Dua minggu sudah berlalu semenjak kepergian Joshua ke Lombok. Komumikasi antara Dinda dan Joshua masih terus berlanjut lewat pesan singkat, telp maupun video call. Namun tidak sesering saat mereka berada di satu kota.
Biasanya hanya pada saat pagi hari mereka seling berkirim pesan singkat. Dan malamnya mereka akan melakukan panggilan telp atau video call. Menceritakan tentang keseharian mereka masing-masing.
Rasa rindu pasti lah ada. Namun mereka hanya bisa melepas rindu lewat video call. Jarak membuat mereka tidak bisa bertemu untuk sementara waktu.
Sementara itu. Seperti biasa di hari Jumat malam. Geng Kepompong berkumpul di cafe milik Ricky. Melepas penas setelah satu minggu lamanya bergulat dengan pekerjaan dan kegiatan masing-masing. Sekedar berbagi cerita sambil bercanda dengan sahabat. Menjadi salah satu obat untuk melepas suntuk dan tekanan di kantor.
“Minggu besok udah puasa nih. Gak berasa ya” kata Satria.
“Iya. Banyak salah lo sama gue. Sungkem dulu sini” kata Anto sambil menyuruh Satria menghampirinya.
“Dih males denget” seloroh Kartika.
“Apalagi si Dinda. Ngomel mulu kerjaannya” kata Anto lagi.
“Abis lo juga ngeselin” sahutku. Dan diangguki oleh teman-teman perempuanku yang lainnya.
“Minggu pertama puasa bukber yok!” Kata Ricky
“Puasa aja belom. Udah mau bukber aja” kataku sambil bermain ponsel.
“Rencanain dulu sebelum pada sibuk bukber sama yang lain-lain” kali ini Silvy terdengar setuju dengan usul Ricky. Begitupun dengan yang lain. Termasuk Febri.
Hari yang telah disepakati pun tiba. Dan seperti biasa dimana ada geng kepompong pasti selalu ada kehebohan di sekitar mereka. Seperti saat ini. Saat Dinda datang bersama Febri. Anggota geng kepompong yang lain heboh menjodoh-jodohkannya dengan Febri. Yang sebenarnya membuat Dinda agak risih. Karna Febri salah satu teman yang cukup sering ikut berkumpul dengannya.
“Wuii.. tuan dan nyonya sudah datang. Silahkan duduk sebelah sini” kata Anto dibuat-buat.
“Terima kasih cung” kataku.
“Cung?” Tanya Okta heran.
“Kacung” jawabku sambil tertawa. Disusul tawa yang lainnya juga.
“Songong lo ya, Din!” Kata Anto. Seperti biasa ia akan menjitak kepala siapa saja yang membuatnya kesal. Dan aku yang sudah hapal dengan sikapnya langsung menghindar.
“Heh! Diliatin orang itu. Ribut amat” omel Silvy padaku dan Anto. Dan akhirnya kami pun diam dan bersiap untuk berbuka bersama. Dan lima menit kemudian terdengar suara kumandang adzan maghrib tanda berbuka puasa. Mereka pun berbuka dengan suka cita. Penuh dengan obrolan menyenangkan dan tawa.
Kringg.. Kriingg..
Sam Calling..
“Hai.. Have you check the email?” Kata Sam saat telp tersambung.
“Not yet. Which one?” Jawabku agak bingung.
“‘About the purchase. I send it three hours ago” Jelasnya.
“Can I check it later? I’m breaking the fast now” kataku.
“I’m so sorry. Of course you can. Text me ASAP. Ok. And enjoy your meal” kata Sam memaklumi keadaanku yang sedang berbuka puasa.
“Thanks Sam. Bye” Jawabku. Setelahnya sambungan pun terputus.
Call End..
“Boss lo?” Tanya Panji.
“Iya” jawabku sambil mengunyah.
“Weekend masih ngurusin kerjaan. Modus aja tuh” kata Satria.
“Emang lagi hectic kejaan gue akhir-akhir ini” kataku. Aku anggap angin lalu omongan teman-temanku karna tak mau ambil pusing tentang apa yang mereka bicarakan. Walaupun aku juga bisa menebak kalau Sam memberiku perhatian lebih.
Sedangkan Febri diam-diam menyimak dan mengamati sikap Dinda. Ia menilai kalau Dinda hanya menganggap Sam sebagai rekan kerja sakaligus rekan kerja. Tidak lebih.
Tak lama setelah selesai berbuka mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan mereka ke cafe milik Ricky.
Dan satu jam kemudian mereka sudah sampai di sana. Suasana cafe sudah tidak begitu ramai oleh pengunjung. Mereka pun memilih area outdoor. Tempat biasa berkumpul.
“Pada mudik gak?” Tanya Okta saat mereka semua sudah berada di cafe.
“Kayanya enggak deh” jawabku
“Iya sama. Lo, Ky?” Kata Kartika sambil bertanya pada Ricky.
“Enggak. Cafe rame kalau libur. Apalagi lebaran pasti banyak yang tutup” jawabnya.
“Cuan boss” timpal Panji. Lalu disambut tawa oleh yang lainnya.
“Saur on the road mau gak? Sekalian bagi-bagi buat orang yang pada kerja malem. Kaya security gitu-gitu” usul Panji pada teman-temannya.
“Boleh tuh” jawab Anto.
Lalu mereka berdiskusi mengenai kegiatan sosian yang akan dilakukan saat bulan ramadhan. Menentukan waktu, tempat, dan makanan yang ajan dibagikan.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Dan cafe juga sudah dirapihkan sejak setengah jam yang lalu. Anggota geng kepompong pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Hari pun berganti dan Senin pun tiba.
Febri dengan sabar menunggu Dinda untuk berangkat kerja bersama.
“Lo sakit?” Tanya Febri saat melihat wajahku yang agak sedikit pucat.
“Kurang tidur aja” kataku sambil tersenyum.
“Muka lo agak pucat. Gak usah ngantor aja” katanya dengan nada khawatir.
“Gak bisa. Nanti siang ada meeting” kataku menyayangkan.
“Ya udah ijin berangkat siang aja” katanya lagi mencoba membujuk.
“Gue gak papa. Udah ayoj jalan” kataku mencoba meyakinkan. Dan akhirnya kami pun meninggalkan rumahku menunju kantor.
“Lo yakin?” Tanyanya sekali lagi.
“Iya Febri” katanya mencoba meyakinkan.
“Nanti pulangnya gue jemput ya. Atau kalau lo mau pulang istirahat kabarin aja. Nanti gue antar” katanya lagi masih terdengar khawatir.
“Iyaa.. udah sana berangkat. Makasih ya” kataku
“Any time. Gue jalan ya. Bye” akhirnya.
Aku berbalik dan memasuki kantor setelah mobil Febri menjauh. Memang rasanya badanku agak kurang fit. Karna belakangan ini kerjaanku cukup padat dan membuatku jadi kurang istirahat.
Waktu pun berlalu menunjukan pukul dua belas siang. Aku pun memilih untuk beristirahat sejenak setelah menunaikan kewajibanku. Lumayan bisa tidur sekitar dua puluh menit, pikirku.
Baru sekitar lima belas menit tertidur, aku terbangun mendengar suara dering ponselku. Dan saat kulihat ada panggilan viceo call dari Joshua. Segera kugeser layar ponselku
“Hai, Jo” sapaku saat sambungan tersambung.
“Hai gorgeous. Are you ok? You look pale” suaranya terdengar khawatir dari sebrang sana.
“I’m ok. Just lack of sleep. But it’s fine” kataky mencoba menjelaskan.
“Are you sure?” Tanyanya sekali lagi
“Iyaaa Jojooo..” kataku meyakinkannya.
“It looks good on you” katanya saat sadar aku memakai kalung pemberiannya.
“Masa? Liat aja lagi” aku tersipu.
“Look! You’re bulshing. Your cheek!” katanya meledekku sambil tertawa.
“No, I’m not” aku mencoba untuk terlihat biasa saja.
“Yes, you are!” Katanya yang masih tertawa.
“Gue matiin ya?” Kataku pura-pura kesal. Padahal sebetulnya aku malu.
“Jangan dong. Masih kangen. Jangan ngambek. Lo yakin gak apa-apa?” Tanyanya masih mengkhawatirkan aku.
“Iya. Besok juga udah enakan” Jawabku mencoba membuatnya tenang.
“Pulang aja. Ijin pulang cepet” saran Joshua.
“Gak bisa. Nanti jam dua mau ada meeting” kataku mencoba menerangkan keadaanku yanh tidak bisa pulang lebih awal.
“Tadi bawa mobil?” Tanyanya lagi.
“Enggak” jawabku.
“Pesen taxi online aja nanti pulangnya. Jangan naik angkutan umum dulu. Atau minta jemput ya” sarannya lagi.
“Iya” kujawab dengan singkat.
“Maaf gak bisa ada di sana disaat kaya gini” katanya terlihat menyesal tidak bisa ada didekatku saat ini.
“It’s ok, Jo” kataku mencoba menenangkannya.
“Ya udah nanti kalau mau pulang dan kalau udah sampai rumah kabarin ya” perintahnya yang masih terdengar khawatir.
“Iya. Biasanya juga gitu kan” kataku mengingatkan kebiasaan kami.
Ya udah. Jangan capek-capek” pesannya sebelum panggilan berakhir. Dan ku jawab dengan anggukan kepala.
“Hei.. Miss you” katanya lagi sebelum panggilan diakhiri.
Video Call End..
Jam menunjukan pukul dua siang. Aku pun bersiap-siap memberekan meja menyiapkan apa saja yang akan dibawa ke ruang meeting.
“Let’s go” tiba-tiba saja Sam sudah ada di meja kerjaku. Aku sedikit kaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Dan itu membuatnya tertawa.
“Sorry” katanya disela tawanya. “ Hei, are you ok? You look so pale” katanya lagi namun kali ini terlihat khawatir.
“I’m ok. Yuk” kataku sambil beranjak dari kursi kerja.
“Are you sure? You can go home if you want” tawarnya karna khawatir melihat keadaanku.
“Gak papa. Ayok” kataku. Dan akhirnya kami berjalan beriringan menuju ruang meeting. Walaupun selama perjalanan ia terus mengkhawatikan aku.
Meeting berlangsung selama satu jam setengah. Ternyata setelah meeting selesai ada banyak hal yang harus direvisi dan itu mengharuskan aku untuk berada di kantor lebih lama daru biasanya.
Karna disibukkan oleh banyak pekerjaan, rasa sakit kepala yang tadi menyerang jadi terlupakan. Dan tak terasa waktu pulang kantor pun tiba.
Ting.. Ting..
Ternyata pesan masuk dari Febri.
Febri: Masih di kantor? Gue jemput ya.
Dinda: Masih. Tp kayanya gue agak telat pulangnya. Lo duluan aja. Nanti gue pulang naik taxi.
Febri: Gpp. Gue tunggu. Nanti kabarin kalau mau pulang ya.
Tak terasa waktu buka puasa hampir tiba. Aku lupa untuk memesan makanan berbuka melalui aplikasi.
“Dinda, kita buka puasa dulu” kata Sam.
“Ah iya.. makasih ya. Jadi merepotkan” kataku tak enak karna ia atasanku tapi mau repot-repot membawa makanan untuk berbuka puasa ke mejaku.
Sam membelikan burger, kentang goreng dan jus buah.
“I don’t know what meal for break the fast. So I buy it” kata Sam sambil menyerahkan sebungkus makanan dari salah satu resto cepat saji yang berisikan burger, kentang goreng dan orange juice.
“It’s ok. Thanks Sam” kataku sambil tersenyum.
“My pleasure. I’ll leave you with it. Enjoy the meal” katanya sambil berlalu. Lalu aku teringat Febri yang katanya ingin menjemputku pulang. Segera kuketik pesan singkat untuknya.
Dinda: Dimana?
Febri: Masih dijalan. Macet.
Dinda: Gue kayanya masih agak lama di kantor. Jam 7 atau 8an baru pulang.
Febri: It’s ok. I’ll wait.
Jojo Calling..
“Hai.. udah dimana?” Tanyanya saat telp tersambung
“Masih di kantor” jawabku.
Dari suaranya terdengar agak kesal saat tau aku masih berada di kantor. Padahal kondisi badanku agak kurang fit. Namun aku mencoba memberinya pengertian dan akan pulang pukul tujuh malam. Selepas sholat isya. Dan ia pun memintaku untuk mengabarinya saat hendak pulang.
Setelah menyelasaikan buka puasa dan sholat magrib, aku memutuskan untuk pulang saat jam menunjukan pukul tujuh malam. Karna kondisi badanku yang sepertinya meminta jatahnya untuk istirahat. Segera ku kabari Joshua bahwa aku akan pulang dan akan kukabari lagi saat sampai rumah.
Saat sudah sampai Lobby, aku melihat mobil milik Febri terparki di sana. Segera ku hampiri namun kosong. Saat ku telp ternyata ia sedang berada di coffee shop dekat sini dan ia bilang akan segera kembali.
Sambil menunggu aku coba bersandar disamping mobilnya karna kepalaku sedikit pusing. Tak lama Febri pun tiba dan ia sedikit kahawati melihat keadaanku. Lalu membantuku untuk segera masuk ke mobil agar aku bisa segera sampai di rumah.
Selama perjalanan pulang aku memilih memejamkan mata. Karna sakit kepalaku makin terasa. Dan saat tiba di rumah, Febri segera menyuruhku masuk agak bisa cepat beristirahat. Namun saat aku memasuki teras tubuhku terasa lemas dan pandangan menjadi gelap.
——————————————————