Deep Talk

1279 Kata
Sabtu siang menjelang sore.. “Assalamualaikum..” terdengar seseorang mengucap salam dari pintu utama rumah Dinda. “Wa’alaikumsalam.. eh a Jojo. Masuk dulu. Bibi panggil Neng Dinda dulu ya” kata Bi Tinah lalu bergegas masuk untuk memanggilkan sang nona rumah. Tak lama Dinda pun datang menghampiri Joshua yang sedang menunggunya di ruang keluarga. “Hai.. mau langsung jalan apa gimana?” Sapaku yang diiringi tanya “Langsung aja yuk. Takut keburu macet” jawab Joshua “Ya udah. Pamit sama bang Haikal dan bunda dulu ya” kataku. Dan Joshua pun mengikutiku untuk ikut berpamitan pada orang rumah. Setelah berpamitan, kami pun beranjak menuju luar rumah di antar bang Haikal. “Udin, jangan pulang malem-malem” kata bang Haikal mengingatkan. “Udin.. Udin.. iya” jawabku tak terima namaku diganti Udin. Joshua yang mendengarnya jadi tersenyum. “Jangan iya iya aja. Lo kan kalau udh main suka lupa waktu. Inget ya ayah lagi di luar kota. Jadi yang tanggung jawab sekarang gue” terang Haikal agak tegas “Hmm..” jawabku “Hamm.. hemm aja. Sariawan ya?” Tanyanya lagi “Jo, jangan balik malem-malem. Max jam 11” lanjut Haikal berganti mengingatkan Vincent. “Beres bang. Tenang aja. Sebelum jam 11 udah pulang” jawab Joshua “jalan dulu bang” “Iya. Hati-hati” jawab Haikal lalu berbalik masuk ke rumah. Di dalam mobil Joshua.. “Jadi mau kemana?” Tanyaku penasaran karna Joshua memintaku berpakaian rapih namun ia tidak memberitahu kemana tujuan kami. “Makan” jawab Joshua singkat. “Iya makan dimana?” Tanyaku lg penasaran. “Nanti juga tau. Udah lo diem aja duduk yang manis” jawab Joshua lagi yang matanya tetap fokus menatap jalanan didepannya. Sedangkan Dinda akhirnya menurut walaupun ia masih penasaran kemana Joshua akan mengajaknya. Jalanan sore itu lumayan ramai. Karna banyak orang yang ingin keluar rumah untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terkasih. Apalagi ini malam minggu. Satu jam kemudian kami sampai di sebuah lobby hotel yang cukup mewah. “Kok kita ke sini sih, Jo? Mau ngapain?” Tanyaku dengan nada bingung disertai rasa was-was. “Gak usah ge er. We’ll eat here. They have good food and good view” jawab Joshua. “Oohhh.. bilang dong. Kan gue jadi gak negative thinking” sautku ringan disertain perasaan lega bercampur malu karna ia sempat berpikir yang macam-macam sebelumnya terhadap Joshua. “Are you sure? The place looks pricy. Gak mau pindah tempat aja?” Lajutku setelah melihat ke arah bangunan hotel. “Nope! It’s on me. I’m already reserve the table. Ayok” ajak Joshua meyakinkan. Aku pun turun meski agak ragu tapi aku tetap mengikuti Joshua. “Sini ih. Barengan jalannya” katanya sambil menarik tanganku dalam genggamannya. Dan kami pun berjalan beriringan sambil bergandengan tangan memasuki lobby hotel. Joshua memilih sebuah hotel tertinggi di Indonesia bahkan di Asia Tenggara yang terkenal karna keindahan restoran rooftop nya di bilangan Rasuna Said. Restoran disini menyajikan menu-menu japanese food. Selain bisa menikmati makanan yang sangat enak, aku juga melihat city view kota Jakarta dari sini yang sangat memanjakan mata. Pemandangan matahari terbenam lalu tak lama terlihat lampu-lampu dari bangunan-bangunan tinggi yang ada di sekitaran hotel. Dan tak lupa lampu-lampu dari kendaraan di jalan raya. Sangat cantik batinku dalam hati. Entah berapa biaya yang dihabiskan Vincent untuk bisa makan di restoran ini. “Gorgeous” katanya sambil melihatku. “Iya” jawabku singkat sambil melihat ke sekeliling restoran yg terletak di lantai 68. Sangat mewah khas restoran hotel bintang lima. “No. You” jawabnya sambil meraih tanganku. Aku yang diperlakukan seperti itu jadi sedikit salah tingkah. Joshua bukan type pria romantis. Yang suka memberi bunga atau ucapan-ucapan yang terdengar sweet. Namun ia type pria yang perhatian, spontan dan humoris. Aku juga tidak menyangkan kalau ia akan mengajaku diner di tempat romantis seperti ini. Dan ini adalah kali pertama kami diner romantis. Biasanya kami makan malam di cafe atau resto yang ada di dalam mall dengan pakaian casual. Namun kali ini ia memintaku berpakaian rapih dan berdandan yang cantik. “How do you know this place?” Tanyaku penasaran. Karna setahuku makan malam romantis seperti ini bukanlah kebiasaannya. “Liat di posting-an boss gue” jawabnya sambil tertawa. “I see. ‘Cause it’s not your style. But the place really has a great view” kataku “That’s why I ask you to come” katanya seakan bisa menebak kalau aku akan menyukainya dan itu benar. “Thank you ya” kataku tulus mengucapkan terima kasih padanya. “My pleasure” jawabnya. “Gue ngajak lo ke sini gak gratis ya” katanya lagi menambahkan “Hahh? Tadi katanya it’s on you. Jadi abis berapa?” Protesku dengan agak kaget. karna aku yakin pasti harga makanan di sini mahal. Joshua tertawa mendengar perkataanku “bercanda. The bill is on me. Tapi jangan nambah ya. Kalau mau nambah makan pecel lele aja nanti” lanjutnya lagi. “Iya enggak” jawaku “Hey.. I know it sounds like impossible but I want to be with you. Kita sama-sama lagi. Like the days before. It feels empty when you not around. Do you wanna try? For us..” tanyanya sambil menggenggam tanganku. Matanya tepat menatap mataku. Menyatakan keseriusan Aku cukup kaget mendengarnya. Walaupun ini bukan yang pertama Joshua mengatakan ingin mencoba lagi hubungan kami yang dahulu. “We did it once. Remember?” Tanyaku “Yahh I know” jawabnya pelan “I’ll make it happend this time” lanjutnya “Like what?” Tanyaku. Mencoba mencari tau jawaban pasti darinya. “Anything. I’ll try anything to make it happend for you” jawabnya berusaha meyakinkan aku “Don’t push too hard. Kita udah pernah nyoba dulu. But at the end we’re hurt. Right?” Jawabku sambil tersenyum getir mengingat akhir hubungan kami dulu. Kami sama-sama diam. Joshua terlihat ragu ingin mengucapkan sesuatu. “We’re different. Very. I don’t know how I’m suppose to do. I’m scare of our differences.” Kataku akhirnya. “Iya aku tau. Tapi kalau perbedaan itu gak ada kamu mau kan kita sama-sama lagi?” Tanyanya. “What do you mean?” Kataku tidak mengerti. Lebih tepatnya tidak berani memastikan apa maksut dari pertanyaan Joshu tadi. “If I follow your faith and there is no differences between us. Do you wanna spend your life with me?” Katanya setelah terlihat cukup lama diam. “Are you sure? I mean it’s a big deal” tanyaku terlihat ragu. “Yeah. Do you wanna think about it?” Katanya yakin namun aku mendengar masih ada keraguan. “Why me? It’s must be you to think about it. It’s not just about you. But your hole family also. It’s very big deal for you. You must think about itu many times” kataku berusaha meyakinkannya tentang keputusan yang baru dikatakannya. “Kita pulang yuk. Udah malem” kataku akhirnya memecah kesinyian setelah kami berdiam sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Dan selama perjalanan pulang pun kami tidak banyak bicara. Lebih banyak mendengarkan suara lagu yang Joshua pasang untuk memecah keheningan selama perjalanan selama 1jam 30 menit. “Hey.. just think about it” kataku lagi sebelum turun dari mobilnya. “I will” jawab Joshua singkat. “Hey..” katanya lagi. Aku yg hendak turun kembali berbalik. “Kenapa?” Tanyaku. Tiba-tiba ia menarikku dalam peluknya. “Gue sayang banget sama lo” ucapnya pelan namun masih bisa ku dengar. Setelah melepas peluknya kami turun. Joshua mengantarku masuk ke rumah dan bertemu bang Haikal. Tak lama ia pun pamit pulang karna sudah menunjukan jam setengah sebelas malam. ———————————————————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN