Kebenaran Terbongkar dan Kabar Duka dari Alas Roban

1731 Kata
Mbah Sakiman masih merasakan amarahnya setelah menyaksikan video percakapan Sarah dengan Arga dan Irsyad. "Ini uang untukmu. Terus cari tahu keberadaan kedua cucuku – hidup atau mati. Saya yakin mereka pasti masih hidup!" ujarnya dengan percaya diri kepada orang kepercayaannya. "Baik, Kanjeng Romo Sepuh. Saya akan lakukan yang terbaik," jawab orang tersebut dengan sopan sebelum pergi. "Ya, cepatlah!" tegas Mbah Sakiman. Kemudian dia berbisik sendiri, "Jangan kamu pikir saya akan diam saja, Sarah. Kamu telah berniat jahat pada cucuku, maka jangan salahkan saya jika saya membalasnya. Saya harus segera menghubungi pengacara saya!" Keesokan paginya Mbah Sakiman bersikap seperti biasa saat pagi hari, agar Bu Sarah tidak curiga bahwa dia sudah mengetahui seluruh kebenaran. Namun ketika memasuki ruang makan, wajahnya langsung berubah menjadi serius. "Pak, sarapan sudah siap," ujar Bu Sarah dengan senyum palsu sambil menyajikan hidangan di atas meja. "Iya, tapi berhenti saja! Saya tidak mau dilayani oleh seorang penjahat!" ucap Mbah Sakiman dengan nada tegas, menyindir langsung Bu Sarah. "Maksud Bapak apa? Kenapa Bapak bilang istri saya penjahat?" tanya Pak Nano dengan wajah bingung dan terkejut. "Iya Pak, kenapa Bapak begitu menyakitkan hati saya? Saya apa salahnya?" kata Bu Sarah sambil meneteskan air mata, berusaha menunjukkan kesusahan. "Hapus air mata buaya itu, Sarah! Saya sudah tidak bisa mempercayaimu lagi!" teriak Mbah Sakiman dengan marah. Kemudian dia menoleh ke arah Pak Nano, "Nano..." "Inggih Pak?" "Tanya saja pada istri kamu sendiri – dimana kedua anakmu, Dewi dan Santi, berada sekarang!" 'Apakah si kakek tua ini benar-benar sudah tahu semuanya? Tapi bagaimana mungkin? Saya sudah memberikan uang banyak pada Arga agar dia merahasiakan segalanya. Apakah dia sudah berkhianat padaku?' gumam Bu Sarah dalam hati dengan penuh kekhawatiran, namun tetap mencoba menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terbongkar. Mbah Sakiman masuk ke kamarnya dan segera menyiapkan alat-alat untuk melakukan ritual yang diwariskan secara turun-temurun dari leluhurnya, Mbah Kromo Semito. Ilmu tersebut dipercaya bisa menghubungkan dunia nyata dengan alam roh. Tanpa lama-lama, ritualnya berhasil – sosok Dewi dan Santi muncul dengan bentuk yang lembut namun penuh kesedihan. Keduanya kemudian mulai menceritakan kejadian yang terjadi lima tahun yang lalu pada Mbah Sakiman. [Flashback On] Lima tahun yang lalu.. Alas Roban Di dalam mobil yang dikemudikan Dewi... "Mbak, iki dalane tenan ora? Kok rasane kaya salah arah wae?" tanya Dewi dengan wajah khawatir, melihat pemandangan yang semakin banyak pepohonan tinggi. "Tenan kok dik, aku udah cek map berkali-kali. Ini memang jalan menuju kampung Mbah," jawab Santi sambil melihat peta di ponselnya. "Masa ya? Tapi kok kita lagi menyimpang menyang arah alas iki, Mbak?" "Ah iya sih, mungkin jalan kecil ini lebih cepet deh. Awas dik, jalan licin nih!" keluh Santi saat mobil sedikit tergelincir. "Ngapura Mbak..." jawab Dewi sambil fokus mengemudi. "Dik, apa ada salahnya? Kok kamu nggak tenang?" "Mbak... kita terjebak!" ujar Dewi dengan suara gemetar. "Maksudmu gimana?" "Lihat Mbak! Depan ada orang yang ngeblok jalan kita!" "Haaaa... Ada orang?! Dik, cepat mundurin mobil!" pinta Santi panik. "Nggih Mbak, tunggu sebentar... Yah Mbak, ngapura loh! Mesinnya mati total, nggak bisa jalan juga mundur!" "Apa?!" sergah Santi. Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan keras terdengar di kaca mobil, berasal dari dua orang pemuda yang tidak dikenal keduanya. "Mbak, apa kita harus buka pintu? Saya takut..." kata Dewi dengan tubuh gemetar. "Kalau tidak buka, mereka bisa saja pecahkan kaca mobil kita! Kita harus siap berlari kapan saja!" jawab Santi sambil mencari jalan keluar lain. Tepat ketika itu, pintu mobil mereka ditembus dengan paksa oleh kedua pria tersebut. Dewi dan Santi berhasil melarikan diri dari kendaraan, berlari masuk ke dalam hutan yang lebat. Namun sayangnya, ketika mereka sedang terengah-engah di tengah hutan, kedua pemuda itu berhasil menemukan mereka lagi. Keduanya dipaksa dan dirudapaksa, lalu dibunuh dengan kejam. "Tolong... jangan! Lepaskan kami, tolong!" teriak Santi dan Dewi sambil berusaha melawan. "Diam kalian!" sergah Irsyad dengan suara kasar. "Percuma berteriak! Di hutan sepi ini tidak akan ada yang mendengar kalian berteriak! Hahaha!" tawa sinis pemuda lainnya. Setelah menyakiti dan membunuh mereka, roh Dewi dan Santi tak menemukan kedamaian. Mereka bertekad untuk mencari dan membalas dendam pada pelaku kejahatan tersebut. [Flashback Off] "b******k!!" teriak Mbah Sakiman dengan amarah yang tak tertahankan. Kemudian dia melihat kedua roh cucunya dengan mata penuh kasih sayang. "Kalian berdua bersabar ya. Mbah akan membantu kalian bertemu dengan pelaku itu, dan kalian juga harus tahu bahwa yang menyuruh mereka adalah ibu tiri kalian sendiri. Sudah saya laporkan pada pihak berwajib, pengacara saya juga sudah mengurus segala sesuatunya agar kalian mendapatkan keadilan!" Di kamar Bu Sarah, dia semakin gelisah dan tak bisa diam lagi. "Duh bagaimana ini?! Kalau benar kakek tua itu sudah tahu bahwa saya yang memerintahkan pembunuhan Dewi dan Santi dengan bantuan Arga serta Irsyad..." gumamnya dengan tubuh gemetar, berusaha mencari cara untuk kabur. Keesokan harinya.. Berita penemuan mayat dua wanita dan sebuah mobil di dalam Alas Roban segera tersebar luas dan menjadi topik utama di hampir semua stasiun televisi di Indonesia. Tak lama kemudian, sejumlah petugas polisi datang ke rumah untuk membawa kabar duka kepada Pak Nano dan keluarga – ternyata mayat yang ditemukan adalah Dewi dan Santi, anak-anak Pak Nano. Pak Nano langsung bergegas menuju rumah sakit, di mana sudah menunggu istri pertamanya, Tuti, dan istri keduanya, Ratih. Keduanya langsung menyalahkan Pak Nano karena dianggap tidak bisa menjaga anak-anaknya dengan baik. Ya, Pak Nano memiliki tiga orang istri, dan Bu Sarah adalah istri ketiganya. Di ruang keluarga rumah sakit.. "Mbah Sakiman, itu saya dan Dewi..." ucap sebuah suara lembut yang hanya bisa didengar oleh Mbah Sakiman. Dia melihat ke arah sudut ruangan dan melihat sosok Dewi dan Santi berdiri dengan tenang. "Apa?!" teriak Mbah Sakiman dengan mata membelalak. "Pak, ada apa? Kenapa Bapak terkejut begitu?" tanya Pak Nano yang bingung. "Itu... itu seperti kedua putrimu, Dewi dan Santi! Mereka berdiri di sana!" jawab Mbah Sakiman sambil menunjuk ke arah sudut ruangan. "Bapak apa lagi yang dikatakan? Mana mungkin itu Dewi dan Santi? Mereka sudah tidak ada lagi!" kata Bu Sarah dengan suara sedikit gemetar, namun tetap berusaha menutupi ketakutannya. "Benar Pak, mungkin Bapak terlalu lelah atau khawatir sehingga melihat hal-hal yang tidak ada," sambung Bu Sarah sambil memeluk Pak Nano. "Kamu terus saja membela penjahat ini ya, Nano! Jangan sampai kamu menyesal nanti jika benar itu adalah anak-anakmu!" tegas Mbah Sakiman sebelum pergi ke kamarnya dan segera menelepon seseorang. Ting tong.. Ting tong.. Bel rumah Pak Nano berbunyi tiba-tiba. Darmi, pembantu rumah tangga, segera membukanya dan menemukan dua orang polisi berdiri di depan pintu. "Assalamu'alaikum," ucap salah satu polisi dengan sopan. "Wa'alaikumussalam... Waduh, ada Pak Polisi nih," kata Darmi dengan sedikit terkejut. Polisi tersebut mendehem sebentar sebelum berbicara, "Maaf mengganggu, mbak. Kami ingin bertemu dengan Pak Nano atau Mbah Sakiman. Apakah mereka ada di rumah?" "Inggih Pak, silakan masuk saja ya," jawab Darmi dengan sopan. Di ruang tamu.. "Maaf Pak, silakan tunggu sebentar. Saya akan memanggil Pak Nano dan Mbah Sakiman dulu ya," pinta Darmi. "Baik saja, terima kasih," jawab polisi dengan ramah. Darmi kemudian pergi ke ruang keluarga untuk memberitahukannya kepada Pak Nano. "Assalamu'alaikum, nyuwun sewu mengganggu, Ndara Romo," ucap Darmi dengan sopan. "Nggih mi, ada apa?" tanya Pak Nano. "Ada dua orang Pak Polisi di ruang tamu, Ndara. Mereka bilang ingin bertemu dengan Ndara dan Kanjeng Romo Sepuh," jawab Darmi. "Oh begitu. Tolong panggil Bapak saya di kamarnya ya, mi," pinta Pak Nano. "Nggih Ndara, saya segera panggil," jawab Darmi sebelum pergi. "Mi tunggu..." seru Pak Nano sebelum Darmi keluar. Di kamar Mbah Sakiman.. "Sudah kuduga pasti akan ada yang datang memanggilku," gumam Mbah Sakiman dalam hati saat mendengar suara mengetuk pintu. "Nyuwun sewu minta maaf, Kanjeng Romo Sepuh. Kula diutus Ndara Romo untuk memanggil Bapak," ucap Darmi dengan sopan. "Ya, saya sudah tahu, mi. Ayo kita pergi," jawab Mbah Sakiman sambil mengambil jaketnya. Di ruang tamu lagi.. "Pak, ini tentang..." kata Pak Nano sebelum perkataannya terpotong oleh Mbah Sakiman. "Iya, saya tahu – polisi kan? Silakan Pak Polisi, segera jelaskan saja apa yang terjadi," ucap Mbah Sakiman dengan tatapan serius. "Begini, Pak Nano dan Pak Sakiman. Kerangka yang ditemukan oleh warga di Alas Roban sudah diperiksa. Usianya kurang lebih lima tahun dan ciri-ciri yang ada sama persis dengan deskripsi yang Anda berikan kemarin, Pak Sakiman," jelas salah satu polisi. "Apa?! Jadi benar-benar mereka adalah Dewi dan Santi – anak-anak saya?!" teriak Pak Nano dengan wajah pucat dan penuh kesedihan. "Kan sudah saya bilang! Kamu tetap saja tidak percaya. Nanti kamu datang ke kamar saya, ada hal penting yang harus kita bicarakan. Sekarang kita pergi ke rumah sakit saja, karena kerangka anak-anakmu sudah saya suruh untuk diotopsi," ucap Mbah Sakiman dengan nada tegas sebelum beranjak dari tempat duduk. Di rumah sakit.. "Mbak, itu nggak mungkin kan Dewi dan Santi? Mereka pasti baik-baik saja di suatu tempat," ucap Bu Ratih dengan suara gemetar, menatap arah ruang otopsi. "Berdoa saja semoga memang bukan mereka, dik. Tapi kalau benar, maka Mas Nano harus bertanggung jawab karena selalu mengizinkan mereka pergi sendirian," jawab Bu Tuti dengan wajah merah karena menangis. "Assalamu'alaikum.." Pak Nano, Mbah Sakiman, dan Bu Sarah masuk ke ruang tunggu dengan wajah yang berbeda-beda. "Wa'alaikumussalam.." jawab Bu Tuti dan Bu Ratih sambil mengusap mata. "Tega sekali panjenengan ya, Mas! Tega sekali! Anak-anak panjenengan bukan hanya Ferdi, tapi juga Dewi dan Santi. Istrimu bukan hanya dia," ucap Bu Tuti sambil menunjuk ke arah Bu Sarah, "kami berdua juga masih menjadi istri Anda, Mas. Kenapa selalu mengutamakan perempuan ini daripada kami?" "Makanya bisa dong memberikan keturunan laki-laki untuk Mas Nano," sindir Bu Sarah dengan nada sombong. "Ngomong apa kamu, Sarah?! Ingat kamu datang ke keluarga ini dengan cara yang tidak benar! Kamu menjadi pelakor dan merusak rumah tangga anakku beserta kedua menantuku yang baik hati ini!" teriak Mbah Sakiman yang langsung membela Bu Tuti dan Bu Ratih. "Pak..." tegur Pak Nano dengan suara lemah. "Maaf ya, dik-dik. Semua ini salah saya. Saya tidak seharusnya menyuruh Dewi dan Santi pulang sendirian tanpa pengawalan yang cukup," ucap Pak Nano dengan penuh penyesalan. "Tentu saja salah kamu, Nano! Kamu terlalu mudah mengikuti apa yang dikatakan istrimu yang jahat itu!" sambung Mbah Sakiman dengan amarah yang masih terkontrol. "Pak..." perkataan Pak Nano terpotong lagi. "Cukup sudah, jangan kita bahas lagi sekarang. Kita hanya perlu menunggu kabar dari dokter saja, kan Ti, Tih?" tanya Mbah Sakiman dengan nada yang lebih lembut pada kedua menantunya. "Nggih, Pak..." jawab mereka berdua bersamaan. Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang otopsi dengan wajah serius dan mendekati mereka. Dia kemudian menyampaikan bahwa kerangka yang ditemukan di Alas Roban memang adalah milik Dewi dan Santi, anak-anak Pak Nano.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN