Es krim di tangan Bisma masih utuh. Bisma menggigit ujung es krim cokelat itu dan setelahnya dia terkejut. “Wow, ternyata di dalamnya bertabur kacang dan saus stroberi. Asyik, dapat jackpot!”
“Ya ampun, bisa sebahagia itu ya kamu, Bisma? Padahal cuma es krim, lho. Kelihatan banget kalau nggak pernah makan es krim,” ejek Trisna namun tidak serius.
“Biarin,” sambar Bisma. Dia sangat menikmati es krim itu sampai tertinggal sedikit saus cokelat di sudut bibirnya. “Hidup yang menyenangkan itu, kan, yang banyak kejutannya. Ya nggak sih? Jadi nggak bakal kerasa ngebosenin pas dijalanin.”
“Eh, hujan ya? Mendadak banget,” gumam Trisna setelah menyadari bahwa kaca mobil sebelah luar basah karena tetes-tetes air baru saja jatuh dari langit. Es krim stroberi sudah tandas. Es krim cokelat bertabur kacang dan saus stroberi milik Bisma tiba-tiba saja telah tandas separuhnya.
Trisna mencoba membuka pintu mobil namun pintunya tidak bisa dibuka. “Bukain bentar dong.”
“Ngapain sih? Udah aku kunci. Mau ke mana?” cegah Bisma. Mulutnya penuh dengan es krim.
“Mau buang ini.” Trisna mengangkat kantong plastik yang berisi sampah bungkus es krim.
“Ya ampun, Trisna, nanti aja. Jangan mulai kompulsif deh. Deres banget tuh hujannya. Nggak lihat?” Bisma menyambar kantong kresek di tangan Trisna, kemudian menaruhnya di atas dasbor begitu saja. “Entar aku buangin, sekalian punyaku. Kamu jangan coba-coba kabur dari pertanyaan ya. Jawab dulu pertanyaanku yang tadi.”
“Hmm, ada yang mulai kompulsif nih kayaknya,” sindir Trisna. Kedua tangannya diregangkan, kepala digerakkan miring ke kanan dan ke kiri, kemudian punggung diempaskan ke sandaran jok. Trisna mulai memejamkan mata setelah menguap. “Ah, ngantuknya.”
Bisma menyerah. Dia memilih untuk tidak mengulang pertanyaan dan diam-diam mengamati tiap lekuk paras Trisna sebagai gantinya. Diam-diam Bisma mengagumi anak rambut Trisna yang berantakan, dahinya, kemudian turun ke hidung dan terakhir mata Bisma berhenti di bibir perempuan itu.
Dahi Bisma mengernyit. Itu apa? Batinnya.
Di sudut bibir sebelah dalam, Bisma melihat seperti ada bekas es krim yang tertinggal. Entahlah, apakah itu sisa es krim rasa stroberi di mulut Trisna atau warna lipstiknya. Yang jelas, Bisma sangat menikmati pemandangan indah yang ada di sebelahnya saat ini.
“Jawabannya sama dengan pertanyaan kenapa kamu ngotot pengen nganterin aku pulang.” Trisna tiba-tiba buka suara. Dia tidak tega mendiamkan Bisma lebih lama lagi. Kedua matanya masih terpejam.
Trisna tidak tahu kalau Bisma baru saja terkesiap karena kaget. Bisma buru-buru membuang pandangan. Dia melakukan gerakan tarik napas – buang napas tanpa suara. Wajahnya memerah kalau saja Trisna mau memergoki Bisma. Mendadak sekujur badan Bisma merasa kegerahan karena AC mobil sedang mati. Padahal udara di luar sedang dingin-dinginnya karena hujan semakin lebat.
“Sekalinya ditanya, malah bikin penasaran. Dasar cewek impulsif,” gerutu Bisma. Walau suaranya sengaja dipelankan namun telinga Trisna masih bisa mendengar gerutuan Bisma dengan sangat jelas.
“Udah kubilang, kan? Jangan bawa-bawa gender deh,” protes Trisna dengan suara yang lebih terdengar seperti orang yang sedang mengigau.
“Dan kenapa aku ngotot traktir kamu es krim?” lanjut Trisna. “Karena aku kurang suka berhutang budi baik. Jadi mending kubayar sekarang. Syukurlah sekarang udah lunas. Sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah repot-repot nganterin aku pulang …” Kalimat Trisna terdengar menggantung dan belum selesai. “… dan kamu tahu nggak sih kalau wajahmu itu lucu banget pas lagi ngelihatin es krim-es krim di mini market tadi. Nggak tahu kenapa, aku suka banget lihat wajah kamu yang kembali ceria setelah sempat murung di kafe tadi. Misiku berhasil.”
Sontak Bisma menoleh ketika Trisna terkekeh senang.
Trisna masih memejamkan mata. Mulut Bisma seolah beku dan menolak bicara tetapi wajahnya tidak bisa berbohong. Wajah Bisma semakin memerah karena tersipu. Tidak menyangka bahwa dirinya bisa mendadak salah tingkah dan merasa canggung ketika mendapat pujian dari orang yang baru ditemuinya hari ini. Berada dekat dengan cewek impulsif seperti Trisna adalah berkah yang tidak bisa diungkapan Bisma dengan kata-kata.
Sebenarnya dia sangat ingin dan hendak menanggapi pujian dari Trisna, namun kalimat terima kasihnya seperti tiba-tiba macet di tenggorokan. Bisma berdeham sebagai gantinya. Dia tiba-tiba merasa gugup, entah kenapa.
“Apa setiap budi baik dan buruk yang udah dilakukan orang lain ke kamu, harus selalu kamu balas saat itu juga?”
Trisna mengangguk sekilas diikuti gumaman. Kedua lengannya dilipat di pangkuan. Matanya masih terpejam.
“Kenapa? Kenapa kamu mau repot-repot kayak gitu? Bukannya udah ada sistem semesta yang disebut karma? Perbuatan seseorang, baik itu yang terpuji maupun yang tercela, akan dibalas setimpal oleh semesta sekalipun tanpa campur tangan manusia. Iya, kan?”
Trisna menoleh menatap Bisma. Dia menghela napas sebelum mulai melancarkan kalimat. Kini matanya bertemu dengan mata Bisma.
“Karena nggak semua orang bisa merasa ikhlas untuk mau ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Perbuatan diri sendiri yang sudah banyak menyinggung orang lain, kadang cuma kita anggap sebagai angin lalu. Padahal bekas dari sakit hati itu akan selamanya ada di dalam batin orang yang kita sakiti. Mungkin bakal bisa dilupakan karena hantaman rutinitas, tapi bekas dari rasa sakitnya nggak akan bisa hilang. Bahkan luka itu selamanya tinggal di sana. Aku cuma pengen ajak orang-orang itu untuk mau ikhlas merasakan apa yang orang lain rasakan dengan cara langsung membalas apa yang mereka perbuat saat itu juga. Khususnya ketika lawan bicara mereka sedang berada di titik paling rendah.”
Bisma berdeham dan membuang pandangan setelah Trisna menyelesaikan kalimatnya. “Panjang juga ya penjabarannya.”
Trisna menyodorkan tisu kepada Bisma. “Tuh, lap dulu deh. Ada bekas es krim di sebelah bibir. Kayak anak kecil aja kamu kalau makan.”
Bisma menerima tisu itu lalu buru-buru menghapus bekas es krim di wajahnya.
“Dan selain menawarkan banyak kejutan, hidup juga bakal menawarkan tisu buat menghapus bekas-bekas dari masa lalu,” kata Bisma. “Bekas masa lalu yang kurang bisa diterima hati. Atau mungkin di tengah perjalananmu menikmati sesuatu, hal baik maupun buruk, akan tiba masanya ketika suatu hari seseorang akan menyodorkan tisu untuk menyeka semua luka itu. Dan menghalau segala rasa takut dari gempuran monster masa lalu yang menyeramkan. Persis seperti ini,” terang Bisma sembari mengangkat selembar tisu di hadapan muka Trisna. Selembar tisu yang kini terkena bekas lelehan es krim cokelat.
“Impulsif!” seru Trisna sembari bertepuk tangan dengan tempo lambat. Ekspresi mukanya sama sekali datar seolah mengejek.
“Mungkin maksudmu impressive?” Bisma menaikkan sebelah alis.
“Ah, ya, impressive!” ulang Trisna sembari bertepuk tangan dengan tempo yang lambat untuk kali kedua.
“Ngomong-ngomong, apa dari dulu kamu udah suka ikut campur soal pembalasan karma milik orang lain kayak gini? Atau mungkin nggak cuma itu? Kamu juga suka ikut campur tentang kehidupan mereka?” tanya Bisma tiba-tiba.
“Maksudnya?”