16 PERNYATAAN

815 Kata
"Pulang juga kamu.." suara berwibawa itu membuat langkah Satya terhenti. Dia memang sudah menyiapkan diri sepenuhnya. Pasti papinya akan memarahinya habis-habisan atas sikap membangkangnya itu. Setelah menelepon Vanessa yang mengatakan kalau rumah sepi, Satya terkejut mendapati papinya duduk secara mengintimidasi di sofa warna coklat di ruang tamu rumahnya. Tentu saja Satya tidak bisa mengelak lagi. Tubuhnya yang lelah, jetlag dan juga suasana hatinya yang masih tidak menentu karena perpisahan dengan Dewi kini harus berlipat-lipat rasanya saat bertemu dengan orang tua yang sudah sangat dihormatinya sejak kecil. Pria yang mendidiknya dengan kedisiplinan tinggi. Arkana Aryasatya, papinya. Satya akhirnya meletakkan tas ranselnya ke atas sofa, dan melangkah mendekati sang papi yang sudah beranjak berdiri tapi sebelum dia sempat mengulurkan tangan, tubuhnya terhuyung ke belakang lengkap dengan rasa sakit yang datang secepat kilat menyentuh wajahnya. Dia hampir tersungkur kalau saja tidak ada lengan sofa tempatnya menahan tubuhnya. Rasa panas dan nyeri langsung mendera wajahnya. Satya akhirnya memejamkan mata untuk menahannya, lalu mencoba untuk berdiri lagi. Menegakkan tubuh dan kini mengusap darah yang keluar dari sudur bibirnyaa. Papinya sudah menatapnya dengan amarah yang terlihat jelas di wajahnya. "Jangan main-main sama kehidupan. Papi tidak suka kamu bertindak liar seperti itu. Itukah yang kamu dapat dari pendidikan kamu di sana?" raungan keras suara papinya membuat Satya akhirnya menunduk. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Dia memang bersalah, dan itu membuat kecewa sang papi. "Papi, astaga." Suara lembut itu membuat Satya akhirnya mengangkat wajahnya dan melihat wanita cantik yang sangat dipujanya melangkah mendekatinya. Lalu menunduk dan mengecupo keningnya dengan sayang. "Nak, mami kangen." Maminya, Kanaya Salsabila putri adalah sosok ibu yang benar-benar mengayomi anak-anaknya. Sejak kecil Satya sangat menyayangi maminya itu. "Pap, biarkan Arkan istirahat dulu," Kali ini dia mendapatkan pembelaan dari maminya. Tapi tentu saja seorang Arsenna yang sudah terkenal tidak bisa melunak meski dengan anaknya sendiri menolak. "Mam, ini urusan papi dengan Arkan. Dia sudah mempermalukan kita. Bisa-bisanya dia tidur dengan wanita yang diakuinya sebagai kekasih, dia liar mam," suara papinya menggelegar menggetarkan gendang telinganya. Dan Satya memang sudah menyiapkan diri. Ini memang pilihannya dan dia harus menerima apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. "Iya mami tahu pi, tapi biarkan Arkan istirahat dulu. Kasihan." Maminya masih mencoba untuk membelanya tapi Satya kini menyentuh lengan maminya yang berdiri di sampingnya. "Arkan gak apa-apa mam. Ini memang harus dibicarakan," dia mencoba menenangkan. Melihat raut wajah sang papi yang kini masih saja menyimpan emosi, Arkana tahu ini adalah saat yang tepat untuk mengungkap semuanya. Apa yang tak terucap antara mereka berdua. Sikap membangkangnya memang sudah sejak lama dan itu makin membuat papinya kesal. Akhirnya maminya menganggukkan kepala dan mengusap bahunya. Setelah itu pergi masuk ke dalam. Selalu menghormati keinginan suami dan putranya. Satya menegakkan tubuhnya, bersiap menerima ungkapan kekesalan pria paruh baya yang masih tetap berwibawa di hadapannya. "Papi sudah bersabar selama ini, papi sudah menanggung malu kepada keluarganya Dokter Sam atas penolakan kamu selama ini Arkan. Dan papi tidak akan bisa menanggung malu lagi, kali ini." Satya mengangukkan kepala, tahu kalau dialah sumber dari kekacauan semua ini. Akhirnya dia menatap pria yang sudah mendidiknya sampai sebesar ini. Dalam kehidupannya, dia memang terlahir dari keluarga kaya. Tapi kedua orang tuanya mendidiknya sangat disiplin dan tidak pernah memanjakannya. Fasilitas juga terbatas, hanya saja kalau soal pendidikan papinya memang sangat ketat kepadanya. Semuanya diterima Satya dengan senang hati. Dia menikmati hal itu, hanya satu yang tidak dia sukai, yaitu perjodohan. Menurutnya itu tak masuk akal untuknya, dia sudah dijodohkan sejak dia belum bisa membedakan mana yang namanya apel atau bawang. Jadi sejak itulah dia mulai menolak, saat pertama kali kedua orang tuanya menjelaskan kalau dia memang sudah mempunyai calon istri. Satya mulai mengambil langkah ekstrim, menentang kedua orang tuanya. "Bukan salah Arkan, dari awal kan memang tidak pernah setuju menikah dengan putri dari Om Sam" jawabnya dengan lirih. Dan menambah raut wajah sang papi menjadi makin memerah karena marah. "Cean tidak pernah membantah perjodohan ini. Dia wanita yang manis  dan cerdas, jadi papi tanya apa yang kamu cari lagi? Perjodohan ini dilakukan karena permintaan mami kamu sebenarnya. Dia ingin kamu mendapatkan wanita yang berasal dari keluarga baik-baik. Hanya itu Arkan," ucapan papinya menohok ulu hatinya. Kalau saja dia tahu selama ini.. "Papi mencintai mamimu. Sangat. Dan papi tidak akan membuat mami kamu bersedih. Tapi kenyataan ini sudah menggerus hati wanita yang selama ini melindungi dan mencintaimu Arkan. Papi kecewa, kerusakan sudah kamu buat. Dan papi tidak tahu lagi bagaimana memperbaikinya. Kamu yang tanggung sendiri, besok jelaskan kepada keluarga Dokter Sam, minta maaf kepada Cean dan bawa kekasih kamu ke hadapan papi," setelah mengatakan itu sang papi langsung beranjak berdiri dan meninggalkannya begitu saja. Satya mengacak rambutnya dengan frustasi, perasaan yang baru saja berbunga kini langsung layu karena penjelasan sang papi. Dia tidak menyangka kalau itu semua akan menyakiti semua orang terutama Kanaya maminya dan juga Oceania, pemeran utama dalam masalah ini. Lagipula masi ada Dewi yang sudah menggenggam hatinya. Bagaimana dia bisa mengatasi semuanya ini?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN