17 MASIH RAGU

1048 Kata
Dewi merasa resah. Setelah sampai di rumah dia makin ragu dengan rasa yang mengendap di hatinya sejak berpisah dengan Satya di bandara. Ciuman di kening masih sangat terasa, ucapan 'merindukanmu' yang terdengar dari mulut Satya membuat jantung Dewi berdegup kencang sampai detik ini. Setelah 24 jam berlalu. Semalam dia tertidur hingga larut malam, menjelaskan kalau dia tertinggal rombongan kepada bunda dan ayahnya. Tapi Dewi hanya menyebut Satya sebagai penolongnya, dan masih sedikit memberi penjelasan tentang bagaimana pria itu bisa menelepon ayahnya dan mengaku menjadi kekasihnya. Karena bunda dan ayahnya memberinya waktu. Sampai detik ini dia masih bingung, lagipula saat memberanikan diri untuk menelepon Satya. Ponsel pria itu tidak aktif. Hal itu makin membuat dirinya resah. Benarkah Satya akan mendatangi rumahnya? Atau semuanya hanya janji yang tidak akan terwujud. Semuanya masih abu-abu untuk Dewi. Apalagi... suara dering ponselnya membuat Dewi menghela nafas lalu beringsut dari posisi duduknya di atas kasur. Dia sudah mandi, sudah segar tapi masih malas untuk beranjak keluar kamar. Apalagi dia masih memiliki cuti dari pekerjaannya. Dewi menatap bingung ke arah nomor tak dikenal yang tertera di layar ponselnya. Tapi jantungnya berdegup kencang saat membayangkan kalau itu Satya, meski nomor ponsel bukan milik Satya. Dengan ragu dia menempelkan ponsel di telinganya setelah memencet tombol jawab. "Halo," ucapnya dengan lirih. Dia menatap pohon akasia yang terlihat dari jendela kamarnya. Taman samping rumahnya memang langsung dapat diakses dari kamarnya ini. "Ini Cean ya?" pertanyaan itu membuat Dewi terdiam. Suara itu mirip dengan Satya, tapi tidak mungkin kan Satya memanggilnya dengan nama Cean? Dewi kini mengernyitkan keninng. "Siapa ini? " jawabnya sedikit ragu. Kalau orang iseng akan dia maki-maki karena suasana hatinya sedang tidak ingin diajak untuk bercanda. "Ehem.. aku Arkana." Mata Dewi membulat mendengar ucapan pria asing itu. Jantungnya sudah berdegup kencang untuk saat ini. Dewi menggelengkan kepala. Ini tidak mungkin Satya, ini pria yang sudah menorehkan luka yang begitu dalam terhadap hati, masa lalu dan masa depannya. Pria yang sudah mengacaukan kehidupan percintaannya. Dan dia tidak akan memaafkan pria sombong dan angkuh ini. "Aku tidak ada urusan lagi denganmu," suaranya bergetar karena menahan emosi. Ingin rasanya dia menendang tulang kering pria itu. Selama 25 tahun perjodohan mereka, baru saat ini Arkana menghubunginya. Dan itu makin membuat luka hatinya semakin dalam. Ada keheningan di ujung sana setelah Dewi mengucapkan itu. Dewi bahkan sudah akan menutup teleponnya saat terdengar deheman di ujung sana. Dewi kini menyandarkan tubuhnya di bantal yang sudah ditumpuknya. Membuat dia lebih merasa rileks. Meski suasana hatinya makin buruk karena mendapatkan telepon dari pria ini. "Aku ingin kita bertemu," suara itu terdengar begitu tenang tapi lirih. Kalau saja suasananya sedang hening Dewi tidak mungkin mendengar. "Aku tidak mau. Urus saja urusanmu sendiri. Aku sudah punya pacar juga, jadi aku sudah tidak mau bertemu denganmu. Dulu sudah berapa kali aku dikecewakan sama kamu." Nafas Dewi terengah setelah mengatakan itu. Bayangan masa lalu yang membuatnya kebas akhirnya. Sejak usia 17 tahun, sebenarnya kedua orang tua mereka sudah merancang pertemuan. Dan Dewi selalu menurut. Hanya saja pria yang bernama Arkana itu tidak pernah muncul. Membuat Dewi menunggu dan merasa dipermalukan. harga dirinya sudah terluka. "Aku hanya ingin minta maaf, itu saja. Lagipula aku juga sudah mempunyai calon istri." Entah kenapa mendengar jawaban Arkana itu hati Dewi mencelus. Tentu saja pria angkuh itu sudah memiliki calon. Dia merasa bodoh sudah mengira kalau Arkana ingin mengajaknya melanjtkan pertunangan ini. Akhirnya Dewi mengusap wajahnya dengan tangan. Bingung akan situasi rumit ini. "Aku tidak butuh permintaan maafmu. Bagiku kamu tidak pernah ada," dia sedikit berteriak mengatakan itu. Lalu segera mematikan ponselnya dan melemparkan begitu saja ke atas kasur. Arkana makin membuat hatinya menjadi buruk. Suara ketukan di pintulah yang membuat Dewi kini beringsut untuk turun dari atas kasur lalu melangkah ke pintu. Dia membukakan pintu dan adiknya Bayu sudah berdiri di sana. "Mbak, Bay mau ngomong," Bayu menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar dan langsung duduk di atas kasur. Adiknya itu kini menatapnya dengan tajam. "Mbak beneran gak mau maafin Kak Arkan ya?" Tentu saja langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Bayu. Dewi kini berkacak pinggang di depan Bayu. Tidak suka kalau adik kecilnya itu ikut-ikutan mencampuri urusannya. "Heh adik kecil, kamu urusin aja tuh kuliah kamu. Ngapain juga ikuti urusin masalah orang tua." Dewi kini menabok lengan Bayu yang membuat adiknya itu menggerutu. "Yang pasti Kak Arkan itu baik kak. Beberapa kali bertemu sama Bay juga," jawab adiknya diplomatis. Membuat Dewi kini mengernyitkan kening. "Kamu kenal sama dia darimana? Bukannya dia ada entah dimana itu, katanya nerusin kuliahnya." Dewi menggeser tubuh Bayu saat dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. "Bay punya nomor ponselnya kok. Kita sering chatting. Lagipula Bay kan suka pengen punya kakak ipar kayak dia, keren." Bayu mengacungkan kedua jempolnya membuat Dewi kini menoyor kepala Bayu. "Lo mau nyakitin kakak lo? dipermaluin seumur hidup ama pria songong itu." Dewi akhirnya menggerutu dan membuat Bayu menggelengkan kepala. Tanpa suara lagi. Bayu itu memang replikanya ayahnya. Tenang dan datar. Alunan suara Ed sheeran membuat Dewi langsung mencari-cari ponselnya. Itu nada dering khusus yang diaturnya untuk Satya. Segera setelah menemukan ponsel yang ada di atas kasur Dewi hampir memekik saat melihat nama Satya yang tertera di layar. "Halo.." Dengan semangat dia menjawab dan melihat adiknya mengangkat alisnya. Tampak mengamati. Dewi akhirnya memunggungi Bayu. "Dew... aku ingin bertemu sama kamu." Mendengar suara Satya Dewi langsung menganggukkan kepala. Merasa bodoh karena terlalu bersemangat dan kini langsung menjawa b dengan ya.. "ehm ok. Bisakah kamu keluar?  Kita bertemu dimana? Maaf ada yang harus kita bicarakan berdua sebelum aku berkunjung ke rumah kamu..." "Ceaaaaaaannn.. kamu kok belum siap-siap?"  Suara Satya terpotong oleh suara bundanya yang sudah berdiri di ambang pintu. Tentu saja mata Dewi membelalak. Hari ini kedatangan Arkana dan keluarganya. Tapi kenapa tadi Arkana malah meminta bicara berdua terlebih dahulu? "Cean.." "Dew.." Panggilan dari dua orang itu membuat Dewi mengerjapkan matanya lalu menganggukkan kepala ke arah bundanya yang memberi isyarat kepada Bayu untuk keluar dari kamarnya yang dituruti oleh adiknya. Lalu sang bunda mengisyaratkan agar Dewi segera bersiap dan berlalu dengan Bayu. 'Maaf, hari ini aku tidak bisa ketemu. Tunanganku dan keluarganya akan ke rumah." Dewi mencoba menjelaskan. Dan hal itu membuat Satya terdengar menghela nafas di ujung sana. "Sepertinya ini akan sulit Dew.. aku akan menghubungi kamu lagi secepatnya." Dewi akhirnya menghela nafas. Lalu dengan malas beringsut untuk berdiri bersiap- siap meskipun dia sangat malas.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN