Amarah

1704 Kata
"Kenapa, Lis? Lagi dapet?" tanya Agus. Kami lagi makan siang di rumah makan Padang, Agus yang mengajakku ke sini. Katanya, dia sebal melihatku hanya makan sayuran dan sedikit nasi merah selama beberapa hari ini. "Gimana enggak sebal? Barusan aku dan Kak Nela menyerahkan hasil laporan. Eh, malah salah semua. Aku kayak enggak percaya aja kok bisa salah. Padahal, Kak Tari cuma melirik sekilas langsung minta di ubah. Aku sama Kak Nela sampai ngecek lagi dan nanya-nanya sama yang lain. Katanya udah benar," terangku yang masih memendam amarahku pada Kak Tari. "Masa? Coba aku lihat nanti." "Udah aman kok, dibantuin yang lain. Kak Tari itu memang begitu ya," tanyaku bersungut-sungut. "Begitu gimana?" "Iya, begitu." "Di lingkungan kerja itu udah biasa. Pintar-pintar kita yang bawa diri." "Maksudnya, Gus?" Aku benar-benar tidak mengerti ucapan Agus. Padahal Agus ini biasanya asyik diajak ngobrol apa pun, tetapi ketika itu aib seseorang nampaknya Agus sangat berhati-hati mengatakannya. "Ya, pokoknya biarin aja kalau ada yang iri, atau tidak suka dengan kamu, yang penting kamunya tetap baik ke orang itu," nasihat Agus membuatku dahiku berkerut. Aku belum paham ke mana arah pembicaraan Agus. Padahal aku bertanya tentang Kak Tari. Aduh, aku yang lemot atau Agus yang bicaranya memang berbelit-belit sehingga aku susah memahaminya. "Enak enggak," tanya Agus yang diiringi tawa mengejekku. Aku melihat isi piringku yang nasinya tinggal separuh. Nasi padang memang makanan favoritku dan aku sudah tiga minggu tak menyentuhnya, jadi wajar saja kalau hari ini sedikit kalap. "Makanya jangan diet," imbuh Agus lagi. "Oh, enggak bisa setelah nasi padang ini ludes. Aku diet lagi." Aku melanjutkan makan. "Lis, katanya kemarin mau curhat tentang Abi?" "Kapan? Jangan ngasal." "Kemarin, ke tempat Kak Maya berduaan ya, pantas saja diajak bilangnya lagi ada urusan. Kayak bocah." Agus mencibirku. "Iri, ya?" tanyaku meledeknya. Aku baru ingat kemarin aku ingin cerita tentang dilemaku yang ingin dijodohkan Mama dengan anak temannya. "Terus apanya yang salah dengan laporannya tadi." Pertanyaan Agus membuat semangatku kembali melemah. Sepertinya Agus sengaja mengatur emosiku agar tetap stabil. Tadi bahas laporan dia tidak nanya salahnya di mana? Pas aku emosi sama Kak Tari malah cuma di nasihati. Eh, ini selesai cerita tentang laporan malah ditanya lagi. "Salahnya karena aku keponakan Om Dani ," jawabku ketus. "Maksudnya gimana?" Agus menggaruk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal. Aku tersenyum kecut dan berujar, "Tanya aja sama orangnya!" "Benaran aku tanya sama Kak Tari bisa ribut, lho." "Emang gue pikirin." Suaraku bersemangat lagi, lalu tertawa renyah. "Gitu dong, orang kayak si Tari itu masa bisa bikin kamu kesal. Kalau di suruh perbaiki, ya udah perbaiki kamu ulur terus waktunya selesainya sampai dia yang jadi emosi." "Enak saja kalau ngomong." Kutinju bahu Agus sekuat tenaga sampai dia mengaduh. Selesai makan kami kembali ke puskesmas, aku belum juga duduk di kursi. Kak Helen sudah menyodorkan pertanyaan. "Sulis gimana tadi ceritanya laporan bisa salah." Kak Helen merapatkan tubuhnya ke dekat aku. Nyaris seperti berbisik, matanya melirik-lirik ke ruangan kerja Kak Tari. Aku tersenyum melihat Kak Helen yang sepertinya penasaran. "Tadi Kakak ke mana?" tanyaku seraya menunda menjawabnya, aku harus pikir-pikir dulu sebelum menjawab. Karena bisa saja hal kecil yang tak perlu dibahas lagi tetapi untuk orang-orang yang suka kerusuhan orang lain di jadikan bulan-bulanan. "Biasalah, kamu sama Nela kan?" "Iya, Kak. Salah aku sih, aku kan baru belajar jadi kurang paham. Padahal sudah di ajari Kak Nela sudah dikasih tahu Kak Tari, tetapi masih juga enggak tahu," ucapku seolah menyesal dengan kejadian tadi. "Tapi kan Kakak dengar kamu dimarah habis-habisan ya, sama Kak Tari. Laporan cuma dilirik dikit terus." "Ah, enggak Kak, kata siapa?" Aku cepat-cepat memotong kata Kak Helen. Duh, kenapa mereka heboh. Aku kan cuma kesal sedikit. Aku jadi ingat kata Agus, kan ini udah biasa dalam lingkungan kerja. Dengan kejadian ini rasanya aku benar-benar berterima kasih pada Om Dani. Sekarang mulai nampak berpihak kepada siapa, tak peduli mana yang salah. Pun dengan begitu pelan-pelan aku belajar memahami situasi dan watak pegawai yang lain. "Oh, gitu. si Tari itu memang begitu orangnya. Displin, tegas dan pasti dia enggak mandang bulu." Hah? Apa aku kata Kak Helen yang terakhir tadi 'Enggak mandang bulu' maksudnya apa? Aku tidak pernah selama kerja di sini semaunya aku! Lihat saja selama ini, aku mengikuti arahan dari siapa pun. Walaupun aku bidan, aku tidak pernah masuk ke ruang bersalin itu karena ilmu dan pengalaman belum ada, aku terima! Om Dani juga berusaha melakukan yang terbaik di puskesmas ini, kalau aku memang 'anak emas' kenapa aku enggak duduk-duduk saja kerjanya? Atau pernah aku masuk kerja sesuai mood-ku? "Iya Kak, Kak Tari memang displin. lagian apa yang dipandang bulu kita di sini semuanya sama, kok," celaku dengan suara yang tak lagi dikecil-kecilkan. Biarkan saja yang lain mendengarnya, aku tidak peduli. Hampir semua orang di sini meremehkan kinerjaku. Mereka pikir aku diam saja? tidak berusaha? tidak belajar? Kurasa napasku setengah memburu, darahku serasa mengalir deras sampai ke ubun-ubun, mataku menatap tajam entah harus kepada siapa? Aku benar-benar emosi saat Kak Helen bilang tidak memandang bulu. Kuraih kursi dengan sedikit hentakan kasar, agar Kak Helen tahu aku tidak suka dengan kata-katanya yang terakhir. Kuhela napas kasar, dan memilih menyibukkan diri di meja kerja. Setengah jam berlalu aku dan Kak Helen yang mejanya bersebelahan diam seribu bahasa. Mungkin dia tahu aku marah dengan kata-katanya tetapi sepertinya dia masih enggan untuk sekadar meminta maaf atau pun berbasa-basi bertanya hal lain. Aku berusaha mengabaikannya meski rasaku berkecambuk. Pantas saja selama ini mereka seperti kompak menjauhi aku, hanya beberapa orang saja yang bersifat netral. Huh, aku jadi tidak fokus mengerjakan tugasnya, kututup map kerjaku lalu membenamkan wajah dengan kedua tangan yang berpangku di meja. Aku mulai terisak. "Sulis." Suara Kak Helen sepertinya memanggilku, tetapi aku abaikan. "Sulis kamu tersinggung ya, dengan ucapan Kakak?" Kak Helen mendekatiku, tangannya mengusap bahuku dengan pelan. "Aku enggap apa-apa, Kak." Kataku tanpa harus melihat wajahnya Kak Helen. "Maaf, Lis. Kakak enggak ada maksud lain, kok." Aku segera menghapus air mataku, lalu lekas mengangkat wajahku dan berujar, "Aku cuma lagi enggak enak badan, Kak. Mungkin karena program dietku." "Sulis, maafin Kakak, ya?" "Kakak enggak salah, kenapa harus mintak maaf. Udah, ah." Aku lanjut membuka medical record pasien. Aku membiarkan Kak Helen melihat sisa air mataku, biar dia tahu dan belajar besok kalau mau bicara dipikir-pikir dahulu. Dan dilihat dari semua sisi jangan asal pungut mentang-mentang Kak Tari lebih senior di sini dibanding aku. Seenaknya saja bicara. Sudah lebih dari lima belas menit waktunya pulang, aku belum beranjak dari meja kerjaku. Sengaja kuselesaikan tugasku lebih lama agar tak berpas-pasan dengan Kak Tari atau pun yang lainnya. "Belum pulang, Neng?" tanya Pak Timo yang melintas depan meja kerjaku. "Belum, Pak. Dikit lagi tanggung." Waktu terus berjalan tidak terasa sudah hampir satu jam dan aku baru menyadari Kak Helen belum juga pulang, biasanya ibu dari dua anak itu selalu bergegas ketika jam pulang tiba dengan alasan merindukan anaknya. Aku melirik ke meja kerjanya sekilas, kosong. Ternyata Kak Helen ada di ruangan administrasi, kulihat dia sibuk sendiri entah apa yang dibuatnya. Biasanya aku yang duluan menyapa berbasa-basi dengannya membahas apa saja. Namun, saat ini aku tidak mood walaupun sekadar untuk menegurnya. "Rajin amat, kirain sudah pulang." Agus berdiri tepat di depan meja kerjaku, dengan kunci motor di tangan kiri yang sengaja dimain-mainkan. "Aku mau selesain ini dulu." Aku memberikan alasan kepada Agus. "Besok kan, bisa." "Enggak lah, kalau yang lain nunda perkerjaan enggak disorot. Beda dengan aku nanti kamu kira aku anak emas lagi." Sengaja aku lantangkan dikit suaraku, biar Kakak Helen di ruangan sebelah mendengarnya. Aku benar-benar kecewa, aku kira dia orang yang tulus dalam bergaul ternyata tidak! "Udah! Udah! Beresin! Ayok pulang!" perintah Agus sambil melihat sebentar ke meja Kak Helen. "Dikit lagi tanggung," ucapku. "Sulis." Agus menatapku sejenak, matanya berkilat seperti menahan kemarahan. Aku segera berkemas memasukan data medical record pasien ke lemari. Kuraih tasku memasukan botol minuman, bulpoin dan laptop. Setelah selesai aku izin pamit dengan Kak Helen. Bagaimana pun kesalnya, aku tetap menjaga kesopananku dan kuharap besok mood-ku sudah membaik. "Kak, aku duluan, ya?" Meski berat mengucapkannya, kulihat wajah Kak Helen senyumnya sedikit canggung menatapku. "Iya," katanya dengan sedikit anggukan. Aneh sekali Kak Helen biasanya dia yang paling cepat pulang kalau sudah waktunya. Tatapi terserah dia sih, sekarang aku ingin pulang menenangkan hatiku. "Aku main ke kontrakan atau kita duduk ngobrol di mana, nih?" Aduh, Agus pasti pengen tahu kenapa caraku berbicara tadi tidak enak didengar. "Jangan di kontrakan, nanti jadi gosip," jawabku ketus, meskipun sudah jauh dari Kak Helen tetapi emosiku belum stabil. Masih belum puas menunjukan kemarahanku padanya. "Di taman?" "Heem, boleh." Kami sudah sampai di parkiran taman, tempat yang disebutkan Agus untuk kami mengobrol. Siang ini cuacanya cukup cerah. Awan putih berarak menghias angkasa, angin berembus pelan menggoyangkan bunga-bunga bermekaran yang beraneka ragam. Aku menyaksikan pemandangan indah ini di bawah pohon rindang, di bangku panjang bercat hitam aku menunggu Agus membeli minuman dan jajanan untuk kami berdua. Taman ini tampak ramai, Ada beberapa anak yang terlihat berlari-larian riang di sekitarku dan orang tua mereka sesekali berteriak mengingatkan. Di bagian ujung sana, anak-anak memainkan permainan yang ada di taman ini. Ada yang bermain ayunan, ada juga bocah-bocah kecil yang bermain perosotan. Di sepanjang jalan menuju gerbang taman banyak pedagang yang mangkal di pinggir jalan menjajakan dagangannya. Mulanya aku mengira desa ini adalah desa yang amat sangat tertinggal atau desa yang benar-benar masuk ke pelosok sehingga begitu susah akses untuk menuju ke puskesmas, ternyata aku salah besar desa ini bisa dibilang salah satu desa yang mengalami kemajuan cukup pesat. Tentu saja semuanya tidak terlepas dari usaha pemerintah setempat. "Nih." Agus duduk di sampingku, dengan wajah sedikit meringis karena kelamaan mengantri. Katanya penjual minuman yang diblender itu cuma satu. "Makasih ya? Ngerepotin terus, aku kan jadi keenakan." Kataku di iringi tawa. Kubuka botol air mineral lalu menenggak isinya hingga tersisa setengah. "Rame juga ya, di sini?" "Heem. Kenapa tadi ngomongnya kayak emak-emak yang baperan suaminya di pepet mantan?" Aku terbahak mendengar pertanyaan Agus. Dasar si Agus! Tidak bisa gitu bicaranya yang singkat padat dan jelas? "Emangnya aku kenapa?" Aku balik bertanya. "Sudah dibilangi biarin aja, Sulis. Lain kali kalau ada masalah kayak tadi, kamu diam aja. Disuruh perbaiki ya, perbaiki. Kalau ada yang tanya-tanya bilang aja salahnya kamu. Kalau ada yang mancing emosi, kamu diam, kalau enggak kabur aja, atau kamu ajak bercanda aja jangan ditanggapi serius."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN