“Serius, Mas?” Windhy sungguh terkejut begitu Gusti mengutarakan niatnya. Dan makin bertambah keterkejutan Windhy ketika Gusti mengangguk sebagai tanggapan.
Keduanya sedang berada di ruangan Gusti.
“Mas Gusti bener-bener serius mau pakai Blue Java buat ngisi acara Saturday Night Show di Omah Lemper?” ulang Windhy untuk kali kedua.
Dia mengulang pertanyaan itu bukan karena tuli dengan jawaban yang sudah jelas tersirat dari bahasa tubuh Gusti, tetapi karena Windhy berharap barangkali Gusti akan memberinya jawaban yang berbeda dari sebelumnya. Sementara itu, ponsel di tangan kanan Windhy masih tersambung dengan seseorang di seberang sana.
“Iya, Win. Aku serius. Emang kenapa sih? Kok kayaknya kamu kaget gitu,” kata Gusti menanggapi dengan sabar pertanyaan adik bungsunya itu.
“Mas Gusti belum lupa, kan, kalau dia itu—"
“Mantannya Mbak Rana?” potong Gusti langsung pada inti.
“Memangnya siapa?” tanya Windhy mencoba mengetes ingatan Gusti tentang seseorang yang dia maksud.
“Ya siapa lagi kalau bukan Bisma?” Ringan saja Gusti menjawabnya. Kedua tangannya sibuk memilah dokumen serta berkas-berkas keuangan bulan ini. Matanya pura-pura fokus dengan berkas, tetapi pikirannya berada di tempat lain.
Konfirmasi yang baru saja Windhy dengar membuktikan bahwa Gusti tidak main-main dengan niatannya. Dan kali ini pasti ada udang di balik batu. Firasat Windhy mengatakan bahwa pasti ada sesuatu yang Gusti sembunyikan darinya. Entah apapun itu.
“Kenapa sih Mas Gusti ngelakuin ini? Aku khawatir sama Mbak Rana. Takut kalau Mbak Rana nekat lagi terus—”
“Udah, udah,” potong Gusti cepat-cepat. Dia tidak ingin membahas perang batin antara Kirana dengan keinginan Kirana yang pernah mencoba mengakhiri hidupnya. Gusti tidak sanggup mendengar diksi atau frasa yang menimbulkan perasaan negatif.
“Mas tahu sendiri, kan, kalau Mbak Rana pernah hampir ‘lewat’ dan nggak tertolong karena merengek minta diantar menemui cowok yang namanya Bisma itu tapi nggak dikasih izin sama Mas Gusti. Terus sekarang tiba-tiba Mas Gusti pengen ngasih kerjaan buat Kak Bisma dan teman-teman band-nya buat manggung tiap Sabtu di Omah Lemper? Are you serious? Kenapa Mas tiba-tiba berubah pikiran?” Windhy mondar-mandir di hadapan meja kerja Gusti ketika mengatakan semua itu. Mencoba mencocokkan ketersinambungan antara isi kepala Gusti dengan firasat Windhy.
Gusti masih berpura-pura fokus dengan setumpuk pekerjaannya. Dia mengabaikan kalimat Windhy yang sebenarnya memerlukan feedback sesegera mungkin. Tetapi Gusti justru semakin bungkam. Dia seolah memilih menyimpan jawabannya seorang diri dan enggan berbagi.
“Atau jangan-jangan, Mas Gusti merencanakan sesuatu yang aku nggak tahu ya?” selidik Windhy. Matanya mendadak menyipit. Penuh dengan kecurigaan.
Gusti menghela napas yang lebih panjang. Bukan karena lelah dengan setumpuk berkas laporan bulanan yang ada di mejanya saat ini, tetapi karena Gusti mendapati bahwa Windhy telah berhasil membaca gelagatnya. Dan percuma saja bila Gusti menyimpan rencana itu lebih lama lagi untuk dirinya sendiri. Ujung-ujungnya Windhy juga akan segera memergokinya tanpa Gusti harus memberi penjelasan.
Dia hafal betul sifat Windhy yang sangat kritis dengan sesuatu hal yang membuatnya penasaran. Windhy belum mau berhenti menyelidiki sesuatu sebelum menemukan jawaban dari suatu teka-teki yang mengganggu tidur malamnya.
“Iya.” Gusti menyerah. “Aku memang merencanakan sesuatu dengan semua ini,” pungkasnya sembari melemparkan punggung ke bantalan kursi.
“Apa rencana Mas? Coba, aku pengen dengar,” kejar Windhy. Dia perlu memburu informasi selengkap-lengkapnya dari Gusti.
Gusti mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dengan kedua siku dilipat di atas meja. Salah satu tangannya memberi isyarat supaya Windhy mendekatkan telinganya. Windhy menurut. Dia ikut mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kedua siku diletakkan di meja. Ponselnya juga ikut berada di atas meja dengan posisi telungkup. Windhy siap mendengarkan jawaban yang hendak keluar dari mulut Gusti. Dia mendekatkan bibir ke telinga Windhy untuk kemudian berbisik lantang, “Rahasia!”
“Ih, apaan sih!” protes Windhy tidak terima. Dia memanjangkan suara vokal ‘i’ ketika menyerukan ‘ih’. Intonasi Windhy dan raut mukanya jelas sekali menunjukkan bahwa saat ini dia merasa amat kesal dengan kakak laki-lakinya itu.
Sontak Windhy membuang muka. Menjauhkan badan serta telinganya dari jangkauan Gusti. Dia menggeram kesal. Tingkahnya mirip seperti balita yang kesal karena gagal mendapatkan apa yang dia minta dari orang dewasa.
Windhy merasa sangat tidak puas dengan jawaban Gusti yang semakin mengundang rasa penasaran. Makin menggelitik rasa ingin tahu Windhy terhadap apa yang sekiranya terjadi dalam waktu dekat.
Windhy menyambar ponsel miliknya di meja Gusti, kemudian bergegas keluar ruangan. Mengabaikan Gusti dengan setumpuk berkas dan pikiran yang menggunung soal Kirana.
Pada akhirnya Gusti tidak bisa membiarkan Kirana menderita. Gusti tidak tega. Kirana sudah cukup merasa tertekan dua tahun terakhir karena pernikahannya dengan Willy. Maka kali ini Gusti memutuskan untuk mengalah sejenak. Mengistirahatkan sejenak luapan perasaan yang dia miliki dan selama ini dia pendam untuk Kirana.
**
“Mbak Rana dengar sendiri, kan, yang tadi itu?” ucap Windhy setelah masuk dengan terburu-buru ke dalam kamar Kirana malam itu. Sepulangnya dari Omah Lemper, Windhy belum sempat mandi dan tempat tujuan pertamanya begitu sampai di rumah adalah Kirana. Raut muka Windhy terlihat begitu antusias ketika mengabarkan informasi itu kepada Kirana.
“Iya, Win. Makasih ya udah ngasih dengar yang tadi,” sambut Kirana tidak kalah antusias sembari meraih tangan Windhy. Berkat sambungan telepon antara Windhy dan Kirana siang ini, Kirana bisa mencuri dengar apa yang dikatakan Gusti soal Bisma. Agaknya Kirana tidak menyangka bahwa Gusti akan merekrut Bisma dan Blue Java untuk mengisi acara Saturday Night Show di Omah Lemper.
“Tapi kamu nggak bilang apa-apa, kan, soal surat itu ke Gusti?” tanya Kirana tiba-tiba. Dia gelisah.
“Mbak Rana tenang aja, rahasia Mbak aman di aku.” Windhy tersenyum mendapati Kirana yang semringah mendengar tanggapannya.
Ada rona merah yang entah muncul sejak kapan di kedua pipi Kirana. Pandangannya menerawang seperti membayangkan sesuatu yang indah-indah.
“Tapi Mbak,” cegah Windhy tiba-tiba. “Mbak Rana jangan terlalu berharap dulu ya. Soalnya dari kemarin aku nyoba hubungi Kak Bisma tapi belum ada respon. Kalau personil Blue Java yang lain sih udah oke mereka.”
“Kok gitu, Win?” Kirana mengernyit. Wajah semringahnya seketika berubah sendu. Padahal hari ini dia sudah hendak senang mendengar kabar bahwa Bisma akan ada di Kediri walau hanya setiap Sabtu. Tetapi mengingat bahwa tiga hari yang lalu Kirana gagal ketika berulang kali menelepon Bisma, Kirana mencoba menerima nasihat Windhy untuk tidak terlalu berekspektasi.
“Mbak Rana tahu sendiri, kan, kalau Kak Bisma itu susah banget dihubungi? Apalagi pas dengar cerita dari Melly, Kak Bisma itu masih terhitung personil baru. Dia belum lama gabung di Blue Java menggantikan gitaris lama mereka yang belum lama mengundurkan diri.” Windhy berhenti sejenak untuk melihat ekspresi Kirana. Kemudian satu firasat tiba-tiba melintas begitu saja di pikirannya. “Atau jangan-jangan Kak Bisma itu cuma disewa Blue Java untuk beberapa kali manggung aja ya, Mbak? Bukan menggantikan secara penuh?”
“Ah, masa iya gitu? Kamu kali yang keliru nulis nomornya. Tapi pesan w******p yang Mbak kirim tiga hari lalu udah centang biru sih,” kata Kirana dengan raut muka kecewa. “Cuma dibaca, tapi nggak ada balasan.”
Windhy turut prihatin. “Nggak mungkin salah, Mbak. Aku udah konfirmasi ke Trisna sama ke Melly kok kalau nomor Kak Bisma benar yang itu.”
Kirana yakin bahwa Windhy baru saja menyebutkan nama salah satu staf Omah Lemper.
“Trisna? Mbak kira kamu langsung tanya ke Melly pas Mbak minta kamu untuk nanyain nomor Bisma. Ternyata kamu minta ke Trisna?”
Windhy meringis. Ketahuan juga akhirnya. “Jadi gini Mbak ceritanya …”
Windhy menceritakan tentang gosip yang beredar di antara staf Omah Lemper. Gosip yang mengatakan bahwa katanya Windhy pernah berpacaran dengan Bisma. Jadi alasan Windhy memilih meminta Trisna menghubungi sepupu Trisna, yaitu Melly, untuk meminta nomor Bisma adalah supaya rumor yang ada bisa dilenyapkan. Dan Windhy bisa terbebas dari gosip.
Kirana terbelalak seperti hendak memprotes. “Kok Mbak baru tahu sekarang soal beredarnya gosip itu, Win? Kamu sih nggak pernah cerita.”
“Iya, maaf, Mbak. Aku mau cerita tapi lupa terus,” sesal Windhy.
“Tapi ada yang nebak-nebak nggak, kalau mantan Bisma itu sebenarnya bukan kamu tapi Mbak?” Telunjuk Kirana dia arahkan ke mukanya sendiri.
Windhy berpikir sejenak lalu menggeleng ragu-ragu. “Eng … nggak ada kayaknya, Mbak.”
“Kok ‘kayaknya’? Berarti ada kemungkinan mereka mengambil kesimpulan lain karena mereka tahu jelas bukan kamu mantan pacar Bisma.”
“Ah udah, buat apa sih, Mbak, dipikirin,” sanggah Windhy mencoba mengalihkan pembicaraan. Windhy tidak ingin Kirana merasa tertekan lagi. “Gosipnya udah hilang kok. Beneran. Mbak Rana tenang aja ya. Please.”
Mata Windhy mencoba meyakinkan Kirana namun sepertinya kurang berhasil. Kirana tetap terlihat gusar dan terus menerka kemungkinan terburuknya.
**