15 PULANG

1140 Kata
Dewi  benar-benar tidak menyangka. Perjalanannya ke Venesia membuahkan hasil. Tadinya dia hanya ingin lari sejenak dari perjodohan yang memang sudah tidak bisa ditolaknya itu. Tapi saat ini dia mendapatkan kekasih sekaligus calon suami. Sungguh tidak disangkanya. Setelah pernyataan yang di katakan Satya, Dewi benar dibuat terkejut dengan sikap lembut Satya. Pria itu memang berperan sebagai kekasih. Sungguh, Satya benar-benar berubah 180 derajat dari pria yang pertama kali ditemuinya. Sosoknya memang masih sedikit angkuh, bicara seperlunya. Tapi perhatian pria itu meruntuhkan semuanya. Satya menawarkan perjalanan mengelilingi Italia kepadanya. Tapi Dewi menolak. Ada perasaan bersalah kepada kedua orang tuanya saat ini. Dia tidak mau dianggap anak yang membangkang. Jadi dia mengatakan kepada Satya kalau hari ini mereka harus pulang. Akhirnya Satya menurutinya mereka ke stasiun bus Teravision tujuan Fiumicino Airport tujuan Amsterdam untuk kemudian kembali ke Jakarta. Naik Alitalia tujuan Amsterdam dan masih transit selama 3 jam. Satya membelikannya beberapa coklat, raut wajahnya lucu saat mengatakan dia teringat adik perempuannya saat melihat coklat-coklat itu.  Dan kini setelah 14  jam bersama-sama. Mereka harus menghadapi kenyataan kalau mereka akan berpisah. Untuk sementara. Kembali ke kehidupan mereka masing-Masing. Dewi terlalu lelah untuk berpikir. Karena perjalanan yang panjang dengan menggunakan pesawat terbang. Untung saja ada Satya yang selalu ada di sampingnya. Mereka juga tidak berada di kelas ekonomi. Yang Dewi tahu harga tiketnya dua kali lipat. Dewi benar-benar ketakutan dengan uang yang dikeluarkan Satya itu. "Lelah?" Satya kini menatapnya. Sudah dua jam mereka menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta ini. Satya mengajaknya untuk makan dan minum kopi sejenak. Di resto yang ada di bandara. Paling tidak pria itu sedang mengulur waktu lagi. Dewi juga gugup menghadapi kepulangannya kali ini. Dewi menganggukkan kepala lalu menggigit kentang goreng yang ada di depannya. Satya tetap tampak tampan. Meski perjalanan panjang membuat mereka berdua sama-sama lelah. Pria angkuh itu tetap mempesona. "Berikan alamat kamu." Satya mengulurkan ponselnya. Memberikan isyarat kepada Dewi untuk menuliskan alamat rumahnya. Memang mereka belum membicarakan hal itu. Identitas mereka berdua juga belum terkuak. Dewi dan Satya selama ini tidak membuka diri. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka. Dewi akhirnya menuliskan alamatnya. Lalu memberikan ponsel kepada Satya kembali. Pria itu membacanya dan kini mengernyitkan kening. Lalu matanya membelalak terkejut. "Ini daerah dekat dengan komplek perumahanku.  Jadi kita.." Mata Satya bertemu dengan Dewi. Dan pipi Dewi langsung  merona merah. Satya tersenyum tipis. Tapi kemudian kembali ke mode  seriusnya lagi. "Segera. Besok aku akan melamar kamu." Ucapan Satya yang lugas membuat Dewi kini menggelengkan kepala. "Ayah tidak mungkin setuju." Itu ketakutannya. Basgaiamanapun takdirnya sudah ditentukan. Dan Dewi merasakan tangannya digenggam oleh Satya. "Aku akan memperjuangkan ini. Sungguh. Ini mungkin gombal tapi aku merasa kita....aku..." Satya memejamkan mata untuk sesaat kemudian membukanya lagi. "Aku sudah menyukaimu." antung Dewi berdegup kencang mendengar ucapan Satya. Benarkah pria tampan dan angkuh di depannya  ini mengatakan yang sebenarnya? Dewi menghela nafasnya. Dia belum tahu apapun tentang Satya. Tapi setidaknya pria di depannya ini menerima dirinya apa adanya. Dibandingkan dengan jodoh yang sudah ditentukan sejak lahir. "Kalau begitu aku perlu nama lengkapmu. "Satya kembali mengatakan itu. Tangannya menggenggam erat jemari Dewi di atas meja. "Untuk apa?" Dewi merasa malu setelah mengatakan  itu. Tapi tatapan Satya kini benar-benar intens menatapnya. "Aku ingin menghafal namamu untuk ijab qobul  nanti." Sungguh, semua yang diucapkan Satya itu membuat hati Dewi meleleh. Dewi kini tersenyum dan ingin mengucapkan namanya saat tiba-tiba ponselnya berdering. Dewi langsung mengambil ponsel yang asda di tas  selempangnya.  Dan menatap Satya dengan muram. "Siapa?" "Ayahku." Dewi menempelkan ponsel di telinganya.  "Halo ayah." "Cean kamu udah di bandara kan? Ayah sudah ada di parkir mobil." Tentu saja mata Dewi membelalak terkejut. "Owh udah yah. Dewi segera ke sana." Dia langsung beranjak dari duduknya. Tapi Satya menahannya. "Hei mau kemana?" Dewi memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya. "Ayah udah ada di sini." Begitu mendengar jawabannya. Satya otomatis langsung beranjak Berdiri. "Aku ikut. Aku akan bilang langsung sama ayahmu. " Tentu saja Dewi menggelengkan kepala dengan gusar. Dia tidak mau. Tidak. "Jangan." Satya mengangkat alisnya dengan bingung. "Kita berpisah di sini saja. Kita sama-sama lelah. Dan aku tidak mau ada konflik. Besok. Kamu besok baru ke rumahku." Ucapan Dewi itu membuat Satya kini menatapnya dengan kesal. "Aku ingin sekarang. Kalau perlu kita menikah sekarang juga." "Satya. Please.." Permohonan Dewi itu akhirnya membuat Satya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Ok." Dewi tersenyum tipis. "Baiklah. Sampai jumpa." Saat Dewi akan berbalik Satya tiba-tiba menarik lengan Dewi dan menariknya ke dalam pelukan Satya. Membuat mata Dewi membelalak terkejut. "Sat.." "Husst. Ini awal kita memiliki hubungan serius. Jangan lupakan aku." Tiba-tiba Satya mengecup keningnya. Membuat Dewi membeku. Tapi Dewi tahu kalau hatinya kini sudah ada yang memiliki. Satya melepaskan pelukan dan menatap Dewi dengan tak rela. "Aku antar ke.." "Tidak. Kita pisah di sini." Tanpa menunggu lagi Dewi langsung membalikkan tubuhnya. Dan berlari meninggalkan Satya. Dia masih bimbang. ******* "Bawa oleh-oleh apa dari Italia?" Bayu adiknya yang hanya berjarak 1 tahun itu kini menatapnya dari jok depan mobil. Ayahnya menjemput beserta Bayu. Dan Dewi kini duduk di belakang. Sang ayah tersenyum saat menatapnya  dari spion depan. "Enggak bawa apa-apa. Orang mbak mu ini kehilangan dompet kok." Bayu hanya menatapnya sinis dan kini berbalik lagi ke depan. Sungguh adiknya itu sama dinginnya dengan sang Ayah. Kalau kata bundanya. "Besok lagi kalau liburan itu ajak ayah sama bunda. Kalau pergi sendiri ya begitu Cean." Ucapan sang ayah membuat Dewi tersenyum. Atau lebih tepatnya memaksakan diri untuk tersenyum. Jantungnya masih berdegup kencang saat meninggalkan Satya tadi. "Namanya bukan liburan itu. Pindah rumah. Tahu sendiri bunda kalau pergi piknik yah." Sang ayah kembali tersenyum. "Tapi alhamdulilah kamu bisa pulang. Owh ya jadi yang nolongin kamu itu namanya Siapa?" Dewi memang sudah menceritakan kalau dia di tolong oleh seorang mahasiswa dari Indonesia. Tapi cuma sebatas itu. Dia tidak mau mengatakan apapun lagi kepada sang ayah. "Cowok yang ngaku jadi kekasihmu itu kan?" Pertanyaan sang ayah tentu saja membuat pipi Dewi merona. Dia baru ingat kalau Satya sudah menelepon ayahnya. "Owh... iya yah." Kali ini Bayu kembali berbalik. "Mbak jangan macam-macam loh. Mbak kan udah mau nikah sama Bang Arkana. Jadi..." Dia melotot ke arah Bayu  yang mengejeknya. Tapi adiknya itu tetap memasang wajah datar. "Bay jangan ganggu Mbak mu. Biarkan istirahat dulu. Masalah pertunangan dan yang lainnya bisa dibicarakan nanti. " Ucapan sang ayah membuat Dewi menghela nafas lega. "Cean.. Besok keluarganya Om Raka mau berkunjung. Lengkap dengan Arkana. Kamu udah siap kan?" Tapi pertanyaan itu membuat Dewi kini menatap sang ayah dari spion yang ada di atas kemudi itu. Jangan bilang kalau... pikiran Dewi langsung mengartikan kalau ayahnya tetap akan menjodohkan dirinya. Dan apa kabar Satya yang... Dering  ponsel mengagetkan Dewi dia langsung mengambil ponsel itu dan terlalu terkejut saat membaca siapa yang ada di layar ponselnya. "Ha..halo." Akhirnya dia menjawab dengan melirik Bayu dan ayahnya yang ada di depannya. "Hai.. aku sudah merindukanmu. Tunggu kedatanganku besok ya." Mata Dewi membulat. Satya akan datang besok dan Arkana juga...        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN