Bandung 2

2145 Kata
Tak terasa dua jam sudah mereka menghabiskan waktu untuk berfoto-foto di Museum 3D. Dan siang pun perlahan beranjak sore. Setelah puas berswafoto dengan berbagai macam gaya mereka memutuskan untuk pulang. “Gais, sebelum pulang makan dulu yok” ajak Kartika pada teman-temannya. “Mau makan dimana?” Tanyaku “Ngukut aja gue mah” kata Satria “Adhit udh booking tempat buat kita makan. Di resto daerah Dago” kata Kartika “Gak jauh kok. Tiga puluh menitan kalau gak macet” tambahnya. Dan yang lain pun setuju untuk makan malam di tempat yang sudah di pesan oleh Adhit. Teman dekat Kartika. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana memakan waktu lebih dari tiga puluh menit karna jalanan menuju ke sana lumayan padat. Bangunan resto tersebut berbentuk kastil abad pertengahan khas Eropa yang megah. Bengunannya terdiri dari empat lantai. Dekorasi di sekitarnya pun didesign seperti sebuah taman yang berada di dalam sebuah istana khas Eropa. Sementara di puncak mercusuar, biasanya menjadi tempat favorit para pengunjung untuk berswafoto dengan latar belakang pemandangan Kota Bandung. Untuk area resto dan cafenya terdapat di lantai 2 dan 3. Sedangkan lantai 4 biasanya ramai untuk para pengunjung yang ingin berfoto-foto. Dan Adhit telah memesan tempat untuk mereka makan malam di lantai 2. Saat kami sampai ternyata Adhit sudah menunggu di sana. “Udah lama?” Tanya Kartika pada Adhit begitu kami sampai di meja yang telah dipesan “Lima belas menitan lah” jawabnya Kamipun segara memilih tempat masing-masing. Dan tak lama pelayan datang untuk memberikan menu. Menu yang ada juga bervariasi mulai dari appetizer, main course hingga dessert. Minumannya pun tak kalah bervariasi. Hampir dua puluh menit mereka melihat-lihat menu akhirnya Adhit pun memanggil pelayan untuk memesan makanan. “Sehat, Dhit?” Tanya Ricky. “Alhamdulillah.. tadi ke Museum 3D aja?” Gantian Adhit yang bertanya. “Pas baru sampai sempat makan siang di daerah Punclut. Rekomen dari Kartika. Pengennya ke tempat lain lagi tapi takut kemaleman” kataku “Oh tau gue. Bagus kan tempatnya?” Tanya Adhit “Bagus. Sampe si Anto ada planning mau resepsi di sana” ujar Silvy disambut tawa yang lain. Sedangkan Anto bersikap masa bodo dengan celotehan teman-temannya “Emang udah ada calonnya, To?” Tanya Adhit lagi penasaran “Kalau kata Dinda mah masih inden calonnya Anto” timpal Ricky sambil tertawa “Seneng ya lo pada ngecengin gue” kata Anto berlagak kesal. Yang lain pun tentu saja semakin tertawa melihat tingkah Anto. Tak terkecuali Febri. Pesana makan malam mereka ternyata agak lama datangnya. Maklum suasana resto saat itu tengah ramain pengunjung. Dan setelah menunggu sekitar tiga puluh lima menit makan malam mereka semua pun datang. Mereka sangat menikmati hidangannya di temani live music yang saat itu sedang memainkan lagu yang sedang hits dari salah satu penyanyi pria dalam negeri. Selesai makan, mereka memilih bersantai sejenak. Ada yang memesan kopi seperti Ricky, Joshua serta Panji. Ada yang memesan dessert seperti Dinda dan Okta. Ada juga yang hanya menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh home band sambil bercengkrama. Krekk.. Krekk.. “Mau kemana lo, Ky?” Tanya Panji “Toilet. Ikut?” Kali ini gantian Ricky yang bertanya “Ogah” jawab Panji singkat “Bareng, Ky. Bentar” kata Joshua. Lalu bangun dari kursinya berjalan bersama Ricky ke arah toilet. Yang lainnya masih asik bercengkrama. Membahas apa saja. Termasuk saat mereka berada di Museum 3D tadi. “Gais, foto-foto yang tadi di share di group dong” pinta Silvy pada teman-temannya “Iya. Tadi banyakan pake ponsel siapa?” Tanyaku. “Panji deh kayanya. Coba Nji di share” pinta Kartika “Iya bentar. Pada gak sabaran banget deh” kata Panji sambil mengeluarkan ponselnya dari kantong celana. Sedangkan Dinda, Kartika, Okta serta Silvy juga membagikan foto-foto yang ada di ponsel mereka masing-masing. Setelah semua foto dibagikan Panji ke group chat Geng Kepompong para gadis-gadis sibuk memilih-milih foto mana yang bagus untuk mereka post di sosial media mereka masing-masing Sepuluh menit kemudian Ricky kembali ke meja merka. “Si Jojo mana Ky?” Tanya Anto heran karna Ricky kembali tanpa Joshua. “Tau tadi misah pas keluar” jawab Ricky “wiihh.. udah di share aja di group” lanjutnya saat ia melihat banyak notif di ponselnya “Noh cewek-cewek rempong pada minta di share” jawab Panji. “Ky, share juga dong” pinta Satria “Iya bentar” kali ini giliran Ricky yang membagikan foto-foto yang terspan di poselnya. Saat mereka semua sedang sibuk mengomentari foto-foto yang ada di group. Terdengar alunan lagu dari LAUV yang berjudul I Like Me Better yang dibawakan oleh home band cafe tersebut. Awalnya tidak ada yang menyadarinya. Sampai pada akhirnya.. “Ih kayanya gue kenal ini suaranya yang nyanyi” kata Okta tiba-tiba “Sotoy lo ta. Itu home band nya kali yang nyanyi. Lo kenal emang?” Tanya Panji. “Bukan. Suaranya beda sama yang nyanyi tadi pas pertama-tama. Coba dengerin deh” katanya lagi. “Lah itu mah si Jojo” kata Satria satelah ia bangun dari kursinya karna penasaran tak bisa melihat siapa penyanyinya. “Iya si Jojo. Bisa nyanyi juga dia” kata Ricky “Bagus suaranya” tambah Silvy “Lo gak mau naik, Din?” Tanya Adhit “Enggak” jawabku singkat “Naik lah” kata Anto. “A, ada yang mau nemenin nih” lanjutnya sambil berkata agak keras supaya orang-orang yang ada di atas panggung mendengarnya. “Bener-bener lo ya, To” kataku tak bisa menolak karna semua mata telah menatapku. Tak lama vocalist dari home band cafe menghampiri dan mengajakku ikut ke atas panggung. Sesampainya di atas panggung aku bingung tak tau harus apa. Jadi hanya berdiri di samping Joshua. Ia menyanyikan dua buah lagu dan lagu satunya milik Andmesh yang berjudul Ku Mau Dia. “Mau kemana, Feb?” Tanya Satria. “Toilet” jawab Febri singkat. “Kalem sih Feb” kata Ricky. Namun tak digubris Febri. “Pake pelet apa ya si Dinda. Bisa-bisanya si Jojo sama Febri ngejar-ngejar dia” kata Anto heran “Lo tanya dong To. Kali aja nanti lo jadi laris manis” kata Adhit. “Tapi beneran deh gue setuju sama apa yang dibilang Dinda tentang Jojo. 75 persen masuk kriteria cowok idaman cewek-cewek” kata Silvy “Masa sih?” Tanya Panji sangsi. “Ya lo liat aja cara Jojo men-treat Dinda kaya apa. Biar cuek tapi care. Mana pernah si Dinda keluyuran sendiri. Pasti dianter dan baliknya dijemput. Tampang juga lumayan. Kerjaan bagus. Gak macem-macem juga” kata Okta menambahkan. “Tau dari mana Jojo gak macem-macem?” Kali ini Ricky yang bertanya “Dia gampang kali kalau mau aneh-aneh. Tapi dia malah milih bucin sama temen lo” kali ini Kartika yang menjawab “Iya juga ya.. padahal si Dinda kan galak ya. Tp sama si Jojo kaya anak kucing gitu. Kalem aja gak ada galak-galaknya” kata Satria “Nyaman dia sama Jojo. Kalau seagama juga masih lanjut mereka. Sayangnya aja beda” kali ini Anto yang menimpali. “Tapi jodoh mah gak ada yang tau” Lanjutnya lagi. “Hokinya bagus si Dinda” kata Adhit yang disetujui oleh teman-teman Kartika. “Tapi kasian si Febri. Jadi uring-uringan gitu nahan jealous” kata Kartika sambil tertawa. “Iya ya. Rival berat itu si Jojo” kata Panji “Tapi harusnya mah kalem aja biar keliatannya dia gak kepancing sama tingkahnya si Jojo” tambahnya lagi Sementara itu Febri memilih pergi ke lantai paling atas resto tersebut. Di lantai empat itu dia menenangkan diri agak tidak terbakar rasa cemburu melihat sikap Joshua yang terang-terangan menunjukan perhatiannya pada Dinda didepan semua orang. Sedangkan di lantai dua, tempat mereka makan malam masih ramai dengan celotehan geng Kepompong. “Jojo.. Jojo.. nyanyiin aku dong” kata Anto menggoda Joshua setelah ia dan Dinda kembali ke meja mereka. “Ada nih lagu yang cocok buat lo To.. Tuhan kirimkanlan aku.. Kekasih yang baik hati.. Yang mencintai aku.. apa adanya..” Joshua menyanyikan lagu Munajat Cinta milik The Rock. “Bener-bener pas To buat lo” kata Ricky disambut tawa yang lainnya. “Lo diem-diem ngeselin ya Jo. Sama kaya si Dinda” kata Anto pura-pura kesal “Eh si Febri belom balik dari tadi?” Tanya Silvy “Emang kemana dia?” Tanyaku baru menyadari setelah Silvy bertanya “Gerah dia liat tingkah lo berdua” saut Panji sambil tertawa. Aku dan Joshua hanya cengengesan mendengar jawaban Panji. “Tuh dia tuh. Lo jangan mesra-mesraan lagi. Kasian anak orang kegerahan” kata Anto memperingatkan. Tak berapa lama Febri duduk kembali di tempatnya. “Balik yuk. Takut kemaleman nanti” kata Joshua. “Eh iya. Yok balik. Dhit, lo mau ikut ke Jakarta juga gak? Sekalian” tanya Ricky menawarkan. “Enggak deh tanggung cuman sehari doang. Sabtu depannya kayanya baru ke Jakarta” jawab Adhit Setelah itu mereka turun menuju parkiran. Sebelum pulang mereka mengucapkan terima kasih pada Adhit yang sudah meluangkan waktunya untuk memesan tempat mereka makan malam. Begitu Kartika yang harus berjauhan lagi dengan Adhit sang pujaan hati. Setelah berpamitan mereka pun memasuki mobil masing-masing. Seperti saat awal mereka berangkat. Dan tak lama mobil rombongan geng Kepompong pun meninggalkan area tempat makan. Begitu juga Adhit. “Jo, capek gak! Kalau capek gantian gak apa-apa” tanyaku pada Joshua. “Enggak. Lo kalau capek tidur aja di belakang. Biar Anto yang nemenin melek” jawab Joshua Tak lama setelah mobil berjalan aku mulai mengantuk. Hingga tak terasa memejamkan mata. “To, dia udah kenal lama sama Febri?” Tanya Joshua saat mengetahui Dinda telah tertidur “Baru dua bulanan kayanya. Kenapa?” Tanya Anto “Gak apa-apa. Caranya ngeliat Dinda beda. Naksir dia kayanya” jawab Joshua sambil matanya tetap fokus melihat ke arah jalan. “Keliatan banget ya?” Tanya Anto sambil tertawa. “Cuman kayanya direspon biasa aja sama Dinda” tambah Anto “Mudah-mudahan begitu terus responnya” saut Josua sambil tertawa. Ada sedikit perasaan lega dihatinya mendengar perkataan Anto. “Maunya elo itu mah” kata Anton yang juga ikutan tertawa. “Jo gue boleh nanya yang personal gak? Tapi kalau lo keberatan gak usah dijawab” Tanya Anto hati-hati takut menyinggung perasaan Joshua. “Apaan?” Tanya Joshua yang sedikit penasaran dengan pertanyaan Anto. “Lo kenapa masih perjuangin dia?” Tanya Anto dan dia yang dimaksut tidak lain adalah Dinda. “Dinda tuh salah satu orang terbaik yang gue temui dalam hidup gue, To. Dia bisa merubah hidup gue yang berantakan jadi lebih baik. Gue sangat bersyukur sama Tuhan pernah milikin dia. Dan gue pengen milikin dia lagi supaya hidup gue gak berantakan lagi” kata Joshua. Kali ini ia berbicara serius dengan Anto. “Seberantakan apa hidup lo sih Jo?” Tanya Anto bingung. “Dulu sebelum ketemu dia, gue suka main ke club kalau lagi suntuk. Kadang minum juga. Pas sama Dinda, dia tau kebiasaan gue begitu tapi gak ngelarang apalagi marah. Dia cuman bilang sekarang ada dia yang bisa diajak diskusi kalau gue lagi ada masalah. Apapun gue bisa cerita ke dia. Semenjak itu gue gak pernah ke tempat begituan lagi. Tapi pas putus sama dia gue mulai ke sana lagi tapi udah gak minum” kata Joshua mencoba menjelaskan keadaannya pada Anto. “Dia emang care orangnya. Tapi gak nyangka bisa bikin lo begitu. Bucin” kata Anto sambil tertawa meledek Joshua. “Terus selama ini lo gak nyoba buka hati buat orang lain?” Tanyanya lagi “Udah. Tapi gak tau kenapa pas udah deket kaya perasaan lo nolak tuh cewek. Ada aja yang bikin gak sreg. Jadi pelan-pelan ngejauh” jawab Joshua. “Lo nge-ghosting anak orang mulu dong?” Tanya Anto “Gak mulu, To. Baru dua” jawab Joshua sambil tertawa. “Eh, To, tolong selimutin Dinda pake jaket gue nih. Kasian dingin kayanya” kata Joshua sambil melepas jaketnya. “Buat gue mana? Aku juga dingin mas Jojo” goda Anto sambil berlaga kedinginan. “Dih.. sumpah geli gue To” respon Joshua saat melihat tingkah Anto yang menjijikan menurutnya. Anto hanya tertawa melihat Joshua seperti itu. “Mudah-mudahan Tuhan kasih yang terbaik buat lo sama Dinda bro” ucap Anto tulus mendoakan kelanjutan hubungan Joshua dan Dinda. Dan diamini setulus hati oleh Joshua. Disepanjang perjalanan pulang Anto benar-benar menemani Joshua supaya tidak mengantuk. Sedangkan Dinda tertidur pulas dibangku belakang berselimutkan jaket milik Joshua. Mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari perasaannya kepada Dinda, pekerjaan, pengalamannya tinggal di beberapa tempat di luar pulau Jawa, sepak bola, hingga berbagi cerita mengenai tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Ditemani pula alunan lagu yang berganti-ganti dari radio yang dinyalakan oleh Joshua. ——————————————————— Ku mau dia, tak mau yang lain Hanya dia yang selalu ada Kala susah dan senangku Ku mau dia, walau banyak perbedaan Kuingin dia bahagia hanyalah dengan ku.. *** Andmesh - Ku Mau Dia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN