Bayang-Bayang

1880 Kata

Candra terhenyak ketika mendapati kenyataan salah satu anak buahnya telah tiada. Mati dengan kondisi tubuh mengering, mulut menganga dan matanya terbelalak. Mengenaskan, satu kata yang layak diucapkan. “Pelakunya siapa?” tanya rentenir itu dari ponselnya, ia sedang berbincang dengan salah satu anak buahnya yang tersisa. Pria di seberang sana hanya mengatakan tidak tahu saja. Karena memang saat kejadian ia dan satu temannya lagi sedang keluar kota bahkan bersama bos mereka. Kemudian lelaki itu menutup teleponnya. Tak mau tahu lagi dengan apa yang terjadi, jika ada keluarga yang bisa diberi santunan akan ia berikan, walau tak banyak. Rentenir itu terlampau pelit jadi manusia. “Telepon dari siapa, Mas?” Ajeng datang membawakan secangkir teh untuk suaminya. Ia sekarang tak bersandiwara lag

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN