Kegaduhan Pagi

1024 Kata
Tok.. Tok.. Terdengar suara pintu kamarku diketuk dari luar. “Dinda.. ngapain?” Suara bang Haikal terdengar dari luar kamarku. “Rebahan” jawabku. Tak lama pintu kamarku pun terbuka. “Ya salam.. masih pake baju tidur” kata bang Haikal terdengar kaget “mandi sana” katanya lagi “Perginya masih nanti sore. Nanti aja mandinya” kataku dengan nada malas “Anterin ke bengkel yang kemaren” kata bang Haikal mengutarakan maksutnya “Minta anter Ricky aja bang. Jam segini kayanya masih di rumah dia” kataku memberi solusi “Ayok ikut” katanya sambil menarikku untuk bangun dari kasur “Gak mau ih.. Ayaaahhhh..” Kataku sambil berteriak memanggil ayah untuk meminta perlindungan. Tak lama ayah dan bunda pun terlihat di depan kamarku “Ada apa sih teriak-teriak? Haikal? Dinda?” Tanya ayah pada kedua anaknya “Si Dinda males banget yah. Udh jam 10 belom mandi. Tapi udah sarapan” kata Haikal mengadu tentang kelakuan Dinda yang masih bermalas-malasan padahal hari sudah beranjak siang. “Kamu gak ada acara emang?” Tanya bunda “Nanti sore mau main sama Jojo” kataku “Terus kalau janjiannya sore pagi-pagi gak mau mandi?” Tanya bunda lagi “Mandinya digabung bun kalau mau berangkat. Sekalian Ashar nanti” jawabku “Idih.. jorok” saut Haikal “Biarin bun. Kali aja Dinda pengen santai-santei. Kan hari libur juga” kata ayah mencoba menengahi “Ayah emang terbaik. Nanti malem Dinda beliin martabak telor” sautku saat mendapat dukungan dari ayah. “Daripada hari libur kamu mubazir cuman diisi males-malesan mending kamu anterin bunda ke super market. Biar sehat dan dapat pahala bantuin orang tua” kata bunda “Mana ada ke super market jadi sehat bun” kata ayah bingung. “Kan di super market kita keliling-kelilingnya jalan kaki. Gak pake motor” jawab bunda terlihat asal “Gak gitu juga konsepnya bun” kata Haikal terlihat gemas bercampur heran dengan pemikiran sang bunda. Begitu juga ayah dan Dinda yang yerlihat heran dengan pemikiran bunda yang terkadang ajaib. “Udah cepetan mandi. Abis itu anter bunda” kata bunda tetap berusaha untuk menyuruhku mandi. “Kan bisa minta anter bang Haikal atau ayah bun” kataku mencoba bernegosiasi dengan bunda. “Haikal mau ke bengkel bun. Ke sini mau minta anter Dinda. Tapi dia masih asik leyeh-leyeh. Belom mandi” kata bang Haikal menjelaskan kedatangannya ke kamarku. “Ayah udah mandi kan?” Tanya bunda yang dijawab oleh ayah dengan anggukan. “Kalau gitu ayah yang anterin bunda belanja ke super market” kata bunda. “Dinda.. ayok mandi terus anterin abang kamu. Hari libur jangan males-malesan. Anak gadis kok jam segini masih bau iler” tambah bunda lagi sebelum beliau turun untuk bersiap-siap ke super market. Sedangkan ayah mengori bunda menuju ke bawah. “Bang.. minta anter Ojan aja ya.. ya..” bujukku memberi solusi karna masih ingin bermalas-malasan di kamar. Mumpung hari libur. “Ojan barusan udah jalan ke tempat Ricky” jawab Haikal. “Ngapain ke tempat Ricky?” Tanyaku heran. Karna tidak biasanya Fauzan pagi-pagi ke sudah ke cafe. “Dih lo gak tau? Dia udh dari kemaren mulai kerja di cafe punya Ricky” jawab Haikal heran karna Dinda tidak mengetahui bahwa adiknya ternyata sudah mulai bekerja di cafe milik temannya. “Si Ricky gak bilang apa-apa semalem” kataku sempat merasa heran. “Udah sana cepetan mandi. Kebanyakan mikir ihh” kata Haikal “Bentar lagi bang. Setengah jam lagi gue mandi” kataku masih enggan untuk beranjak dari kasur. “Sekarang” katanya lagi tidak mau mengalah. “Lima belas menit lagi ya..” masih mencoba bernegosiasi dengan bang Haikal yang sepertinya akan susah. “Kalau kesiangan keburu penuh bengkelnya. Cepet mandi” katanya lagi. “Bentar bang” kataku. Tak lama aku merasa tubuhku seperti terangkat. Dan ternyata bang Haikal menggendongku ke kamar mandi. “Bang.. turunin ih.. ayaahhh..” teriakku saat bang Haikal tidak mendengar ucapanku. “Ayaaahhh..” teriakku lagi beberapa saat kemudian. “Ya Allah Dinda.. Haikal.. ada apa lagi sih?” Tanya bunda ketika sampai di kamar mandi lantai dua rumah kami. “Astahfirullah Haikal.. adiknya diapain sampe basah kuyub gitu?” Kali ini ayah yang gantian bertanya karna heran melihatku ada di dalam bathtub dengan pakaian yang masih lengkap. Tapi basah kuyub “Mau dimandiin yah. Susah banget disuruh mandi” kata Haikal mencoba menjelaskan. “Dinda itu kalau libur kerja ya libur juga mandinya, Kal” kata bunda. Lalu tak lama pergi meninggalkan kedua anaknya. “Udah, bunda mau berangkat dulu sama ayah. Jangan bikin ribut-ribut lagi” pesan bunda sebelum berangkat. “Kasian anak ayah. Sebentar ayah ambilin handuk ya” kata ayah lalu segera pergi ke kamarku. “Kal, lain kali jangan gitu. Kasian adik kamu. Nanti masuk angin” “Dibelain terus ayah mah” protes Haikal. “Dinda, handuknya ayah taro sini. Nanti jangan lupa beliian ayah martabak telor ya. Telor bebek, telornya tiga biji” kata ayah sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. “Ayah anter bunda dulu. Assalamu’alaikum” lalu ayah pamit “Ternyata cuma sebatas martabak telor. Telor bebek. Telornya tiga biji” kataku mengulang pesanan ayah. Haikal tertawa melihat tingkah ayahnya yang tak kalah ajaib dengan bunda. “Buru mandi. Gue tunggu dibawah. Jangan lama-lama” kata Haikal sambil berlalu menuruni tangga ke lantai satu. Tiga pulah menit kemudian, Dinda sudah selesai bersiap-siap untuk mengantar sang abang ke bangkel langganannya dan Ricky yang ada di daerah Ciracas. “Ayok” kata Haikal saat ia melihat adik perempuannya sedang menuruni tangga. “Iya. Gak sabaran banget deh” kataku “Keburu siang. Nanti penuh bengkelnya” jawab Haikal. “Bang, nanti kalau mobil selesainya cepet kita mampir ke cafenya Ricky ya. Mau liat Ojan” kataku penasaran apakah adikku bisa bekerja dengan baik di cafe milik Ricky. “Iya. Makanya cepetan biar kita gak kelamaan nunggunya di sana” kata Haikal menyetujui ajakkan adik perempuannya. Tak lama mereka pun pamit pada bi Tinah sang penjaga rumah. Lalu bergegas berangkat menuju bengkel milik bang Oki. ———————————————————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN