15 # Cinta atau Perpisahan

1039 Kata
Sebenarnya Kirana tidak keberatan dengan ide Windhy barusan. Kirana hanya belum siap jika harus duduk berhadapan dengan Bisma. Entah apa nanti yang akan dia lakukan. Kata-kata dan pertanyaan yang sudah bertumpuk di kepalanya mendadak buyar setelah Kirana bertemu muka dengan Bisma. Padahal sudah sangat lama Kirana ingin mengobrol tentang banyak hal bersama Bisma. Tetapi begitu sekarang doanya dikabulkan oleh Tuhan, Kirana justru kehilangan topik pembicaraan. Bahkan semua kalimat yang sudah dia siapkan seolah kabur tiba-tiba. Kalimat itu seolah punya rasa takut dan memilih melarikan diri dari tubuh Kirana. “Inspeksi apa, Mbak Win?” tanya Trisna sembari berjalan di sebelah Windhy. Bisma di belakang Trisna. Di sebelah Bisma adalah Kirana. Keduanya sama-sama canggung dan saling buang muka. Sementara itu, Kima masih pulas dalam gendongan Windhy. Tenang sekali, sudah tidak serewel tadi. “Oh, ini, quality control, Tris. Aku dan Mbak Rana biasa datang kemari untuk monitoring,” terang Windhy. Trisna sontak tersadar. “Jadi kafe ini milik keluarga Mbak?” Windhy mengangguk. “Lebih tepatnya, Mas Willy, suami Mbak Rana, pemilik saham utama.” Trisna ber-oh ria. Bibirnya hendak memuji kehebatan bisnis keluarga Soecitro namun saking kagumnya dengan sekitar, Trisna tidak bisa mengeluarkan kalimat apapun. Trisna mendadak sakit perut. “Aku permisi ke belakang sebentar,” ucap Trisna sembari menanyakan di mana arah toilet kepada salah seorang pramusaji yang berjaga di dekat meja Kirana dan Windhy. Kima menunjukkan protes begitu Windhy duduk. Kima menangis. Hanya saja tidak sekencang tadi. Kirana mencoba mengambil alih Kima dari gendongan Windhy namun Windhy menggeleng. “Biar aku yang nenangin Kima, Mbak. Aku permisi ke luar sebentar ya. Mungkin dia bakal lebih tenang kalau digendong sambil jalan-jalan sebentar di luar,” kata Windhy. Dan ide itu disambut baik oleh Kirana. Kima memang jarang diajak berjalan-jalan sore semenjak dia dilahirkan. Sekarang hanya tinggal Kirana dan Bisma di situ bersama dua orang pramusaji yang berjaga di dekat meja. Ada beberapa pengunjung namun satu per satu dari mereka telah selesai dengan hidangan masing-masing. Tersisa satu-dua pengunjung yang masih ada di kafe itu. Pramusaji yang berjaga di dekat meja Kirana mulai melayani Bisma dan Kirana. Keduanya duduk saling berhadapan. Tak lama kemudian, Kirana meminta dua orang pramusaji untuk membiarkan dia sendiri bersama Bisma. Hening. Tidak ada yang berniat membuka percakapan. Keduanya sama-sama tenggelam dengan piring masing-masing. Bisma menyendok pudding mangga kemudian memasukkannya ke mulut. Dari ekspresi Bisma, Kirana tahu bahwa Bisma sangat menyukai pudding itu. “Kamu belum berubah ya, Bisma. Masih sangat menyukai pudding dari dulu sampai sekarang,” kata Kirana setelah pramusaji berlalu. Kirana ikut menyendok pudding miliknya. Begitu badan pudding yang lembut itu menyentuh lidahnya, Kirana tersenyum. “Rasanya masih sama. Dingin dan manis dalam waktu yang bersamaan.” Kirana menatap ke dalam mata Bisma ketika mengatakan ‘dingin’ dan ‘manis’. Seolah dia sengaja menganalogikan sikap Bisma yang sedang ditunjukkan kepada Kirana saat ini. Dingin tetapi manis sekaligus. “Kamu pun sama. Masih sangat menyukai mantan kekasihmu meski kenyataannya sekarang kamu sudah bersuami dan dikaruniai seorang anak,” todong Bisma langsung pada inti. “Aku yakin suamimu pasti marah kalau dia melihat istrinya sedang makan satu meja dengan pria lain.” “Jangan