Nasehat

1794 Kata

Candra duduk sambil termenung di ruang kerjanya. Tiga anak buahnya telah raib begitu saja dalam waktu yang sangat dekat. Ia jadi kehilangan orang yang bisa menagih hutang dengan jalan kekerasan. Tidak bisa dibiarkan, rentenir tersebut harus mencari pengganti jika ingin semuanya tetap baik-baik saja. Sejak anak buahnya telah tewas, Candra ke mana-mana selalu ditemani oleh Satya. Alhasil untuk sementara waktu pula Ajeng hanya berdiam di rumah saja. Pun wanita itu takut meninggalkan Dahlia yang baru saja kembali. Meski sebenarnya Ajeng semakin ngeri memandang kembarannya tersebut. Namun, hanya itu pilihan yang ia punya. “Pak, hari sudah mau adzan Dzuhur. Boleh saya menepi sebentar, mau shalat,” ucap Satya perlahan. Meski ia tahu tuannya itu sama sekali tak pernah menunaikan ibadah apa pun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN