Bertemu Lagi

1979 Kata
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Tak terasa sudah sekitar hampir dua jam Dinda dan Joshua mengitari pusat perbelanjaan di daerah Casablanca untuk mencari kebutuhan Jashua selama di Lombok. Kota tempatnya bekerja nanti selama satu tahun ke depan. “Kayanya udah semua deh” kata Joshua saat mereka keluar dari toko yang menjual sepatu olahraga. “Yakin?”tanyaku mencoba meyakinkan. “Iya udah. Makan yuk” ajaknya. “Gak mau makan di sini” kataku “Terus mau makan dimana?” Tanyanya bingung. “Pengen makan ayam bakar deket SMA gue. Tau kan?” Tanyaku “Ya udah ayok. Udah lama juga gak makan di sana” kata Joshua. Lalu kami berjalan bergandengan tangan menuju parkiran yang ada basement pusat perbelanjaan tersebut. Sekitar satu setengah jam kami sampai di warung ayam bakar dekat sekolah SMAku dan Anto dulu. Tempatnya masih sama. Hanya warna catnya saja yang berubah. Ada dua area tempat makan yang disediakan yaitu lesehan dan yang menggunakan meja dan kursi. Aku dan Joshua memilih area makan lesehan. Kami memesan menu favorit kami untuk makan malam. Yaitu ayam bakar nasi uduk dan jeruk hangat untuk minumnya. Tak perlu menunggu lama, sekitar sepuluh menit kemudian pesanan kami datang. “Cuci tangan dulu” kata Joshua mengingatkanku saat melihatku langsung menyomot ayam bakar. “Lupa. Udah laper” kataku sambil cengengesan. Lalu beranjak menuju wastafel yang telah disediakan. Kami menikmati makan malam sambil sesekali berbincang mengenai apa saja yang akan kami lakukan setelah berpisah. “Nanti kalau gue udah gak di sini kasih kabar terus ya” kata Joshua padaku. “Kenapa gitu?” Tanyaku “Ya biar gue tau lo ngapain aja. Kan seminggu lagi udah gak di sini. Gak bisa ada di deket lo terus. Biar gak kepikiran” katanya menjelaskan “Hmm.. kaya orang pacaran aja, Jo” kataku sambil menghabiskan sisa minumanku “Mau gitu?” Tanya Joshua. “Gitu gimana?” Tanyaku bingung. “Pacaran” kata Joshua sambil menurun naikkan alisnya jahil. “Gak tau” kataku sambil bangun menuju mobilnya. “Heh.. Tunggu. Jawab dulu” kata Joshua lalu ikutan pergi mengikutiku. “Gue gak mau maksa. But, you know I love you. Always. Jadi..” kata-katanya terpotong oleh bunyi ponselku. Rama Calling.. “Halo..” sapanya dari sebrang sana “Halo.. ada apa?” Tanyaku “Kamu lagi dimana?” Tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu “Lagi di luar. Kenapa emangnya?” Tanyaku lagi “Umm.. Aku lagi di tempat temen kamu.” katanya “Tempat temen aku? Siapa?” Tanyaku bingung. “Aku lagindi cafenya Ricky. Kira-kira kamu bisa ke sini gak?” Kata Rama “.. ya udah” kataku setelah sempat berpikir sebentar. “Aku tunggu ya. Take care” katanya sebelum mengakhiri penggilan. Call end.. “Siapa?” Tanya Joshua ingin tahu. “Rama” kataku singkat. “Ngapain?” Tanyanya penasaran. “Gak tau. Tapi dia ada di tempat Ricky” kataku “Terus?” Tanya Joshua lagi. “Ke sana dulu sebentar ya” jawabku sambil menatap Joshua. “Mau ngapain?” Tanyanya seakan tidak suka kalau aku bertemu Rama. “Sebentar” kataku sambil menyentuh bahunya. Joshua tidak menjawab. Ia lalu menjalankan mobilnya menuju cafe milik Ricky. Ricky Calling.. “Kenapa, Ky?” Kataku saat sambungan telah tersambung. “Lagi dimana?” Tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku. “Dijalan. Kenapa?” Tanyaku “ Bisa ke tempat gue sekarang gak?” katanya. “Ini emang mau ke tempat lo” kataku “Ya udah cepetan. Soalnya di sini ada..” “Rama?” Kataku memotong perkataannya. “Kok lo tau?” tanyanya heran karna aku mengetahui apa yang ingin dikatakannya. “Barusan dia telp gue” kataku menjawab pertanyaannya. “Oh gitu. Ya udah cepet! Lo lagi sama Jojo skekarang?” Tanyanya lagi “Iya. Kenapa emang?” Tanyaku sambil melihat ke arah Joshua. “Gak apa-apa. Cuma mau bilang, tolong lo ingetin Jojo nanti jangan bikin ribut di tempat gue!” Katanya memperingatkanku. “Iya” kataku singkat. Call End.. Tak lama sambungan telp pun terputus. “Jo, nanti jangan emosi ya. Gak enak sama Ricky kalau sampe ada ribut-ribut” kataku berusaha mengingatkan Joshua. Namun ia hanya menoleh tanpa merespon apa-apa. Setelahnya kami turun, di pintu masuk cafe sudah ada Anto. “Kalem bos” katanya pada Joshua mengingatkan sambil menepuk bahu milik Joshua. Sementara Joshua hanya melirik Anto sambil memasuki area cafe. Sedangkan Anto seperti memberi tatapan was-was kepadaku akan sikap Joshua tadi. “Rama, maaf ya lama” kataku saat sudah berada di meja tempat rama menunggu. “Iya gak apa-apa” katanya lalu matanya tertuju pada tanganku yang digenggam Joshua. Aku ingin melepaskan tetapi Joshua menahannya dengan menggenggam tanganku lebih erat. Sepertinya ia sudah tau apa yang akan kulakukan saat didepan Rama. “Bisa ngobrol berdua?” Tanya Rama manatapku lalu beralih ke Joshua. Seperti meminta Joshua untuk meninggalkanku berdua saja dengan Rama. Namun Joshua seperti tidak bergeming dengan permintaan Rama. Ia tetap bersikap acuh. Berdiri disampingku tanpa mau melepas genggaman tangannya apalagi beranjak pergi. “Sebentar” kataku sambil menyentuh bahunya. Ia hanya menatapku kesal lalu pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Aku melihatnya berjalan menuju meja lain yang tak jauh dari mejaku dan Rama. “Duduk” kata Rama mempersilahkan aku duduk. “Ada apa?” Tanyaku. “Kamu sama dia sekarang?” Tanyanya dengan nada agak sinis kepadaku. “Kamu minta aku ke sini cuma mau tanya itu?” Kataku balik bertanya. “Aku kangen” katanya sambil menatapku lembut. Aku hanya diam. “Apa gak ada kesempatan lagi buat aku?” Tanyanya setelah terdiam dan melihatku tidak bereasi apa-apa. “Dalam hubungan itu ada dua orang. Kalau cuma satu orang yang coba buat perjuangin hubungannya tapi yang satunya lagi gak ngelakuin apa-apa gak akan bisa jalan hubungannya. Dan aku gak bisa perjuangin suatu hubungan kalau pasangan aku gak mau berjuang sama-sama” kataku setelah terdiam beberapa saat. “Kasih aku kesempatan sekali lagi buat perbaikin semuanya. Kita perjuangin hubungan kita sama-sama. Mau ya..” katanya mencoba membujukku. “Kasih aku kesempatan terakhir” katanya lagi sambil meraih tanganku. Krekk.. krekk.. Terdengar suara kursi bergeser. Saat kulihat Joshua sudah berdiri dari tempat duduknya dengan wajah yang terlihat kesal. Lalu tak lama Ricky datang menghampirinya. Dan mengajaknya bergabung dengan yang lain. Yang ternyata sedang memperhatikan ke arah aku dan Rama. Reflek kutarik tanganku dari genggaman Rama. “Takut dia marah?” Tanyanya sinis sambil menunjuk ke arah Joshua dengan dagunya. “Aku gak bisa. Maaf” kataku “Jadi tebakanku selama ini bener kan?” Tanyanya dengan wajah sinis. “Apa?” Kataku tak mengerti dengan masut ucapannya. “Karna dia kan” kata Rama “Masih kurang jelas ya kat-kata aku tadi” kataku dengan nada kesal. “Karna aku udah capek berjuang sendiri buat hubungan kita. Ini gak ada hubungannya sama dia” kataku sudah kesal dengan tuduhannya yang macam-macam. Rama tersenyum sinis. “Kenapa susah banget ngakuinnya sih?” Katanya masih dengan nada bicaranya yang sinis. Aku diam saja. Tak mau terpancing oleh omongannya. “Kenapa diam? Benerkan omongan aku kemaren-kemaren?” Katanya lagi yang semakin membuatku kesal. “Rama, aku harus pulang. Udah malam” kataku mencoba mengakhiri obrolan yang membuatku kesal. Saat aku bendak berdiri Rama mencoba menahanku dangan menarik tanganku. “Aku antar” katanya. “Gak usah” kataku sedikit ketus. Namun sepertinya ia tidak mau mendengar penolakanku. “Aku bilang aku antar. Udah malam” katanya serta mengencangkan genggaman tangannya. “Sakit. Lepasin!” kataku tertahan takut memancing keributan di sini. Sambil mencoba melepaskan tangannya. Dan tanpa aku sadari ternyata Joshua sudah berada di dekatku. “Dinda ke sini sama gue. Jadi gue yang harus anter dia pulang. Bukan elo!” Kata Joshua tegas. Terlihat sekali ia sedang menahan amarah. “Oh gitu.. silahkan lo anter cewek yang gak bisa setia” katanya pada Joshua sambil menatapku sinis. “Dia yang gak setia atau elo yang gak bisa jaga apa yang lo punya?” Kata Joshua telak. Rama sepertinya juga terpancing emosi karna perkataan Joshua. Tak lama Anto mendekat. “Ram, mending lo balik aja deh. Biar Dinda gue yang anter” kata Anto berusaha menengahi. Mungkin dengan begitu Rama tidak akan terlalu emosi karna ia tahu Anto dan aku bersahabat. Namun ternyata dugaanku dan Anto salah. Ia malah bersikap lebih sinis “Oh.. sekarang ada dua laki-laki berbeda yang mau anter kamu pulang. Hebat. Ternyata setelah putus sama aku kelakuan kamu gini. Gampang banget dianter pulang sama laki-laki yang beda-beda” katanya disertai senyuman sinis “Lo mending cabut sekarang deh!” Kata Anto sudah mulai terlihat kesal. Dan tak lama Rama pun keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Pergi begitu saja. Setelahnya dengan cepat Joshua mengejar Rama menuju arah pintu keluar. Saat tiba diparkiran secara tiba-tiba Joshua menarik baju Rama lalu memukulnya hingga Rama terjatuh. Aku dan Anto segera berlari. Disusul Ricky dan Febri. “Jangan. Pernah. Temuin. Dinda. Lagi!” Kata Joshua setelah menghajar Rama. Aku reflek membantu Rama berdiri. Namun sepertinya itu malah membuat Joshua makin kesal. Ia segera menarik tanganku kasar lalu membawaku masuk ke dala cafe. Aku yang tidak bisa mengimbangi langkahnya sedikit berlari karna tanganku tertarik olehnya. “Sakit, Jo” kataku setelah kami semua sampai di area dalam cafe. Aku melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Maaf” katanya sambil melepaskan genggaman tangannya. Mengusap pergelangan tanganku yang merah karna digenggamnya keras. “Heh, jangan nangis. Diliatin orang itu” kata Ricky mencoba menenangkan “Maaf ya. Aku gak ada maksut” kata Joshua terlihat sangat menyesal. “Lo mending anterin balik deh” kali ini Febri memberi saran. Dan tanpa berlama-lama Joshua segera bangun dan mengajakku pulang. Ricky mengantar kami sampai ke parkiran cafe. “Tadi mantannya?” Tanya Febri pada Anto setelah kepergian Dinda dan Joshua “Iya. Pacaran hampir lima tahun. Keluarganya Dinda gak setuju” kata Anto menjelaskan “Kenapa?” Kata Febri penasaran. “Ya lo liat aja tadi gimana sikapnya ke Dinda” kata Anto yang masih sedikit kesal dengan perkataan Rama. “Feb kalau sampe lo jadi sama Dinda, jangan sampe bertingkah kaya si Rama lo ya. Karna bukan cuman gue yang marah. Tapi anak-anak yang lain juga. Apalagi cewek-cewek. Mulutnya pada bar-bar semua” lanjut Anto lagi memperingatkan Febri. Febri hanya mengangguk mendengar peringatan dari Anto. Sementara itu di dalam mobil Joshua.. “Maaf. Gue gak ada maksut nyakitin lo. Gue cuman kesel aja denger omongannya Rama tadi. Apalagi liat dia maksa lo buat pulang bareng dia” kata Joshua mencoba menjelaskan. Dinda hanya diam mendengarkan penjelasan dari Joshua. Lalu terdengar suara tangis yang tertahan. “Hei, please don’t cry. Still hurt? Which one? Let me see” katanya sambil meraih tanganku yang masih ada bekas kemerahan. Ditiup-tiupnya tanganku yang bekas dia tarik tadi. “I’m so sorry. I didn’t mean to hurt you” katanya lagi dengan penuh penyesalan sambil menciumi tanganku yang masih memerah. “Jangan berantem lagi. Gue takut lo kenapa-kenapa. Apalagi sampe pukul-pukulan kaya gitu” kataku dengan bercucuran air mata. “Iya. Maaf” katanya sambil membawaku ke dalam pelukannya. Nyaman. Satu kata yang kurasakan saat berada dalam peluknya. “Udah jangan nangis lagi” katanya. “Jo, can we be like this for a while?” kataku sambil menatap matanya saat Joshua hendak melepaskan pelukan kami.. Seakan aku tak rela melepasnya. Dan ia pun menurutinya. Kami berpelukan beberapa saat dalam diam. Menikmati aroma tubuhnya yang sebentar lagi akan aku rindukan. Memutar kembali memori-memori yang kami habiskan bersama selama hampir tiga bulan terakhir ini. Apakah rasa itu hadir kembali? Batinku dalam hati. ——————————————————— Kasih sayangmu membekas Redam kini sudah pijar istimewa Entah apa maksud dunia Tentang ujung cerita Kita tak bersama Semoga rindu ini menghilang Konon katanya waktu sembuhkan Akan adakah lagi yang sepertimu? *** Hati-Hati di jalan - Tulus
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN