bc

Setelah Kehilangan

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
friends to lovers
pregnant
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
like
intro-logo
Uraian

Duka membuat seseorang kehilangan banyak hal, begitu pula Dara Kartika. Namun secercah harapan muncul melalui hal kecil yang dicintai putranya, dan semua itu justru membawa Dara bertemu dengan Malik Ghaffar, seorang guru musik yang menawarkan lebih dari sekadar kelas. Ia menawarkan kemungkinan untuk menyatukan kembali hati yang retak, dan mengembalikan bagian hidup yang sempat hilang. Bagaimana Dara akan menghadapi semua itu?

chap-preview
Pratinjau gratis
1.Sebelum Segalanya
Bagi Dara Kartika, keberuntungan itu omong kosong. Dunia berjalan di atas kerja keras, bukan takdir. Semuanya tentang keteraturan: alarm pukul lima pagi, jadwal ketat yang tersusun rapi di kepala, dan prinsip bahwa setiap kegagalan pasti punya dalang, sebagaimana keberhasilan selalu punya harga yang dibayar tuntas. Bagi Dara, bintang-bintang di langit tidak pernah bersekongkol untuk membahagiakannya; seseorang harus mandi keringat lebih dulu agar hal baik bisa terjadi. Prinsip baja itu lahir dari sang ibu. Wanita yang selalu bangun sebelum fajar, menyisihkan sisa uang ke dalam tiga amplop berbeda di laci dapur, dan tak pernah mengeluh meski bahunya memikul beban rumah tangga. Ayahnya? Pria yang manis, tapi sama sekali tak bisa diandalkan. Ayahnya mengurus perasaan, sementara ibunya mengurus hidup. Dan Dara tahu betul pihak mana yang harus ia tiru. Sebab itulah, ketika sang ibu menelepon di suatu sore di bulan Maret dan berkata dengan nada santai, "Nak, Sabtu depan kita makan malam sama keluarga pak Alan," Dara tidak langsung mengamuk. Ia hanya terdiam selama tiga detik, menghitung seratus skenario terburuk yang mungkin terjadi, sambil menyadari bahwa menolak secara mentah-mentah hanya akan memicu drama panjang yang menguras energi. Usianya baru dua puluh tahun saat itu. Mahasiswi Manajemen Bisnis semester empat di Universitas Merdeka, dengan IPK mentereng yang membuat para dosen hapal wajahnya. Hidupnya sudah punya peta jalan yang jelas: lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude, magang satu tahun, lalu menembus perusahaan impian. Simple. On track. Sampai panggilan telepon itu merusak semuanya. Keluarga pak Alan , menurut versi ibunya, adalah orang-orang "terpandang dan berada". Tapi menurut versi Dara, mereka hanyalah sekelompok orang kaya yang menilai isi dunia dari tebalnya dompet. Pak Alan adalah pebisnis yang lebih suka memamerkan aset daripada membahas anaknya, sementara Bu Dwi, istrinya, selalu memamerkan senyuman yang membuat Dara merasa sedang diuji, bukan disambut. Putra sulung mereka, Hadi Baskara, berusia dua puluh dua tahun dan sedang menempuh pendidikan kedokteran. Ibunya menyebutkan tentang "anak kedokteran" itu setidaknya empat kali dalam satu panggilan telepon, seolah gelar dokter adalah kartu as yang tak bisa dibantah. Malam perjodohan berlangsung di sebuah restoran fine dining lantai 23. Suasananya terlalu dibuat-buat: lilin berjejer, musik piano bertempo lambat, dan dua keluarga yang saling melempar senyum palsu. Dara duduk tegak dengan senyuman yang sudah ia latih di depan cermin—tidak terlalu ramah, tapi juga tidak dingin. Hadi datang terlambat tujuh menit. Alasannya? Dia lupa menaruh dompet. Kesan pertama Dara pada pria itu: terlalu tampan untuk seseorang yang kelihatan linglung. Karena Hadi muncul dengan kemeja putih terlalu rapi, gesper sedikit miring, serta ekspresi yang dengan jelas memancarkan kalimat: Aku juga tidak tahu sedang apa di sini. "Maaf saya terlambat," ujar Hadi setelah menyapa orang tua Dara. "Saya lupa menaruh dompet." "Dompet?" Dara bersuara sebelum sempat menahannya. Pria itu berkedip, agak kaget, lalu terkekeh pelan. "Iya. Tahu-tahu sudah ada di atas kulkas." Dara menatapnya datar. "Kok bisa di atas kulkas?" "Enggak tahu. Saya juga masih mempertanyakan hal itu sampai sekarang." Ibu mereka berdua langsung mengalihkan pembicaraan, mengabaikan insiden dompet tersebut. Namun malam itu, meski Dara tidak langsung jatuh cinta, ia mendesah lega. Setidaknya, dijodohkan dengan pria ini tidak akan setersiksa yang ia bayangkan. Pernikahan lantas terjadi semarak satu tahun kemudian, saat usianya masuk 21 tahun. Dara tidak punya celah untuk kabur; tekanan datang dari segala penjuru. Ibunya bicara soal masa depan, ayahnya bicara soal tanggung jawab, dan keluarga pak Alan bicara soal kesempatan emas. Semua orang bersuara, kecuali Dara yang tak pernah ditanya apa kemauannya. Padahal kemauannya sederhana: ia hanya ingin menyelesaikan kuliah. Meski begitu, di balik sifat canggung dan kelembutan sikapnya, Hadi ternyata menyimpan ketegasan tak terduga. Saat Bu Dwi, dengan senyum palsunya, mengusulkan agar Dara mengurus rumah tangga saja setelah menikah dan melepas kuliahnya, pria meletakkan cangkir tehnya tanpa suara. "Dara akan menyelesaikan kuliahnya. Itu keputusan kami," ucap Hadi tenang. Bu Dwi melotot tak percaya, namun Hadi hanya tersenyum manis. Di sudut ruangan, Dara menatap punggung pria itu dan membatin: Mungkin dia bukan sekadar anak mama yang penurut. Dara akhirnya lulus dengan IPK yang sukses membuat ibunya menangis terharu. Ia lalu bekerja sebagai staf administrasi di sebuah klinik swasta. Bukan pekerjaan yang sejalan dengan potensi besarnya, tapi stabil, tidak memicu konflik dengan keluarga pak Alan, dan memberinya alasan untuk tetap melangkah keluar rumah setiap pagi. Pernikahan mereka melaju seperti belajar bahasa asing—sulit di awal, membingungkan di tengah, namun pelan-pelan terasa bagai rumah. Hadi adalah tipe suami yang ajaib. Dia bisa lupa membayar tagihan listrik, tapi tak pernah lupa tanggal ulang tahun Dara. Dia bisa tertidur di sofa saat dipinta membantu memasak, tapi selalu bangun lebih pagi demi menyeduh kopi untuk Dara. Pria itu bahkan bisa meneteskan air mata saat menonton drama Korea di depan TV. "Ini mengharukan, Ra. Kamu enggak punya perasaan," protes Hadi malam itu, sembari mengusap matanya dengan lengan baju. Dara yang duduk di sampingnya menyipitkan mata. "Kamu itu calon dokter. Harusnya kamu tahu secara medis kenapa air mata bisa keluar." "Dan fakta medis itu," sahut Hadi dengan wibawa yang dibuat-buat, "enggak menghalangi aku untuk menikmati karya seni." Dara mendengus, kembali menatap bukunya, meski sudut bibirnya terangkat membentuk sunggingan tipis. Cinta di antara mereka tumbuh lambat, seperti pergantian musim yang tak disadari. Cinta itu hadir di selipan percakapan malam yang tak penting, pada kebiasaan Hadi yang selalu mengecek kunci pintu dua kali, atau telepon singkat di tengah jam operasional rumah sakit hanya untuk memastikan Dara sudah makan siang. Perasaan itu benar-benar mengakar kuat ketika Barra lahir di suatu pagi bulan November. Bayi kecil seberat 3,3 kg itu menangis kencang, sementara Hadi berdiri di samping ranjang rumah sakit dengan mata berkaca-kaca. "Kamu kenapa?" tanya Dara saat itu. "Aku baru sadar..." bisik Hadi gemetar, "...aku belum siap jadi ayah." "Kak—" "Tapi aku bakal belajar." Hadi menatap Jennie, lalu beralih ke bayi di pelukannya. "Aku janji, aku bakal belajar." Dan dia benar-benar membuktikannya. Dengan gaya khas Hadi: dua langkah maju, satu langkah mundur karena lupa menaruh petunjuk merakit ranjang bayi, lalu tiga langkah maju lagi karena ternyata dia mempelajari itu selayaknya mempelajari ilmu kedokteran. Barra tumbuh di dalam rumah yang hangat. Punya ibu yang mendokumentasikan setiap momen di buku agenda, dan ayah yang kadang konyol tapi tak pernah absen memberi kasih sayang. Tentu saja, hidup mereka tak sempurna. Keluarga pak Alan tetaplah keluarga pak Alan—selalu hadir di setiap acara keluarga dengan pertanyaan bernada merendahkan dan sindiran halus yang dikemas sebagai "perhatian". Hadi selalu pasang badan menjadi pelindung Dara, meski terkadang tembus juga oleh keadaan. Namun Dara tak pernah ambil pusing. Ia belajar menerima dan menikmati setiap detik takdir barunya. Dara hanya tidak pernah tahu... bahwa takdir itu hanya memberinya waktu sembilan tahun.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
832.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
385.3K
bc

Not just, the Beta

read
362.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook