"Katanya mau langsing, senam semenit istirahatnya berjam-jam! Gimana tuh, lemak mau kabur." Kak Soh mengomeliku saat kami menunggu bubur nasi disajikan.
Lapangan mulai sepi, suara musik sudah tak terdengar lagi. Orang-orang beriring meninggalkan lapangan hingga aku tak menemukan sosok Abi, entah ke mana laki-laki berwajah manis itu perginya.
"Tadi kamu nanya siapa, Lis?"
"Orang."
"Ya, orang dong, Lis. Enggak mungkin mau cari induk gajah di sini," cetus Kak Soh.
"Biasanya abis olahraga semuanya langsung sarapan, ya?"
"Enggak juga, ada yang buru-buru pulang karena mau pup."
"Ish, Kakak nih."
"Terus, ada yang kamu cari?"
"Entah ke mana orangnya."
"Siapa?"
"Ada deh."
Selesai makan aku dan Kakak Soh meninggalkan lokasi. Sepanjang perjalanan banyak pedagang yang menjual makanan, jajanan, pakaian hingga mainan anak-anak. Pantas saja banyak pengunjungnya.
Tanpa sadar matahari sudah bersinar sempurna, teriknya membuatku gerah. Peluhku menetes, terasa sangat lelah. Padahal hanya beberapa menit aku senam dan berjalan tak lebih dari 500 meter. Tetapi napasku terengah-engah meskipun aku berusaha sudah meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Dalam hati aku membenarkan lagi ucapan Mama, bahwa aku butuh olahraga.
Tidak hanya olahraga tetapi Mama juga memintaku mengubah penampilan yang lebih feminim lagi. Kalau dipikir-pikir permintaan Mama aneh-aneh saja membuatku sedih namun juga geli. Memangnya anakmu sejelek itu? Sampai-sampai dari ujung kaki hingga rambut semuanya ingin diubah.
"Di sini tempat sanggar senam di mana ya, Kak?" tanyaku spontan saja kepada Kak Soh.
"Mimpi apa kamu, Lis?" Kak Soh tergelak.
"Aku serius, Kak," keluhku.
Entahlah sejak bertemu Abi, aku merasa begitu banyak kekuranganku. Rasa-rasanya terlalu naif bila mengharapkan Abi jadi pacarku. Pastilah cowok sekeren Abi sudah memiliki kekasih, kalau pun tidak pasti ada mahasiswi di kampus yang mendekatinya.
"Ada besok aku temani."
"Serius, Kak?"
"Iya, apa sih, yang enggak buat kamu," ledek Kak Soh sebelum kami berpisah di depan kontrakan.
Aku merehatkan tubuh di kasur setelah makan malam. Tak jarang aku tertidur dan ini menjadi kebiasan yang sulit aku ubah. Mungkin kebiasaan ini juga membuat tubuhku tak ideal.
Kini pikiranku tiba-tiba kalut. Ini bukan hanya tentang Abi atau pun program dietku, tetapi juga tentang Mama yang berusaha menjodohkan aku dengan anak temannya.
Aku tidak mau mengikuti perjodohan, apa-apaan emangnya zaman Siti Nurbaya? Tetapi aku juga tidak bisa menolak karena sudah janji sama Mama, meskipun masih ada waktu enam bulan lagi untuk ulang tahun ke dua puluh lima nanti. Jika aku belum berhasil menemukan jodoh maka aku berpasrah saja pada pilihan Mama.
Ponselku bergetar sebuah notifikasi masuk dari f*******:. Aku beranjak menyentuh aplikasi biru tersebut, di sana tertulis: 'Anggara Putra Menerima pertemanan Anda'.
Sombong sekali Abi, pikirku. Karena hampir seminggu permintaanku baru direspons Abi.
Aku lalu menscroll wall-nya Abi, rasa penasaran yang berhari-hari tertahan tertumpah hari ini. Semenit kemudian napasku serasa tertahan saat foto Abi muncul. Senyum melengkung di bibirnya seolah hangat mengalir dalam d**a. Lelaki itu tampak santai dengan kaus kasual berwarna biru dongker. Sepasang mata cokelat seakan sedang memandangku. Aku tersipu mengulum senyum.
Jariku kemudian makin lincah menari di layar ponsel hingga tanpa sadar aku menelusuri postingan beberapa tahun yang lalu.
"Wow, keren." Senyumku terkembang melihat Abi dalam jas hitam yang biasa digunakan orang di kantor. Di sana Abi tampak lebih dewasa walaupun di foto tersebut jelas-jelas acara perpisahan di SMA-nya. Bersama jas hitam Abi berfoto dengan latar belakang seperti ruangan kerja. Abi duduk di kursi putar, tangannya satunya menyentuh keyboard laptop, dan satunya memegang pena yang di tempelkan dahi samping kiri seolah sedang berpikir keras. Matanya tajam menghadap layar laptop.
"Wow! Ini juga keren." Foto laki-laki itu memakai jaket kulit dan kacamata hitam, duduk di sadel motor Ninja hitamnya.
Pemandangannya juga tak kalah oke, seperti di area persawahan.
Aku terus menelusuri postingan Abi, menariknya tak ada satu pun gadis yang menandainya, atau dia bersama seorang gadis. Di acara kampus juga terlihat beramai-ramai, tak ada yang spesial Abi dengan seseorang.
Senyumku yang terus terkembang berhenti di foto terakhir, aku melihat Abi mememakai baju taekondonya, berdiri dengan satu kaki dan kaki satunya menendang lurus. Benar-benar terlihat sempurna.
Ada debar-debar halus selama aku melihat foto Abi, ada juga rindu yang timbul di hati. Aku tak tahu dari mana rasa rindu itu muncul, tetapi mulai malam ini dengan sedikit malu aku mengakui, bahwa aku benar-benar menyukai Abi.
Tak terasa sudah lebih dari sejam aku melihat foto-foto. Mataku mulai lelah, kuletakkan ponsel, lalu mengganti lampu tidur.
Saat mataku terpejam tanpa terasa air mata mengalir pelan. Aku kembali ingat pesan Mama, batas waktuku tak lama, sedangkan Abi terlalu indah untuk kujangkau. Membuat nyaliku semakin menciut tidak mungkin cowok sekeren Abi tidak ada gadis yang mendekatinya. Belum lagi rentang umurku dan Abi. Oh, Tuhan aku mendadak menjadi pengecut. Kalah sebelum berperang.
***
Pagi ini, aku sengaja menyibukkan diri. Dari awal datang ke puskesmas aku sudah sibuk merapikan nomor karcis. Aku juga sudah menyiapkan beberapa data untuk pasien baru, serta menyiapkan surat rujukan. Semua sudah ada di mejaku.
Suara riuh seiring dengan datangnya pengujung yang mulai memenuhi ruangan tunggu pasien. Setelah semuanya beres di bagian dokter umum. Aku lekas membaca nomor antrian.
"Antrian nomor satu."
Seorang ibu mengenakkan jaket tebal serta muka yang pucat berdiri di hadapanku. Kemudian perempuan itu duduk dengan lemah.
"Sudah pernah berobat ke sini, Bu?" tanyaku memulai mendata pasien.
"Belum."
"Boleh lihat KTP-nya Bu? Ibu ada kartu BPJS atau yang lainnya?"
Ibu itu menyodorkan KTP yang dengan sigap aku langsung mencatat nama dan alamatnya. Setelah mencatat semuanya aku mengarahkan lagi ke bagian dalam untuk di tensi darahnya.
"Antrian nomor dua." panggilku lagi dengan suara lantang.
Tak sadar pasienku tinggal satu dengan nomor sebelas. Jam pun menunjuk pukul dua belas siang. Aku membereskan meja. Setelah menyelesaikan tugas kemudian aku bergegas menuju musola yang terletak paling ujung bagunan puskesmas.
Aku melepaskan sepatu lalu berbaring dalam ruangan kecil mungil itu. Entah mengapa hari ini rasanya kurang bersemangat, kulirik ponsel yang tergelatak di lantai, getarannya menandakan ada pesan yang masuk.
[Sombong amat, makan yok!]
Siapa lagi pengirim pesan itu kalau bukan Agus. Di puskesmas ini cuma dia yang berani bicara tak sopan kepadaku, tapi laki-laki itu juga yang paling memgerti aku.
[Lagi malas]
Kubalas dengan ogah-ogahan.
[Aku traktir lagi, ya?]
[Aku bawa bekal dari rumah, tadi pagi aku udah masak.]