Pukul 11:35 mereka sudah keluar tol Pasteur. Dan dikarnakan sudah mendekati jam makan siang akhirnya mereka memutuskan untuk menuju salah satu tempat makan yang lagi hits di Bandung. Atas rekomendasi dari Kartika mereka memilih sebuah cafe di daerah Punclut.
Cafe tersebut berada diatas pegunungan sehingga memiliki udara yang sejuk. Berbeda sekali dengan Jakarta. Bangunannya terdiri dari dua lantai dan berbentuk seperti sebuah lumbung ala western. Didekorasi dengan pernak pernik pernikahan sehingga memberi kesan romantis. Dan para pengunjung pun bisa memilih beberapa area untuk bersantap. Bisa di lantai satu atau lantai dua yang berkonsep pesta pernikahan. Atau di area oudoor yang terdapat sebuah kolam kecil yang menghadap langsung ke area perbukitan.
Dan setelah berkeliling untuk menentukan tempat mereka makan siang. Akhirnya mereka memilih area lantai 2. Karna selain bisa menikmati santap siang mereka bisa melihat pemandangan sekitar cafe.
“Ini mah tempatnya cocok buat yang bawa pasangan, Tik” komentar Anto saat mereka sampai
“Buat refrensi kalau lo udah ada pasangan, To” jawab Kartika
“Iya juga ya. Cafenya bisa buat tempat resepsi juga gak, Tik?” Tanya Anto lagi.
“Kurang tau deh. Emang calonnya udah ada?” Tanya Kartika penasaran begitu juga yang lain.
“Udah mikirin resepsi aja lo, To. Calon cewek lo aja masih inden” kataku sambil memainkan ponsel. Lalu disambut tawa oleh yang lain
“Njir.. inden. Si Dinda lambenya bener-bener dah” saut Panji disela-sela tawanya.
“Lo kayanya gak bisa liat temen mengkhayal dikit ya” saut Anto sambil berjalan ke arahku. Lalu tangannya bergerak ke arah kepalaku. Namun sebelum tangannya menyentuh kepalaku Joshua lebih dulu melindungiku. Joshua menyembunyikan kepalaku di dadanya dan melindunginya dengan tangannya agar terhindar dari Anto yang ingin menjitak kepalaku.
“Kagak usah dilindungin, Jojo” kata Anto “Dinda, urusan kita belom kelar ya” lanjutnya lagi padaku dengan nada kesal
“Makanya jangan comel” kata Joshua
“Dianya aja yang baper, Jo” kataku berusaha membela diri
“Si Dinda gak ada takutnya ya” kaya Anto bersiap berjalan ke arahku lagi. Sedangkan Joshua sudah bersiap melindungi kepalaku dengan posisi seperti tadi.
“Ok..ok.. maap ya Anto” kataku sambil tertawa. Begitu juga yang lainnya.
Dan yang lain makin tertawa setelah melihat Anto makin kesal karna tidak bisa menjitak kepalaku.
Kreekkk.. Kreekkk..
Terdengar suara kursi digeser dan semua beralih ke arah suara tersebut.
“Mau kemana lo Feb?” Tanya Satria
“Cari angin. Gerah” jawab Febri acuh sembari meninggalkan tempatnya. Dan yang lain pun langsung terdiam saling pandang.
“Hawanya sejuk gini gerah” celetuk Okta.
“Hatinya yang gerah” kata Ricky pelan sambil tertawa saat Febri sudah menjauh.
“Lo makanya jangan mesra-mesraan” kata Satria tertuju padaku dan Joshua.
“Ssttt.. udah pesen. Pesen. Keburu ada yang gerah lagi” kata Kartika.
Dan kami pun segera memesan makan siang kami masing-masing. Dan Febri pun menyusul memesan makan siangnya setelah pergi selama 15 menit entah kemana.
Menu yang tersedia pun beragam. Mulai dari appetizer, menu nusantara, western hingga dessert. Dan kami lebih banyak memesan makanan nusantara yang sudah tak asing dilidah mereka.
Suasana saat makan sudah lebih mencair ketimbang saat Febri baru kembali. Mereka sepakat untuk tidak terlalu membahas pembicaraan yang membuat “gerah”. Agar liburan kali ini menjadi menyenangkan untuk semua orang yang ikut.
Setelah selesai santap siang mereka berencana menuju destinasi liburan selanjutnya yang terletak di jl. Setiabudi. Jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu kurang lebih 40 menit.
Destinasi selanjutnya adalah tempat yang menjadi surga bagi orang-orang yang suka berswafoto. Dinda, Kartika, Okta dan Silvy tentu saja sangat bersemangat. Mereka telah merencanakan akan berfoto dimana saja setelah sebelumnya browsing tentang destinasi yang akan mereka kunjungi.
Tempat yang akan mereka kunjungi selanjutnya adalah salah satu tempat wisata yang tengah hits di Kota Bandung. Karna di tempat tersebut terdapat banyak lukisan 3D yang menjadikannya mempunyai keunikan tersendiri. Di sana ada sekitar 6 galeri dengan lebih dari 10 tema berbeda-beda serta banyak spot foto menarik untuk para pengunjung berswafoto. Dan hal tersebut tidak akan disia-siakan oleh para member Geng Kepompong beserta Febri dan Joshua.
“Semangat banget nih cewek-cewek ke sini” kata Satria setelah mereka sampai.
“Iya lah. Mereka kan pada gila foto. Nanti nih. Ujung-ujungnya kita yang jadi tukang foto mereka” kata Ricky.
Dan benar saja Anto, Panji, Ricky, Satria, Febri dan Joshua secara bergantian menjadi tukang foto dari teman-teman perempuan mereka.
“Eh ke situ tuh. Lucu temanya Winter gitu” kataku menunjuk ke arah tempat berswafoto yang kumaksut.
“Tapi penuh. Ke situ dulu agak kosong yang temanya love-love gitu. Lucu juga kayanya” kata Okta dan diikuti yang lain.
“To, fotoin kita dong. Pake ponsel gue” kata Silvy sambil menyodorkan poselnya ke Anto. Setelah mereka puas berfoto-foto disatu spot foto mereka akan pindah ke spot foto selanjutnya.
“Woii.. gantian dong fotoinnya. Kita cowok-cowok kan juga mau foto” protes Satria pada teman-teman perempuannya.
“Ky, fotoin gue sama Dinda dong di situ” kata Joshua pada Ricky yang menunjuk ke sebuah spot foto yang agak kosong. Sebuah spot foto ya g berlatar belakang negri pizza, Italia.
Ricky yang dimintai bantuan oleh Joshua segera menyanggupi dan menerima ponsel milik Joshua. Dan dari kejauhan terlihat Febri sedang memperhatikan ketiganya. Cemburu.
“Eh kita foto bareng dong di tiap spot foto. Jd tiap tema kita punya fotonya” usul Anto.
“Yang mau fotoin siapa kalau kita semua foto?” Tanya Kartika.
“Minta tolong fotoin sama orang aja” kataku mencoba memberi solusi.
“Lo yang bilang ya” kata Satria
“Gantian lah” jawabku
Dan seperti yang telah disepakatkan mereka akhirnya foto bersama di setiap spot foto dengan tema yang berbeda-beda. Berbagai macam gaya mereka abadikan. Tiap tema biasanya mereka berfoto bersama 1-2 kali.
“Dinda, foto berdua dong” kata Febri. “Jo, tolong fotoin bentar ya” kata Febri sambil memberikan poselnya pada Joshua. Panji dan Okta memperhatikan mereka bertiga sambil tertawa-tawa dari kejauhan.
“Punya nyali juga si Febri minta fotoin Jojo” kata Panji
“Lu liat mukanya si Jojo. Datar banget pas nerima ponselnya Febri” timpal Okta disertai tawa.
“Ada apaan sih?” Tanya Ricky penasaran melihat Panji dan Okta asik tertawa-tawa berdua.
“Noh! Lo liat si Dinda, Jojo sama Febri” tunjuk Okta
“Eh taruhan yok. Si Dinda nanti jadinya sama siapa. Jojo apa Febri” ajak Ricky pada Panji dan Okta.
“Wah.. parah lo, Ky. Menurut lo gimana, Ta?” Tanya Panji pada Okta.
“Kalau sama Jojo masih 50:50 kalau sama Febri gak bisa nebak gue. Si Dinda kayanya biasa aja sama dia. Kaya gak ada rasa” jawab Okta mencoba menganalisa
“Bener juga ya. Gimana? Deal gak nih?” Tanya Panji
“Gue bilangin Dinda lo ya” ancam Okta
“Lemes lo ah. Batal udah. Nanti ngamuk berabe kita, Ky” kata Panji dan disetujui oleh Ricky.
Lalu mereka melanjutkan berswafoto di spot-spot foto selanjutnya yang belum mereka datangi. Waktu sudah beranjak sore, menujukan pukul setengah lima sore. Tak terasa sudah dua jam lebih mereka menghabiskan waktu di sana. Melakukan berbagai macam gaya untuk foto dan merekam beberapa video untuk kenang-kenangan mereka dan di upload di sosial media mereka masing-masing.
Tak terkecuali Joshua yang biasanya jarang bermain sosial media kali ini ia mem-posting kebersamaan mereka di sosial media miliknya. Dua buah foto diawal adalah foto mereka semua, satu foto dirinya dan satu fotonya bersama Dinda. Ia post dalam sekali posting. Dan satu lagi foto yang ia post adalah foto Dinda yang sedang tertawa yang ia ambil secara diam-diam. Dengan isi caption-nya diambil dari lyric lagu milik Eclat - Bentuk Cinta yang disertai emoticon bentuk hati warna merah.
———————————————————
Rambut warna warni bagai gulali
Imut lucu walau taj terlalu tinggi
Pipi chubby dan kulit putih
Senyum manis gigi kelinci
Membuatku tersadar
Bentuk cinta itu
Ya kamu..
***
Eclat - Bentuk Cinta