sok tahu,” bantah Kirana. Sendok di tangan kanannya beradu cukup keras dengan permukaan meja. Menimbulkan bunyi denting yang kedap. “Dia bahkan nggak pulang untuk menemaniku saat aku melahirkan. Sikapnya bahkan lebih dingin dari pudding ini dan lebih dingin dari kamu.” Setetes air mata merembesi ekor mata Kirana. Percuma ditutupi karena Bisma sudah melihatnya. “Semua itu nggak ada hubungannya sama aku lagi. Aku nggak menyuruh kamu untuk menikah dengan dia,” kata Bisma tajam, begitu menyayat perasaan Kirana. Bisma bahkan lupa jika psikologis Kirana masih terguncang dan belum stabil pasca melahirkan. Kirana menangis. “Rana, tolong jangan kayak gini. Jangan membuat aku merasa bersalah karena terlanjur melepasmu. Dulu, nggak seharusnya kamu mengikuti perintah orangtuamu kalau sekarang kamu menyesal sudah menikah dengan orang yang sama sekali nggak kamu cintai …” Jeda sejenak. Mata Bisma mencoba menyelami kejujuran dari mata Kirana. Dia menimbang sebelum mengatakan kalimat selanjutnya. “… dan sebaliknya. Dia sama sekali nggak sayang sama kamu.” Kirana sesenggukan. Kepalanya tertunduk. Ternyata ini yang Kirana dapat di pertemuan pertamanya dengan Bisma, setelah dua tahun yang melelahkan. Bisma tidak tega tiap kali melihat perempuan menangis. Namun kali ini dia memilih menjadi raja tega. Bisma tidak ingin ada kesalahpahaman jika tiba-tiba Bisma memeluk Kirana untuk sekadar menenangkannya. “Apa kamu masih ingat? Dua tahun yang lalu kamu bersedia menunggu sampai kita mendapat restu dari ayahmu. Perjuangan di tahun keempat udah sama-sama kita lalui. Masa sulit itu sudah berlalu dan sedikit lagi kita bisa meraih bahagia itu. Maka di tahun kelima aku masih ingin memperjuangkan kamu, Rana. Aku masih percaya sama kita. Tapi apa yang aku dapat setelahnya? Yang tersisa hanyalah keputusan sepihak dari kamu bahwa kamu telah menjatuhkan pilihan yang bukan aku. Di tahun keenam kamu melabuhkan hati pada pelabuhan yang bukan aku. Aku bukan lagi rumah yang menjadi impianmu. Dan janji kita sudah kamu bakar hidup-hidup.” Bisma mengatakan semua itu dengan sikap tenang, walau hatinya sedang meronta ingin meluapkan kerinduannya kepada Kirana. Bisma mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan. “Apa selama ini kamu anggap aku sebagai permen karet? Yang sudah kamu sesap rasa manisnya, kemudian seenaknya kamu simpan di belakang telinga untuk berjaga-jaga kalau-kalau nanti kamu ingin mengunyahnya kembali di lain hari ketika kamu sudah merasa bosan dengan permen yang baru. Nggak peduli apakah rasa dari permen lamamu udah sepah, kamu tetap ingin menyesapnya. Dan berharap rasanya masih semanis dulu. Apa kayak gitu anggapanmu selama ini terhadap aku, Na?” “Kenapa tadi kamu cuma minta maaf ke Windhy karena nggak menjawab teleponnya. Sementara kamu memperlakukan aku seperti pengemis. Kamu bahkan nggak membalas pesanku sama sekali,” protes Kirana di antara isak tangisnya. Alih-alih merespon, Kirana justru meluapkan kekesalannya dengan membahas telepon. “Minta maaf?” ulang Bisma dengan sinis. “Enggak, Na. Aku nggak perlu minta maaf karena nggak berbuat kesalahan. Apa dari dulu kamu memang suka berlagak bodoh seperti ini supaya dikasihani? Aku udah nggak mau membangun harapan yang pernah kamu hancurkan, Na. Membangun harapan nggak sebercanda itu. Kalau aku menjawab telepon dari kamu, itu sama saja dengan membenarkan perselingkuhan di antara kita. Apa kamu nggak berpikir sampai ke sana sebelum bertindak?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN