Mata Bu Yasmin sudah hendak berkaca-kaca, tetapi urung karena Bisma menggenggam tangan Bu Yasmin untuk membantu menguatkan. Seolah Bisma paham seperti apa penderitaan orang yang merasa kehilangan almarhumah. Setelah perbincangan yang memakan waktu hingga kurang lebih satu jam, Bisma dan Trisna berniat pamit undur diri. “Oh ya, Mbak Trisna ini yang merekomendasikan Mas Bisma buat ngisi acara besok,” celetuk Bu Yasmin. “Oh ya?” Bisma pura-pura terkejut walau sebenarnya dia sudah mengetahuinya. “Mbak Trisna bilang kalau dia kagum banget lihat penampilan Mas Bisma di rumah makan tempat Mbak Trisna bekerja,” terang Bu Yasmin yang membuat Trisna tersipu malu. “Ah, Bu Yasmin, kapan saya ngomong begitu?” Trisna pura-pura mengelak walau sebetulnya dia senang-senang saja bila Bisma mengetahui b

