"Kamu siap?" Aku menoleh kearah Rafli, menatap wajah tampan yang melihatku dengan senyuman yang tidak pernah luntur sedari siang. Membuatku beruntung dipertemukan dengannya dan segala kegilaannya dalam mencintaiku. Genggaman tangannya mengerat, tapi perlahan, aku melepaskan tangan tersebut dan beralih meraih lengannya. Mulai hari ini lengan inilah yang akan menemaniku, menjadi tempat bersandarku menghadapi lelahnya hidup berumah tangga yang akan kami tempuh nantinya. Dia yang sedang bersamaku, menghadap pintu yang sama ini adalah Suamiku, milikku, cintaku. Seorang yang tidak pernah kusangka akan menjadi bagian paling penting dalam mimpi yang kini menjadi kenyataan. "Siap, Letnan Rafli Ilyasa." jawabku yang membuat Rafli terkekeh, tangan besar itu terulur, menyentuh pipiku dengan begit

