Rumah Sakit

1539 Kata
Bi Tinah nampak panik mendapati anak majikannya tak sadarkan diri saat ia baru saja membuka pintu. Ia segera berteriak memanggil Febri untuk membantu membawa Dinda masuk. Sayangnya, di rumah hanya ada Bi Tinah. Bapak dan Ibu Danar sedang berbuka puasa di luar. Haikal sedang jaga malam di rumah sakit. Sedangkan Fauzan bekerja di cafe milik Ricky. Mereka memutuskan untuk membawa Dinda ke rumah sakit tempat Haikal bekerja. Begitu sampai Dinda langsung dibawa ke IGD dan beruntungnya langsung ditangani sang kakak yang sedang berjaga. Setelah memeriksa keadaan Dinda, Haikal pun mengatakan kalau sang adik hanya perlu istirahat karna kelelahan. Ia pun segera menghubungi keluarga yang lain untuk memberi tahu keadaan sang adik. “Makasih ya udh nolongin Dinda” ucapnya tulus pada Febri. “Sama-sama bang” jawab Febri. “Lo kalau mau pulang gak papa. Biar gue yang nungguin” kata Haikal “Ya udah kalau gitu gue balik dulu ya bang” Tak lama setelah kepergian Febri, kedua orang tua Dinda sampai di rumah sakit. Lalu disusul oleh Fauzan. Mereka telihat panik saat datang. Karna baru kali ini Dinda sampai tak sadarkan diri. Hikal pun menjelaskan keadaan sang adik kepada kedua orang tua mereka bahwa ia mengalami gelaja penyakit tipes karena kelelahan. Dan setelahnya mereka terlihat lebih tenang. Keesokan harinya Febri menyempatkan diri untuk menjenguk sebelum berangkat kerja. Namun sayang Dinda masih tidur. Ia hanya bertemu dengan bu Danar, bundanya Dinda. Dan berjanji akan mengunjunginya kembali selepas pulang kerja. Saat terbangun Dinda mendapati banyak sekali pemberitahuan di ponselnya. Sebagian besar dari Joshua. Yang menanyakan keberadaannya. Baik melalui pesan singkat maupun telp. Ia pun segera mencari ponselnya untuk menghubungi Joshua. Hi, Jo! Aku hari ini gak ke kantor. Mau istirahat. Sorry for late rep. Send! Tak menunggu waktu lama ponselku berdering. Joshua Video Call.. “Hai..” sapaku sedikit lemas. “Dimana? Rumah sakit?” Tanyanya tanpa membalas sapaanku terlebih dahulu “Iya” kataku. “Kok bisa di rumah sakit? Sakit apa? Sejak kapan?” Lagi. Ia menanyakan banyak pertanyaan sekaligus. “Satu-satu nanyanya. Dari semalem. Gimana ceritanya gak inget. Karna tiba-tiba gelap. Pas bangun udah di sini” kataku mencoba menjelaskan situasi semalam. “Dokter bilang apa?” Tanyanya lagi yang terlihat begitu khawatir. “Gak papa. Gelaja tipes. Karna kecapean dan butuh istirahat aja” kataku sambil tersenyum. Mencoba meredakan cemasnya. “Terus sekarang gimana? Udah enakkan?” Tanyanya lagi. Namun kali ini tidak secemas tadi. “Alhamdulillah.. Bang Haikal yang ngerawat. Jadi gak usah khawatir. Nanti sore juga udah boleh pulang” kataku lagi. “Syukur lah. Hei, I’m so sorry but I’ve to go. I’ll call you later. Miss you” Katanya sambil mengakhiri panggilan. Tanpa mau menunggu jawabanku apakah aku merindukannya atau tidak. Joshua Video Call End.. Akhirnya kuketik pesan singkat untuk Joshua. I miss you too. Don’t worry I’ll be ok. Be good and stay healthy. And go home soon! Send! Waktu menunjukkan pukul sepuluh siang saat bang Haikal berkunjung dan memebritahukan bahwa besok siang aku sudah boleh pulang. Namun belum bisa beraktifitas seperti biasa dulu karna masih dalam masa pemulihan. Malam hari, setelah berbuka puasa Febri menjenguk Dinda lagi. Seperti yang telah ia janjikan tadi pagi sebelum pergi bekerja. Ia membawa buah beserta makanan yang sebelumnya dititip oleh Dinda. “Gimana? Udah enakan?” Tanya Febri padaku. “Alhamdulillah udah gak lemes. Apalagi lo kesini bawain titipan gue” jawabku sambil tersenyum senang. “Hmm.. baunya aja udah enak. Mau gak?” Tawarku. Saat membuka seporsi sate ayam beserta lontong. “Enggak. Buat lo aja. Makan yang banyak” katanya sambil tersenyum melihat tingkahku yang kegirangan. Febri menemaniku makan sambil berbincang banyak hal. Terutama tentang keadaanku. Dia menanyakan banyak hal kenapa aku bisa sampai pingsan seperti kemarin. Dan tak lupa aku mengucapkan terima kasih atas bantuannya yang membawaku ke sini. Tak lama setelah selesai makan ponselku berdering. Kulihat dikayar tertera naman Joshua disana. Kulirik Febri dan sepertinya ia menyadari keraguanku. “Santei aja” katanya. Dan akhirnya aku mengangkat telp dari Joshua. Joshua Video Call.. “Hai, Jo” kataku saat sambungan telah tersambung. “Hai gorgeous, feel better?” Sapanya. “Iya, alhamdulillah” kataku. “Good. Lagi apa?” Tanyanya. “Baru selesai makan. Udah makan?” Kali ini giliran aku yang bertanya. “Belom. Makan apa?” Tanyanya lagi “Sate” jawabku sambil menunjukan seporsi sate yang telah habis kumakan. “Emang boleh? Siapa yang bawain?” Tanyanya penasaran. “Boleh kalau gak ketauan. Tadi titip.. Febri” jawabku agak ragu. Ada jeda sebelum aku menyebukan nama Febri. Karna Joshua menyadari kalau Febri menaruh fasa padaku “Masih di situ?” Selidiknya. “Iya. Kenapa?” Tanyaku. “Nothing. Who else?” Tanyanya seperti ingin tahu lebih. “Febri aja. Nemenin sampe bang Haikal datang” kataku menjelaskan. “Jangan bikin gue khawatir kaya kemarin. And I’m so sorry I can’t be there. But I promise I’ll see you soon” kata Joshua. “No need to worry. Besok aku udah boleh pulang” kataku memberi tahu. “Puji Tuhan.. I’ve to go. Is it ok if I’ll call you later?” Tanyanya. Mungkin merasa risih karna ada Febri di sini. “Iya. Bye, Jo” Kataku sambil mengakhiri panggilan. “Bye, gorgeous” Jawabnya. Lalu sambungan pun terputus. Joshua Video Call End.. “Sorry ya, Feb” kataku saat panggilan telp berkahir. “It’s ok” katanya. Ada jeda sebelum ia melanjutkan pertanyaan padaku. “Can I ask you question?” Lanjutnya lagi. “Yes, please” kataku. Penasaran apa yang akan ditanyakannya. “What kind of relationship between you and him?” Tanyanya setelah berpikir beberapa saat. “I’m not sure, actually” jawabku ragu. “Kenapa?” Tanyanya. “‘Cause there’s a huge wall between us and I can’t ignore it. Kenapa emangnya?” Kataku sedikit penasaran. “Gak papa. Do you love him?” Tanyanya lagi. “Kenapa nanya gitu?” Kataku enggan menjawabnya. “Gak apa-apa. Gue sayang sama lo. Tapi kalau lo ada hubungan sama Jojo gue mundur. Bukannya gak mau usaha tapi gue gak mau ngerusak kebahagiaan orang. Sekalipun itu orang yang gue sayang. Tapi kalau lo gak ada hubungan apa-apa sama dia, gue bakalan maju terus dan buktiin ke lo kalau gue bisa lebih baik dari dia ataupun masa lalu lo yang lain.” Jawabnya sambil menatap mataku. “Now you know my situation. What will you do?” Tanyaku ingin mengetahui kelanjutannya. “Like I said. I’ll fight for you” katanya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi dan melipat tangannya di d**a. “Then, proof it” kataku seakan menantangnya. “Ok!” Katanya semangat. “Malam ini bang Haikal jaga?” Tanyanya. “Enggak. Tp dia mau nemenin. Bentar lagi juga dateng” kataku. “ya udah gue temenin sampe abang lo dateng” katanya. Dan tak lama terdengar suara pintu ruang perawatnku di ketuk. Tak perlu menunggu lama pintu terbuka dan nampak lah seseorang yang tak kuduga akan datang menjengukku malam ini. “Hai.. how are you?” Tanya Sam. Sambil menyerahkan sebuah bouquet mawar putih padaku. “Feel better. Thanks ya. Repot-repot datang dan bawa bunga” jawabku tak lupa mengucapkan terima kasih. Sam hanya tersenyum lalu tatapannya beralih pada Febri. “Aku ganggu?” Tanyanya seperti tak enak hati. “Enggak. Kenalin ini Febri. Dia yang kemarin anter aku ke sini” kataku sambil menjelaskan. “Dinda, I’m sorry. I’m not expect it” katanya dengan wajah penyesalan. “Sorry for what?” Tanyaku bingung. “Asked you to stay much longer in the office yesterday”. Katanya mencoba menjelaskan. “It’s not your fault. We have to finish it, right. I just need more time to rest. Is it ok?” Tanyaku sambil tersenyum pada Sam. “Of course. How long?” Tanyanya tanpa pikir panjang. “Three days, maybe?” Kataku namun tak yakin Sam akan menerima permintaanku disaat pekerjaan kantor sedang overload. “Take your time. Aku harap kamu dapat kembali ke kantor dalam keadaan sehat” katanya langsung menyetujui permintaanku. Febri yang duduk di sofa tak jauh dariku hanya geleng-geleng kepala dengan wajah heran. “I have to go. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahat kamu. Get well soon. Bye!” Pamit Sam. “Thanks fot visiting me. Also this” kataku sambil menunjukan bouquet bunga yang dibawanya tadi. Sam mengangguk lalu pamit untuk pulang padaku dan Febri. “Nambah rival satu lagi nih kayanya” kata Febri setelah Sam pergi. Aku hanya tertawa menanggapi ucapannya. “Istirahat sana. Biar besok tambah seger. Tadi gue udh hubungin bunda biar gue aja yang nemenin sampe abang lo dateng” sambungnya lagi. “Jangan macem-macem lo ya!” Kataku memperingatkan. “Ya Allah Dinda.. gak ada pikiran ke sana gue. Ya kali mau macem-macem di rumah sakit. Ketauan abang lo bisa dihajar gue” katanya. Aku tertawa mendengarnya. “Ya udah gue tidur dulu ya. Jangan kemana-mana sampe bang Hikal dateng. Gue takut.” kataku. “Iya. Nih gue pindah duduknya deket lo” katanya sambil beranjak menuju kursi tang ada disebelah tempat tidurku. “Feb..” kataku lagi. “Apa?” Jawabnya. “Makasih ya” kataku sebelum benar-benar memejamkan mata. ——————————————————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN