Airport

1269 Kata
Selama satu minggu terakhir sebelum keberangkatan Joshua ke Lombok, mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Setiap pulang kerja Joshua selalu menjemput Dinda di kantornya. Dan dilanjutkan dengan makan malam bersama. Tak terasa waktu keberangkatan pun tiba. Dinda berjanji mengantar Joshua ke bandara di temani oleh Haikal. Mereka berjanji untuk bertemu di bandara. Di lobby bandara sudah ada keluarga dan beberapa teman dari Joshua. Dinda sudah mengenal keluarga Joshua. Begitu bertemu Dinda langsung mencium tangan kedua orang tua Joshua dan memperkenalkan kakanya Haikal kepada mereka. “Apa kabar nak Dinda?” Tanya tante Marry, mama dari Joshua. “Baik. Tante dan om apa kabar?” Tanyaku “Baik. Udah lama gak ketemu jadi makin cantik. Besok-besok main ke rumah kalau Jojo lagi di sini ya” Kata tante Marry. “Iya tante, nanti main kalau Jojo balik lagi ke sini” jawabku sopan. Setelah berbasa basi sebentar, aku dan Joshua memisahkan diri sebentar karna ada yang ingin kami bicarakan. Kami memilih sebuah coffee shop di sekitar area tunggu bandara. Tak jauh dari tempat tadi kami bertemu. “Kabarin gue terus. Cerita apapun sama gue. Dan jangan pernah ketemu dia lagi” kata Joshua memulai pembicaraan denganku. “Kalau dia ke kantor gimana?” Tanyaku “Pokoknya jangan. Ngerti kan?!” Katany terdengar posesif. “Iya” kataku. “Dinda.. umm..” Joshua terlihat ragu dengan apa yang mau dikatakannya. Aku menatapnya. Menunggu apa yang akan dikatakannya. “Let’s get married!” Katanya tegas namun lembut. “Hahh?!!” Kataku agak keras saking tidak percayanya dengan apa yang Joshua katakan barusan. “Gak usah teriak-teriak!” Katanya sedikit panik saat beberapa orang disekitar memperhatikan kami. “What did you said?” Kataku takut salah dengar “Gak usah pura-pura gak denger ya” katanya kesal dengan wajah agak memerah “Gue takut salah denger” kataku “So what did you hear?” Tanyanya ketus “Let’s get married?” Kataku tidak yakin. Joshua hanya diam. “Gue salah dengernya?” Kataku. Namun ia diam saja dengan wajah yang terlihat kesal. “Nih. Dipake! Awas kalau enggak” katanya sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam berpita emas. Cantik. “Ini apa?” Tanyaku bingung “Bukanya di rumah aja. Nanti dicopet” katanya sambil menghentikan tanganku saat hendak membuka kotak pemberiannya. “Isinya uang, Jo?” Kataku bingung. “Uang mulu yang dipikirin. Pikirin gue kek sekali-kali” katanya masih dengan nada ketus sambil berjalan meninggalkanku. “Jo, tunggu ih” kataku mencoba menyamai langkahnya. “Lo kenapa sih jadi marah-marah gini?” Tanyaku bingung dengan perubahan sikapnya. “Lo gak peka banget ya?” Katanya semakin kesal. “Ya apa?” Tanyaku semakin bingung. “From now and a year ahead I can’t stand by your side. And I’ll be missing you so bad” katanya kali ia mengatakannya dengan lembut. “Ya kan bisa telp atau video call” kataku mencoba memberi solusi “That’s not enough. No, eyes contact, no touch, no hug. Maybe it’s enough for you” katanya meninggalkanku lagi. “Hei.. I’ll be missing you too” kataku saat langkah kami sudah sejajar lalu menarik tangannya untuk berhenti supaya ia bisa mendengar apa yang aku katakan. “Yah.. you should” katanya sambil merangkulku. Dan kami berjalan kembali menuju tempat dimana keluarga beserta beberapa teman dekat dari Joshua menunggu. Tak lama Joshua berpamitan untuk segera melakukan check in lalu diteruskan boarding pass. Orang pertama yang ia pamiti adalah sang mama, tante Marry lalu beralih pada om Denis dan yang terakhir padaku. “Gue jalan dulu ya. Inget pesen gue tadi” katanya saat berpamitan denganku. “Hati-hati. Text me when you arrive” kataku. Ingin kupeluk sebelum melepas kepergiannya. Namun ia berlalu begitu saja. Seakan enggan untuk memelukku. Tapi tak lama ia berbalik dan berjalan ke arahku lagi. “Ada yang ketinggalan?” Tanya tante Marry saat sang anak sudah dekat. “Iya” katanya sambil tersenyum “Kan udah mama ingetin dari kemarin-kemarin di check semua yang mau dibawa” omel sang mama. “Yang ketinggalan belom bisa dibawa ma” jawabnya ambigu. Lalu melanjutkan langkahnya ke arahku. “Ini yang ketinggalan ma” katanya lagi sambil tersenyum padaku. Dan membuat pipiku merona. “Bang, boleh peluk?” Tanyanya pada bang Haikal seolah meminta izin. “Jangan lama-lama” jawab Haikal memberi izin. Lalu tak lama Joshua memelukku erat. Seakan enggan tuk berpisah. “Pake minta ijin segala. Biasanya juga langsung peluk” kataku berbisik saat dalam peluknya. Dan ia pun terkekeh mendengar ucapanku. “I love you” bisiknya dan tak lama ia melepas pelukan kami. Lalu ia pun benar-benar pamit untuk berangkat. Saat semua akan beranjak pulang. Tiba-tiba tante Marry memanggilku “Tante bisa bicara sebentar?” Katanya ramah. Aku pun menganggukinya dengan senyum. Namun terselip debar di d**a. “Ada apa tante?” Kataku saat kami hanya berdua. Duduk di salah satu coffee shop. “Kamu anak yang baik. Tante tau itu dari pertama kali kita ketemu” katanya masih dengan senyum yang seruoa dengan milik Joshua. “Jojo sudah bilang sama tante” Kata tanye Marry memulai pembiacaraan. “Bilang apa ya tante?” Tanyaku bingung. “Tentang kelanjutan hubungan kalian. Tante rasa semua keputusan ada di kamu, nak. Tante mohon tolong, kamu pikirkan baik-baik keputusan yang akan kamu ambil. Pikirkan juga sebab akibatnya” katanya. Dan sepertinya aku sudah tau ke arah mana pembicaraan ini berlangsung. Aku hanya diam. Menunggu tante Marry selesai bicara. “Dan menurut tante, kalian sudah sangat dewasa. Sudah bisa mengambil keputusan yang terbaik buat hidup kalian. Tante selaku orang tua cuma bisa membimbing dan memberi nasihat. Dan apapun keputusannya tante cuma pengen Jojo bahagia” kata tante Marry mengakhiri ucapannya sambil menggenggam tanganku. “Iya tante. Dinda paham maksut tante. Dinda juga berusaha untuk tidak mengecewakan siapapun dalam keputusan yang akan Dinda ambil” kataku. Aku melihat mata tante Marry berkaca-kaca. “Jojo gak salah pilih. Cuma keadaan yang tidak berpihak pada kalian. Tante boleh peluk kamu, nak?” Kata tante Marry sambil mengusap air matanya yang hampir terjatuh. Aku pun mengangguk dan menerima pelukan hangat dari tante Marry. “Semoga Tuhan kasih jalan yang terbaik buat kalian. Tante pulang dulu ya” katanya sambil berpamitan padaku. “Iya tante. Hati-hati” kataku sambil tersenyum walaupun hatiku nyeri. Mengingat permintaan tante Marry yang sedikit banyak aku mengerti maksut dari pembicaraan tadi. Selama perjalanan pulang aku lebih banyak diam. mengingat obrolanku dengan ibu dan anak tadi saat dibandara dengan maksut yang berbeda. “Are you ok?” Tanya bang Haikal yang sepertinya memperhatikan perubahan sikapku. “Not really” kataku “Wanna talk?” Tanyanya sedikit khawatir padaku. Aku hanya menghembuskan napas berat disusul gelengan kepala. Menandakan aku belum mau menceritakannya. “If you wanna talk. Let me know” kata Haikal sambil fokus menyetir. Aku hanya mengangguk. Ting.. You can’t hide it. Your eyes told everything. Wait for me to come home. I Love You Isi pesan singkat dari Joshua. Have a save flight, Jo. Kabarin kalau udah sampai. Send! Kupejamkan mata saat mobil mulai berjalan meninggalkan bandara Cengkareng. Mencoba menghilangkan perasaan yang tak bisa aku jelaskan bersama kepergiannya dengan memutar kembali kenangan-kenangan bersamanya. —————————————————— And if you hurt me Well, that's okay, baby, only words bleed Inside these pages, you just hold me And I won't ever let you go When I’m away I will remember how you kissed me Under the lamp post back on Sixth street Hearing you whisper through the phone “Wait for me to come home” *** Ed Sheeran - Photograph
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN