Pukul sebelas tiga puluh mobil Haikal melaju menuju bengkel. Waktu yang dibutuhkan untuk tiba di sana sekitar empat puluh menit. Sesampainya di sana..
“Mas, ini minta tolong di cek AC-nya sama kaki-kaki depannya ya mas” kata Haikal pada salah seorang pegawai bengkel.
“Iya bang. Sebentar saya cek dulu” Kata Dani, pegawai bengkel yang namanya tertera di bajunya.
“Bang Oki ada gak mas?” Tanya Dinda.
“Belum datang, Kak” Jawab si pegawai bengkel.
“Oh gitu. Makasih ya mas” ucap Dinda.
Sudah sekitar dua jam lebih Dinda dan Haikal menunggu mobil di check.
“Mas, mobilnya udah beres” kata Dani memberi tahu bahwa mobil sudah selesai di check. “AC bunyi karna kurang oli, mas. Tapi tadi udah ditambah. Kaki-kaki mobilnya juga cuma di spooring aja. Gak ada masalah yang serius. Mau dicoba dulu?” Lanjut Dani menerangkan masalah yang terjadi pada mobil Haikal. Lalu mereka bersama menuju mobil. Dan benar saja bunyi-bunyinya sudah tidak terdengar lagi.
Lalu setelah dirasa semuanya sudah beres, Haikal langsung mengurus pembayaran service mobil.
“Yok” ajaknya saat sudah menyelesaikan pembayaran.
“Mas makasih ya. Oya salam buat bang Oki ya. Dari Dinda temennya Ricky” kataku saraya berterima kasih dan berpamitan.
“Si Ricky tau aja ada bengkel bagus di sini” kata Haikal saat mobil sudah melaju meninggalkan bengkel.
“Tau. Tapi kayanya temen satu club mobilnya deh” Kataku mencoba menerka-nerka darimana Ricky dan bang Oki saling kenal.
Sesuai dengan yang telah direncanakan, mereka menuju cafe milik Ricky untuk melihat keadaan Fauzan yang tengah bekerja di sana. Sekitar empat puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai di Temu Cafe, milik Ricky.
“Bang, liat itu si Ojan lagi beresin meja” kataku saat melihat adikku sedang membersihkan meja yang kosong setelah ditinggal pelanggannya pulang.
“Oh iya. Kira-kira dia bisa kerja gak tuh?” Tanya Haikal agak sangsi.
“Nanti tanya si Ricky” kataku sambil turun dari mobil. Lalu berjalan memasuki area cafe diikuti bang Haikal dibelakang.
“Dek, Ricky udah datang?” Tanyaku saat posisi kami sudah dekat.
“Belom. Sorean kali, Kak. Pada dari mana?” Kali ini Ojan yang gantian bertanya.
“Bengkel” jawab Haikal singkat.
“Dianterin kakak gitu? Manja amat bang” komentar Ojan
“Gak betah gue liat dia tidur-tiduran doang dikasur” jawab Haikal sambil menunjukku dengan dagunya. Lalu mereka bertiga masuk ke dalam cafe untuk memesan minum.
“Emang bang Haikal baru tau ya? Kakak kalau libur kerja ya libur juga mandi paginya” kata Fauzan saat mengantarkan minuman pesanan kami.
“Jorok amat sih lo jadi cewek” kata Haikal sambil menggelengkan kepalanya saat tau kelakuan adik perempuannya di rumah. Maklum kerna kesibukkannya sebagai dokter yang juga sedang mengambil spesialis ia jadi jarang menghabiskan waktu dengan adik-adiknya. Dan apabila sedang di rumah ia lebih memilih beristirahat di kamarnya.
Call Ricky..
Dinda: Dimana, Ky?
Ricky: Jalan. Mau ke cafe. Kenapa?
Dinda: Gue lagi di cafe sama bang Haikal. Lo masih lama?
Ricky: “Limat belas menitan lagi kalau gak macet”
Dinda: “ya udah gue tungguin. Hati-hati lo”
Ricky: “iya”
Call End..
Akhirnya Ricky datang sepuluh menit lebih lama dari perkiraan karna jalanan saat itu cukup ramai.
“Tumben ke sini bang?” Sapa Ricky saat sudah berada di mejaku dan bang Haikal.
“Tadi abis dari bengkel nge-check mobil. Sekalian mau liat Ojan kerjanya bener apa enggak” kata Haikal.
“Mobil kenapa emang?” Tanya Ricky lagi
“Ac rada bunyi. Sama kaki-kaki depan. Tp gak apa-apa. Ac kurang oli. Sm kaki-kaki di spooring aja.” Jawab Haikal menerangkan keadaan mobilnya.
“Si Ojan kerjanya gimana?” Tanyaku
“Lumayan lah buat pemula yang belom pernah kerja. Cekatan adik lo” terang Ricky tentang kinerja Ojan yang baru kerja beberapa hari di cafenya
Jojo Calling..
Joshua: “Dimana? Gue ke rumah kata bi Tinah pergi sama bang Haikal”
Dinda: “Di tempat Ricky. Iya abis dari bengkel nemenin bang Haikal. Ke sini aja”
Joshua: “iya ini mau ke sana”
Dinda: “hati-hati”
Joshua: “iya ayang bebeb” terdengar suara tawa dari sebrang.
Call End..
“Siapa?” Tanya bang Haikal saat aku menyudahi panggilan telp.
“Jojo” jawabku singkat.
Sambil menunggu Joshua datang kami berbincang banyak hal tentang kinerja Fauzan. Ternyata adikku itu cukup cekatan menurut Ricky. Dan baru beberapa hari bekerja ia sudah memiliki penggemar. Karna katanya wajahnya mirip oppa-oppa korea. Aku dan bang Haikal tertawa mendengarnya.
Tiga puluh menit kemudian Joshua sampai..
“Sehat, Jo?” Tanya Haikal setelah Joshua duduk di sebelah Dinda.
“Sehat, sehat. Bang Haikal gimana?” Joshua bertanya balik.
“Alhamdulillah. Mau jalan apa gimana?” Tanya Haikal lagi.
“Mau gimana?” Kali ini Joshua bertanya padaku.
“Terserah” jawabku.
“Cewek ya. Antara lagi marah sama enggak sama aja. Jawabnya terserah” kata Haikal setelah mendengar jawaban Dinda.
“Iya giliran kita yang nentuin suka gak setuju. Padahal tadi bilangnya terserah” Tambah Ricky.
“Udah gitu nih ya kalau lagi kesel atau marah ditanya maunya apa, jawabnya juga terserah” Joshua menambahkan
“Lo curhat ya, Jo?” Tanya Ricky sambil tertawa dan diikuti oleh Haikal juga Joshua.
“Itu tandanya jadi cowok harus kreatif dan peka!” Kataku mencoba membela para wanita.
“Ya kan lo cewek-cewek bisa bilang maunya apa. Terserah-terserah nanti kalau gak sesuai maunya ngambek” kata Ricky yang disetujui oleh dua laki-laki lainnya. Haikal dan Joshua.
“Nah! Nanti kalau udah ngambek ditanya kenapa jawabnya gak apa-apa” kata Joshua.
“Ya emang aja dasarnya cowoknya gak peka. Bukannya mikir mau ceweknya apa malah nanya mulu” jawabku sedikit kesal.
“Yuk, jalan yuk. Mau kemana?” Tanya Joshua yang sudah membaca raut kesal di wajahku. Sedangkan bang Haikal dan Ricky malah tertawa-tawa.
“Terserah!” Jawabku kesal.
“Yahh.. ngambek kan” kata Joshua sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Lo sih, Ky, Bang” kata Joshua menyalahkan Ricky dan Haikal. Sedangkan keduanya hanya tertawa-tawa.
“Jangan ngambek dong. Minggu depan gue udah gak disini. Temenin gue cari kebutuhan buat dibawa ke sana ya. Lo yang pilihin. Abis itu kita beli minuman yang lo suka itu. Gimana?” bujuk Joshua. Ia melihatku seperti menimbang-nimbang tawarannya.
“Kelamaan mikirnya. Ayok jalan!” Katanya sambil menggandeng tanganku. Dan akupun memgikutinya.
“Jangan pulang malem-malem. Hati-hati bawa mobilnya, Jo” pesan bang Haikal pada Joshua.
“Bucin banget sama adek lo, bang” kata Ricky saat Dindan dan Joshua sudah tak terlihat lagi.
“Gue sebenernya gak masalah. Anaknya tanggung jawab. Sopan juga kalau mau ngajak jalan Dinda, pasti pamit sama orang rumah. Cuma kan mereka beda. Jadi ya agak was-was juga” kata Haikal mengenai hubungan Joshua dengan Dinda.
Tak berselang lama Anto dan Febri tiba di sana. Mereka melihat Ricky sedang ngobrol dengan Haikal.
“Wess.. ada pak dokter. Tumben bang ke mari” tanya Anto pada Haikal.
“Mantau Ojan” kata Haikal
“Si Dinda mana? Tadi ke rumah kata bi Tinah lagi pergi sama abang” tanya Anto
“Barusan jalan” jawab Haikal
“Kemana lagi dia?” Tanya Anti lagi.
“Tau. Sama Jojo tadi diajak jalan gara-gara ngambek di sini. Di kroyok kita” terang Haikal sambil tertawa. Begitu juga Ricky.
Anto langsung melirik ke arah Febri memberi isyarat Ricky untuk berhenti tertawa. Dan Ricky pun mengerti akan isyarat dari Anto. Sementara Febri memilih diam menyimak obrolan mereka. Seperti menunggu untuk ada yang bilang kemana kiranya Dinda dan Joshua pergi. Namun sayangnya mereka tidak membahas hal itu lebih lanjut. Mereka memilih untuk mebahas sepak bola dan obrolan laki-laki pada umumnya.
———————————————————