Jalan-Jalan Yok!

1344 Kata
Seperti Jum’at malam yang sebelumnya anggota Geng Kepompong berkumpul di Temu Cafe. Cafe milik Ricky. Namun kali ini ada yang berbeda. Ada dua orang tambahan yang ikut serta. Joshua dan Febri. “Tik, nginep tempat lo dong. Udah lama nih gak girls night” kata Silvy pada Kartika. “Ikuuuttt” kataku menimpali “Ya udah. Kapan?” Kata Kartika menyanggupi “Jum’an depan giman? Abis dari sini” usulku dan disetujui oleh Silvy. “Okta gimana? Chat aja kali ya” tanyaku lagi dan diangguki oleh Silvy dan Kartika. “Kita cowok-cowok gak diajak nih?” Tanya Anto yang ternyata mencuri dengar obrolan kami. “Dih.. lo ke rumah aja. Bang Haikal abis beli PS 5. Dari kemaren nyariin lawan mulu” kataku “Si Ojan kemana emang?” Tanya Ricky yang ternyata ikutan bergabung dengan kami. “Males dia main sama Ojan. Kalah mulu bang Haikal” kataku lalu disambut tawa oleh yang lain. “Nah kalau gitu nginepnya di rumah Dinda aja. Kan pas tuh ada PS. Jadi cowok-cowoknya bisa tanding PS” usul Anto. “Bosen ah di rumah gue mulu” tolakku “Bandung aja yok” usul Joshua tiba-tiba. Ia yang sedari tadi diam ternyata menyimak obrolan kami semua. “Nah boleh tuh. Sekalian gue ketemuan sama Adhit” kata Kartika menyetujui usul dari Joshua. Yang lain tampak berpikir. Ada yang langsung menyetujui seperti Kartika, Anto, Febri dan Satria. Ada yang masih menimbang-nimbang seperti aku, Ricky, Panji, Silvy dan Ricky apakah akan ikut atau tidak. Ada juga yang tidak tau akan rencana ke Bandung seperti Okta karna ia tidak bisa ikut kumpul karna masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. “Weekend cafe rame. Takut karyawan gue keteteran” kata Ricky. “Tambah orang dong” usul Silvy “Emang niatannya begitu. Lo kira-kira ada kenalan yang mau kerja di sini gak? Yang rajin dan bener-bener mau kerja. Cewek, cowok, apaan aja. Yang penting jujur” Tanya Ricky pada kami. “Si Ojan aja, Ky” usul Anto. Lalu semua yang ada menatapku seakan meminta jawaban. “Nanti gue tanyain ya” jawabku “Kabarin secepatnya ya. Kalau dia gak mau gue bisa cepet cari orang” kata Ricky “Urusan Ricky beres. Jadi kita jadi dong ke Bandung” tanya Kartika Setelah diskusi dan sedikit perdebatan tentang kapan mereka akan berangkat, akhirnya mereka sepakat untuk pergi hari Sabtu depan. “Dinda, biasaa” kata Anto sambil senyum-senyum. “Iye” Dinda yang sudah tau maksut Anto untuk ikut mobilnya hanya menjawab seperlunya. “Jo, lo kalau pas bisa ikut aja” ajak Silvy dan langsung diiyakan oleh yang lainnya. “Gak apa-apa nih gue ikutan gabung” tanya Joshua sekedar meyakinkan jika ia ikut tidak ada yang keberatan. “Ya elah kaya sama siapa aja lo. Udah ikut” kata Panji. Dan Joshua pun dipastikan akan ikut ke Bandung sabtu depan bersama Geng Kepompong dan Febri. Setelah diskusi dan sedikit drama perdebatan akhirnya mereka sepakat untuk bepergian hari sabtu depan. Meeting point di rest area KM 39 jam 9. Mereka dibagi 3 mobil. Mobil Joshua berisikan Dinda dan Anto. Mobil Ricky yang ikut Satria dan Okta. Sedangkan mobil Febri ada Silvy, Kartika dan Panji. Dan hari yang ditentukan pun tiba. Sesuai rencana awal mereka bertemu di rest area KM 39 jam 9. “Lama bener” kata Satria begitu melihat aku, Anto dan Joshua mendekat. “Biasa nunggu nyonya dandan” jawab Anto sambil melirikku. “Dandan lama-lama pas ketemu masih gitu-gitu aja lo, Din” kata Ricky ikut menimpali omongan Anto. “Ih lo laki mulutnya pada comel ya. Masih mending gue dandan banyak yang mau. Lah elo berdua udah all out masih aja gak ada yang minat. Dilirik juga kagak” kataku sambil berlalu menuju minimarket bersama Okta. “Sabar banget lo Jo ngadepin si Dinda. Udah galak kalo ngomong mulutnya kaya bon cabe. Pedes” kata Anto. “Kan udah setting-annya gitu dari sononya” jawab Joshua sambil tertawa. “Udah kepalang bucin dia, To” kata Satria ikut meledek Joshua. Lalu mereka tertawa bersama. Tak lama rombongan mobil Febri yang berisikan Silvy, Kartika dan Panji sampai. “Ngobrolin apaan lo pada? Seneng banget kayanya” Tanya Kartika saat sudah dekat. “Nih si Jojo. Bisa-bisanya bucin sama si Dinda” kata Ricky menjelaskan. “Bukannya bucin, bro. Tapi bikin perempuan yang kita seneng happy dan nyaman kan gak ada salahnya. Kita sebagai cowok juga gak was-was dia bakalan macem-macem diluaran kalau pas lagi gak sama kita. Karna kita sebagai laki udah memperlakukan mereka dengan baik” kata Joshua menjelaskan “Ya salam.. omongan lo Jo. Suka bener. Untung gue laki. Kalau cewek udah gue pepet lo. Pantes aja si Dinda gak pernah ngamuk-ngamuk gak jelas selama sama lo dulu” kata Anto sambil tertawa Febri yang ada di situ memilih untuk memainkan posnselnya namun tetap mencuri dengar apa yang menjadi obrolan teman-temannya. Dia menganggap bahwa Joshua saingan beratnya setelah mendengar percakapan tadi. Selain karna mereka pernah bersama dulu, Joshua juga tau bagaimana seharusnya memperlakukan wanita yang disuka. Tak lama setelah Dinda dan Okta kembali dari minimarket, mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju Bandung. Sementara itu di mobil Febri.. “Diem aje lo, Feb?” Tanya Panji saat menyadari perubahan sikat Febri semenjak di meeting point tadi. “Omongan tadi mah gak usah dipikirin. Kalau emang lo suka ya pepet aja terus. Si Jojo mah gak usah lo ambil pusing” lanjut Panji. “Dinda sama Jojo tuh kemungkinan buat balikan kecil. Tapi ya emang merekanya aja kaya masih penasaran” kata Silvy melanjutkan “Penasaran gimana?” Tanya Panji mewakili rasa penasaran Febri. “Ya gimana gak penasaran mereka putus kan bukan karna ada masalah apa-apa. Tapi emang karna keadaan yang mengharuskan putus” kata Kartika ikut bicara. “Menurut lo nih ya.. hubungan beda keyakinan itu ending nya bakalan kaya gimana? Kecil kemungkinan buat happy ending. Apalagi mereka sama-sama gak ada yang mau ngalah. Bisa bubar jalan hubungannya. Mau dipertahanin kaya gimana juga” kata Silvy menjelaskan. “Kaya lo ya, Sil?” Kaya Febri akhirnya buka suara. “Gue lagi..” jawab Silvy pasrah dan disusul tawa teman-temannya. “Kalau menurut gue sih yang susah itu si Jojo buat ngerelain Dinda. Buktinya si Dinda balikan sama Rama juga masih suka iseng” kata Kartika. “Dindanya juga kadang ngeladenin” balas Panji. “Waktu itu Dinda pernah bilang ke gue kalau Jojo 75% memenuhi kriteria pasangan idaman versi dia. Mungkin kalau mereka seiman juga masih lanjut sampe sekarang” jelas Silvy pada teman-temannya. “Nah makanya Feb. Kalau lo mau sama dia buktiin kalau lo bisa memenuhi ekspektasi dia soal pasangan idaman” kata Panji mencoba menyemangati Febri. “Sama dia gak suka cowok posesif. Semakin lo larang semakin berontak dia” terang Kartika. “Lo inget gak waktu Rama marah pas dia liat Dinda lagi ngobrol sama manager nya di lobby?” Tanya Silvy pada Kartika “Iya pas banget sabtunya dia diajakin nonton sama managernya. Nonton lah mereka. Si Rama ngehubungin gak di respon. Ribut lagi. Puyeng lah” jawab Kartika diiringi tawanya dan Silvy Febri yang mendengar hanya bisa geleng-geleng mendengar bocoran tentang sikap Dinda yang tak bisa dikekang. Tak menyangka dengan tindakan yang dilakukan Dinda. “Katanya dari pada gue dicurigain mulu mending gue lakuin aja sekalian” kata Kartika lagi mengikuti ucapan Dinda. “Nah beda pas sama Jojo. Gue pernah gak denger dia aneh-aneh. Adem aja dia biarpun sering ditinggal-tinggal Jojo kerja” kata Silvy mencoba membandingkan sikap Dinda saat berhubungan dengan Joshua. “Mereka lama pacarannya?” Tanya Febri akhirnya bersuara. “Hampir setaun kayanya ya?” Tanya Silvy pada Kartika. Dan dijawab anggukan olehnya. “Makanya kalau lo jadi sama dia nanti biarin aja. Bebasin. Dia orang yang bisa jaga kepercayaan. Tapi kalau lo kekang dan larang-larang gak jelas bakalan dilakuin beneran sama dia” lanjut Kartika Febri hanya mengangguk-angguk sambil matanya tetap fokus menatap jalanan didepannya. Memikirnya langkah apa yang tepat untuk menarik perhatian Dinda. ———————————————————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN