“Iya, maksudku semacam sindrom obsesif kompulsif gitu. Dan lagi, penjabaranmu tadi bahkan bisa lebih panjang dari rambutku. Jadi selain impulsif, kamu kompetitif banget ya ternyata?” Bisma memang sungguh kelewatan. Sudah mengatai Trisna mengidap sindrom psikologis, dia juga mengomentari cara Trisna mengemukakan pendapat.
Trisna mengangkat bahu. Dia enggan bertele-tele lebih jauh lagi dengan pria asing di sebelahnya. Trisna membiarkan Bisma berpegang pada anggapannya sendiri tentang diri Trisna. Trisna sungguh tidak mau ambil pusing. “Yaa … anggap aja gitu. Sekarang giliran kamu yang jawab, kenapa kamu ngotot nganterin aku pulang hari ini?”
Bisma melotot. Dia buru-buru membuang pandangan ke luar jendela. Hujan masih mengguyur jalan raya di depan pelataran mini market. Sementara di dalam sebuah Avanza yang sedang terparkir di depan bangunan mini market itu, Bisma sedang terjebak bersama pertanyaan Trisna. Rasanya dia ingin melarikan diri dari mobil sekarang juga bila cuaca di luar sana bisa diajak berkompromi.
Cukup lama Bisma mencerna pertanyaan itu. Trisna kembali memejamkan mata dan terhenyak di sandaran jok.
“Pertanyaan selanjutnya?” tanya Bisma sebagai jawaban. Kentara sekali kalau Bisma ogah-ogahan menanggapi.
Sungguh, dia tidak siap jika tiba-tiba ditodong pertanyaan semacam itu oleh Trisna. Dia belum benar-benar mengenal Trisna secara personal. Akan terasa aneh bila tiba-tiba dia mengutarakan seluruh rangkaian perjalanan hidupnya di hadapan orang asing.
Bisma benci itu.
Dia benci terlibat secara personal dengan orang asing, termasuk berurusan dengan perempuan yang pertama kali dia temui hari ini. Bisma bingung. Apa yang harus dia pilih? Mengatakan yang sebenarnya atau mencari jawaban lain sebagai kamuflase dari jawaban yang asli?
Bisma tidak benar-benar tahu bagaimana caranya berbohong secara spontan. Bahkan Bisma perlu merencanakan detailnya terlebih dahulu sebelum melancarkan kebohongan itu. Dia benar-benar tidak punya petunjuk sama sekali. Dan sekarang dia diharuskan memilih salah satu di antara dua. Tetapi yang mana? Bisma tidak pandai mengarang alasan.
Terlebih lagi, dia seperti tidak diberi pilihan oleh lawan bicaranya. Seperti misalnya, apakah boleh jika dia tidak menjawab pertanyaan Trisna yang lebih terdengar seperti haus rasa ingin tahu itu? Kenapa segala sesuatu harus ada jawabannya? Dan kenapa segala sesuatunya selalu memerlukan alasan?
“Pertanyaan selanjutnya masih pertanyaan yang sama,” kata Trisna. Batas antara keras kepala dan teguh pendirian hanyalah setipis kertas.
“Alasannya nggak penting, jadi nggak perlu dijawab,” jawab Bisma pada akhirnya. Nada bicaranya cenderung agak ketus. “Nggak semua niat baik harus didasari dengan alasan yang konkret, Tris. Emang kamu mau ngapain sih setelah tahu? Mau ikut ngitungin pahala manusia? Udahlah, biarin malaikat Raqib menjalankan tugasnya tanpa intervensi. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dan sebaiknya kamu juga gitu. Karena batas antara sesuatu yang perlu dilakukan dan yang perlu ditinggalkan oleh manusia tuh cuma setipis rambut bayi.”
“Kalau niat jahat aja ada alasan konkretnya, kenapa niat baik enggak?” bantah Trisna. “Nggak mungkin, kan, ada orang yang tiba-tiba pengen mencuri barang atau uang tanpa ada alasan yang mendasari kenapa seseorang tersebut sampai berbuat seperti itu? Nggak mungkin juga ada orang yang tiba-tiba pengen membunuh orang lain tanpa alasan yang jelas. Psikopat sih itu namanya.” Trisna menoleh memandang Bisma ketika menekankan kata ‘psikopat’.
“Oke, jadi kesimpulannya, kamu menganggapku psikopat karena aku nggak punya alasan yang jelas ketika ingin mengantarmu pulang? Iya?” Bisma terdengar sinis, namun tidak ada rasa tersinggung sama sekali. Intonasi bicaranya cenderung datar saja. Seperti sedang malas menanggapi.
“Dan kamu baru aja mendefinisikan diri kamu sendiri, kalau kamu menyimpulkan maksudku seperti itu. Mending kamu berhenti menyimpulkan sendiri kayak gitu deh,” elak Trisna. “Ini tuh nggak adil, tahu nggak? Karena aku tadi udah menjawab rasa penasaranmu. Gantian dong sekarang,” protesnya kemudian.
Jujur saja, Bisma sedang tidak ingin membahas perkara itu. Karena perkara yang Trisna tanyakan sangat berhubungan erat dengan kejadian di Tuesday Café. Walau entah kenapa seperti ada dorongan aneh yang menyelimuti batin Bisma hingga sebenarnya dia ingin menceritakan semuanya kepada Trisna, tetapi dia enggan. Lebih tepatnya, Bisma masih belum mempercayai Trisna seratus persen.
Padahal baru hari ini keduanya bertemu dan saling mengobrol, tetapi entah kenapa Bisma langsung merasa begitu dekat dengan Trisna. Mungkin Bisma terlalu cepat menyimpulkan tetapi entah kenapa Bisma merasa bahwa Trisna bisa menjaga rahasianya. Tetapi di sisi lain, dia menganggap Trisna hanya sebatas orang asing yang patut diwaspadai, juga dicurigai.
Jadi, apakah ini yang disebut dengan rasa nyaman? Entahlah, tetapi rasa nyaman ini masih terasa asing. Lagipula masih terlalu cepat jika disebut demikian. Bisma bahkan tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
Masih belum ada tanggapan dari mulut Bisma. Trisna diam untuk waktu yang cukup lama. Hingga berselang sepuluh menit kemudian, keduanya masih betah saling diam. Sementara itu, pikiran Bisma kembali dipenuhi oleh Kirana. Dengan suasana hati yang belum stabil, Bisma kembali berusaha menenangkan diri. Dia meletakkan kepala di atas stir. Bisma terlihat sangat frustrasi.
Trisna melihatnya dan seperti mafhum dengan sikap Bisma.
“Oke, oke, ya udah,” ucap Trisna dengan lembut sembari mengayunkan kedua tangan ke depan, seperti sedang berusaha menenangkan. “Aku minta maaf.”
Trisna buru-buru menambahkan. “Aku minta maaf untuk yang barusan. Lupakan aja pertanyaanku. Nggak apa-apa kalau kamu nggak pengen jawab,” kata Trisna yang seolah bisa membaca pikiran Bisma. Tetapi Bisma tidak sepenuhnya mengerti apakah permintaan maaf Trisna adalah karena Trisna betul-betul merasa bersalah atau hanya ingin mengalah saja supaya tidak semakin memperkeruh suasana?
Lebih tepatnya, Trisna ingin memastikan sesuatu dengan menanyakan perkara tadi kepada Bisma. Trisna ingin tahu apakah benar bahwa Bisma sedang menyembunyikan sesuatu yang ada hubungannya dengan Trisna? Bahwa firasatnya sewaktu Trisna dan Bisma berada di kafe sore tadi, apakah memang benar adanya?
Trisna ingin menguak semua itu.
“Tapi …” Trisna ragu-ragu. Antara yakin dan tidak, apakah sebaiknya dia melontarkan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya. “Tapi semoga alasan kamu nganterin aku pulang bukan karena kamu ingin menghindar dari masalah, lantas kemudian memanfaatkan aku sebagai alasanmu untuk melarikan diri. Nggak kayak gitu, kan? Dan semoga aja enggak,” tebak Trisna pada akhirnya. Kali ini dia berusaha mematahkan anggapannya sendiri. Trisna menoleh ke arah Bisma dengan perasaan iba.
Ada sesuatu yang menuntut Trisna hingga dia mengatakan semua itu.
Namun melihat Bisma yang diam saja, agaknya membuat Trisna menyadari satu hal. Bisma merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Trisna. Atau sebenarnya Bisma ingin mengatakan kalau tebakan Trisna memang benar? Kata orang, diam seringkali diartikan sebagai sebuah penerimaan. Diam berarti iya. Diam berarti setuju. Tetapi melihat tidak ada tanda-tanda apapun bahwa Bisma hendak melontarkan bantahan atau semacamnya, Trisna kembali terhenyak di sandaran jok.
Trisna memejamkan mata.