Pagi harinya, saat Fauzan sang adik sudah pergi ke tempatnya bekerja. Yaitu cafe milik Ricky, Temu Cafe. Dinda, ayah dan bunda bersiap-siap untuk pergi menyusul ke Temu Cafe. Tempat Fauzan bekerja selama hampir dua bulan terlahir ini.
“Dindaaa.. ayok!” Kata bunda terdengar agak berteriak dari lantai bawah. Tak lama aku pun turun untuk menemuinya. Juga ayah.
“Ayok yah. Nanti keburu siang. Macet” katanya lagi sambil menghampiri ayah yang sedang memandangi ikan-ikan di halaman belakang.
Lalu mereka berjalan menuju mobil di garasi bersama-sama.
Selama perjalanan mereka banyak bernostalgia tentang masa kecil Fauzan. Menurut Dinda, Fauzan kecil adalah adik yang menggemaskan. Bertubuh sedikit gempal dan ceria namun cengeng. Tiap Fauzan diganggu teman-temannya ia selalu mengadu pada Dinda dan ia akan memarahi anak-anak yang mengganggu adiknya. Karna itu Dinda dikenal kakak yang garang diantara teman-teman masa kecil Fauzan.
Perjalanan dari rumah menuju cafe tempat Fauzan bekerja memakan waktu empat puluh lima menit menggunakan mobil. Saat mereka sampai di sana, mereka melihat Fuazan sedang melayani para pengunjung cafe yang mulai berdatangan. Karna saat itu kebetulan sudah memasuki jam makan siang.
Fauzan sedikit terkejut saat melihat anggota keluarganya ada di tempatnya bekerja. Saat mereka melewatinya, ayah menepuk bahunya lalu mengacungi jempol sambil menunjukan mimik muka yang dibuat lucu dan membuat Fauzan tersenyum.
Setelah sampai di area dalam cafe mereka disambut oleh Ricky sang pemilik dan mengajak mereka ke area semi outdoor. Tempat biasa ia, Dinda beserta teman-teman yang lainnya biasa berkumpul. Setelah sedikit berbincang mereka memutuskan memesan makanan. Tak sampai tiga puluh menit pesanan makan siang mereka pun datang. Dinda, ayah dan bunda menyantap dengan sesekali mencari keberadaan Fauzan dan mengomentari bagaimana Fauzan bekerja.
Ricky menghampiri meja kami tepat tak lama setelah makan siang selesai.
“Ricky, makanannya enak-enak. Mantap kokinya” puji bunda.
“Kalau enak sering-sering ke sini dong bun” kata Ricky.
“Kalau sering-sering discount ya” seloroh ayah.
“Boleh yah. Sisa pembayarannya bisa dipotong dari gajinya Ojan” jawab Ricky tepat saat Fuzan menghampiri meja kami.
“Sisanya bisa bayar di rumah yah” kata Fauzan sambil tertawa.
Kami banyak mengobrol tentang kinerja Fauzan selama bekerja di sana dan tentang planning Ricky untuk mengbangkan bisnis F&B miliknya.
Sekitar tiga puluh menit kami berbincang-bincang sampai akhirnya ayah dan bunda pamit untuk pulang.
“Dinda mau di sini dulu yah. Nanti pulang bareng Ojan atau minta anter Ricky” kataku sambil senyum-senyum pada Ricky seperti biasa saat ingin meminta pertolongannya.
“Ada maunya aja lo. Nanti Ricky anter bun, yah” kata Ricky.
“Ya udah kita pulang duluan ya” pamit bunda padaku dan Ricky. Dan diikuti ayah.
“Kenapa lo?” Tanya Ricky saat menyadari sikapku sedikit berbeda.
“Jojo ngambek sama gue, Ky” kataku setelah menghembuskan napas panjang.
“Tumben. Kenapa?” Tanyanya lagi.
“Kemaren dia berangkat ke Lombok. Terus ngasih ini” kataku sambil menunjukan kalung pemberian Joshua yang sedang kupakai.
“Wuihh.. mantep. Ada suratnya gak?” Tanyanya sambil bercanda.
“Kagak lah. Takut gue jual kayanya. Makanya gak dikasihin sekalian” jawabku ikut tertawa
“Gue bingung, Ky. Gue ngerasa ini agak berlebihan. Karna sampe sekarang gue belom bisa kasih keputusan. Bisa bareng sama dia lagi apa enggak” kataku.
“Udah gitu pas baliknya gue ngobrol sama nyokapnya Jojo berdua. Kayanya dia beneran serius buat ikut bursa transfer, Ky. Karna pas awal-awal ngobrol nyokapnya langsung bilang “Jojo udah bilang semuanya ke tante. Tentang niatannya dan kelanjutan hubungan kalian” gitu. Gitu katanya, Ky” kataku lagi.
“Bahasa lo.. bursa transfer” katanya sambil tertawa mendengar ungkapanku. “Terus lo gimana?” Katanya lagi.
“Nah itu gue bingung. Gue gak bisa mikirin diri gue sendiri. Di sisi lain ada keluarganya Jojo yang harus gue pikirin juga. Karna apapun keputusan yang nantinya bakalan gue ambil pasti berpengaruh ke keluarganya” kataku.
“Iya juga sih. Terus di Jojo ngambek kenapa sama lo?” Tanyanya penasaran akan sikap Joshua.
“Ya itu. Gara-gara gue bilang kalungnya agak berlebihan. Tp menurut dia enggak” jawabku.
“Gini ya, Din. Kalau laki udh berani kasih lo barang berharga kaya perhiasan itu tandanya lo berharga dan penting buat dia. Nandain juga kalau dia mau serius sama lo” kata Ricky coba menjelaskan dari sudut pandang laki laki.
“Yah.. gue juga mau serius. Cuman kan lo tau sendiri keadaannya gimana. Gue juga gak mau keputusan yang gue ambil nanti malah bikin orang lain kecewa apalagi sedih. Pusing gue, Ky” kataku lagi.
“Ya udah ikut gue” kata Ricky sambil menarik tanganku.
“Mau kemana?” Tanyaku bingung akan ajakan Ricky yang mendadak.
“Kemana kek. Muka lo ngeselin kalau lagi suntuk begitu” katanya sambil berjalan ke arah dalam cafe. “Sar, tinggal dulu ya. Mau nemenin yang galau dulu” katanya lagi sambil memberi tahu salah satu karyawannya.
“Iya, bang” jawab sang karyawan.
“Kak, gak jadi pulang bareng?” Tanya Fauzan saat melihat sang kakak pergi meninggalkan cafe tempatnya bekerja.
“Enggak, dek. Mau keluar sebentar sama Ricky” jawabku.
“Mau gue ajak keliling kakak lo, Jan. Suntuk bener mukanya” kata Ricky.
“Nah bener tuh! Dari semalem bang. Mukanya begitu” adu Fuzan pada sang bos yang juga merupakan sahabt karib sang kakak.
“Comel bener si Ojan mulutnya” kataku saat Fauzan mengadu pada Ricky.
“Makanya mau gue ajak muter. Jalan dulua ya” pamit Ricky pada adikku.
“Iya bang. Hati-hati” jawab Fauzan lalu kembali meneruskan pekerjaanya.
“Mau kemana sih?” Tanyaku saat mobil Ricky.
“Muter-muter” katanya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Lalu mengetik pesan pada seseorang. Tak lama pesan balasan masuk. Setelah membacanya pesan balasan tersebut, Ricky mulai menjalankan mobilnya. Dan perlahan mereka meninggalan perkiran cafe.
Aku pun memilih diam dan lebih banyak melamun dari pada bertanya kemana tujuan kami. Sekitar dua puluh menit perjalanan mobil berhenti di depan sebuah mini market.
“Ngajakin ke sini?”tanya ku heran.
“Enggak. Nunggu bentar” katanya tanpa mau menjelaskan siapa atau apa yang ditunggu.
“Nunggu siapa?” Tanyaku lagi.
“Tuan muda” jawabnya singkat. Lalu mengetik sesuatu pada ponselnya. Tak lama pintu mini market tersebut terbuka. Lalu muncul lah tuan muda yang dimaksut oleh Ricky.
“Itu tuan mudanya?” Tanyaku sambil tertawa.
“Iya. Minta dijemput di sini. Katanya sekalian jajan. Gak mau ke cafe. Panas” kata Ricky sedikit kesal. Dan aku hanya geleng-geleng kepala.
Anto muncul dari balik pintu mini market dengan membawa beberapa cemilan beserta minuman yang memenuhi tangannya.
“Buka pintunya woii. Panas!” Kata Anto sambil mengetuk kaca mobil dari luar.
“Temen lo bener-bener tingkahnya” kata Ricky sambil membuka pintu mobil.
“Lama banget, njir” kata Anto saat sudah berada di dalam mobil.
“Lagian lo udh tau mau jajan malah gak bawa tas belanja” saut Ricky.
“Lupa. Eh mau kemana emang?” Tanya Anto saat mobil meninggalkan mini market tempatnya belanja tadi.
Ricky hanya menjawab dengan mengacungkan dagunya ke arah Dinda. Tapi Dinda hanya diam saja.
“Din?” Kali ini Anto bertanya padaku.
“Apaan?” Jawabku.
“Mau kemana?” Kata Anto mengulangi pertanyaannya.
“Lah gue diajakin Ricky. Tanya dia” kataku
“Gak jelas lo pada. Tau gitu gue gak ikut” kata Anto sedikit kesal.
“Mau turun?” Tanya Ricky sambil melirik Anto lewat spion depan.
“Gak jadi” jawab Anto.
“Nonton mau?” Tanyaku sembari memberi solusi.
“Ya udah. Mau nonton apa?” Tanya Anto lagi.
“Apa aja” kataku singkat.
“Dih! Bener-bener lu ya. Ngajakin jalan gak tau mau kemana. Ngajakin nonton gak tau mau nonton apa” kata Anto tambah kesal sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Ia pun mencoba mencari informasi tentang film apa yang saat ini sedang diputar di bioskop.
“Nih ada film horor, superhero sama film komedi tentang keluarga gitu. Mau nonton yang mana?” Tanyanya sambil matanya tetap menatap layar ponselnya.
“Apa aja. Tapi kalau film horor kalau nontonnya gak sama cewek kurang asik” kata Ricky sambil tetap fokus melihat jalanan di depannya.
“Lah si Dinda bukan cewek emang?” Tanya Anto.
“Dia mah macan betina. Galak bener” kata Ricky lalu diikuti tawa. Begitu juga Anto.
Namun ada yang aneh. Dinda hanya diam. Tidak merespon candaan kedua temannya yang sedang meledeknya. Tak seperti biasa.
Anto merasa ada yang aneh, ia pun bertanya pada Ricky melalui dagu yang diarakan pada Dinda. Dan Ricky pun seakan mengerti.
“Galau dia. Gara-gara Jojo” kata Ricky.
“Tumben. Kenapa lo?” Tanya Anto heran.
“Ceritain, Ky!” Kataku.
“Dih! Kenapa jadi gue. Yang galau kan elo” kata Ricky.
“Ya udah ceritanya nanti. Sambil makan” kataku saat mobil mulai memasuki area mall.
“Sekarang aja. Kenapa nunggu makan?” Tanya Anto heran.
“Gue butuh energi buat cerita” jawabku asal.
“Lebai lo. Sebelum ke sini udah makan di cafe” kata Ricky protes.
“Tadi energinya abis buat galau” jawabku semakin asal.
“Lebaii” kata Anto sambil menjitak kepalaku.
Mereka pun turun dan sepakat untuk menyaksikan film berganre superhero. Namun seperti yang sudah disepakati sebelumnya, sebelum nonton mereka mampir ke sebuah restoran untuk menemani Dinda makan sekaligus mendengarkan cerita kegundahan hatinya. Baik itu karna Joshua yang sedang marah, maupun soal pembicaraannya dengan tante Marry, ibu dari Joshua.
Dan sebagai sahabat yang baik, Anto dan Ricky pun mendengankan segala cerita dan curahan hati Dinda. Mereka juga memberi nasehat dan masukan pada Dinda sebelum ia mengambil keputusan. Tak lupa diselingi dendan celetukan-celetukan ajaib yang membuat Dinda tertawa.
Dinda merasa sangat beruntung memiliki sahabat-sahabat yang ada di geng kepompong. Mereka selalu ada dan siap membantu siapapun yang sedih dan membutuhka pertolongan maupun hiburan.
———————————————————
We’ll find out what we’re made of
When we are called to help our friends in need
You can count on me like one, two, three
I’ll be there
And I know when I need it
I can count on you like four, three, two
I’ll be there
‘Cause that’s what friends are supposed to do..
***
Bruno Mars - Count on Me