Group chat Geng Kepompong..
Dinda: Girls ngopi cantik?
Okta: Hadir. Kapan & dmn?
Kartika: After work gmn?
Silvy: Ikut. Ada cofee shop lucu baru buka deket rumah gue. Ayo! Ngopi Cafe
Ricky: Di tempat gue aja.
Dinda: Bosen ky. Kl di tempat lo yg diliat Satria, Panji, Anto sm lo
Okta: Nah! Bener tuh. Kita ciwi2 butuh pemandangan bagus
Anto3 Kita2 jg gak kalah bagus
Kartika: Ah lo pada mah stock lama
Satria: Njirr.. dikata stock lama
Panji: Dasar cewek2 ganjen lo pada
Okta: Boddoooo!!
Dinda: Nanti yg udh smp sana duluan kabarin ya.
Sementara itu di kantor Dinda menjelang jam makan siang.
Ting..
Sam: Lunch
Dinda: Kayanya enggak dulu deh. I have my own lunch. Sorry
Sam: How about diner?
Dinda: Not either. Already have other appointment this afternoon.
Sam: Not my lucky day
Dinda: Sorry
Sam: So, enjoy your lunch
Dinda: U too
Pukul 17:10 saat jam pulang kantor..
I’m on my way
Send!
Dinda mengirim pesan di group chat Geng Kepompong.
Satu jam kemudian Dinda sudah sampai di cafe tempat mereka janjian. Ayo! Ngopi Cafe Food and Beverage. Di sana sudah ada Kartika dan Okta. Mereka sampai bersamaan karna satu kantor.
“Udah lama?” Tanyaku saat sudah dekat.
“Belom. Sekitar 10 menitan yang lalu” jawab Okta. “Silvy lagi nyari parkir” tambah Okta lagi
Tak lama kemudia Silvy sampai. Kami pun memesan makan dan minum. Aku memesan nasi goreng spesial. Karna menurut Silvy nasi goreng di sini enak. Sedangkan Silvy dan Okta memesan steak. Dan Kartika memesan mac and cheese.
Dan benar makanan di sana semuanya enak-enak. Harganya pun tak terlalu mahal. Setelah selesai menikmati makan malam. Kami melanjutkan untuk bercerita.
“Weekend nanti gue mau ke Bandung” kata Kartika
“Ngapain? Kangen Adhit ya?” Godaku pada Kartika. Adhit adalah pacar Kartika. Ia berkerja di Bandung sejak 1,5 tahun yang lalu.
“Pastilah kangen. Dia ulang tahun besok. Makanya Sabtunya gue mau ke sana. Menurut lo gue kasih kado apa? Jam atau jaket?” Tanya Kartika bingung
“Tergantung budged lo” kata Silvy
“Budged arround 500k. Max 650k lah” jawab Kartika. Menyebut nominal yang disiapkan untuk membeli kado Adhit.
“Jam aja. Kalau budged segitu udah dapet yang lumayan kok” saranku.
“Besok anterin ya, Ta. Biasa pulang kerja aja” jawab Kartika setuju lalu meninta Okta menemaninya. Dan diangguki oleh Okta sebagai tanda setuju.
“Lo sama Febri gmn?” Tanya Okta
“Ya gak gimana-gimana. We’re friends” jawabku
“Iya tau. Si Febri tuh suka sama lo. Emang lo gak ngerasa?” Tanya Silvy.
“Masa sih? Perasaan biasa aja kaya Anto, Ricky dan yang lain” kataku coba tidak terlalu memikirkan perhatian Febri.
“Ihh elo ya, beb. Udah jelas itu si Febri care sama lo. Masa gak ngerasa sih?” Kata Kartika mulai gemas karna Dinda tidak peka.
“Terus sejauh ini lo sama sekali gak ada rasa?” Tanya Silvy lagi penasaran
“Hmm.. dia care sih sebenernya. Beberapa kali berangkat kerja bareng dan ngirimin gue makan siang ke kantor. Sering chat dan telp nanyain kabar gue” jelasku
“Terus?” Tanya Kartika dan Okta hampir berbarengan
“Ya udah gak ada terus-terus” jawabku lagi
“Ihh nih anak ya.. setelah semua perhatiannya ke elo, lo masih belom ada perasaan apa-apa gitu ke dia?” Kali ini gantian Silvy yang bertanya
Aku hanya menggelengkan kepala. “Kaya yang kemaren gue bilang di cafe. Masih menikmati masa sendiri dulu. Belom mau direpotkan dengan drama percintaan dulu” lanjutku lagi
“Masih kepikiran Rama?” Kata Okta
“We’re almost 5 years. Jadi.. yahh lo pada paham lah. Butuh waktu” jawabku
“Kepikiran buat balik?” Lanjut Okta lagi
“Are you nuts?” Kataku sambil tertawa “tau sendiri hubungan gue sm Rama gimana. Dan gue sama sekali gak ada kepikiran buat balik sama dia. Pengen move on. Ganti lembaran dan orang baru.” lanjutku sambil tertawa.
“Orang baru? Jojo maksut lo orang barunya?” Kali ini gantian Kartika yang bertanya
“Ya gak tau juga. Kalau sama dia kayanya susah buat ke arah yang lebih jauh lagi. Masa iya gue sama dia pacaran terus” kataku menjawab pertanyaan Kartika.
“Iya juga sih” Kartika ikut membenarkan perkataanku.
“Lo gimana, Ta sama Awan?” Kini gantian aku yang bertanya pada Okta tentang hubungannya dengan Awan. Mengalihkan topik yang sejak tadi berputar padaku.
“Ya gitu. Masih suka-suka dia” jawab Okta seakan pasrah dengan hubungannya yang tak jelas. Aku, Silvy dan Kartika tertawa mendengar jawaban Okta.
“Udah bubar aja sih. Hubungan gak jelas gitu lo pertahanin. Cari yang bener-bener serius sama lo coba. Selama ini tiap kali dia cari gara-gara pasti buat nutupin kesalahannya. Ya yang selingkuh lah, ketauan hts-an sama temen kantornya lah. Macem-macem aja tingkahnya” Kartika coba mengingatkan Okta
“Bener tuh. Terus abis itu dia pasti minta break tau-tau lagi deket sama cewek lain. Parahnya setelah gak jadi sm tuh cewek dia balik lagi ke elo. Coba deh sekali-kali kasih dia pelajaran” saranku
“Pelajaran giman?” Tanya Okta bingung
“Ya pas dia lagi minta balik lo diemin aja. Lo bilang butuh waktu buat renungin hubungan kalian. Pantes dipertahanin atau enggak. Malahan kalau biasa lo putusin sekalian” saran Silvy yang disetujui oleh yang lainnya.
“Gitu ya? Bisa gak ya gue kira-kira?” Tanya Okta seperta lebih pada ke dirinya sendiri. Ragu.
“BISSAAAA..!!!” Jawabku, Silvi dan Kartika bersamaan dengan suara agak keras yang mengundang tatapan tamu cafe lainnya. Tak lama mereka meminta maaf karna sempat mengganggu orang sekitar karna bersuara keras.
“Elo sih, Ta” kata Silvy sambil tertawa.
Selama dua jam selanjutnya menghabiskan malam sambil bercerita banyak hal. Apa saja mereka ceritakan satu sama lain. Mulai dari pekerjaan, hubungan percintaan masing-masing, rencana selanjutnya kemana mereka akan liburan, hingga harapan-harapan beberapa tahun kedepan.
Malam kian larut, gadis-gadis itu pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Meninggalkan cafe tempat mereka bertemu dengan perasaan lega karna sudah menceritakan beban di hati mereka masing-masing. Meskipun tidak semua permasalahn yang mereka ceritakan menemukan jalan keluarnya.
———————————————————