Aku dan Mama sudah sampai di pasar siang ini, kami berjalan beriringan masuk ke area penjual pakaian. Pemandangan pedagang kaki lima yang menjajakan jualannya di pinggir jalan membuatku sedikit terganggu, selain menimbulkan kemacetan, penjualnya juga terlalu berisik menawarkan barangnya. Setiap melewati jalan tersebut, pasti disodori barang yang dijualnya sampai berjalan beberapa langkah.
Keadaan ini justru membuatku tak betah berada di pasar, terlebih lagi ketika harus memilih pakaian dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang menurut Mama, sebenarnya aku lah yang tak ada naluri perempuannya, belanja dan keadaan pasar itu sudah menjadi bagian dari perempuan.
Nanti bagaimana kalau kamu sudah berkeluarga? Kebutuhan anak-suami dan perlengkapan dapur justru mudah didapat dan murah meriah di pasar seperti ini.
Mama benar lagi, aku memang kurang sisi feminimnya. Mulai dari merawat diri, membersihkan rumah, tak pandai mempercantik kamarku sendiri hingga malas belanja ke pasar. Satu-satunya sisi perempuanku cuma suka memasak makanan ringan itu pun karena dasarnya aku yang suka mengemil.
"Maunya yang mana?" tanya Mama seraya memandang deretan baju yang berjejer di sepanjang jalan.
"Mama kan tahu, Sulis enggak bisa milih. Nanti kalau Sulis bilang kaus Mama setuju?" tanyaku dengan suara yang dibuat-buat pasrah dengan apa pun pilihan Mama.
Sebenarnya aku memang tidak bisa memilih baju yang pas untukku, entah bajunya yang salah entah bentuk badanku yang salah. Atau juga aku yang tidak percaya diri.
"Kamu maunya model yang bagaimana? Kalau mau kondangan ya, masa pake kaus. Cantiknya lebih feminim dikit," jelas Mama.
"Ya, terserah Mama, yang penting jangan gamis. Yang ada bentukku kayak galon air minum lagi," kataku sambil mengipas wajahku dengan sepotong karton.
Mama terbahak dan berujar, "Lha, itu sadar. Kenapa masih enggak mau diet?" Entah Mama bertanya dengan serius atau mau meledekku, yang pasti ini menjadi tekadku semakin kuat untuk berubah.
Aku terdiam dan memajukan mulutku beberapa senti, agar Mama merasa bersalah dan membujukku dengan membelikan sesuatu.
"Yang itu, coba lihat, Bang." Mama menunjuk pakaian yang digantung berwarna biru laut. "Ini, ada warna lain?" tanya Mama kepada si penjual setelah baju itu sampai di tangannya.
"Tinggal ping sama hitam, Bu,"
"Coba lihat yang hitam, Bang. Sama model yang di sebelahnya."
Tak lama setelah si penjual mengambil dagangannya, Mama terlihat sibuk mencocokannya di badanku. Bukan sepotong yang Mama ambil tetapi dua potong baju untukku.
"Kayaknya lebih cocok yang hitam, ya, Lis?" Aku mengangguk lalu berdiam diri membiarkan Mama dengan si penjual bernegosiasi masalah harga.
"Ayo, Lis, ke sana kita cari sandal lagi." Mama menunjuk deretan sandal yang dipajang.
Mama mengapit tanganku mendekati si penjual, setelah memilih sandal dengan tinggi yang pas, kami segera mencari tempat istirahat sambil makan dan minum. Udara terasa semakin panas karena matahari siang ini menampakan kehebatannya, hingga bulir-bulir keringatku terasa mengalir di dahi.
Warung tempat istirahat yang kami singgahi lumayan ramai, kami memilih duduk di bagian luar warung.
"Kamu yakin endak pesan makanan, Lis?" tanya Mama yang menatapku dengan heran, "Mama perhatikan, semalam kamu juga ndak makan."
Mama memang the best perhatiannya, padahal aku sudah sembunyi-sembunyi dengan alasan makannya nanti saja karena masih kenyang. Aku sudah memulai program dietku, tadi malam saja yang kumakan hanya tiga buah apel ukuran sedang. Sebenarnya masih lapar tetapi aku harus bisa menahannya, seperti siang ini aku hanya bisa ngiler melihat Mama memesan sate padang.
"Tadi kan sudah makan," kataku seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kamu mau diet, Lis?"
"Hah? enggak kata siapa?"
"Kamu ndak sakit kan?"
"Iya, enggak, Ma. Masih kenyang mau gimana?"
"Kok, Mama ndak yakin, ya? Satenya enak lho," bujuk Mama sambil mengaduk-aduk satenya.
Aku melirik sekilas, lalu beralih memadang lurus. Biasanya aku tidak kuat untuk menahan selera. Namun, sekarang entah apa yang terjadi denganku. Bisa-bisanya aku melakukan program diet ketat, membeli perlengkapan kosmetik dan memborong produk untuk perawatan tubuh dan wajah.
"Kamu benaran dietnya? Atau kamu tersinggung, ya dengan omelan Mama?"
"Hah? Tersinggung? Apa sih, Ma? Sulis benaran masih kenyang," elakku. Aku memperlihatkan senyumku kepada Mama.
"Tapi, Lis. Ayo, cerita sama Mama. Ndak biasanya kamu kalem lihat makanan, Mama ini Mama kamu, masa main rahasiaan."
"Enggak ada rahasia, Ma."
kulihat Mama meletakkan sendok di piring, satenya masih terlihat utuh. Mama meraih air mineral gelas di hadapannya. Tatapan matanya berubah menjadi sedih seperti ada beban.
"Lho, kok enggak dihabisin, Ma?"
"Masa, Mama makan sendiri," ucap Mama lalu perempuan yang menyukai warna ping itu mengambil ponselnya dan menelepon Papa.
Aduh, kasian Mama tidak jadi makan sate cuma gara-gara aku yang lagi diet sembunyi-sembunyi. Apa aku jujur saja sama Mama. Kalau aku ingin berubah, kurasa Mama pasti mendukungku.
"Ma, Sulis boleh jujur, enggak?" tanyaku hati-hati takut Mama salah mengartikannya. "Tapi, Sulis malu," sambungku lagi.
"Malu kenapa, Lis?"
"Sebenarnya Sulis mau berubah semenjak Mama sibuk mencarikan jodoh buat Sulis. Sulis sadar, Ma. Sulis enggak cantik, badan Sulis gendut belum lagi penampilan Sulis yang asal-asalan. Sebenarnya juga sudah dari setahun belakangan Sulis nyoba tapi gagal terus, Ma. Sulis enggak tahu harus mulai dari mana, di puskesmas Sulis juga kadang diledeki karena penampilan Sulis yang enggak cocok." Kata-kataku tersusun rapi mengalir sempurna seperti ditata sebelum kuucapkan ke Mama.
Aku harap Mama tidak sedih dengan pengakuanku yang sering diledeki.
"Kamu serius mau berubah?"
Heem." Aku masih menunduk sedih bercampur malu melihat diri sendiri, dengan Mama sendiri saja masih keren-an gayanya Mama.
"Coba cerita sama Mama, kamu sudah nyobain apa saja biar turun berat badannya?" Mama benar-benar menatapku dengan serius.
"Aku kan malas olah raga, Ma. Jadi aku memilih minuman pelansing instan gitu, aku juga kadang enggak makan sampai seharian terus besoknya laparku menjadi lebih ganas, kalau tidak perutku yang bermasalah jadi kubatalkan dietnya."
"Nah, ini! Kenapa ndak ngasih tahu Mama? Sulis nuruni berat badan itu ndak bisa instan kalau mau hasilnya yang bagus. Kamu ndak bisa bilang malas olahraga kalau kamu mau serius. Ndak bisa instan apalagi kalau kamu ndak bisa atur pola makan, yang ada kamu jadi penyakit magh karena telat makan."
Aku menunduk tidak berani menatap Mama, sedari dulu Mama selalu mengingatkanku bagaimana menjaga tubuh agar tetap ideal. Walaupun Mama tidak lagi muda tetapi Mama masih memperhatikan penampilannya.
"Sekarang Mama tanya, Sulis jawab jujur, ya? Kenapa Sulis mau berubah?"
"Sulis em Sulis." Rasanya aku tidak bisa memberikan alasannya kepada Mama, karena terlalu banyak penyebab aku ingin berubah.
"Sulis, enggak marahkan Mama sering ngomel?"
"Hah? enggak, Ma. Benaran enggak. Kalau bukan Mama yang ngingatin Sulis ya, siapa lagi? Sulis malah berterimakasih sama Mama, selama ini Sulis enggak kepikiran dengan penampilan." Aku berusaha jujur, meskipun aku sadar mungkin juga karena Abi.
Semenjak mengenal Abi aku ingin kelihatan lebih cantik. Entah mengapa bisa-bisanya aku yang baru mengenal Abi beberapa minggu sudah meyakinkan diri bahwa dia juga memberikan pengaruh suasana hatiku untuk berubah.
"Nanti, kita ke pasar sayur dan buah juga, Lis."
"Mau cari apa lagi, Ma? kan besok Mama pulang, siapa yang mau masak?"
"Lho, kamu ini gimana katanya mau diet, ya harus stok buah. Sayurnya kamu masak sendiri, Lis. pake nasi merah ya? Biar Mama cariin bahannya asal kamu mau bikin sendiri."
Aku diam sejenak membayangkan diriku yang makan siang hanya sesendok nasi merah dan lauk pauk yang tak semeriah biasanya.
"Terserah Mama aja."
"Eh, ndak bisa gitu, Lis. Kalau terserah Mama, kan, bukan Mama yang jalani. Kamu mantapkan dulu niatnya biar selalu semangat gitu."
Aku tersenyum melihat Mama yang tiba-tiba penuh semangat, tak hanya membelikan bahan-bahan makanan Mama juga akan menemaniku ke salon sore ini juga.
"Iya, Ma, Sulis mau, tapi Mama habisin satenya. Sulis cukup minum air putih aja. Tadi waktu sarapan Sulis banyak sekali makan nasi goreng Mama."
"Yakin ndak tergoda? Satenya enak, lho. Rawon di depan sana juga enak. Belum lagi mie ayam yang di sebelahnya."
Aku hanya tersenyum melihat ulah Mama, yang menggodaku dengan menawarkan bermacam-macam makanan.
"Buat Mama aja. Aku cukup ini." Aku mengeluarkan potongan buah pear yang kumasukan dalam plastik dan tersimpan rapi dalam tasku.
"Mana enak," ledek Mama.
"Biarin! Yang penting bisa cantik kayak mamanya." Aku memeluk Mama dari samping mengecup pipinya berkali-kali. Aku tak perduli bila tingkahku ke Mama menarik perhatian orang di sekitar, yang terpenting saat ini aku benar-benar bahagia. Rasanya beruntung sekali memiliki orang tua yang perhatian seperti Mama dan Papa, Walaupun Mama sering mengomel tapi omelannya selalu benar dan pas untuk anak-anaknya.
***
[Cantik foto profilnya]
Aku sampai membaca pesan itu berkali-kali memastikan bahwa barisan huruf yang k****a itu benar adanya.
Pesan itu kuterima setelah menggugah foto profilku yang baru bersama Mama ketika di pasar tadi siang. Di foto itu aku dan Mama lagi duduk sambil menunggu ojek untuk mengantarkan kami pulang ke kontrakan. Posisi Mama menghadap ke samping tanpa dia tahu sedang difoto, sedangkan aku tersenyum menghadap kamera.
Di foto itu juga kucantum kalimat-kalimat sederhana memuji Mama. Ya, aku memang suka berselfi dan sering mengubah foto profilku di f*******:.
Aku membaca kembali pesan tersebut dan melihat nama pengirimnya. Benar. Namanya Abi Anggara, terus mengapa aku tiba-tiba tidak yakin? Jangan-jangan Abi salah kirim!
"Sulis, Mama bikinin jus buah ya, buat kamu?"
"Oh, iya, Ma. Nanti Sulis bisa potong-potong sendiri. Mama istirahat aja," ujarku kepada Mama. Aduh, Mama semangat sekali padahal kan masih capek baru juga pulang dari pasar.
"Bikin jus ndak sampe lima menit, Lis. Dasar kamunya saja yang pemalas."
Astaga! Aku sampai lupa belum membalas pesan dari Abi. Aduh, aku bilang apa, ya? Biar pesannya sambung-menyambung jadi balas-balasan yang tidak selesai, seperti orang pacaran gitu.
[Makasi Bi, hehe jadi malu padahal kan jelek.]
Aku hampir saja menyentuh tombol kirim, tetapi mendadak hatiku ragu. Sepertinya terlalu panjang pesannya dan terkesan lebay. Lekas kuhapus pesannya dan mengetik kembali dengan kata-kata yang lebih singkat namun tepat sasaran. Aduh, repot sekali membalas pesan dari Abi.
[Makasi Bi, Mamaku memang cantik hehe]
Kukirim pesan itu dengan tersenyum semringah, lalu memasukkan kembali handphoneku ke saku kiri.
Ya Tuhan, hari ini benar-benar serasa mimpi indah di mulai dengan Mama yang memanjakanku habis-habisan ditambah Abi yang mengirim pesan memuji fotoku. Ada rasa bahagia juga grogi dalam hatiku ketika membaca pujian itu. Namun, cepat-cepat aku tepis saat mengingat nasihat dari Mama tadi siang.
Kata Mama. Jodoh, rezeki, dan kematian sudah ada yang mengatur. Tugas kita sebagai umatnya hanya berusaha, begitu pun urusan jodoh Mama tidak tahu kamu akan menikah dengan siapa nantinya, setidaknya Mama berusaha mengenalkan kamu dengan anak teman Mama, yang Mama rasa sifat dan wataknya tidak mengecewakan. Pun begitu juga dengan penampilan Sulis, kalau Sulis tidak mau berusaha mengubahnya ya, tidak akan berubah. Sulis juga tidak tahukan siapa yang mau menerima kekurangan Sulis. Intinya apa pun itu kita harus berusaha selebihnya biar menjadi urusan Tuhan.
Ponselku bergetar empat kali, menandakan sebuah pesan baru masuk. Aku segera membacanya.
[si anak ikutan mamanya]
Hah? Maksud pesan Abi ini apa ya? Maksudnya mau memuji aku juga cantik karena dari mamanya? Apanya yang ikutan? Ikutan yang mana? Aduh, harus tidak sih, aku membutuhkan seseorang untuk menterjemahkan pesan dari Abi?
Semenit dua menit, aku sengaja membiarkan pesan dari Abi, karena aku bingung mau membalas apa?
"Agus anaknya asyik juga ya, Lis?"
Hah? Apa? Aku tidak salah dengar kan? Mama bilang Agus asyik! Iya asyik kalau buat ngerumpi. Mama apaan sih, tiba-tiba memuji Agus. Ya Tuhan jangan sampai Mama bilang aku dan Agus.
"Iya Ma, anaknya memang ramah." Aku menjawab singkat. Sementara tanganku sibuk mengetik pesan untuk Abi.
[hehe iya dong]
Pesan terkirim, aku mengintipnya sekali lagi sebelum meletakkan ponsel di nakas. Waktu menunjukan pukul lima sore, aku berdiri untuk mandi, yang sebenarnya aku sedang menghindari obrolan Mama yang membahas tentang Agus.
"Sulis coba Mama lihat mana yang kamu beli kemarin."