Kesayangan Ayah

1699 Kata
Sesampainya di rumah, Dinda langsung menuju kamarnya tanpa berbasa-basi dengan anggota keluarga yang lain. “Bang, kenapa?” Tanya Fauzan saat melihat sang kakak langsung beranjak ke kamarnya. “Tau” jawab Haikal sambil mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau. “Kenapa itu adiknya? Kan tadi pergi sama kamu, Kal” kali ini ayah yang menanyakan keadaan anak kesayangnnya. “Gak tau yah. Dari tadi dimobil juga diem aja” jawab Haikal. Meskipun ia tahu kalau sang adik sedang galau karna kepegian Joshua. “Mau kemana, Yah?” Kali ini bunda yang bertanya pada sang suami. “Mau ke dapur. Ngambil ice cream buat Dinda. Kayanya lagi sedih” jawab sang suami. “Care banget sama kakak. Waktu Ojan jatoh dari motor ayah cuman ngasih jempol sambil bilang “gak apa-apa. Kuat anak laki” gitu” kata Fauzan sambil menirukan gaya bicara sang ayah saat dia jatuh dari motor satu tahun yang lalu. “Kamu kan udah keliatan sakitnya di kaki. Kalau kakak kan gak tau kenapa murung begitu” kata ayah dari dapur “Kakak juga udah ketauan sakitnya di sini” sambil menunjuk ke arah dadanya diiringi suara tawa dari Haikal karna melihat tingkah adik laki-laki satu-satunya itu. Namun Pak Danar, sang ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak bungsunya. Dan melanjutkan langkahnya menuju kamar sang putri. Tok.. Tok.. Tok.. “Dinda, ayah boleh masuk?” Tanya pak Danar “Masuk yah” sahutku dari dalam. Dan tak kama wajah ayah muncul dengan dua buah mangkuk ice cream vanilla & strawberry. “Mau gak?” Tanya ayah. “Mau dong. Sini yah” kataku sambil menepuk beanbag yang ada di kamar. Pak Dana pun masuk dan langsung duduk di atas beanbag yang ada di sebelah meja kerjaku. “Lagi banyak kerjaan ya?” Tanyanya saat melihatku ada di depan laptop. “Enggak. Lagi nge-check email aja. Takut ada yang ke-skip atau email baru masuk” elakku. Aku memang sedang duduk di menghadap ke arah laptop saat ayah datang. Namun, pikiranku entah ada dimana. “Tadi kemana aja sama abang?” Kata Pak Danar. Mencoba mencari sebab putrinya terlihat muram. “Nganter temen ke airport ya. Temen Dinda mau berangkat kerja ke Lombok. Farewell gitu lah. Ayah tau gak farewell?” kataku sambil menyuap ice cream rasa vanilla. “Tau lah. Perpisahan gitu kan? Kalau ada rekan kerja yang mau resign atau pindah tugas” kata ayah. “Wihh.. mantep” kataku sambil mengacungkan jempol dan menggigit sendok dimulut. “Temen kamu asik banget ditugasin ke Lombok. Bisa kerja sekalian liburan. Temen kantor?” Tanya Pak Danar semakin mendetail dan ingin tahu. “Bukan” kataku singkat. “Terus?” Tanya Pak Danar lagi. “Jojo. Temen Dinda yang dulu suka ke sini. Ayah inget gak?” Kataku. Sambil bertanya pada ayah. Mungkin saja beliau ingat. “Sebentar ayah ingat-ingat” kata Pak Danar sambil matanya menerawang ke atas. Seakan ada jawabn di sana. “Yang kalau ke sini sering bawa makanan bukan? Yang anaknya tinggi, putih dan agak sipit gitu?” Tebak Pak Danar setelah terlihat berpikir beberapa menit yang lalu. “Ihh ayah.. yang diinget sering bawain makanan duluan. Ciri-ciri orangnya belakangan” kataku sambil tertawa. Namun membenarkan tebakan ayah. Ya, Joshua memang sering ke rumah tanoa tangan kosong. Ada saja yang dibawanya saat bertandang ke rumah. “Habis mana lagi temanmu yang kalau datang sering bawa-bawa. Dia jago main catur loh, nak” kata Pak Danar juga ikut tertawa. “Masa, Yah? Kok Dinda gak tau” kataku merasa agak heran dengan ucapan ayah. “Pernah beberapa kali pas datang ayah ajak dia main catur sambil nunggu kamu make up. Ayah liat kasian dia celingukan nunggu kamu. Lama gak kelar-kelar” kata Pak Danar sambil menyendok ice cream Vanilla milikku. “Emang Dinda kalau make up lama ya, Yah?” Tanyaku pada ayah “Iya. Lama. Tapi begitu keluar.. beuh.. makin cantik. Kaya artis-artis di tv” puji Pak Danar pada putri semata wayangnya itu. “Masa sih, Yah?” Tanyaku tampak ragu. “Iya. Masa kamu gak percaya sama ayah? Kamu tuh anak ayah yang paling cantik” kata Pak Danar lagi. Mencoba meyakinkan sang anak. “Ya iya lah, Yah! Dinda anak ayah yang paling cantik. Dinda kan anak perempuan ayah satu-satunya. Dua anak ayah yang lain laki-laki. Masa iya cantik juga” kataku sambil tertawa mendengar penuturan ayahku. “Jadi bener kan. Ayah enggak salah bilang gitu?” Kata Pak Danar santai sambil menyuap suapan ice cream terakhir ke mulutnya. “Mau kamu make up atau enggak. Dinda itu cantik” lanjut Pak Danar sambil menatap anak perempuannya. “Iya lah cantik. Kan anak ayah” kataku sambil meletakan mangkuk kosong ice cream lalu memeluk Pak Danar, sang ayah. “Jadi kamu murung pas pulang tadi karna Joshua pindah kerja ke Lombok?” Tanya sang ayah. “Ya gak gitu juga sih, Yah. Cuma sedih aja temen Dinda sekarang kerjanya jauh. Jadi gak bisa ketemu atau kumpul-kumpul lagi bereng Dinda dan teman-teman yang lainnya” kataku mencoba menjawab pertanyaan ayah sediplomatis mungkin. Tanpa memunculkan pertanyaan lain yang lebih mendalam lagi dari jawabanku barusan. Pak Danar hanya manggut-manggut. Tanpa mau bertanya lebih lanjut lagi menganai hubungan Dinda dengan Joshua. Baginya itu sudah menjawab pertanyaannya. “Kenapa harus sedih? Kan kamu masih bisa telp dan video call sama dia. Harusnya kamu senang karna teman kamu punya kesempatan buat menambah ilmu baru dan pengalamannya. Mungkin aja dengan perginya dia ke luar kota bisa memberikan dia peluang untuk karirnya yang lebih baik” kata Pak Danar mencoba memberi nasehat pada sang putri. “Iya, Yah. Dinda paham kok” kataku sambil tersenyum. “Besok mau kemana?” Tanya ayah. “Kayanya gak ke mana-mana deh, Yah. Kenapa?” Jawabku. “Enggak apa-apa. Besok kita ke cafe teman kamu mau gak? Bunda katanya mau liat adek kamu kerjanya bener apa enggak. Tapi kamu jangan bilang kalau kita mau ke sana. Nanti dia grogi lagi kalau tau tamunya kita” kata Pak Danar sambil tertawa. “Ya udah. Nanti coba Dinda tanya Ricky deh, Ojan besok kerjanya jam brp” kataku juga ikut tertawa melihat tingkah kedua orang tuaku yang kadang suka ajaib. “Ya udah ayah mau ke bawah dulu. Kamu jangan capek-capek. Istirahat. Sama jangan lupa nanti kasih tau bunda ya” kata Pak Danar sambil bangun lalu beranjak keluar dari kamar sang putri. “Iya nanti Dinda bilang bunda” kataku. Tak lupa Pak Danar membelai rambut sang putri dan menciumnya sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar Dinda. Ky, besok si Ojan masuk gak? Kalau masuk jam brp? Send! Selang lima belas menit kemudian. Ting.. Masuk. Shieft pagi dia. Jam 10-4. Kenapa? Isi pesan balasan dari Ricky. Gpp. Besok ayah & bunda mau mantau ke sana. Tp jgn bilang-bilang Ojan ya. Send! Langsung ku balas pesan masuk dari Ricky. Sip! Balas Ricky. Waktu telah menunjukan pukul sembilan malam. Dinda teringat akan kotak pemberian Joshua. Segera ia membuka kotak tersebut yang masih tersimpan di dalam tasnya. Ia cukup terkejut karna setelah kotak itu dibuka, didalamnya terdapat sebuah kalung cantik berwarna putih dengan liontin berbentuk bintang. “Cantik” katanya saat menyentuh kalung pemberian Joshua. Tak lama ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi sang pemberi kalung. Semoga saja Joshua belum tidur. Call Jojo.. “Hai..” sapa seseorang dari sebrang sana dengan nada riang. “Hai, lagi apa?” Kataku. Entah mengapa aku jadi ingin mendengar suaranya terlebih saat malam. Padahal belum genap dua puluh empat jam aku berpisah dengannya. “Abis beresin baju. Kenapa? Kangen ya?” Tanyanya dengan nada suara menggoda. “Enggak. Mau telp aja.” Elakku. Padahal terselip sedikit rindu untuknya. “Kalau kangen bilang aja. Gak usah gengsi”. Katanya lagi. “Dikit” jawabku singkat. “Tuh kan!” Katanya lalu diikuti suara renyah tawanya yg membuatku tersenyum membayangkan wajahnya. Kutunggu hingga tawanya reda. Bingung harus bicara apa. Sebetulnya aku senang dengan pemberian darinya. Namun bagiku itu agak berlebihan. Mengingat status hubungan kami yang masih tidak jelas. Lebih tepatnya aku yang masih belum mau memperjelas status hubungan kami. “Kok diem? Kenapa? Oya, kotak dari gue udah diliat?” Tanyanya sekaligus. “Udah” jawabku “Terus?” Tanyanya lagi. “Terus apa?” Kataku balik bertanya. “Ya lo suka gak?” Tanyanya. “Suka. Bagus. Makasih ya” Jawabku tulus mengucapkan terima kasih atas pemberiannya. “Udah makasih aja? Gak mau bilang apa-apa lagi gitu?” Tanyanya. Terdengar suaranya agak sedikit kecewa. “Ya gimana maunya?” Tanyaku bingung. “Ya apa kek. Flat banget responnya. Seneng kek atau gimana kek” Katanya dengan nada suara yang mulai terdengar agak kesal. “Iya seneng. Suka sama kalungnya. Bagus juga.” Kataku bingung. “Udah malem. Tidur sana!” Katanya lagi. “Jo.. I love it. Really! But I think it’s too much, isn’t it?” Kataku mencoba mengungkapkannya. “No, it isn’t. It’s not too much. It’s special. I design it for you” katanya menjelaskan bahwa liontin di kalung tersebut ia yang menggambarnya. “I don’t think it’s too much and I’ll do anything for the one that I love. But it’s up to you if you think like that. Maybe I’m not the special one for you” Katanya lagi sambil mengakhiri panggilan secara sepihak. Call End.. Aku hanya terdiam memandangin ponsel yang panggilannya telah berakhir. Memikirkan apa ada yang salah dari ucapanku barusan. Hingga membuatnya marah seperti tadi. Aku sungguh menyukai kalung pemberiannya. Hanya saja aku pikir ini agak berlebihan. Mengingat kami hanya dua orang yang terikat di masa lalu yang sama. Yang sepertinya belum merelakan masa lalu tersebut berakhir. Namun untuk memulainya kembali aku masih belum punya nyali. Ku pandangi sekali lagi pemberian darinya. Cantik. “Maaf. Kalau aku masih belum punya keberanian untuk kita” kataku sambil mendekapnya di d**a. Malam kian larut. Aku memutuskan untuk mengistirahatkan badan serta pikiranku yang hari ini terasa sangat lelah. ——————————————————— Not really sure how to feel about it Something in the way you move Makes me feel like I can’t live without you It takes me all the And I want you to stay *** Rihanna - Stay
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN