Ajeng berdiri di depan pintu masuk. Selasih menarik tangannya, sebab gadis itu amat sangat terpukau dengan kemegahan istana ular milik Pangeran Satria. Emas berkilauan di sana-sini. Di dalamnya ada empat air mancur dengan patung ular di bagian dalam. Air yang mengalir membuat Ajeng seketika haus. Tanpa sopan-santun ia langsung ke sana, meminum air tersebut dengan dua tangan. Selasih geleng-geleng kepala dibuatnya. Sedangkan sang pemilik istana tersenyum. Sudah sangat jelas gadis berambut panjang itu tak akan sulit ditaklukkan, bahkan Satria tak perlu merayunya. Pasti ia sendiri yang akan berteluk lutut pada siluman itu.
“Ajeng, kemarilah, dia orang yang harus kau temui.” Selasih menarik tangan gadis itu, ia membawanya langsung ke hadapan Pangeran Satria. Istana itu lagi-lagi membuat Ajeng tak mampu untuk berkata-kata. Dari tadi ia lihat dayang perempuan mondar-mandir, menggunakan sutera dan perhiasan, dengan kulit halus dan wajah cerah. Namun, tetap saja Selasih yang paling memukau di antara yang lain.
“Beri sujud pada orang yang kau cari dari tadi, Ajeng,” ucap Selasih. Gadis itu bingung lagi, ia menunjuk dirinya sendiri. Selasih mengangguk, ia membawa Ajeng lebih dekat pada tuannya. Serta memaksa gadis itu untuk duduk lalu mau tak mau Ajeng pun bersujud di depan Pangeran Satria. Lelaki penguasa Hutan Larangan itu kemudian meminta Selasih dan seluruh dayangnya untuk meninggalkan mereka hanya berdua saja. Ada banyak hal yang harus dibicarakan dan juga dilakukan, salah satunya persekutuan dua makhluk yang menjadi syarat utama. Tangan kanan Selasih mematuhi kata tuannya. Ia pun memerintahkan para dayang untuk keluar, lalu menutup pintu. Pada saat itu Ajeng baru sadar ia hanya ditinggal berdua saja dengan lelaki berpakaian kuning keemasan di depannya.
“Berdirilah. Hanya kita berdua saja di sini, jangan sungkan.” Perintah Satria. Gadis berwajah ayu itu menuruti kata siluman ular di depannya. Ia berdiri dan menoleh ke kiri, kanan dan terlihat oleh dua matanya hidangan di atas meja yang begitu menggugah selera. Lekas saja gadis polos itu menelan air liurnya sendiri.
“Kau lapar?” tanya sang pangeran. Lelaki itu berdiri dari singgasananya yang berlapis emas. Ajeng hanya mengangguk saja. Siluman ular tersebut meraih tangan kanan Ajeng, gadis itu hanya diam saja. Dingin sekali terasa tubuh sang pangeran di tangan Ajeng. Ia lalu dituntun untuk duduk di meja makan yang juga berlapiskan emas.
“Makanlah, sebanyak mungkin yang kau mau. Di sini bebas. Aku memperlakukan tamu dengan sangat baik,” ucap sang pangeran. Ajeng masih terlihat malu-malu. Lalu Satria memotong sekerat daging dan memindahkan ke piring gadis itu, sekali lagi mempersilakannya untuk makan.
Istri Candra tersebut tak terlalu suka makan-makanan mewah, saat di rumah suaminya saja hanya sekedar makan tanpa menikmatinya. Namun, karena rasa sungkan ditambah ia butuh dengan bantuan Pangeran Satria, sedikit demi sedikit ia pun memakannya. Terbelalak mata jernih gadis polos itu. Rasanya ratusan kali lipat lebih nikmat dari hidangan di rumahnya. Ia pun memotong daging lebih besar bahkan tak malu lagi memakannya dengan tangan. Siluman ular itu menyeringai. Sedikit demi sedikit Ajeng sudah menyerahkan diri padanya. Hanya tinggal menunggu waktu ketika gadis itu berbaring di ranjang emas sang penguasa, atau jika tak mau bisa di dekat danau. Apalagi gadis itu sama sekali belum pernah disentuh oleh suaminya.
“Pelan-pelan makannya, masih ada banyak hidangan yang bisa kau nikmati.” Pangeran Satria membersihkan bibir Ajeng yang belepotan terkena makanan. Gadis itu terkesiap, lalu sadar sedang berada di istana seseorang. Ia menyudahi makannya, lagi pula ia tak bisa makan banyak-banyak.
“Sudah cukup?” tanya Satria, gadis itu hanya mengangguk saja. “Kalau begitu ayo ikut sekarang.” Pangeran berdiri, lagi-lagi tangannya terulur mengajak Ajeng ke satu tempat. Pikir gadis itu ia akan diberikan mustika menjangan putih sekarang juga, sebab telah berhasil sampai ke kediaman siluman ular. Ia pun menurut saja. Istana yang sangat luas, sudah lama sang pangeran dan manusia biasa itu berjalan masih belum sampai ke tempat yang seharusnya di tuju.
“Hati-hati. Ada kolam di depanmu.” Pangeran Satria lekas saja menggendong Ajeng. Lantai di depannya memang sama coraknya, tapi sejatinya merupakan kolam yang berisikan ribuan ular kecil-kecil peliharaannya. Terkejut lagi Ajeng, matanya langsung bertatapan dengan mata kehijauan sang pangeran, begitu dalam hingga membuat gadis polos itu terhanyut, dan tanpa sadar menyentuh pipi Pangeran Satria.
“Sepertinya kau sudah tak sabaran ingin berdua saja denganku. Tunggulah, masih ada yang ingin kuperlihatkan padamu.” Pangeran Satria menurukan tangan Ajeng yang berada di pipinya. Sudah biasa ia seperti itu, sudah banyak gadis atau wanita yang menyerah dalam tatapan mata ular tajamnya. Sihir yang bisa membuat siapa pun lupa diri.
“Maaf, nggak sengaja.” Ajeng turun dari gendongan sang pangeran, ia tadi merasa tak sopan dengan pemilik istana megah itu.
“Tidak apa-apa. Nanti juga kau dan aku bebas melakukan apa saja yang kau mau.”
“Apa saja?” gumam gadis polos itu perlahan-lahan.
“Kemarilah. Kita harus berbincang-bincang dulu sebentar supaya tak kaku nanti.” Pintu lebar di depan Pangeran Satria terbuka, lalu terlihat sebuah taman di depan sana ada ragam tanaman bunga dan juga hewan yang dipelihara. Ada binatang berwarna putih bersih di kebun binatang milik Pangeran Satria. Salah satunya menjangan putih, binatang sakti yang memiliki batu di tanduknya. Batu yang dianggap mustika yang mampu mengabulkan hajat pemintanya.
“Wow, ya ampun, keren banget. Ini binatang apa?” tanya Ajeng dari jauh. Ia masih belum berani mendekat lagi pula ia tak tahu harus memanggil lelaki itu seperti apa.
“Kau boleh memanggilku Pangeran Satria. Walau sejatinya aku raja pemilik Hutan Larangan ini” Penguasa itu mengetahui isi hati Ajeng. “Ini namanya menjangan putih. Bukankah kau mencari mustika ini atas perintah temanku, Nyai Melati?”
“Iya, bener, Pangeran kayaknya udah tahu. Jadi bisa saya ambil sekarang mustikanya?” Ajeng meminta dengan gaya polosnya.
“Boleh, tentu boleh, aku dan Nyai Melati sudah lama bersahabat. Bahkan ratusan tahun sejak kau belum lahir. Tapi, tidak bisa sekarang. Sebab kau harus melakukan satu hal wajib untukku. Tanpa itu kau tak akan kuberi mustika menjangan putih. Tanpa mustika itu kau tak bisa keluar dari hutan dan akan menjadi budakku, selamanya,” tekan sang pangeran. Ia menarik tangan Ajeng hingga kini gadis itu berada sangat dekat dengannya.
“I-iya, iya, Pangeran, terus saya harus apa? Biar mustika itu dikasih sama saya?” Ajeng ketakutan, tatapan mata sang pangeran berubah menjadi menyeramkan, gadis itu bagaikan mangsa yang sebentar lagi akan ditelan oleh seekor binatang buas.
“Kau sudah siap dengan semua yang aku minta nanti?” tanya Pangeran Satria sekali lagi. Ajeng hanya mengangguk saja. Dalam benaknya ia sudah berada di hutan ini selama seharian penuh. Takutnya dua hari lagi Candra kembali dan gadis itu belum mempersiapkan apa-apa untuk kepulangan suami yang tidak ia cintai. “Bagus, kalau begitu ikut ke kamarku.”
“Kamar? Ngapain, ya?” gumam Ajeng lagi. Tak punya pilihan lain lagi, ia pun hanya menurut saja.
Kembali mulut gadis itu terbuka lebar. Kamar Pangeran Satria jauh lebih indah, mewah, megah dan sejuk berkali-kali lipat daripada kamarnya. Terpana sejenak gadis itu apalagi patung-patung ular kecil begitu banyak dengan lapisan emas, terutama dibagian ranjang telah ditaburi bunga yang amat wangi oleh dayang-dayang Satria.
“Kau paham harus bagaimana, bukan?” Pangeran Satria mulai membuka makhkotanya sendiri. Ajeng berbalik dan melihat gelagat lain dari siluman ular di depannya dan ia hanya menggeleng saja. Penguasa Hutan Larangan itu sama sekali tak marah. Justru ia senang, kali ini yang datang padanya gadis polos yang belum tahu apa-apa.
“Kenapa Pangeran buka baju? Kan, di sini dingin?” Benar-benar polos gadis di depan Pangeran Satria. Seringai siluman ular itu pun terbit.
“Kalau kau merasa kedinginan di kamar ini, masih ada danau yang terasa jauh lebih hangat airnya. Barangkali kau bisa betah berlama-lama denganku di sana. Ingat kataku tadi? Aku memperlakukan para tamu dengan baik sampai mereka puas.”
“Puas?” Ajeng mengulangi perkataan Satria. Ia mulai menangkap arah pembicaraa lelaki bergaya raja itu ke arah ranjang.
“Iya. Aku tahu kau belum pernah melakukannya sama sekali, tapi tenanglah aku tak akan kasar denganmu. Justru kau yang akan rindu bahkan mulai memanggil namaku.” Pangeran Satria berjalan mendekat, Ajeng mundur ke belakang.
“Nggak, jangan! Bukan gini maksudku. Aku ke sini buat cari mustika menjangan putih bukan yang lain!” Keringat gadis itu mulai jatuh meski kamar terasa dingin.
“Kau pikir semudah itu mendapatkan mustika tanpa harus memberikan sesuatu padaku.” Terus saja siluman ular itu berusaha mendekati Ajeng. Ia suka membuat gadis itu ketakutan terlebih dahulu walau nanti akan menjerit karena puas dengannya.
“Sesuatu itu apa? Tadi Nyai Melati nggak ada bilang gini. Nyai, Nyai Melati, tolong. Aku nggak ngerti apa-apa. Aku mau pulang!” Istri Candra itu berlari, tapi tangannya ditangkap oleh Satria, kini gadis itu sudah berada dalam pelukan sang penguasa. Sekali sudah masuk ke istana atau membuat perjanjian dengan para sekutu pangeran ular, maka tak akan bisa mundur lagi.
“Kenapa kau takut sekali, aku bahkan belum menyentuhmu seujung kuku pun.” Pangeran Satria menyentuh dagu Ajeng, gadis itu masih berusaha menjauh dan mengulum bibirnya sendiri. “Bahkan bibirmu belum pernah disentuh oleh suamimu. Apa kau tak penasaran dengan rasanya?” Sebelah tangan Pangeran Satria membelai rambut Ajeng. Semakin ketakutan gadis itu, ia menjalin persekutuan dengan Nyai Melati demi menyelamatkan kesuciannya, malah kini kegadisannya akan direnggut sebagai pertukaran dengan mustika menjangan putih. Bukankah sama saja bohong atau bahkan dirinya merugi luar biasa?
“Tolong, lepas,” pinta Ajeng sembari menangis. Jantungnya telah berdetak kencang ketakutanya semakin menjadi. Namun, justru hal itu terlihat menyenangkan di mata Pangeran Satria. Dari sebanyak wanita yang datang ke kakinya, Ajeng yang kelewat polos.
“Aku janji, kau hanya akan menangis di awal saja. Sisanya kau akan menyebut namaku berulang kali. Lihat mataku.” Pangeran Satria memaksa gadis dalam pelukannya untuk melihat tajam matanya. Ajeng tak bisa menghindar. Awal mula mata itu ia lihat persis sama seperti ular yang sedang lapar, tapi lambat laun menjadi begitu lembut. Perlahan-lahan pupil mata Ajeng membesar, lalu ia tak bisa menguasai pikiran, apalagi tubuhnya sendiri. Ia mengangguk dan mengiyakan apa yang diminta sang pangeran padanya.
Sang penguasa Hutan Larangan mengecup Ajeng terlebih dahulu. Gadis itu membesarkan mata, lalu memejam, pertama kali yang ia rasakan dalam hidupnya. Namun, sudah yang kesekian kali oleh sang pangeran. Begitu mahir siluman ular itu membawa Ajeng hanyut dalam permainannya, hingga betis gadis itu tak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri. Ia jatuh lemas tapi tubuh kecilnya ditangkap oleh Pangeran Satria, lekas saja siluman ular itu membaringkan budaknya di atas ranjang yang telah bertaburan aneka bunga.
“Malam pertama untukmu, denganku, bukan dengan suamimu. Akan kubuat kau tak bisa melupakanku.” Lelaki itu melucuti semua pakaian Ajeng, begitu juga dengan dirinya. Gadis yang kelewat polos tersebut tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia merasakan ada yang dingin melilit kaki dan tangannya. Ular-ular yang merupakan bagian tubuh dari Pangeran Satria memberikan sensasi lain pada diri Ajeng. Sampai akhirinya ia menggeliat dan mulai merasakan apa yang dikatakan oleh sang pangeran dari tadi. Mata jernih gadis itu setiap sebentar memejam dan menutup. Ia tak kuasa menerima sentuhan dari ular-ular di atas tubuhnya. Napasnya cepat dan mulai menyebutkan nama sang pangeran berkali-kali. Gadis itu sudah berada dalam kuasa siluman ular berusia ratusan tahun. Lalu tiba saatnya membawa gadis itu ke situasi yang lebih melenakan. Pangeran Satria benar-benar merenggut milik Ajeng tanpa belas kasihan lagi. Gadis itu menjerit, bahkan menangis. Pangeran Satria mengembalikan kesadarannya agar Ajeng paham apa yang sebenarnya terjadi.
“Kau, sudah menjadi milikku. Tak bisa menghindar lagi, kau sekutu yang terikat denganku yang licin ini sampai kau mati!” ucap Pangeran di wajah Ajeng. Gadis itu masih terisak, menyesal menjalani perjanjian dengan Nyai Melati. Namun, semua sudah terjadi ia tak bisa mundur lagi. Pangeran Satria masih menikmati dirinya hingga berjam-jam lamanya. Awalnya memang gadis yang sudah tak lagi suci itu menangis. Namun, cara sang pangeran memperlakukannya membuat istri Candra itu lupa diri dan akhirnya Ajeng pun menyerah lagi untuk yang kesekian kalinya. Ditambah hawa kamar itu semakin dingin. Sebagai manusia biasa Ajeng butuh sesuatu yang bisa menghangatkannya, dan hal itu diberikan oleh Pangeran Satria. Hampir menyerah gadis itu, ia kesulitan mengimbangi sang pangeran yang sakti. Paham gadis dalam dekapannya tak berdaya lagi, pemilik Hutan Larangan tersebut kemudian menggiringnya ke puncak hingga akhirnya persekutuan dua makhluk itu usai sudah. Empat ular kecil yang berasal dari bagian tubuh sang pangeran melepaskan diri dan menyatu lagi padanya. Ajeng berbaring lemah dengan mata yang terbuka. Ada sesal yang begitu besar, tapi ada rasa lain yang juga masuk ke dalam hatinya. Pangeran Satria tak henti-hentinya memaksa dirinya untuk menelan air liurnya, hingga mau tak mau ia pun mulai kepikiran tentang lelaki yang kini juga berbaring di sebelahnya, dalam wujud ular berwarna cokelat kehitaman.