Pembuktian 1

1382 Kata
Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, Dinda pun diijinkan untuk pulang. Namun tetep harus beristirahat di rumah selama dua hari untuk memulihkan kesehatannya. Setelah menyelesaikan administrasi Haikal kembali ke ruang rawat sang adik. “Yok pulang. Istirahat dulu di rumah dua hari. Nih surat ijinnya” ucap sang kakak sambil memberikan surat keterangan sakit. “Makasih ya bang” kataku sambil menerimanya. Mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran rumas sakit. Sesampainya di rumah aku langsung di sambut bunda dan bi Tinah. Bunda membantuku menuju kamar. Sedangkan bi Tinah menyusul sambil membawakan makanan. “Dinda bisa sendiri bun” kataku sambil mengambil alih semangkuk bubur yang dibuatkan oleh bunda. “Nanti malam jangan masak bubur, Bun. Yang lain ya. Bosen” protesku. “Mau dimasakin apa?” Tanya bunda. “Cap cay sm ayam asem manis. Sama kolak kayanya enak buat buka puasa nanti, Bun” saut Haikal. Bunda melirik anak sulungnya yang hanya tersenyum. “Itu juga boleh” kataku. “Ya udah nanti bunda masakin. Sekarang kamu istirahat ya” ucap bunda. Tak lama mereka semua keluar dari kamar dan membiarkanku beristirahat. Aku mengetik sebuah pesan singkat untuk Joshua. Good news. I’m coming back home today. Yeay!! Send! Tak lama terdengar notifikasi pesan masuk. Ting.. Great! See you soon, darl! Aku pensaran dengan maksut dari pesan balasannya. Lalu kuketik lagi pesan balasan. Mau pulang kah? Send! Namun tiga puluh menit kutunggu tak ada balasan darinya. Bahkan sampai malam pun kulihat masih tidak ada pesan balasan dari Joshua. Setelah makan malam kuputuskan untuk kembali lagi ke kamar. Banyak sekali pesan masuk di group chat Geng Kepompong. Mereka menanyakan kabarku dan ingin menjenguk. Namun aku meminta maaf bahwa aku masih ingin beristirahat. Mungkin besok mereka akan datang sepulang kerja. Dan ada 2 panggilan video call tak terjawab. Dua-duanya dari Joshua. Sebetulnya ingin ku telp balik. Namun karna sedikit mengantuk aku memilih untuk menghubunginya kembali besok. Hari berganti pagi, sekitar pukul enam pagi bi Tinah mengetuk pintu kamarku. “Neng, ada titipan dari a Febri” katanya sambil menyerahkan sebuah bungkusan yang aku kira-kira berisi makanan. “O ya udah tolong taro di meja bi. Aku mau ke bawah dulu” kataku sambil merapihkan baju. “A Febri udah pergi lagi neng. Keliatannya buru-buru. Tapi tadi titip pesen ke bibi katanya nanti malem mau ke sini lagi habis buka puasa. Bareng temen-temen neng yang lain” ucapnya lagi. “Oh gitu.. makasih ya bi” kataku lalu bi Tinah pun pergi. Aku mulai dilanda bosan. Karna sejak kemarin aku tidak banyak melakukan kegiatan apa-apa. Bunda pun tidak memperbolehkan aku membantunya di rumah. Seharian ini pun Joshua juga tidak menghubungiku. Biasanya tiap pagi kami akan saling berkirim pesan. Ku kirim pesan padanya pun hanya di baca saja. Aku mencoba berpikir positif. Mungkin ia sedang sibuk. Kuputuskan untuk kembali ke kamar, mengecek email masuk. Ada cukup banyak email masuk yang sebagian besar berisi tentang pekerjaan. Malam pun tiba, dan seperti yang telah dijanjikan setelah berbuka puasa. teman-temanku mulai berdatangan untuk menjenguk. Termasuk Febri. Aku senang karna mereka sangat perhatian. Sebenarnya mereka ingin menjenguk sejak hari pertama aku dirawat. Hanya aku tidak meginjinkan. Karna tau kalau sudah berkumpul akan ada kehebohan. Tidak perduli tempatnya. Mereka datang membawa beberapa macam buah serta makanan. Aku senang karna kedatangan mereka sangat menghiburku yang mulai dilanda bosan sejak pagi. “Lo tau gak, Din? Kemaren pas tau lo masuk rumah sakit si Anto yang paling panik” kata Ricky. “Emang iya, To?” Kataku meragukan ucapan Ricky. “Iya lah. Lo kan yang paling strong diantara cewek-cewek rempong di sini. Makanya pas tau lo masuk rumah sakit paginya gue langsung ke sini nanya sama orang rumah lo.” ucap Anto membenarkan ucapan Ricky. Dan disetujui oleh yang lain. “Gak nyangka lo bisa sweet gitu sama temen, To” kata Kartika tak menyangka. “Besok kita makan bakso ya, To” ucapku senang sambil merangkul bahu Anto. “Bakso doang?” Tanyanya. “Sama es teh manis deh” tambahku sambil tersenyum pada Anto. Ia hanya mencibir mendengar ucapanku. Sedangkan yang lain hanya tertawa melihat interaksiku dengan Anto. “Lo gak puasa kan, beb?” Tanya Silvy padaku. Dan akupun menggeleng. “Iya jangan puasa dulu. Lagi recovery. Nanti diganti aja dihari lain” kata Okta. “Dinda, nih” kata Febri sambil menyerahkan sebuah paper bag padaku. “Apaan nih?” Kataku bingung. “Duit!” Saut Panji. “Cuan mulu si Panji otaknya.” Ucap Silvy. Aku pun membuka paper bag pemberian Febri yang ternyata berisi dua buah suplement untuk recovery. “Thanks ya, Feb” ucapku tulus. “Kemaren gue sakit gak dibeliin vit juga, Feb” Anto protes. “Ngiri aje lo, To. Cari cewek makanya” saut Kartika yang disambut tawa oleh teman-temannya yang lain. Namun tidak dengan Anto yang memilih bersikap cuek karna sudah biasa diledek oleh teman-temannya. Pembicaraan berlanjut semakin seru. Banyak terdengar tawa dari halaman belakang rumah Dinda. Dan tak lama terdengar dering panggilan masuk dari ponsel Dinda. Joshua Calling.. “Hai, Jo..” Sapaku. “Hai, gorgeous. Lagi dimana?” Balasnya. “Di rumah. Kenapa? Berisik ya?” Tanyaku. “Iya. Lagi pada nengokin ya?” Tanyanya lagi. Walaupun ia sudah tau jawabannya. “Iya. Tadi setengah delapanan pada datang” Jawabku menjelaskan. “I’m sorry I can’t be there when you need me” Ucapnya dengan nada suara yang terdengar menyesal. Sekitar lima belas menit Joshua menghubungiku. Menanyakan keadaanku dan apa rencanaku esok hari. Sementara di halaman belakang tempat geng Kepompong dan Febri berkumpul.. “Lo udah ngomong sama Dinda, Feb?” Tanya Silvy. “Udah kemaren pas di nemenin dia di rumah sakit” Jawab Febri. “Terus?” Tanya Anto. “Masih bimbang sm yang di sana kayanya” Jawab Febri sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. “Terus?” Kali ini Satria yanh bertanya. “Ya selama dia single pepet terus lah. Kecuali dia udah mutusin nyamannya bukan sama siapa ya gue mundur” Jawab Febri santei. “Mantap!” Ujar Panji memberi semangat. “Eh, lo jangan macem-macem ya kalau jadi sama Dinda. Apalagi sampe kasar. Gue piting lo, Feb” ujar Anto mengingatkan. “Kagak lah, To. Buat dapetinnya aja butuh usaha extra masa iya gue sia-siain” kata Febri terdengar meyakinkan. “Bagus lah kalau lo mikirnya gitu. Karna laki yang dipegang janjinya” kali ini Ricky ikut angkat bicara. Mereka langsung mengubah topik pembicaraan saat menyadari Dinda sudah mengakhiri sambungan telp dengan Joshua. “Serius amat deh. Pada bahas apa?” Tanyaku saat sudah sampai di tempat semula. “Rifky lagi bahas cafe. Ada rencana mau nambah outlet abis lebaran nanti” kata Anto asal. “Alhamdulillah.. mau buka dimana, Ky?” Tanyaku. “Umm.. masih cari-cari.. Doain ya..” jawab Ricky agak tergagap karna tak menyangka akan menjadi sasaran Anto. “Iya.. mudah-mudahan lancar dan sukses. Biar bisa ganti lokasi kalau lagi ngumpul” doaku tulus dan diamin oleh yang lainnya. Namun tak lama.. “Neng, ada tamu di depan” kata bi Tinah memberi tahuku. “Siapa bi?” Tanyaku bingung. Karna hampir tidak pernah ada tamu di jam segini. Setengah sepuluh malam. Aku pun beranjak menuju ruang depan. Tempat biasa menerima tamu. Saat sampai di ruang tamu, aku terkejut karna seseorang yang tak kuduga akan datang malam ini ada di hadapanku. Menyapa dengan senyum walaupun diwajahnya tergambar rasa lelah. “Hai, I miss you” katanya saat aku sudah ada di hadapannya. “Hei, kok bisa?” Tanyaku masih kaget dengat kedatangannya yang tak terduga. “I’m so worry about you. So here I come. You look not happy with it” katanya terdengar agak sedih. “Seneng. Cuma gak nyangka aja bakalan pulang sekarang” kataku masih tak percaya bahwa Joshua akan terbang dari Lombok ke Jakarta hanya untuk melihat keadaanku. Dan aku sedikit terharu dengan apa yang ia lakukan saat ini. Jo, kenapa seneng banget bikin galau sih.. Batinku dalam hati. —————————————————— I just need to know that you’re safe Given that I’m miles away On the dirst flight Back to your side I don’t care how long it takes I know you’ll be worth the wait On the first flight Back to your side *** Location Unknow - Honne
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN