Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, akhirnya Keyna masuk ke dalam sebuah ruangan di mana Alex berada. Keyna merasa takut, saat melihat pria itu sedang bergumam tak jelas, tapi yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara membantu pria mabuk itu.
“Pak Alex! Apa bapak baik-baik saja?” pertanyaan bodoh keluar begitu saja dari mulut mungilnya.
“Bella ....” Keyna mengernyitkan dahinya saat mendengar nama seorang wanita dari mulut Alex.
Ingin rasanya ia pergi dari sana, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan sang bos sendirian di kantor tengah malam begini dengan keadaan yang tak meyakinkan.
“Pak Alex ini saya! Pak! Bangun pak!” Keyna terus mengguncangkan tubuh besar milik sang bos dengan sekuat tenaganya, hingga pria yang tengah mabuk itu membuka mata dengan sangat perlahan.
“Awwhh! Tolong antarkan saya ke ruangan yang ada di sana,” ringis Alex setengah sadar lalu menunjuk ke sebuah pintu yang ada di sebelah kanan ruangannya. Kamar pribadinya.
Pandangan Keyna mengikuti tangan Alex yang menunjuk ke sebuah ruangan yang masih ada dalam ruang kerja. Keyna yakin jika itu adalah ruangan pribadi milik sang bos. Tak ingin membuang banyak waktu, karena ia juga harus segera pulang sebelum malam semakin larut.
Dengan perlahan wanita itu memapah Alex yang sedang mabuk berat, hingga ia benar-benar kesulitan untuk membawa pria itu. Keyna mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa membawa sang bos ke dalam sebuah kamar yang ditunjuk oleh sang empunya.
“Bella ...,” racau Alex disela mabuknya, hingga Keyna yang mendengar hal itu merasa iba dengan sang bos. Entah apa yang dialami bos tampannya, hingga mabuk tak terkendali.
Setelah sampai di dalam kamar pribadi sang bos, akhirnya Keyna segera merebahkan Alex di atas tempat tidur berukuran king size dengan kasar, hingga ia ikut terjatuh tepat di atas tubuh pria tersebut.
Saat ia hendak bangkit, sebuah tangan kekar dan kokoh milik sang bos malah menahan tubuh kecilnya. Keyna langsung membulatkan matanya dengan sempurna, tatkala tengkuknya ditarik hingga bibirnya dilumat habis dengan sangat rakus.
“Emhh!” Keyna memberontak dan berusaha melepaskan diri dari serangan Alex yang sangat tiba-tiba dan kasar.
Namun, kini Alex membalikkan posisinya, hingga Keyna sudah ada di bawah kungkungannya. Wanita itu terus memberontak dengan lelehan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Keyna menatap wajah sayu dengan mata berkabut gairah milik sang bos yang sedang mengukung tubuhnya, seraya mengunci kedua tangannya.
“Pak! Lepaskan saya!” bentak Keyna berusaha melepaskan diri.
“Akhh!” teriak Keyna saat Alex kembali menghempaskan tubuh mungilnya di atas tempat tidur.
“Pak, apa yang anda lakukan?” tanya Keyna gugup dan meringsut ke pojok tempat tidur saat melihat sang bos tengah membuka kancing kemejanya dan membuang ke sembarang arah.
“Kenapa? Kenapa kau takut sayang. Bukankah kau haus akan belaian seorang pria,” racau Alex sarkas, hingga membuat Keyna merasakan sakit hati yang luar biasa, akibat ucapan sang bos berupa hinaan, meskipun itu bukan untuknya.
“Pak, apa maksud anda, saya tid-,” ucap Keyna dengan suara serak menahan tangis, tapi segera disela oleh Alex.
“Tidak apa? Jangan mengelak lagi, aku sudah melihat semuanya. Sekarang katakan padaku bagian mana saja yang sudah pria itu sentuh!” bentak Alex penuh amarah, hingga suaranya menggema di penjuru ruangan. Keyna akhirnya tahu jika sang bos tengah mabuk akibat pengkhianatan sang kekasih.
“Pak, tolong lepaskan saya. Anda salah orang! Saya bukan orang yang anda maksud.” Keyna berusaha menjelaskan siapa dirinya, agar sang bos sadar dan tidak melakukan hal di luar kendali.
“Sekarang kau mengelak. Bella, apa kurangnya aku hingga kamu tega menduakan aku, hm. Apa kau begitu mendambakan sentuhan seorang pria?” tanya Alex dengan lirih, dan tatapan yang tak dapat diartikan.
Alex mencengkram kedua pipi Keyna, hingga wanita cantik itu meringis kesakitan.
“Aku tidak akan pernah melepaskan mu. Bukankah ini yang kau inginkan, sayang,” desis Alex tepat di depan wajah Keyna. Membuat wanita itu memejamkan matanya, saat hembusan napas kasar Alex menerpa wajahnya.
“Tidak pak! Ini salah, saya bukan Bella. Tolong jangan lakukan ini, saya mohon,” pinta Keyna dengan lirih, dan air mata yang sudah membasahi pipinya.
“Menangis lah sepuas hatimu, karena aku tidak akan pernah melepaskan mu,” tukas Alex sambil menampilkan senyum smirk nya. Keyna semakin takut dan semakin memberontak saat Alex mulai menggerayangi tubuhnya. Ia tidak akan pernah membiarkan hal buruk terjadi pada dirinya.
“Lepas! Anda sedang mabuk pak! Lepas! Ini benar-benar gila! Kau adalah pria paling gila yang pernah aku temui. Aku sangat me-!” Keyna berteriak, tetapi Alex segera menyambar bibir wanita itu dengan rakus.
Keyna yang merasa Alex sangat kasar melakukan itu, mulai memberontak dalam jeratan sosok pria gila tersebut. Alex bahkan meraba tubuh Keyna dengan satu tangannya yang lain tanpa melepaskan ciuman panasnya.
“Pak Alex! Apa yang akan anda lakukan? Cepat lepaskan aku!” bentak Keyna yang bergetar ketakutan.
“Apa ada yang salah dengan ini?” tanya Alex tanpa melepaskan tatapannya pada Keyna. Sebuah tatapan putus asa dan tersirat sebuah luka yang begitu dalam, tapi Keyna juga tidak ingin dilecehkan seperti ini oleh bos-nya sendiri.
“Pak Alex, ini salah. Cepat turun dari atas tubuhku sekarang juga, aku mohon,” pinta Keyna memohon dan merasa frustasi.
Tanpa aba-aba, Alex merobek pakaian atas Keyna dengan sangat kuat, hingga terpampang jelas dua bukit himalaya yang masih terbungkus rapih kain merah di depan matanya, tapi Keyna yang terkejut itu pun mencoba untuk menutupi gunung Himalaya nya dengan menyilangkan kedua tangan di depan dua bukit tersebut.
“Alex! Apa yang kau lakukan, brengsekk!” bentak Keyna sambil menatap tajam ke arah pria yang tengah tersenyum nakal padanya.
“Kau begitu indah sayang. Siapa yang sudah menjamah buah mu yang indah ini,” racau Alex dengan penuh Gairah, hingga membuat Keyna semakin takut mendengarnya. Bahkan, kini hatinya sangat sakit, dan harga dirinya juga ikut hancur disebabkan oleh pria gila yang ada di hadapannya.
“Aku menyesal karena selama ini sudah mengabaikan mu,” ucap Alex yang kini sudah melepaskan semua pakaian Keyna, hingga tanpa sehelai benang pun. Pemandangan yang ada di depan matanya, membuat Alex semakin memanas dan ingin segera menikmati tubuh yang ia anggap sebagai kekasihnya itu.
Tak ingin membuang banyak waktu, Alex pun segera melumat habis bibir Keyna dengan rakus. Tangannya yang sudah menjalar, dan meraba ke setiap inci dari lekuk tubuh Keyna, membuat wanita itu merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan selama ini.
“Lep-pas, ahhhss!” desah Keyna sambil terus berusaha mendorong Alex, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk menyingkirkan pria yang begitu kokoh dan kekar seperti Alex.