Flashback Rama

645 Kata
Beberapa tahun yang lalu. Di kampus Dinda “Din kenalin ini Rama. Anak fakultas komputer. Dia sekertaris BEM kampus kita. Nanti lo bakal sering berurusan sama dia.” Kata salah seorang seniorku “Rama. Fakultas komputer angkatan 2015” ucap Rama memperkenalkan diri. “Dinda. Fakultas Ekonomi. 2016” jawabku “Kalau mau tanya-tanya jangan sungkan ya” kata Rama sambil senyum. “Iya kak” kata Dinda. “Panggil Rama aja. Cuma beda setahun doang. Biar lebih akrab” pintanya. Dari organisasi itu mereka dekat. Awalnya hanya sebatas teman satu organisasi. Karna pertemuan yang semakin intens, akhirnya mulai tumbuh rasa suka dalam diri Rama pada Dinda. Menurut Rama, Dinda gadis yang supel, ceria, lucu dan cerdas. Kalau untuk wajah, Dinda juga cukup cantik. Lebih terlihat imut. Karna tingginya hanya 157cm dengan BB 48kg. Kadang Dinda masih dikira anak SMA karna tubuhnya yang mungil. Dan karna Dinda mungil, Rama selalu memiliki keinginan untuk menjaganya. Bulan-bulan awal hubungan mereka masih terasa manis. Rama orang yang perhatian dan selalu menanyakan keadaan Dinda saat meraka sedang tidak bersama. Mereka lebih sering bertemu di kampus karna jadwal kuliah mereka ada beberapa yang sama. Biasanya mereka bertemu saat makan siang atau jam kuliah selesai. Namun, saat mulai memasuki tahun tahun ke dua masalah satu per satu mulai datang di hubungan mereka. Mulai dari keluarga Dinda yang kurang suka dia dekat dengan Rama. Terutama bunda dan bang Haikal. Dinda juga merasa Rama membatasinya untuk bertemu para sahabat-sahabatnya, yaitu Geng Kepompong. Karna tak jarang tiap kali Dinda sedang bersama sahabat-sahabatnya Rama akan sering mengirimi pesan bahkan menelfon untuk sekedar mengingatkan Dinda untuk tidak berlama-lama bersama mereka dan menyurunnya pulang. Dan tak jarang juga ia melarang Dinda untuk main atau sekedar bertemu sahabat-sahabatnya di Geng Kepompong. Terutama yang pria. Jika Dinda tidak mau menurutinya, Rama akan marah dan biasanya mereka akan ribut. Lalu sikap Rama yang berubah menjadi posesif dan suka menuduh Dinda yang tidak-tidak juga lama-lama membuatnya risih. Dinda memiliki sikap yang ramah pada orang lain dan supel dalam bergaul, tak heran Dinda memiliki banyak teman. Baik perempuan maupun yang laki-laki. Tak jarang laki-laki yang baru dikenalnya suka salah mengartikan sikap Dinda. Dan itu yang membuat Rama mudah curiga hingga menuduh Dinda yang macam-macam. Awalnya Dinda menganggap sikap posesif Rama sebagai tanda takut kehilangan. Tapi lama kelamaan sikap posesifnya makin menjadi. Pertenanan Dinda mulai dibatasin. Ia hanya boleh berteman dengan teman-teman perempuan. Jika Rama tau dia bergaul bahkan hanya sekedar mengobrol dengan teman laki-laki maka Rama akan cemburu dan menuduh Dinda yang bukan-bukan. Apalagi dengan teman laki-laki yang tidak ia kenal. Bahkan Rama tak segan ngengucapkan kata-kata yang menyudutkan dan menyakitkan hatinya. Belum lagi masalah hubungan mereka yang kurang mendapat restu dari keluarga Dinda. Rama bersikap seakan-akan hal itu tidak penting dalam hubungan mereka. Dan ia terlihat seperti enggan untuk berhubungan atau mengenal lebih jauh lagi keluarga Dinda. Malah lebih terkesan menghindar. Rama lebih memilih bertemu Dinda di luar. Kalaupun mereka membuat janji bertemu, ia lebih memilih untuk bertemu di tempat yang sudah ditentukan. Dan jika ia harus menjemput Dinda di rumahnya, ia hanya mengirimi pesan singkat yang isinya pemberitahuan kalau ia sudah berada di depan rumah Dinda. Ia lebih memilih menunggu di dalam mobil ketimbang harus menunggu didalam rumah Dinda dan bertemu dangan anggota keluarga Dinda. Lama kelamaan Dinda mulai merasa jenuh dan mempertanyakan tentang hubungannya denga Rama. Dengan segala permasalahan yanh ada dan dengan segala sikap Rama. Apakah masih pantas hubungannya dengan Rama dilanjutkan atau lebih baik diakhiri? Butuh waktu yang tidak sebentar untuk memikirkan nasib hubungannya dengan Rama. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Rama. Karna ia merasa hubungan yang ia jalani semakin lama menjadi semakin tidak sehat lagi. Meskipun itu bukan pilihan yang mudah, tetapi ia harus tetap mengakhiri hubungannya dengan Rama demi kebahagiaannya kelak. Flashback Off. ——————————————————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN