“Aku cuma pengen ngobrol sama kamu di telepon, Bis. Nggak lebih. Kita masih bisa saling bertelepon sebagai seorang sahabat, kan?” Kirana membela diri.
Bisma mengembuskan napas panjang. Dia seperti sudah muak dengan semua omong kosong Kirana.
“Kamu tahu nggak, kenapa hubungan persahabatan antara pria dan wanita jarang bisa bertahan dalam waktu yang lama?” tanya Bisma. “Karena salah satunya pasti menyimpan rasa, Na. Dan perasaan itu jarang sekali berbalas. Nyaris mustahil terjadi persahabatan murni antara pria dan wanita. Keduanya pasti berakhir dengan cinta … atau nggak; perpisahan. Dan kita harus memilih salah satu di antara dua pilihan itu, Rana. Kita nggak bisa memilih dua-duanya.”
Bisma menyelami kedua mata Kirana saat mengatakan semua itu. Berharap Kirana menyadari betapa bodoh keputusan yang sudah dia buat. Betapa naifnya Kirana hingga tiba-tiba, tanpa pikir panjang, mengirimkan sepucuk surat kepada Bisma. Terlebih surat itu berisi luapan kerinduan wanita itu kepada Bisma. “Kamu lebih tua dua tahun dari aku. Aku mohon bersikaplah lebih dewasa, Na.”
Hening.
Untuk sejenak, Kirana tampak berpikir dan menimbang sesuatu yang hendak terucap dari lisannya. Bibirnya gemetar seperti menahan sesuatu yang hendak keluar. Melihat tidak ada niatan dari Kirana untuk menanggapi, Bisma melanjutkan kalimatnya.
“Rana …” Nada bicara Bisma kini melunak. “… aku mohon, hapus nomorku dari daftar kontak teleponmu. Aku nggak pengen terjadi sesuatu yang di luar kendali kita. Aku nggak mau menjadi musuh dan sasaran amarah dari suamimu.”
Tiga detik terasa berlalu bagai angin. Kirana tidak berkedip ketika menyelami mata Bisma. Seolah matanya ingin mengatakan bahwa Bisma dilarang menjauh dari jangkauan Kirana. Bisma harus tetap berada dekat dengannya, walau status mereka kini sudah jauh berbeda. Bukan lagi sebagai kekasih, namun mantan.
“Seandainya nggak ada yang namanya perpisahan di dunia ini. Menurutmu apa yang bakal terjadi?” tanya Kirana. Pertanyaan itu mengandung makna tersirat di telinga Bisma sebagai bentuk permohonan Kirana yang artinya Bisma-jangan-tinggalkan-aku.
Bisma diam. Dia lebih baik tidak menjawab pertanyaan itu, karena suasananya akan menjadi semakin rumit. Dari kejauhan, ekor mata Bisma menangkap sosok Trisna yang sedang berjalan mendekati meja mereka. Disusul di belakang Trisna ada Windhy yang baru saja selesai menenangkan Kima untuk kemudian mengajak bayi itu masuk. Keduanya semakin dekat menghampiri meja Bisma dan Kirana. Bisma lega. Inilah saatnya.
“Tinggallah di Kediri, Bis, supaya kita bisa ketemu setiap hari,” pinta Kirana. Lirih sekali suaranya namun dari jarak sedekat itu telinga Bisma masih berfungsi dengan baik dan bisa mendengar Kirana dengan sangat jelas.
Bisma menggeleng tipis sebagai jawaban.
“Tolong, Na …” Bisma menghela napas pendek seperti menahan luapan amarah. “Tolong berhentilah menghubungi mantanmu. Biarkan mantanmu hidup dengan tenang tanpa menanggung perasaan bersalah. Setelah itu, lanjutkan hidupmu. Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk hidup bahagia bersama keluarga barumu. Aku mohon, Na. Bisma yang dulu udah mati. Jadi lupakanlah dia. Yang ada di hadapanmu sekarang ini adalah Bisma yang lain. Bisma yang dibangkitkan kembali setelah dibunuh masa lalu.” Suara Bisma lebih terdengar seperti bisikan. Lagi-lagi air mata Kirana menggenang. Seperti aliran sungai yang tenang dan menghanyutkan seluruh kenangannya bersama Bisma.
Mungkin Bisma benar, batin Kirana.
Kirana harus melanjutkan hidupnya dan melupakan masa lalu, tepat seperti yang baru saja Bisma katakan. Kirana memejamkan mata mencoba meresapi kalimat-kalimat itu. Namun ketika dia membuka mata dan masih ada Bisma di hadapannya, semua penerimaan yang coba dia hadirkan mendadak sirna ditelan ambisinya untuk kembali meraih harapan bersama Bisma. Kirana menyesal telah melepaskan tangan Bisma. Kirana menyesal telah mengabaikan suara hati.
Trisna yang lebih dahulu sampai di meja mereka. Windhy menyusul di belakang Trisna. Kirana buru-buru menyeka air matanya.
“Maaf, tiba-tiba perutku sakit banget, jadi agak lama tadi,” kata Trisna memecah keheningan di antara Bisma dan Kirana. Trisna kembali duduk di sebelah Bisma. Kemudian disusul dengan Windhy yang duduk di sebelah Kirana.
“Kamu nggak apa-apa? Aku anterin kamu pulang ya?” Bisma segera berdiri. Sebelum Trisna sempat buka mulut hendak menolak tawaran Bisma, pergelangan tangan kirinya sudah terperangkap dalam genggaman laki-laki itu. Trisna melotot karena malu. Wajahnya memerah.
Kirana yang melihat tangan Bisma meraih pergelangan tangan Trisna, merasa seakan langit sedang runtuh hingga mengenai puncak kepala. Kirana membelalakkan mata. Dia tidak terima jika melihat Bisma memperlakukan perempuan lain semanis itu. Tanda bahwa dia tidak suka jika Bisma terlalu dekat dengan Trisna.
“Mbak Windhy, maaf,” ucap Bisma sebelum undur diri. “Maaf, tapi untuk tawaran yang kemarin, saya belum bisa penuhi. Ada prioritas lain yang sedang saya kerjakan. Jadi, maaf, untuk kali ini saya belum bisa bergabung dengan Blue Java untuk mengisi acara Sabtu di Omah Lemper. Sekali lagi terima kasih atas tawarannya. Dan maaf karena saya belum bisa memenuhi permintaan kalian,” kata Bisma. Karena tangannya sudah berada dalam genggaman Bisma, secara otomatis Trisna berdiri. “Kami permisi dulu. Saya mau antar Trisna pulang karena dia sedang kurang sehat,” pungkasnya.
Windhy tidak siap dengan penolakan Bisma. “Tu-tunggu bentar, Kak. Gmana kalau kita obrolin ulang soal itu? Nggak bisakah semisal kita bicarakan ulang soal tawaran manggung itu, Kak? Saya bisa jelaskan secara lebih detail dan—”
“Maaf, kami permisi,” sela Bisma bersikukuh. Windhy merasa tidak aneh dengan sikap Bisma yang seperti ini. Dia sudah dengar reputasi Bisma dari Melly. Dan hari ini Windhy membuktikan sendiri dengan mata-kepalanya.
Trisna pamit undur diri sembari tersenyum sungkan kepada Kirana dan Windhy. Bagaimanapun mereka adalah bosnya dan Trisna tidak bisa bersikap seenaknya seperti yang baru saja Bisma lakukan. Tetapi Trisna pasrah saja ketika tangannya digandeng Bisma menuju pintu keluar. Pengunjung kafe sudah semakin berkurang menjelang senja. Langit seperti habis terkena guyuran tinta. Trisna menoleh untuk melihat air muka Bisma.
Tegang sekali.
Urat-urat di sekitar leher Bisma juga sedikit bermunculan. Sepertinya Bisma sedang berusaha mengelola emosi agar tidak meledak. Trisna tidak mengerti apa yang telah terjadi di antara Bisma dan Kirana, selama dia pergi ke toilet. Yang jelas, Bisma habis mengobrol empat mata dengan Kirana, batinnya. Dan pasti telah terjadi sesuatu di antara mereka.
Pasti.
Mereka berdua berhenti di depan Avanza hitam dengan plat L yang terparkir di pelataran Tuesday Café. Bisma membuka pintu mobil menggunakan tangan yang bebas, sementara tangan kanannya masih menggenggam pergelangan tangan Trisna.
“Naiklah,” kata Bisma. Intonasinya pelan namun lebih terdengar seperti permintaan daripada perintah.
“Bisma, bentar, tapi … aku bisa pulang sendiri. Aku nggak mau ngerepotin kam—”
“Naik,” ulang Bisma. “Aku antar kamu pulang.” Nada suara Bisma terdengar lelah.