wanita itu. Tepuk tangan meriah menggema di seluruh Aula Orion, namun ada yang janggal ketika Octavius dan beberapa pria tua lainnya datang menghampiri Ravi.
“Aku akan menemuimu setelah menyelesaikan urusan dengan rubah-rubah tua disana, Ell,” Ravi memeluk Ellen sebelum beranjak pergi, kemudian melanjutkan bisikannya, “Jangan lupa kadoku, sayang.”
Ellen tertawa kecil, kemudian membalas pelukan Pangerannya, “Jangan lama-lama, nanti aku keburu rindu.”
Ravi tertawa, kemudian mengecup sekilas bibir Ellen sebelum meninggalkannya di tengah-tengah pesta. Itu adalah hal terakhir yang ia ucapkan ada suaminya, sebelum Octavius menyerobot dan membawa Putra Mahkota pergi. Dengan manik karamelnya wanita itu masih melihat dengan jelas sosok Ravi yang duduk di semeja dengan beberapa pejabat lainnya.
“Hormatku untuk Anda, Putri Mahkota,”
Ellen menoleh, kemudian mendapati Bella tengah membungkuk hormat kepadanya. Gadis bersurai pirang itu tampak anggun dengan gaun panjang steelblue berlengan sampai ke siku, dilengkapi aksen pita di bagian pinggang serta renda tipis di ujung kerutan lengannya. Tubuh ramping Bella terbalut sempurna dalam gaun indahnya.
“Kelihatannya Putra Mahkota sedang sibuk, bagaimana kalau saya menemani Anda, Putri?” Bella menyunggingkan senyum terbaiknya.
“Bulannya cantik sekali malam ini,” Ellen mengangguk paham, “Aku akan sangat senang kalau kau bisa menemaniku makan di bawah sinar rembulan.”
Tapi … keadaan kemudian berubah, tepat saat jam lonceng berdentang dua belas kali. Detik itu juga Bella nampak gelisah, kemudian pamit buru-buru. Sedangkan Ellen tersenyum tipis saat mengingat sebuah rencana di kepalanya.
Ellen kembali ke kamar tepat setelah Bella beranjak meninggalkan dia di meja makan. Perempuan itu tahu betul bahwa gadis pirang itu tidak akan kembali. Bella akan mengikuti rencana Octavius untuk menjebak Ravi. Putri Mahkota tidak akan tinggal diam, dia akan menguji keberuntungannya kali ini, apakah takdirnya masih bisa berubah atau sebaliknya. Aku akan melihat sejauh apa alur cerita ini bisa berubah.
Sementara itu Ravi masih tertawa dengan beberapa pejabat lain, termasuk Octavius diantara mereka. Beberapa botol minuman yang tersaji di meja sudah hampir kosong, dan wajah Putra Mahkota sudah memerah. Ravi mengerjapkan matanya pelan, kemudian menatap satu per satu orang tua yang berani-beraninya mengajak ia minum. Tapi terlambat, kesadarannya sudah hampir hilang. Apa yang sudah kulakukan dengan rubah-rubah tua ini?
“Baik, kurasa cukup sampai disini, Tuan-Tuan.” Ravi bangkit, berdiri dengan sebelah kaki yang tertekuk, lalu meninggalkan mereka.
“Yang Mulia, akan menjadi kehormatan bagi saya jika bisa mengantar Anda.” Octavius ikut berdiri, tapi lelaki tua itu nampak tegap di atas kedua kaki panjangnya, “Mari saya bantu.”
Ravi mendelik sekilas, kemudian menepis tangan Octavius pelan, “Terima kasih, tapi aku masih bisa pergi sendiri.”
Bella masuk ke kamar tamu yang disediakan khusus dekat Aula Orion, biasanya kamar itu hanya dipakai oleh para utusan luar negeri karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan kastil utama di istana. Sebagai tamu kehormatan seharusnya Octavius dan putrinya mendapat jatah kamar di Istana Antares, namun karena permintaan yang bersangkutan akhirnya Ratu Arielle mengizinkan mereka menempati kamar tersebut.
Sesuai perintah ayahnya, Bella merias diri lalu mengganti gaun dengan yang lebih tipis dan terbuka. Udara diluar sangat dingin, dan bukan tidak mungkin perempuan itu langsung demam keesokan harinya apabila menunggu Ravi diluar seperti ini. Tapi gadis bertubuh mungil itu tidak bisa menolak perintah ayahnya. Sebenarnya bukan tidak bisa, melainkan tidak mau. Berjuanglah, Bella, ini demi ayahmu.
◇•◇•◇
Hai! ketemunya agak malem ya belakangan ini wkwkwk. Aku tetap berharap bisa up daily. Today triple up, lho! senang? Harus, dong! Wkwk. Nah, jangan lupa Tap LOVE dan tambahankan cerita FAKE PRINCESS LOVE ke library kamu. Aku butuh banyak cinta dari kalian, lho! See you on the next chapter!