"Kamu nggak lagi bercanda, kan, Sayang?" Mas Daniel bertanya dengan raut wajah yang jelas terlihat frustrasi. Aku menggeleng kaku dengan perasaan gemas sendiri. Tak menyangka tamu kalau hal itu akan datang ketika sedang tidak diharapkan. Suamiku mendesah resah dan lantas mengusap wajahnya dengan kasar berkali-kali. Membuatku semakin iba. Bagaimana tidak, bukankah baru tadi malam sesuatu yang membuat penasaran terjadi? Dan sekarang, kami harus dihadapkan pada kenyataan ini? "Mas. Aku minta maaf," ucapku tetap merasa tak enak hati, meski jelas aku tak seharusnya merasa bersalah sama sekali. "Ah, sudahlah!" Suamiku mengibaskan tangannya dengan ekspresi kesal yang amat kentara. Tanpa banyak bicara lagi, pria bertubuh tinggi itu lantas melangkah dengan gusar ke kamar mandi. Meninggalkan a

