Candra memeriksa buku catatannya. Sebelumnya ia meminta bibi pembantu di rumah untuk memasak hindangan yang lezat. Sambil menanti ia baca-baca lagi catatan utang. Ada satu nama yang berhutang cukup besar dan bagaimana mungkin bisa Candra lupakan begitu saja. Nama Ardi tertera di sana, seorang lelaki yang tak lagi memiliki istri. “Kalau nggak salah dia punya anak gadis, kan?” Candra bergumam sendirian. Ia mulai ingat ketika terakhir kali datang ke rumah Ardi. Ada anak perempuan yang masih polos sekitar dua tahun lalu. Jarak usia dengannya cukup jauh. Dari raut wajah yang membekas di hati Candra terlihat sekali gadis itu sangat ranum. “Besok aku datang ke tempatmu, Ardi. Ingat hutangmu udah lewat dari jatuh tempo. Bunga yang semakin berbunga dan mau pakai apa kamu bayar? Rumah yang reot

