bc

Mustika Pembangkit Mayat (Istri Pengganti)

book_age18+
510
IKUTI
3.0K
BACA
scandal
bitch
bxg
evil
lies
virgin
spiritual
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Menikah tanpa rasa cinta, terlebih lagi demi melunasi hutang ayahnya, membuat Ajeng tersiksa di rumah megah milik Candra. Naasnya lagi, sang ayah pun meninggal karena sakit yang tak kunjung sembuh. Sekalipun menjadi istri, Ajeng tak pernah mau untuk melayani Candra di atas ranjang, hingga lelaki itu murka dan memberinya waktu satu bulan untuk mempersiapkan diri. Tawaran yang datang dari Nyai Melati untuk membangkitkan mayat yang serupa dengan wajahnya membuat Ajeng menempuh jalan sesat itu, bersekutu dengan iblis. Namun, ia harus memenuhi satu syarat, tak boleh mencintai Candra sedikit pun, jika tidak petaka pun terjadi. Mampukah Ajeng memenuhi syarat itu? Apa saja petaka yang dibawa oleh Dahlia di dalam rumah Ajeng dan Candra?

chap-preview
Pratinjau gratis
Nyai Melati
Satu tamparan melayang di pipi Ajeng, ia jatuh di dekat ranjang mewahnya. Pukulan yang pertama kali yang ia dapatkan sejak sebulan lalu menjadi istri dari Candra. Lelaki yang memaksanya untuk menerima semua takdir buruknya. “Semua kemewahan sudah kuberikan. Apa kurangnya aku padamu sampai kamu menolak untuk melayaniku?” Candra duduk di atas ranjangnya, ia menyesal telah memperlakukan Ajeng seperti itu. Wanita berwajah ayu itu memegang pipinya yang terasa panas, tetapi tak sepanas hatinya yang merasakan pedih luar biasa sejak diboyong ke rumah mewah itu. Tidak ada cinta di dalam hatinya, ia lakukan semua hanya demi melunasi hutang ayahnya yang terpaksa meminjam uang pada Candra. “Cinta. Jangan kamu harap aku bisa memberikan hatiku. Tanggung, jangan tampar saja, bunuh sekalian kalau perlu!” Sengaja Ajeng memancing emosi suaminya. Candra berdiri, ia tak ingin emosinya dilampiaskan pada istri yang begitu ia cintai. Ia mengambil semua perlengkapan make up milik Ajeng, lalu melemparkan semuanya ke cermin hingga benda itu pecah berkeping-keping dan suaranya menggelegar ke seluruh rumah. Ajeng menarik napas cepat berkali-kali, ia melirik ke Arah lelaki itu yang belum selesai melampiaskan amarahnya. Candra duduk kembali menenangkan dirinya, Ajeng juga mengambil langkah yang sama hanya saja duduknya agak berjauhan. “Aku pergi selama beberapa waktu untuk urusan pekerjaan, dan menenangkan pikiran. Saat aku kembali dan kamu belum siap juga sebagai seorang istri. Aku bongkar kuburan ayahmu dan bawa tulang belulangnya ke depan matamu.” Candra mengemas asal pakaiannya ke dalam koper, ia pergi dengan tergesa-gesa. Sampai di bawah rumah, ia memarahi sopirnya karena lambat memenuhi panggilannya. Lelaki itu melirik ke arah kamarnya di lantai dua, di sana ia beradu pandang sejenak dengan Ajeng, lalu menutup pintu mobil dan meminta pengemudi membawanya menjauhi rumah itu. Wanita itu menarik napas panjang ketika suaminya telah pergi. Setidaknya ia akan merasa tenteram selama beberapa waktu Candra tidak ada di rumah. Lelah rasanya Ajeng harus mencari-cari alasan setiap saat ketika suaminya meminta kesiapan dirinya. Seorang pembantu datang dan membuyarkan lamunannya, wanita paruh baya itu bermaksud untuk membersihkan semua sisa-sisa keributan. Ajeng hanya mengangguk mengiyakan. “Tutup pintu dan jangan ada yang menggangu tanpa perintah dariku, mengerti!” perintah dari sang nyonya membuat wanita itu bergegas meninggalkan kamar. Ajeng mengecilkan AC kamarnya, tubuh dan hatinya terasa panas akibat pertengkaran besar itu. Ia berbaring di atas ranjang mewah yang belum lama dibeli oleh Candra. Sesaat, ia kemudian terlelap hingga terbawa ke dalam mimpi. “Aku tahu apa kau butuhkan, anakku,” sapa suara tanpa wujud dalam dimensi mimpi Ajeng. “Kamu, siapa?” Ajeng berputar-putar mencari asal suara. “Aku di sini,” jawab suara itu. Ketika Ajeng menoleh ke belakang, ia melihat sosok wanita dengan kain jarit melilit tubuhnya dan mengenakan kebaya sederhana berwarna merah. Rambutnya disanggul dengan sangat rapi disertai untaian melati yang menghiasi kepalanya. Wanita itu sangat cantik dan terlihat sebaya dengan dirinya. “Si-siapa? Dan aku, di mana?” Ajeng mencoba menyentuh tubuh wanita itu dengan telunjukknya dan tembus begitu saja. “Aku, Nyai Melati, penolongmu, sekaligus sahabat ayahmu yang sudah tiada itu.” Ajeng menautkan dua alisnya, jika wanita itu memang sahabat ayahnya tentu terlihat tua, tetapi ini sangat berbeda. “Aku bisa menolongmu.” Wanita itu tiba-tiba saja telah berpindah di belakang tubuh Ajeng. “Menolong? Maksudmu?” “Kau tak ingin Candra menyentuhmu, bukan? Aku punya cara yang sangat jitu. Tentu saja uangmu itu cukup untuk membayarnya. Suamimu itu memberimu begitu banyak perhiasan, bukan?” Nyai Melati tertawa sembari mengedipkan sebelah matanya. “Ma-maksud, Nyai, bercerai, tapi pesan ayahku---“ “Bukan, Sayangku. Tapi, akan kubangkitkan satu mayat untukmu, hingga rupanya sama persis denganmu,” ujar Nyai disertai dengan kibasan kipasnya. “Membangkitkan mayat?” Ajeng tak habis pikir dengan ide wanita berkebaya merah itu. “Aku tunggu kau di rumahku. Tak jauh dari rumah ayahmu, terus saja lurus kau berjalan seorang diri mengikut kata hatimu sembari menyebut namaku terus-menerus, kau akan sampai di kediamanku.” Detik itu juga Nyai Melati menghilang dan Ajeng terbangun dari mimpi singkatnya di siang hari. “Astaga, wanita itu bilang membangkitkan mayat dengan wajah yang sama sepertiku. Apa dia gila?” Ajeng berdiri lalu masuk ke kamar mandi berusaha membersihkan pikirannya yang kotor. *** Ajeng membuka brankas yang dipercayakan Candra padanya. Di dalamnya terdapat banyak uang dan juga perhiasan. Lelaki itu sangat menyayanginya, hanya saja, wanita berwajah ayu itu sama sekali tak memiliki perasaan apa pun dengan Candra. Ajeng mendendam sedemikian dalam, sebab kematian ayahnya adalah karena tindakan gila suaminya. Wanita itu, mengambil beberapa lembar uang, ketika ia merapikan perhiasan yang tak sengaja jatuh ke lantai. Tangan Ajeng dipegang oleh sosok yang luar biasa dingin. Wanita itu mendongak, ia lihat wajah seseorang yang tadi mengunjunginya di dalam mimpi. “Datanglah, aku menunggumu. Penawaran ini terbatas,” ujarnya, lalu menghilang begitu saja. Segera saja Ajeng merapikan dan mengunci brankasnya. Ia, kemudian melirik jam di dinding, masih jam empat sore. “Wanita aneh itu bilang, rumahnya dekat rumah ayahku. Mungkin ini kesempatan bagus untukku cari tahu. Siapa tahu dia bisa bantu aku lepas dari cengkeraman Candra walau gak harus bercerai,” gumamnya sembari memainkan cincin pernikahannya. Gegas Ajeng berkemas, ia mengenakan setelah jeans dan juga blouse panjang, rambut panjangnya ia biarkan tergerai begitu saja, sepatu datar ia kenakan, outfit yang membuatnya terlihat cantik natural, wajar saja jika Candra begitu menggilainya, dan rela menghalalkan segala cara untuk memilikinya. “Pak, antar saya ke rumah, sekarang!” perintahnya pada sopir Candra yang baru saja kembali dari mengantar suaminya. “Maaf, Bu, tapi Bapak pesan, supaya Ibu di rumah saja, nggak boleh ke luar rumah sampai Bapak kembali sebulan lagi,” jawab lelaki bertubuh tegap itu. Ajeng menarik napas panjang, ia tak mau kehilangan kesempatan emas. Satu bulan lagi, suaminya pasti akan kembali dan meminta kerelaan dirinya. Wanita itu tahu apa yang dibutuhkan oleh sopirnya. Ajeng keluarkan beberapa lembar merah di depan Satya, sopirnya. “Kamu butuh uang, kan? Istrimu bukannya harus rutin kontrol kandungan?” Tak ada tutur kata sopan lagi dari wanita berperawakan mungil itu. “Ta-tapi,” ragu-ragu Satya menjawab. “Nanti saya tambah lagi jumlahnya, dan tutup mulut, kamu tahu, kan, kalau Candra marah seperti apa?” Sopir itu hanya mengangguk saja. Dua orang itu kemudian menaiki mobil yang dibelikan khusus oleh Candra untuk Ajeng. Hampir tiga jam berkendara, mereka sampai di kediaman lama Ajeng. Ketika wanita itu ingin membuka pintu mobil, sebuah suara datang berbisik padanya. “Datang seorang diri, jangan bawa siapa pun. Terus saja ke belakang rumahmu, kau pasti akan temukan di mana rumahku.” Suara yang mengentakkan kesadaran Ajeng. “Tunggu di sini, sampai saya kembali!” Perintah Ajeng pada Satya. Wanita itu memasuki rumah lamanya. Sebuah ruangan yang berdebu karena sudah lama tidak dibersihkan. Ia membuka pintu belakang yang langsung tembus ke arah semak belukar. Serasa ada yang menuntun dirinya, Ajeng terus berjalan meski kain celananya mulai dipenuhi ilalang yang menempel. Padahal sebelumnya, tidak ada yang istimewa dengan belakang rumahnya, selain pohon mangga lebat yang buahnya kerap dicuri anak-anak. Ia terus melangkah dengan tatapan kosong, mengikuti semerbak bau melati yang begitu melenakan, sembari menggumamkan nama Nyai Melati. Samar-samar dari jarak yang tak terlalu jauh, Ajeng mulai mendengar bunyi lonceng yang mulai dientakkan. Begitu pula dengan kepulan asap tipis yang mulai mengganggu penglihatannya. Kesadarannya kembali, Ajeng bergidik ngeri, ia ingin kembali ke rumahnya. Wanita itu sedari dulu paling takut berurusan dengan hal-hal gaib. Ketika ia berbalik ke belakang, Ajeng dikagetkan dengan kehadiran laki-laki berambut panjang, tidak mengenakan baju, dari pinggang sampai lutut hanya ditutupi dengan kain jarit saja. Rangkaian bunga melati terkalung di lehernya. Lelaki aneh itu menatap Ajeng dengan lekat-lekat, hingga wanita itu mulai berlari ke arah kepulan asap, kakinya menabrak akar pohon yang melintang. Ajeng mendongak, di depannya kini terlihat sebuah gerbang besi yang sangat tinggi, dan terbuka sendiri. Sontak suara burung hantu yang menyapanya membuatnya semakin ngeri. Diiringi dengan gugurnya daun dari pohon beringin yang terlihat sangat kokoh dan menyeramkan. Ajeng menelan salivanya dalam-dalam. “Masuklah,” ujar sebuah suara tanpa Ajeng lihat wujudnya. Demi apa pun bulu kuduk Ajeng berdiri dan desir darahnya terasa panas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.5K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook