bc

Kuntilanak dari Alas Roban

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
goodgirl
drama
sweet
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

Alas Roban bercerita tentang sekelompok sahabat—Fandi, Arga, Irsyad, dan beberapa teman lainnya—yang penasaran dengan legenda hutan terseram dan angker di daerah mereka bernama Alas Roban. Meskipun diperingatkan oleh penduduk lokal untuk tidak memasuki hutan tersebut karena dipercaya menjadi tempat tinggal makhluk gaib, mereka tetap memutuskan untuk mengunjunginya dalam sebuah petualangan yang dianggap sebagai tantangan kesetiaan antar sahabat.

Di sana, Fandi secara tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Dewi yang tampak sendirian di tengah hutan. Mereka mulai sering bertemu, dan perlahan-lahan Fandi jatuh cinta padanya, tanpa sedikit pun menyadari bahwa Dewi sebenarnya adalah kuntilanak yang telah menghuni Alas Roban selama bertahun-tahun dan hanya muncul untuk mencari kebaikan di tengah kesendiriannya.

Perhatian dan kebahagiaan Fandi terhadap Dewi membuat Arga merasa iri, karena dia juga menginginkan perhatian yang sama dari teman-teman dan merasa bahwa hubungan Fandi telah membuat kelompok mereka tidak lagi sama. Didorong oleh rasa iri dan rasa ingin tahu tentang mitos lokal yang mengatakan kuntilanak akan tetap menjadi wanita cantik jika kepalanya ditusuk dengan paku tajam, Arga merencanakan sebuah aksi dengan membujuk Irsyad untuk membantunya.

Pada saat yang tepat, mereka berhasil menancapkan paku tajam ke kepala Dewi saat dia sedang bertemu dengan Fandi. Meskipun Dewi tetap memiliki wajah cantik seperti yang dikatakan mitos, tindakan itu telah menyakiti dirinya parah dan membuatnya menghilang dari pandangan Fandi dan teman-temannya. Tindakan Arga dan Irsyad juga telah membuat marah Santi, saudara perempuan Dewi yang jauh lebih kuat dan memiliki kemampuan gaib yang lebih besar. Santi bertekad untuk membalas dendam, menghancurkan Arga dan teman-temannya, serta melindungi nama baik keluarga mereka yang telah dirusak oleh keingintahuan dan kebencian manusia.

chap-preview
Pratinjau gratis
Tigaan dari Hutan dan Rahasia yang Terpendam
Lima tahun yang lalu.. Alas Roban "Tolong... jangan! Lepaskan kami, tolong!" teriak Santi dan Dewi sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman dua pemuda. "Diam saja kalian!" sergah Irsyad sambil mencubit lengan Dewi kasar. "Percuma berteriak. Di hutan sepi ini tidak akan ada yang datang menyelamatkan kalian!" tandas pemuda lainnya sambil tertawa sinis. Setelah menyiksa dan menyakiti kedua gadis itu, mereka membunuh Santi dan Dewi dengan kejam. Kedua roh mereka tak menemukan kedamaian, dan bersumpah akan membalas dendam pada pelaku kejahatan tersebut. Lima tahun kemudian.. Solo "Bagaimana persiapan untuk besok? Sudah semua siap?" tanya Bara sambil menatap catatan di meja. "Sudah, Bara. Cuma menunggu kabar dari Arga kapan kita berangkat saja," jawab Fandi dengan wajah serius. "Oke, siapapun datang beri tahu saya ya." Jakarta "Duh, kok hati saya jadi deg-degan begitu ya? Mungkinkah Arga yang mengirim pesan?" gumam Bu Sarah dengan wajah pucat, mencoba menenangkan diri sebelum membuka w******p. * * [Percakapan w******p] [Arga : Nyonya Sarah masih ingat dengan saya bukan?] [Nyonya Sarah : Ya tentu saja, Arga. Ada apa kamu menghubungi saya? Bukankah semua urusan kita sudah selesai?] [Arga : Urusan lama memang sudah selesai, tapi sekarang saya butuh bantuan uang dari nyonya.] [Nyonya Sarah : Uang? Bukankah saya sudah mentransfer semua sesuai kesepakatan? Apa lagi yang kamu inginkan?] [Arga : Silakan nyonya lihat video yang saya kirimkan. Kalau tidak ingin saya bagikan pada keluarga nyonya, tolong transfer uang hari ini juga.] [Nyonya Sarah : Kamu sedang memeras saya bukan?!] [Arga : Saya hanya memberikan pilihan saja, nyonya. Saya tunggu kabarnya.] --- "Dia mengancam saya... bagaimana sekarang ini?" bisik Bu Sarah dengan suara gemetar, tangan nya masih gemetar saat memegang ponsel. "Loh sayang, kok masih belum siap? Teman-teman sudah menunggu di luar lho," ujar Pak Nano yang tiba-tiba masuk ke kamar. "O-iya, sebentar lagi ya Mas. Saya sedang menyelesaikan sesuatu," jawab Bu Sarah dengan wajah pucat, berusaha menutupi kegelisahannya. Setelah Pak Nano keluar, Bu Sarah menghela nafas panjang. "Aku tidak punya pilihan lain. Biar saja uang itu keluar daripada keluarga ku harus tahu hal itu." Tanpa pikir panjang lagi, dia segera melakukan transfer dan mengirim bukti pembayaran kepada Arga. * * [Percakapan w******p] [Arga : Oke nyonya Sarah, terima kasih banyak.] [Nyonya Sarah : I-iya... semoga ini yang terakhir ya, Arga.] --- "Huuft..." Bu Sarah menghela nafas lega namun tetap merasa gelisah. Tak dia sangka, bayangan putih dengan rambut panjang sudah mulai muncul di balik jendela kamarnya. Alas Roban Hi.. Hi.. Hi.. Hi.. Hi.. Hi.. Suara tangisan Dewi bergema di malam yang sunyi, membuat Santi merasa tidak tega melihat saudarinya terus bersedih. "Kenapa kamu menangis terus, Dewi?" tanya Santi dengan suara lembut, mendekati sosok adiknya yang menghadap ke arah luar gua. "Kenapa kita harus mengalami hal seperti ini, Mbak San? Aku sangat merindukan Bapak dan rumah kita..." jawab Dewi sambil menyeka air mata yang tak pernah kering meskipun mereka sudah tak bernyawa. "Sabar ya adikku. Kita harus fokus dulu pada tujuan kita – membalas dendam pada dua orang yang tega merenggut kesucian dan nyawa kita," ujar Santi dengan tatapan yang penuh kemarahan. "Kamu benar, Mbak. Tapi aku merasa mereka tidak melakukan itu sendiri... sepertinya ada orang lain yang menyuruh mereka membunuh kita," ucap Dewi pelan. "Kita akan cari tahu nanti. Sekarang, ayo kita pergi ke arah kampung halaman Ibunda kita dulu saja," ajak Santi. "Baik, Mbak." Setelah dibunuh saat dalam perjalanan ke kampung halaman ibunya, Dewi dan Santi kini tinggal di sebuah gua terpencil di dalam hutan Alas Roban. Jakarta "Kenapa Sarah dari tadi terlihat gelisah dan seperti ketakutan? Ada sesuatu yang tidak beres nih..." gumam Mbah Sakiman dalam hati saat melihat menantu perempuannya yang terus memutar-putar ponselnya. "Alangkah buruknya kalau video itu benar-benar dikirim ke ayah mertua dan suamiku... bagaimana nasibku nanti?" bisik Bu Sarah sambil menekan bibirnya, tak menyadari bahwa wajahnya yang pucat membuat Mbah Sakiman semakin curiga. "Sarah..." panggil Mbah Sakiman dengan suara yang tenang namun tegas. "Inggih Pak, apa ada perintah?" tanya Bu Sarah dengan sedikit terkejut, segera mencoba menenangkan diri. "Kenapa panjenengan kelihatan kayak wong sing wedi banget? Ana apa-apa ora?" tanya Mbah Sakiman dengan tatapan yang mendalam. "Kula mboten wedi, Pak. Mung kula saweg ngelu sajrone." Jawaban Bu Sarah terdengar tergesa-gesa, jelas ia sedang berbohong. "Oh ngelu ya? Sampun kula ndelokake obat ing njero kamar. Menawi ana apa-apa, aja raiso ndhelik. Teh Pak wis tak nelpon Bapak sing kerja ing kantor polisi kang goleki bocah-bocahku sing isih durung mulih." "Oh inggih Pak, kula bakal waspada. Menawi ana kabar apa wae, kula bakal langsung ngandhani Pak." "Inggih nduk, semoga ora ana apa-apa." Mbah Sakiman sebenarnya sudah lama curiga pada Bu Sarah terkait hilangnya kedua cucunya, Dewi dan Santi, yang sudah lima tahun tidak pulang. Namun ia tidak mau menuduh sembarangan – perlu ada bukti yang kuat untuk membuktikan apakah Bu Sarah terlibat atau tidak. Selain menghubungi teman di kepolisian, Mbah Sakiman juga telah meminta bantuan kerabat di kampung halamannya untuk menyelidiki perjalanan kedua cucunya sebelum menghilang. "Sialnya kenapa aku harus rekam video itu dulu?! Padahal aku sudah bayar banyak uang pada mereka, tapi sekarang Arga malah terus memeras dan meminta uang lebih banyak lagi..." gumam Bu Sarah dengan suara pelan, sambil memutar kembali percakapan terakhirnya dengan Arga di benaknya. [Flashback On] Jakarta – Lima tahun yang lalu "Bagaimana dengan tugas yang saya berikan kepada kalian berdua?" tanya Bu Sarah dengan tatapan dingin pada Arga dan Irsyad. "Sudah selesai sesuai instruksi, Nyonya Sarah," jawab keduanya bersamaan. "Bagus. Dengan begitu, tidak akan ada yang menghalangi saya mengambil hak harta warisan dari Bapak mertua. Semua orang akan berpikir bahwa kedua cucunya yang kesayangannya hilang, sementara anak saya Ferdi akan aman sebagai ahli waris tunggal." "Maksud Nyonya Sarah?" tanya Arga dengan wajah heran. "Ya, karena Ferdi bukanlah anak dari suamiku," ujar Bu Sarah dengan suara yang tidak sedikit pun terganggu. "Kalau begitu, anak siapa Ferdi?" "Anak dari bos kalian," jawabnya tegas. "Apa...?! Jadi Ferdi adalah putra Tuan Helmi?" tanya Arga untuk memastikan. "Iya benar. Maka dari sekarang, kalian harus menyebutnya Tuan Muda," kata Bu Sarah dengan nada yang menuntut hormat. "Baik, Nyonya Sarah!" jawab Arga dan Irsyad dengan sopan. "Oke, saya pamit dulu. Ini cek untuk kalian berdua. Oh ya, bos kalian baru saja mengirim pesan bahwa kalian akan mendapatkan bonus tambahan nanti." "Terima kasih banyak, Nyonya!" [Flashback Off] Jakarta – Kini Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu membangunkan Bu Sarah dari pemikiran buruknya. Ternyata Pak Nano yang baru pulang. "Saya sudah pulang, sayang. Sudah siap tidur?" tanya Pak Nano sambil memasuki kamar. Bu Sarah segera menyembunyikan ekspresi khawatirnya dan bersikap biasa saja. "Sudah, Mas. Bagaimana? Sudah ada kabar mengenai Dewi dan Santi belum?" "Belum ada sama sekali, dik. Sudah lima tahun mereka hilang tanpa jejak..." ucap Pak Nano dengan wajah penuh kesedihan, lalu duduk di tepi ranjang. "Sabar ya Mas, pasti mereka baik-baik saja," ujar Bu Sarah dengan nada yang berusaha menenangkan. "Iya, semoga begitu. Ya sudah, saya mau mandi dulu ya," kata Pak Nano saat bangun dan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengambil handuk untuk pergi ke kamar mandi. "Iya Mas." "Ponsel Mas ada di sini – kesempatan bagus untuk memeriksanya. Semoga saja tidak ada pesan atau video dari Arga," bisik Bu Sarah dengan hati-hati. Dia segera mengambil ponsel suaminya dan memeriksa semua chat serta notifikasi. Untungnya, tidak ada satupun pesan atau video dari Arga yang terkait dengan dirinya dan dua anak buah mantan selingkuhannya. "Ternyata memang tidak ada apa-apa. Mas sudah mau keluar dari kamar mandi, saya harus segera meletakkannya kembali dan menyiapkan bajunya agar tidak dicurigai," gumamnya. Tak lama kemudian, Pak Nano keluar dari kamar mandi. "Sudah selesai mandi, Mas. Ini bajunya sudah saya siapkan," ujar Bu Sarah dengan senyum palsu. "Terima kasih ya, sayang," kata Pak Nano sambil menerima baju. "Huuft... hampir saja terbongkar..." bisik Bu Sarah dengan menghela nafas panjang. "Oh ya, Mas. Besok Ferdi pulang dari pesantren lho. Kita mau jemput sendiri atau kirim supir saja?" "Kita yang jemput dong, sayang. Sekalian..." "Sekalian apa, Mas?" tanya Bu Sarah dengan sedikit terkejut. "Sekalian kita mampir ke jalan yang dulu mereka lewati saat pergi ke kampung halaman. Mungkin bisa menemukan petunjuk baru tentang keberadaan Dewi dan Santi," ucap Pak Nano dengan harapan yang masih menyala di matanya. "Oh... aku kira apa. Baik saja Mas, ya sudah kita tidur aja ya, besok harus bangun pagi kan?" ajak Bu Sarah dengan cepat. Sementara itu di ruang kerja Mbah Sakiman... Orang kepercayaannya baru saja memberikan sebuah video – tepatnya video yang selalu dikhawatirkan Bu Sarah. Setelah menyaksikannya hingga selesai, Mbah Sakiman menampakkan wajah yang sangat marah. "b******k!!" teriaknya sambil mengebrak meja dengan keras. Dia kini tahu seluruh kejahatan yang dilakukan oleh menantunya, termasuk apa yang terjadi pada cucu-cucunya yang tersayang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook