Keesokan harinya, anggota Geng Kepompong sudah ramai di rumah Anto.
“Eh, si Febri mau ikut ke PRJ. Gmn?” Tanya Okta meminta persetujuan yang lain.
“Ya udah ikut aja. Suruh kumpul di sini kl mau ikut” kata Anto.
“Ky, gimana?” Tanya Okta pada Ricky.
“Bebas gue mah” saut Ricky sambil memainkan ponselnya.
“Ya udah gue kabarin dia ya” kata Okta mulai mengetik pesan ke Febri.
Satu jam kemudian Febri sampai di rumah Anto. Suasana sudah lumayan cair ketimbang saat pertama kali Febri dan Ricky bertemu kembali di villa tantenya Silvy.
“Dinda, taxi online lo udah dateng tuh. Gue suruh nunggu di depan” kata Anto sambil lalu.
Dinda ya kebingungan karna tak merasa pesan taxi online segera keluar.
“Lah dia katanya mau jalan sama Jojo. Tumben si Dinda disuruh jalan sendiri. Biasanya selalu jemput tiap mau jalan” tanya Silvy bingung.
“Iya. Jangankan mau jalan bareng. Mau jalan sama kita aja dianter kadang ngikut juga” kata Kartika ikutan bingung.
“Si Joshua itu” jawab Anto sambil ketawa. Tak lama kemudian Dinda kembali masuk. Langsung menjitak kepala Anto.
Takk!!
“Rese lo” sungutnya sambil mengambil tas bersiap untuk pergi. “Gais gue jalan dulu ya” lanjutku lagi lalu pamit pada yang lain.
“Hati-hati. Salam buat Jojo dari kita ya beb” kata Okta.
Sepeninggalan Dinda..
“Vy, Joshua sama Jojo siapa?” Tanya Febri pada Silvy.
“Mantannya Dinda. Satu orang itu. Namanya Joshua tapi kita biasa manggilnya Jojo. Kenapa emang?” Jawab Silvy.
“Gak papa. Mereka lagi deket?” Tanya Febri tak bisa menutupi rasa penasarannya lagi.
“Lo suka ya sama Dinda?” Tebak Kartika yang sedari tadi diam sambil memainkan ponselnya di dekat Silvy dan Febri, namun mencuri dengar obrolan mereka.
“Gimana yaa..” jawab Febri tampak malu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Kalau suka deketin aja. Dia single kok. Kalau soal si Jojo gue juga gak tau ya. Karna dia itu jarang stay di sini. Sering pergi-pergi keluar kota karna urusan kerjaan. Tapi yang gue tau mereka masih komunikasi dan suka ketemuan kalau Jojo lagi ada di sini” terang Silvy.
Febri hanya mengangguk-angguk menerima informasi tentang kedekatan Dinda dan Joshua. Ada perasaan lega di dadanya setelah mengetahui hubungan Dinda dan Joshua hanya sebatas teman. Namun terselip perasaan was-was karna mengetahui bahwa Joshua mantan Dinda yang sepertinya tengah mencari cara supaya bida bersama lagi dengan Dinda.
Sementara itu didalam mobil Joshua..
“Tumben cakep. Apa karna udah lama gak ketemu ya?” kata Joshua.
“Lah dari kemaren kemana aje? Baru nyadar kalo gue cakep. Nyesel lo ya?” Balasku blak blakan.
“Dih.. males banget. Mau kemana nih?” Tanya Joshua tanpa menjawab pertanyaanku dan mulai menjalankan mobil, meninggalkan rumah Anto.
“Bebas gue mah. Dibayarin mah ngikut aja” jawabku sambil membetulkan posisi duduk dan memasang sit belt.
“Ok lah kalau gitu” jawab Joshua memutuskan sendiri kemana tujuan mereka tanpa memberitahu Dinda.
“Kemana?” Tanyaku penasaran.
“Rahasia” jawab Joshua
“Dih pake rahasia-rahasia segala. Awas aja kalau ngajakin ke tempat yang aneh-aneh” kataku memperingatkan karna tak diberi tahu kemana tujuan kami.
Mobil akhirnya berbelok ke salah satu mall di bilangan Semanggi. Joshua memutuskan untuk mengajak Dinda nonton. Karna kebetulan ada film yang ingin ia tonton. Dan setelah berdiskusi mereka sama-sama ingin menonton film yang sama.
Sambil menunggu jadwal film mulai, mereka mamutuskan untuk membeli minuman dan di salah satu coffee shop yang berada di mall.
“Beb..” panggil Joshua.
“Dih.. gak salah denger gue” kataku. Joshua hanya tertawa mendengar respon Dinda.
“Kangen gue sama lo. Lo gak kangen apa sama gue? Kita kan udh lama gak ketemu” tanya Joshua tanpa malu-malu.
“Biasa aja” sautku
“Dih.. ya udah kita pulang aja kalau gitu” kata Joshua pura-pura merajuk
“Yah.. jangan dong. Ya udah Iya kangen. Gak usah melas gitu mukanya” jawabku akhirnya.
“Ihh masa gitu. Diancam mau pulang baru bilang kangen juga” protes Joshua.
“Ya daripada gak jadi nonton kan” jawabku asal.
“Parah banget dia mah. Eh, lo dari kapan putus sm si posesif?” Tanya Joshua tanpa mau menyebut nama.
“Udah 2 bulanan kayanya” jawab Dinda santai.
“Kenapa?” Tanya Joshua penasaran.
“Kepo banget sih lo. Udah ah. I don’t wanna talk about it” jawab Dinda enggan menjawab.
“Iya.. Iya.. Umm.. Gue tau nih kita gak bisa kaya dulu lagi. Tapi bisa gak selama gue stay di Jakarta kita kaya dulu lagi?” Tanya Joshua agak ragu dengan permintaannya karna bingung bagaimana menyampaikan keinginannya padaku. Dan rasa takut kalau-kalau Dinda tidak menyetujuinya.
“Maksutnya gimana sih, Jo? Pacaran lagi? Sementara gitu?” Tanya Dinda bingung dengan permintaan Joshua.
“Gini.. lo tau kan gue masih sayang sama lo. And I want to spend time with you as much as I can selama gue di sini. Supaya kalau gue keluar kota lagi punya memori yang bisa gue inget-inget kalau gue lagi kangen sama lo. Karna gue disini cuma 3 bulan. Abis itu berangkat lagi ke Lombok. Setahun disana. Bakalan lama lagi kita gak ketemunya” bujuk Joshua.
“I know we’re different in basic thing. And it’s hard to change. I know it very well. Anggap aja kado ulang tahun buat gue” lanjut Joshua
“Dih ulang tahun lo kan udah lewat beberapa bulan yang lalu” protesku
“Ya makanya karna lo gak kasih gue hadiah anggap aja permintaan gue tadi hadiah buat gue. Gak susah ini” jawabnya.
“Hmm.. Gimana yaa.. jujur nih.. gue takut baper” jawab Dinda.
“Yahh.. iya juga ya. Terus gimana dong?” Tanya Joshua yang juga bingung karna membenerkan ucapan Dinda.
“Lo mau hadiah apa? Gue beliin deh” tawaku pada Joshua supaya tidak usah mengabulkan permintaannya yang menurutku agak aneh.
“Kalau gue minta balikan lagi lo mau gak?” Tanya Joshua tanpa ragu.
“Duh.. kan udah dibilang” jawabku bingung
“Ya udan Let it flow aja kalau gitu ya” Lanjutnya.
“Ah dulu juga gitu. Let it flow. Tau-tau bawa perasaan” protesku mengingat hubunganku yang dulu denga Joshua. Ia hanya tertawa mendengarnya. Entah membenarkan ucapanku atau apa.
Mereka menghabiskan minuman yang mereka pesan tanpa membahas obrolan sebelumnya. Berganti topik menjadi tentang keseharian mereka. Joshua lebih banyak bercerita tentang kesehariannya di sana.
Sekitar tiga pukuh menit kemudian mereka keluar dari coffee shop tenpat mereka menggu jam film yang akan mereka tonton. Dan memutuskan untuk menuju bioskop karna sebentar lagi film mereka akan mulai. Tanpa ragu Joshua menggandeng tangan Dinda selama perjalanan menuju bioskop.
Flashback Joshua..
Dinda dan Joshua dikenalkan oleh seorang teman. Saat Dinda menemani salah seorang teman kuliahnya untuk melihat pertandinga futsal antar kampus. Kebetulan teman yang menganak Dinda satu SMA dengan Joshua.
Joshua tertarik pada Dinda yg supel. Dia minta contact Dinda pada Rissa. Teman kampus Dinda yang juga yang mengenalkan mereka.
Saat itu Dinda tengah putus dengan Rama.
Komunikasi mereka makin intens. Dan setelah beberapa kali bertemu akhirnya mereka meresmikan hubungan mereka yang pada akhirnya harus berpisah di bulan ke 11. Karna perbedaam yang sangat besar dan mendasar. Yaitu agama.
Meskipun hubungan mereka sudah selesai, tapi komunikasi mereka masih terjaga. Seperti kawan lama yang masih membawa sisa-sisa rasa di hati. Terutama Joshua. Dinda masih menempati sebagian hatinya sampai sekarang. Namu Joshua sadar bahwa mereka tidak dapat bersama sekuat apapun usahanya mempertahankan Dinda.
Joshua masih suka menghubungin Dinda, meskipun ia tau Dinda telah kembali bersama Rama. Tapi ia tidak perduli. Baginya yang penting rindunya tersampaikan meskipun Dinda sering memarahinya soal isi pesan singkatnya yang membuat Rama cemburu. Tapi Joshua tidak pernah kapok dan terkesan masa bodoh dengan sikap Dinda. Dia akan selalu tertawa saat Dinda mengomelinya karna bertengkar dengan Rama gara-gara dia.
Dan dia juga akan selalu membujuk Dinda supaya bisa bertemu tiap kali ia datang ke Jakarta. Dan mau tak mau Dinda akan menemuinya meskipun dengan bersungut-sungut pada Joshua terlebih dahulu. Joshua tetap tidak perduli. Baginya yang penting ia bisa mengobati rasa rindunya pada Dinda.
Flashback off..
———————————————————