Saat itu sedang diadakannya pertandingan olahraga antar fakultas di kampus Dinda. Pertandingan tersebut berlangsung selama dua pekan dan Dinda menjadi salah satu panitia pelaksananya. Kebetulan yang bertanding kala itu adalah fakultas Rama, ia hadir dan pun ikut memberikan semangat untuk rekan satu fakultasnya dalam pertandingan futsal siang itu.
“Ben!” Sapa Rama pada rekan satu angkatannya yang bernama Beni.
“Oii. Dari tadi disini?Mana yang lain?” Tanya Beni setelah mereka bersalaman.
“Lumayan. Pada kumpul di lapangan dua” Jawab Rama sambil menunjuk ke arah yang dimaksud. Beni mengikuti arah telunjuk Rama sambil manggut-manggut ke arah tersebut
“Oya yang tadi ngobrol sama lo siapa, Ben?” Tanya Rama lagi tanpa basa basi.
“Reza” Jawab Beni singkat.
“Bukan. Dia mah kenal. Sebelum sama si Reza. Cewek. Yang rambutnya dikuncir” Tanya Rama lagi mencoba memberi Beni ciri-ciri seseorang yang dimaksut.
“Ooh.. Dinda. Kenapa? Naksir lo?” Tebak Beni sedikit menggoda..
Rama tersenyum malu.
“Lucu. Anak mana?” Tanya Rama lagi ingin tau lebih banyak.
“Ekonomi. 2016. Mau gue kenalin?” Terang Beni sambil menawarkan bantuan pada Rama.
“Gak usah. Usaha sendiri nanti gue. Thanks ya, Ben” Ucap Rama sambil mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan Beni. Lalu ia kembali berkumpul dengan teman-temannya untuk mendukung fakultasnya yang sedang bertanding futsal.
Sore hari setelah semua pertandingan telah usai, para peserta dan suporter mulai meninggalkan arena GOR kampus. Namun hal itu tidak berlaku untuk para panitia pelaksana acara. Termasuk Dinda yang kala itu masih berada di sana bersama penyelenggara lainnya. mereka masih membahas persiapan teknis untuk semifinal besok.
Sore itu Dinda berjalan sendiri sambil membawa kardus berisi cemilan untuk para panitia yang sedang berada di GOR kampus. Sedikit berat tapi ia masih bisa membawanya.
Rama yang melihat Dinda sedang menuju kearahnya tidak menyiakan kesempatan itu untuk membantunya.
“Mau gue bantuin gak?” Tanya Rama, saat Dinda berjalan di dekatnya.
“Gak usah. Makasih” Jawab Dinda.
Namun dari belakang terdengar teriakan Beni pada Rama.
“Ram, bantuin itu. Jangan lo ajak ngobrol” Seru Beni saat melihat Rama dan Dinda.
“Udah gue tawarin. Tapi gak mau dia” Ucap Rama.
“Din, udah kasih Rama aja. Kasian lo. Berat” Pinta Beni pada Dinda.
Rama pun mengambil kardus yang berisi konsumsi untuk para panitia dari tangan Dinda. Dan mereka pun berjalan bersama menuju halaman pinggir lapangan tempat pertandingan diadakan. Di sana hampir semua panitia sudah berkumpul.
Thank you, Ram udah dibantuin bawa” Ucap Beni sambil menepuk bahu Rama.
“Oya kenalan dulu. Ini Dinda anak Ekonomi 2016. Ini Rama anak filkom 2014” Lanjut Beni memperkenalkan Dinda dan Rama.
Mereka pun saling berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing. Dan tak lama setelah berkenalan Rama ijin pamit pulang pada semua yang ada di sana.
Satu jam kemudian, karena hari sudah malam Dinda pun memutuskan untuk pulang. Ia berjalan melewati parkiran dan melihat Rama masih ada di sana. Sedang mengobrol dengan Security yang bertugas malam itu.
“Mau balik?” Tanya Rama saat melihat Dinda.
“Ia, Bang” Jawab Dinda sambil memegang ponselnya.
“Rama aja. Mau gue anter gak?” Tanya Rama menawarkan tumpangan.
“Gak usah. Udah pesan ojek online. Bentar lagi juga sampai” Jawab Dinda.
“Ya udah gue temenin sampe ojeknya dateng” Ucap Rama lagi yang disetujui Dinda.
“Kirain udah pulang dari tadi” Kata Dinda memulai pembicaraan agar tidak canggung.
“Tadi ngobrol dulu sama temen. Terus ngobrol lagi sama si Bapak” Kata Rama
Padahal ia sengaja menunggu Dinda pulang. Berharap bisa mengantarnya pulang atau sekedar bertukar nomor ponsel. Lalu tak lama ojek online pesanan Dinda pun tiba. Dan Rama tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk meminta nomor ponsel Dinda. Dan sejak hari itu Rama dan Dinda semakin dekat.
Di awal hubungan mereka terasa sangat manis, tanpa ada masalah yang berarti menerpa hubungan mereka. Mereka sering bertemu di kampus karena ada beberapa jadwal kuliah yang sama. Biasanya mereka bertemu saat makan siang atau jam kuliah selesai.
Namun, saat mulai memasuki tahun ke dua masalah satu per satu mulai datang di hubungan mereka. Mulai dari keluarga Dinda yang kurang suka dia dekat dengan Rama. Terutama bunda dan bang Haikal.
Dinda merasa Rama berubah menjadi overprotective karena sering membatasi bahkan melarangnya jika ingin bertemu para sahabat-sahabatnya, yaitu Geng Kepompong. Terlebih sahabatnya yang laki-laki, Anto, Panji Ricky dan Satria. Jika Dinda tidak mau menurutinya, Rama akan marah dan berujung pada pertengkaran hingga perkataan yang menyakiti hati Dinda. Dan di tahun ketiga hubungan mereka pun berakhir.
Saat hubungannya dengan Rama berakhir, Dinda sempat menjalin hubungan dengan Joshua. Hampir satu tahun lamanya. Namun hubungan yang menurut Dinda hampir sempurna itu juga harus berakhir karena perbedaan keyakinan antara Dinda dan Joshua. Walaupun pada awalnya Joshua sulit menerimanya, namun akhirnya ia menyetujui alasan Dinda. Dinda takut perasaan mereka semakin dalam, namun tidak dapat mengatasi perbedaan yang ada di antara mereka.
Lalu di saat Dinda mencoba menata hatinya, Rama datang kembali. Memberi Dinda janji manis dan meyakinkan Dinda bahwa tidak akan ada lagi permasalahan seperti waktu itu. dan berjanji akan mencoba untuk mengambil hati keluarga Dinda agar hubungan mereka direstui. Dinda pun percaya dan kembali lagi pada Rama. Namun, semua itu tak bertahan lama dan janji Rama untuk membuat hubungan mereka direstui oleh keluarga Dinda dilakukannya dengan setengah hati.
Sikap Rama juga makin posesif dan kasar. Bukan hanya perkataannya saja yang menyakiti hati Dinda, beberapa kali Rama mendorong dan menggenggam tangan Dinda sangat erat hingga memerah dan membuat Dinda kesakitan. Itu semua terjadi saat Rama emosi dan marah.
hingga akhirnya Dinda merasa lelah dan jenuh dengan hubungannya yang tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Ia merasa hubungan ini berjalan ke arah yang sebaliknya. Segala permasalahan dan sikap Rama yang semakin menjadi membuatnya berpikir untuk mengakhiri hubungannya.
Setelah memikirkan nasib hubungannya selama berbulan-bulan, ia pun sampai pada keputusan final. Yaitu mengakhiri hubungan tersebut. Karena semakin lama dipikirkan hubungannya semakin tidak sehat dan tak membuatnya bahagia. Dinda ingin memiliki hubungan yang sehat dan menjadikannya salah satu alasan yang membuatnya tersenyum bahagia.
Flashback Off.
______________________________________________________________________________
But every time you hurt me
the less that I cry
And every time you leave me
the quicker these tears dry
And every time you walk out
the less I love you
Baby, we don't stand a chance
it's sad but it's true
I'm way too good at goodbyes
Sam Smith - Too Good At Goodbyes