"Tiga!" teriakan Gusti lagi-lagi membahana.
"Reno. Tiga puluh dua tahun. Koki andalan Omah Lemper idola para wanita." Serentak protes 'huuu' panjang terdengar dari jejeran staf. Bahkan Juwita melempari Reno dengan serbet makan hingga mengenai muka Reno. Juwita buru-buru memungut serbet itu sebelum terinjak dan kotor.
Berhubung Reno masih mengangkat tangan, dia meneruskan data dirinya. "Tenang, Rakyatku. Meskipun jadi idola banyak wanita, tapi mereka semua ibu-ibu. Sedihnya hamba, hiks." Sontak seluruh isi ruangan terbahak bersamaan dengan turunnya tangan Reno.
"Empat!"
"Juwita. Bisa dipanggil Juju atau Wita. Tapi mending panggil Juju aja deh, ya, biar kedengaran lebih akrab gitu …" Seluruh staf menggumamkan tawa tertahan.
Sebetulnya mereka semua sudah hafal tentang data diri masing-masing teman staf. Tetapi sudah menjadi kebiasaan sejak dulu: sebelum mulai bekerja semuanya wajib memperkenalkan diri dengan cara yang unik setiap harinya.
"… tiga puluh dua tahun,” lanjut Juwita. “Kasir Omah Lemper, lulusan UI jurusan Akuntansi yang gagal jadi akuntan —tapi dulu banget pengen jadi pegawai bank sebenarnya, tapi apalah daya ditolak karena terlalu cantik ..."
"Cantik, cantik ..." potong Reno dengan mulut mencibir. "Nying-nying! Makan tuh cantik." Reno menjejalkan serbet makan —yang tadi digunakan Juwita untuk menampol mukanya— ke depan bibir wanita itu saking gemasnya. Juwita nyaris membalas Reno sekali lagi tetapi suara Gusti memotong perkelahian kecil di antara keduanya.
"Lima!"
"Bagas. Dua puluh sembilan tahun. Cleaning Service." Jeda sebentar karena Bagas tiba-tiba melirik ke arah Windhy dengan tatapan malu-malu. "Lulusan sekolah menengah musik Surabaya. Cita-cita membangun sekolah musik untuk para pengamen cilik." Sontak terdengar sorakan riuh rendah dari jejeran staf. Gusti tersenyum seperti mengamini cita-cita Bagas.
"Enam!" seru Gusti. Lagi.
"Marin. Tiga puluh dua tahun. Asisten koki. Ibu dari dua anak." Lagi-lagi seperti Bagas, kata-kata Marin menggantung. Dia melirik sekilas pada raut wajah Gusti seolah meminta perlindungan dari siapa saja yang mungkin akan merundungnya karena setelah ini dia akan mengatakan sesuatu yang mengundang rasa iba, "Single parent," lanjut Marin kemudian buru-buru tertunduk.
Juwita yang berbaris di samping Reno tiba-tiba pindah di sebelah Bagas untuk merangkul Marin. Pelukan hangat dari seorang sahabat yang peduli. Agaknya Marin sudah terbiasa menyebut dua frasa itu; single parent. Namun entahlah, hari ini rasanya frasa itu begitu asing. Tenggorokannya kelu saat mengucapkannya hingga air mata merembes deras di kedua pipi.
Marin seolah membawa kembali ingatan yang sudah lama ingin dia hapus. Namun ingatan itu seolah berbalik mengancamnya: 'Kamu nggak mungkin bisa menghapusku, Marin. Karena aku adalah bagian dari dirimu. Kalau aku lenyap, kamu pun harus lenyap, Marin! Harus lenyap!' Intimidasi dari gaung suara itu benar-benar berengsek. Seberengsek mantan suaminya. Sungguh berengsek.
Gusti menghela napas berat seolah mengerti beban yang Marin letakkan di pundak tambunnya itu. Sebelum akhirnya kembali berseru, "Tujuh!"
"Ribut," jawab seorang wanita di sebelah Marin. "Dua puluh tujuh tahun. Pramusaji Omah Lemper. Lulusan sekolah menengah tata boga. Belakangan ini lagi sibuk sama vlog dan youtube. Sibuk nyari-nyari subkrebber demi AdSense—"
"Subscriber, Buuut ..." sela teman-temannya kompak meralat pelafalan Ribut yang kurang bisa melafalkan bahasa asing dengan benar. Maklum lidah Jawa tulen. Medhok.
Tangan kanan Ribut otomatis menepuk keningnya sendiri.
“Iya, iya, sabsekereibber. Gitu, kan? Dipikir Ribut nggak bisa apa?” Ribut mengatakan itu sambil tergelak ditambah intonasinya yang lucu hingga menyebabkan aksen medhok-nya kian kentara.
"Subscriber, But. Subscriber," ralat Juwita berulang-ulang. Dia sampai memonyong-monyongkan bibirnya saat meralat pelafalan Ribut yang masih saja keliru.
"Iyo-iyo, sabkreabbuerrr. Gitu to, Mbak Juju?"
Sontak semuanya geleng-geleng sementara Ribut sibuk tertawa atas ketidakpiawaiannya melafalkan bahasa asing. Marin sudah bisa tersenyum lagi berkat kekonyolan Ribut.
Gusti ikut terbahak sembari berseru, "Delapan!"
"Jaka, asal Bandung. Pramusaji Omah Lemper—"
"Lemper," sela Ribut karena Jaka salah membunyikan vokal E yang seharusnya diucapkan seperti pada kata ‘bebek’ tetapi Jaka melafalkannya seperti pada kata ‘merem’.
"Lem— Lem ..." Jaka terbata menirukan bunyi E seperti yang sudah dicontohkan Ribut, tetapi rasa-rasanya masih saja kurang pas.
"Lemper, bukan lemper," ulang Ribut diikuti staf yang lain. Ada sekitar tujuh atau delapan kali mereka mengulangi lafal vokal E yang benar itu kepada Jaka hingga akhirnya Jaka bisa mengucapkan kata lemper dengan benar. Tak terhitung sudah kiranya Jaka keliru melafalkan bunyi E pada kata lemper. Tapi toh tetap saja salah lafal meski sudah beberapa kali diralat oleh teman-temannya.
"Jaka, asal Bandung. Pramusaji Omah Lemper ..." Jaka melirik Gusti dan teman-temannya ketika kembali mengulangi kata lemper. Dan ketika mereka semua mengangguk —itu artinya pengucapan Jaka sudah benar—, Jaka melanjutkan kembali perkenalannya dengan penuh percaya diri. "... lulusan sekolah desain grafis. Hobi melukis, makan pukis dan minum kopi manis bareng Neng gelis. Asoy!" Sontak seisi ruangan terbahak. Termasuk Gusti.
Detik berikutnya, jemari Gusti dengan cepat menghitung, "Sampai lupa tadi udah sampai nomor berapa, ya?"
Para staf saling pandang. Tatapan mereka gusar seperti anak kecil yang takut ketahuan berbohong. Sekalipun mereka tahu, tidak ada yang berani mengingatkan bosnya perihal satu orang pegawai yang terlambat hadir.
Mulut Gusti terus menggumam sembari membuka jemarinya satu per satu hingga sampai pada hitungan terakhir.
"Sembilan ... Oh, ya, sembilan!" seru Gusti tiba-tiba. Namun hitungannya menggantung. Gusti mengerutkan kening.
"Lho, staf kesembilan mana? Belum hadir? Atau hari ini absen?" tanya Gusti. Nada bicaranya cenderung terdengar girang yang mana terlalu alami untuk dianggap sebagai satu ekspresi yang dibuat-buat.
Sementara staf yang lain tampak gelisah karena sebentar lagi "pertunjukan selingan" akan segera dimulai.
**
Sementara itu, di luar, Trisna tergopoh-gopoh turun dari Calya putih.
"Makasih, Kak," kata Trisna. Sneakers warna latte yang membungkus kakinya sore itu sudah hendak menginjak trotoar area Omah Lemper ketika tiba-tiba laki-laki itu membuka kaca mobil untuk berseru.
"Jangan lupa bintangnya, ya, Mbak!" Bersamaan dengan anggukan sopan dari Trisna, taksi online itu pun kembali melaju.
Trisna menyerbu masuk melalui pintu depan Omah Lemper. Tangannya buru-buru menggeser pintu masuk utama. Pandangannya menyapu raut muka seluruh staf yang telah hadir. Mereka semua tampak sangat panik dan gusar. Semacam berkata Trisna-bego-ngapain-sih-pakai-acara-telat-segala-pas-hari-Sabtu-gini tanpa suara.
Trisna meringis. Dia mengatupkan kedua telapak tangan di depan muka seperti orang yang sedang memohon ampun sembari merapal permintaan maaf tanpa suara. Mata Trisna melirik Gusti yang juga tengah menatapnya sembari melihat jam di pergelangan kiri. Trisna menelan ludah.
Mampus!
"Maaf, Mas Gusti," sesal Trisna. Nada bicaranya datar, entah bosnya bisa merasakan penyesalannya karena datang terlambat atau tidak. Wajah Trisna tertunduk namun ekor matanya melirik jejeran teman-teman staf Omah Lemper sembari memasang muka konyol. Lantas buru-buru menyelipkan diri di antara barisan.
Windhy tengah membisikkan sesuatu di telinga Gusti. Gusti mengangguk paham, kemudian segera membuat pengumuman.
"Kebetulan sekali. Bintang tamu kita sore ini berhalangan hadir, jadi tepat pukul setengah empat nanti kalian bertujuh yang bertugas ngisi acaranya untuk sementara, ya. Itu artinya sepuluh menit dari sekarang. Oke, semuanya, selamat bekerja."
Tepat ketika Gusti mengakhiri pidato singkatnya, seluruh staf kocar-kacir mempersiapkan segala yang diperintahkan.
Trisna menghela napas panjang sembari bersenandung, “Huft, terjadi lagi … malaikatku terlambat datang …”
**