Berperang dengan Suasana Hati

1085 Kata
Kali ini intonasi suara Bisma terdengar tegas, tetapi bukan marah. Lembut, namun tidak lirih. Tipe intonasi suara yang seolah mampu membuat lawan bicaranya mengiyakan apa yang Bisma pinta. Tak ada alasan lagi bagi Trisna untuk menolak tawaran itu. Lebih tepatnya Trisna terpaksa menerima tawaran Bisma. Karena dia merasa sepertinya bukan waktu yang tepat untuk menolak tawaran itu kali ini. “Tapi—” Trisna hendak melancarkan protes namun urung. “Trisna, please,” sela Bisma. Dia menghela napas lelah. “Naik. Aku antar kamu pulang,” ulangnya untuk kali ketiga. Untuk beberapa saat Trisna terdiam. Matanya bertemu dengan mata Bisma. Trisna bisa merasakan emosi dan amarah yang terpancar dari mata lelahnya itu. Suara Bisma lembut sekaligus mengandung intimidasi karena energi amarahnya masih belum reda. Kalimat yang baru saja Bisma lontarkan terkesan mengandung sedikit unsur memaksa lawan bicaranya untuk menuruti apa yang dia pinta, yang makin ke sini makin terdengar seperti perintah. Seperti ada sedikit aura kesepian di sana. Bisma seperti butuh teman untuk berbagi emosi sekarang ini. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Trisna mau naik ke dalam mobil. Terlihat kelegaan dari wajah Bisma ketika dia menutup pintu mobil untuk kemudian bergegas duduk di belakang kemudi. “Kamu …” Ragu-ragu Trisna memecah keheningan karena di sepanjang jalan tadi Bisma mendiamkannya. “Kamu suka es krim rasa apa?” Bisma mengernyit. “Es krim?” ulangnya. Dia sama sekali tidak menduga akan ditanya seperti itu oleh seseorang yang baru pertama kali ditemuinya hari ini. “Kenapa emangnya?” “Jawab aja, Bis. Aku mau beliin kamu es krim.” “Nggak perlu repot kayak gitu kali, Tris.” Bisma mendengkuskan tawa hambar. Ekspresi wajahnya masih belum berubah. Dingin dan … entahlah, seperti aura kelelahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. “Bisma, please,” ulang Trisna. “Jawab aja. Aku beliin kamu es krim.” Trisna menirukan intonasi Bisma. Sama persis dengan intonasi yang Bisma lontarkan ketika dia meminta Trisna naik ke mobil untuk kemudian mengantar Trisna pulang. Bisma melirik Trisna dari kursi kemudi. Sinis. Detik berikutnya, dia kembali fokus ke jalan raya di depan. Bisma heran sekaligus penasaran. Apa sih maunya cewek ini, batinnya. “Apaan sih, Tris. Maksa amat,” jawab Bisma seadanya. Masih dengan intonasi yang sama. Pelan dan kelelahan. Sepertinya Bisma sedang malas bicara. “Harusnya aku yang ngomong kayak gitu tadi. Apaan sih, Bis. Maksa amat.” Lagi-lagi Trisna menirukan intonasi Bisma. Bisma masih belum menyadari arah pembicaraan ini. Dia terlihat sedikit jengkel dengan perlakuan Trisna. “Hah? Apaan sih, Tris, maksudmu? “Hah? Apaan sih, Bis, maksudmu?” ulang Trisna. Masih menirukan mimik muka dan intonasi yang persis sama dengan yang baru saja Bisma peragakan. Bisma memutar kedua bola mata. Dia memilih mengabaikan Trisna, alih-alih menanggapi. Dia tahu bahwa sering kali wanita sulit dimengerti. Jadi lebih baik Bisma tidak memperpanjang masalah ini. Dia hanya perlu fokus menyetir tanpa memedulikan Trisna. Terserah saja Trisna ingin mengatakan apapun. Bisma tidak seharusnya ambil pusing. Bodo amat, batinnya. Tangan kiri Bisma mengoper tuas gigi ke arah gigi dua, kemudian menambah kecepatan. “Gimana rasanya digituin balik?” tanya Trisna setelah tidak ada tanggapan dari Bisma beberapa saat yang lalu. “Digituin gimana maksudnya?” Pada akhirnya Bisma menanggapi walau ogah-ogahan. “Gimana rasanya diintimidasi kayak yang kamu lakuin tadi di parkiran kafe? Trisna, please, naik, aku antar kamu pulang. Itu kayak ‘Apaan sih. Maksa amat’, ya nggak sih?” sindir Trisna berapi-api. Sesekali ekor matanya melirik ke kursi kemudi. Trisna ingin memastikan bagaimana ekspresi Bisma ketika Trisna mencoba mengungkit perbuatan laki-laki itu. Tersungging seulas senyum dari sudut bibir Bisma. Kemudian disusul tawa tertahan. Ketegangan dari raut muka Bisma perlahan melunak. Sungguh tidak bisa diprediksi dan entah kenapa tetapi Trisna merasa lega melihat Bisma kembali ceria. “Kok malah ketawa?” Trisna pura-pura melancarkan protes. Namun dia sendiri tidak bisa bersandiwara lebih lama lagi. Trisna tertular keceriaan yang dipancarkan oleh Bisma hingga dirinya sendiri ikut tergelak bersama Bisma. Langit senja perlahan berubah pekat. Trisna baru saja menyadari maksud Bisma. Alasan Bisma bersikeras mengantarnya pulang adalah karena ini. Bisma tidak ingin membiarkan Trisna pulang sendirian karena hari akan segera berganti malam. Melihat Trisna yang seperti itu, tidak lantas membuat Bisma berhenti. Justru gelak tawanya semakin lantang. “Apaan sih, Bis, nggak lucu, sumpah,” kata Trisna dengan tawa yang masih tersisa. Trisna yang berniat ingin menjahili Bisma pada awalnya, malah dia sendiri yang sekarang merasa dikerjai oleh laki-laki itu. Aneh. “Heran aja, kok kamu sempat-sempatnya kepikiran buat membalas perlakuanku yang tadi,” kata Bisma menanggapi. Bisma mencoba menghentikan gelak tawanya secara perlahan namun gagal. Dia malah kembali menyemburkan tawa yang semakin keras. “Yaa … karena aku kurang suka berhutang budi buruk sih. Jadi kubayar sekarang aja. Syukurlah sekarang udah lunas. Lega banget rasanya,” terang Trisna sarkastik. Dia tersenyum puas sembari melemparkan punggung ke sandaran jok. Entah kenapa Bisma merasa lebih baik setelah beberapa menit yang lalu suasana hatinya sempat berantakan. Dia bersyukur telah membuat keputusan yang tepat dengan mengantar Trisna pulang. Jadi di sepanjang jalan, Bisma tidak harus merasa sendirian. Bisma paling benci jika harus berkelahi seorang diri dengan suasana hatinya yang sedang buruk. “Maaf ya, untuk yang tadi,” ucap Bisma pada akhirnya. Adalah ketulusan yang tersirat ketika Bisma mengatakannya. “Aku sama sekali nggak bermaksud mengintimidasi kamu atau apapun itu. Maaf udah bikin kamu jadi nggak nyaman dengan sikapku.” Trisna sontak menoleh menatap sisi wajah Bisma. Tidak menyangka bahwa es batu bisa tiba-tiba berubah menjadi air hangat. Cowok dingin dan jutek seperti Bisma ternyata bisa terdengar sangat manis ketika sedang melancarkan permintaan maaf. Trisna heran sekaligus merasa kagum kepada makhluk hidup di sebelahnya. “Uhm, gimana kalau aku nggak mau maafin kamu?” goda Trisna dengan nada bercanda. “Uhm, gimana kalau aku nggak mau ambil pusing? Bodo amat gitu misalnya?” balas Bisma mencoba mengimbangi kalimat Trisna. “No, no. Nggak bisa,” balas Trisna. “Kamu harus peduli kali ini. Cuma malam ini aja. Bisma, Please. Aku mau kamu peduli.” Lagi-lagi Trisna menirukan intonasi yang sama persis dengan intonasi ketika Bisma mengatakan ‘Trisna, please, naik, aku antar kamu pulang’. Spontan, gelak tawa pecah di antara keduanya. “Dasar konyol!” maki Bisma sembari mendesahkan tawa. Kepalanya geleng-geleng keheranan mengamati tingkah polah manusia nyentrik di sebelahnya. Tetapi di satu sisi Bisma merasa lega dan bersyukur. Karena hari ini Bisma tidak harus menghadapi hari buruknya seorang diri. Sudah cukup melelahkan rasanya karena semesta seolah memaksanya untuk bertemu dengan Kirana hari ini juga. Dan Bisma tidak siap untuk itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN