Empat

1747 Kata
Happy Reading. * "Apa kau yakin akan datang?" Aliya tidak menjawab pelayan Jung dan kembali fokus pada dandanannya. "Aliya jawab" tuntut pelayan Jung dan membuat Aliya menghela nafas pasrah. "Suamiku akan menikah. Bukankah aku harus datang?" Pelayan Jung menatap sendu kearah Aliya dan mengusap bahunya dengan lembut. "Jika kau tidak bisa datang tidak perlu. Lagi pula kedatangan mu itu akan membuat mu sakit hati" Aliya tersenyum miris dan menyelesaikan dandanannya. "Jangan fikirkan itu Soo Hyunie, sekarang tugasmu adalah siapkan kamar baru untukku" cetus Aliya dan membuat pelayan Jung menyeringit aneh. "Kamar baru?" Aliya mengangguk dan menatap pelayan Jung. "Aku tidak akan tidur dikamar ini lagi. Kamar ini bukan lagi milikku dan aku tidak mau berbagi dengan siapapun. Biarkan Raja dan selirnya menggunakan kamar ini" jawab Aliya tegas dan membuat pelayan Jung mengangguk. "Faviliun mana yang kau pilih?" Aliya tampak berfikir dan tersenyum kemudian. "Faviliun mendiang Ratu Han Jiwon" jawab Aliya dan membuat pelayan Jung terkejut. "Apa yang akan kau lakukan disana?" Tanya pelayan Jung terkejut. "Tentu saja menjadikannya kamar. Aku butuh tempat yang tenang. Kau pasti tau?" Pelayan Jung hanya mengangguk menyanggupi permintaan Aliya. "Pernikahan mereka sudah dimulai. Kita pasti terlambat. Kajja" * Senyum lebar terlihat terpancar diwajah Kang Seulgi, ia resmi menyandang status istri Raja sekarang. Sedangkan reaksi berbeda ditunjukkan Jimin. Mata tajam Jimin terlihat mencari-cari seseorang diantara kumpulan orang istana yang menghadiri pernikahannya. "Apa Yang Mulia mencari seseorang?" Tanya pelayan Hwang yang mengetahui apa yang Jimin lakukan. Sementara Kang Seulgi mulai memperhatikan Jimin setelah mendengar ucapan pelayan Hwang. "Apa maksudmu?" Pelayan Hwang tersenyum tipis dan menatap mata Jimin dalam. "Dari tadi Yang Mulia Raja terlihat mencari-cari orang diantara semuanya. Saya fikir Yang Mulia sedang mencari Permaisuri yang tidak datang kesini" jawab pelayan Hwang yakin. Jelas saja Kang Seulgi terkejut, sedangkan Jimin hanya membuang mukanya. Tidak ada yang bisa disembunyikan Jimin dari pelayan Hwang. "Maaf saya terlambat" yang dibicarakan akhirnya muncul. Menunjukkan keanggunannya dan tidak meninggalkan kesal dingin. Aliya terlihat cantik menggunakan Hanbok berwarna Merah muda pudar. Dengan riasan tipis dan rambut disanggul biasa. "Maaf atas keterlambatan saya Yang Mulia. Selamat untuk pernikahan anda dan selamat karena sudah menjadi istri Raja selir Kang" ujar Aliya lembut dan penuh dengan duri. Jelas Aliya menyindir Seulgi dan Jimin. Tapi kata-kata Aliya terlampau manis hingga tidak terdengar seperti sindiran. "Saya fikir anda tidak datang permaisuri?" Tanya Seulgi yang ingin membalas Aliya. "Aku harus datang ke pernikahan suamiku bukan? Hah sudahlah. Sekali lagi selamat. Saya permisi" Aliya sama sekali tidak menatap Jimin dan berlalu begitu saja. Melihat itu Jimin jadi merasa tidak suka. Mata Aliya yang menunjukkan sorot dingin dan tidak peduli membuat Jimin tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ada apa dengan Jimin. "Saya permisi Yang Mulia" pamit pelayan Hwang tapi dicegah oleh Jimin. "Siapkan kamar baru" cetus Jimin dingin dan membuat Seulgi menatapnya. Itu pasti kamar untuk Aliya dan kamar Jimin akan ia gunakan. "Maaf?" Tanya pelayan Hwang sopan. "Siapkan kamar baru untuk Selir Kang" jawaban Jimin membuat Seulgi menatap tidak percaya kearahnya. Kamar untuknya? Jadi kamar Jimin tetap milik Aliya? Sedangkan reaksi pelayan Hwang justru tersenyum manis. "Saya mengerti" ujar Pelayan Hwang sambil berlalu. "Yang Mulia" Jimin berlalu saat mendengar panggilan Seulgi. Jimin butuh tempat yang tenang sedangkan reaksi Seulgi tentu saja mematung. "Lalu apa artinya pernikahan ini? Sialan" umpat Seulgi kesal. * Aliya berdiri diam disamping jendela kamar barunya. Aliya memang langsung pindah saat kamar ini selesai dibersihkan dan tidak butuh waktu lama untuk memakai kamar ini. "Aliya~~~" Aliya menoleh menemukan Pelayan Jung masuk kedalam kamarnya. "Wae Soo Hyunie?" Tanya Aliya yang berbalik menatap pelayan Jung. "Ini makan malammu. Dari kemarin kau tidak menyentuh makanan sama sekali" jawab pelayan Jung yang membawa nampan kedepan Aliya. "Aku tidak lapar Soo Hyunie. Lagi pula ini sudah tengah malam dan aku tidak suka makan dijam seperti ini" ujar Aliya memberi alasan dan membuat pelayan Jung semakin memaksa. "Aku tidak peduli ini malam atau pagi. Yang jelas kau harus makan atau kupaksa kau makan?" Tegas pelayan Jung dan membuat Aliya pasrah. "Hanya satu suap" kata Aliya memohon. "Tiga" ujar pelayan Jung. "Dua?" "Kubilang tiga" kekeh pelayan Jung dan membuat Aliya menghela nafas pasrah. "Suapi" pelayan Jung tersenyum penuh kemenangan dan mengangguk lalu menyuapi Aliya. "Kau masih saja manja dan minta disuapi seperti dulu" Aliya hanya tersenyum dalam kunyahannya. "Bukankah ada Soo Hyunie yang akan selalu menyuapiku?" Kata Aliya dan menyelesaikan makanannya. "Sudah Nde? Aku kenyang" pelayan Jung akhirnya mengangguk dan memberikan minuman pada Aliya. "Gumawo Soo Hyunie" ujar Aliya setelahnya. "Hem. Sekarang tidurlah, ini sudah malam dan tidak baik jika kau tidur terlalu larut" kata pelayan Jung. "Aku tau. Sana pergi. Kau harus tidur juga" pelayan Jung mengangguk dan meninggalkan kamar Aliya. Sepeninggalan pelayan Jung, Aliya bukanya langsung tidur justru kembali menatap luar jendela. "Sepertinya aku mengalami gangguan tidak bisa tidur?" Cetus Aliya yang mendekati jendela. Tersenyum tipis saat melihat bulan yang begitu terang. "Menyenangkan jika aku bisa menjadi bulan. Harabojie apa baik-baik disana? Eomma, Appa, Orabonie kalian bahagia disana?" Tanya Aliya lirih dan menatap sendu bulan. Semuanya pergi meninggalkan dirinya saat itu. Orang tuanya dan kedua Kakaknya. Usia Aliya terlalu belia untuk ditinggalkan, untung kakeknya langsung mengambil alih hak asuhnya dan Aliya hidup dengan kakeknya saat menginjak usia ini 8 tahun. Aliya hanya mengenang semuanya Lewat lukisan dan Aliya harus benar-benar terima akan hal itu. Bukankah Tuhan sudah begitu baik mengirimkan Kakeknya sebagai pengganti kedua orang tuanya. Bukankah Aliya harus berterima kasih untuk itu? Kriek! Aliya menoleh saat mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka. "Soo~~~" perkataan Aliya terhenti saat tau jika bukan pelayan Jung masuk kedalam kamarnya. "Apa yang anda lakukan disini Yang Mulia?" Tanya Aliya dingin. Jimin yang masuk kedalam kamarnya dan Aliya tidak bisa memberikan sambutan baik. Persetan dengan sopan santun dan tata Krama. "Kenapa anda kesini? Bukankah seharusnya anda dikamar dengan istri baru anda?" Tanya Aliya datar dan menatap wajah Jimin. * Brakk! Kang Seulgi melempar kursi yang ada didepannya dengan kuat. Wajahnya terlihat merah padam, jelas jika Kang Seulgi sedang marah. "Sialan~~~" teriakan Kang Seulgi menggema dalam kamarnya. Ingatannya berputar dengan kejadian beberapa saat lalu. "Yang Mulia" panggil Kang Seulgi lembut dan menghampiri Jimin dengan hanya menggunakan pakaian tidur yang begitu tipis. Keduanya sedang ada dikamar saat ini. Sementara Jimin hanya diam dan tidak membalas tatapan mata Seulgi dan memilih untuk melihat pemandangan luar jendela. Melihat itu Seulgi tidak putus asa dan menghampiri Jimin lalu memeluk tubuh kekar Jimin. "Ini malam pertama kita. Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Seulgi dengan suara yang dibuat-buat. Tentu saja tujuannya untuk menggoda Jimin. Seulgi melepas pelukannya dan menatap mata Jimin. Mendekatkan wajahnya pada Jimin dan tepat saat bibir mereka akan bersentuhan Jimin lebih dulu menahan lengannya. "Aku akan mengambil sesuatu dulu. Tunggu sebentar" kata Jimin dan melangkah menjauh dan meninggalkan Seulgi. Sementara itu Seulgi terdiam ditempat, apa Jimin baru saja menolaknya? "Tidak mungkin. Dia pasti akan kembali" yakin Seulgi dan mulai menunggu Jimin tapi lebih dari 2 jam menunggu Jimin tidak datang-datang juga. Seulgi melemparkan kursi yang ada didepannya dengan kuat. "Sialaaann~~~" * Jimin bukannya mengambil sesuatu tapi pergi kekamarnya. Lebih tepatnya kamarnya dan Aliya. Tepat saat sampai didepan kamarnya Jimin lebih dulu berbicara pada pengawal yang ada didepan kamarnya. "Apa permaisuri sudah lama masuk kamar?" Tanya Jimin datar. "Permaisuri masuk kekamar saat sore Yang Mulia lalu pergi kekamar barunya" "Mwo?" Tanya Jimin kaget. "Permaisuri tidak menggunakan kamar ini lagi Yang Mulia. Permaisuri berpesan pada saya untuk bilang jika Yang Mulia bisa menggunakan kamar ini dengan Selir Kang" tangan Jimin mengepal erat mendengar ucapan pengawal itu. "Dimana kamar baru permaisuri?" Desis Jimin geram dan pengawal itu jelas menyadari itu. "Permaisuri pindah kekamar mendiang Ratu Han Jiwon" Jimin hanya diam dan masuk kedalam kamarnya begitu saja. * Keduanya masih diam dan tidak berbicara, posisi mereka lebih dekat karena Jimin mendekatkan diri pada Aliya. Sedangkan Aliya masih saja diam diposisinya. "Apa berpesan pada pengawal sopan untuk memberitahu seorang Raja permaisuri?" Pertanyaan dingin Jimin tidak mendapat balasan dari Aliya. "Mulut Permaisuri masih berguna dengan baik kan? Lain kali gunakan mulut Permaisuri sendiri" Aliya tersenyum sinis dan mendekati Jimin. "Apa itu pengting? Bukankah itu sama saja, entah itu dari mulut saya atau mulut pengawal" jawaban yang Aliya berikan cukup membuat Jimin emosi. Dengan kasar Jimin meraih pinggang Aliya dan menyatukan tubuh mereka. "Dimana sopan santumu?" Tanya Jimin dingin dan menarik dagu Aliya untuk menatapnya. "Yang Mulia bertanya tentang sopan santun pada saya? Seharusnya pertanyaan itu tanyakan pada Yang Mulia sendiri. Apa dengan menikah dengan wanita lain tanpa ijin dari istri anda, itu sopan? Yang Mulia menikah bahkan tanpa ijin dan bilang pada saya lebih dulu. Yang Mulia hanya mengumpulkan semua orang istana dan mengikut sertakan saya disana. Lalu apa bedanya saya dengan yang lain? Status permaisuri saya bahkan tidak berguna, karena Yang Mulia memperlakukan saya seperti yang lain. Lalu apa masih pantas Yang Mulia bertanya tentang sopan santun pada saya? Itu sama sekali tidak pantas" nafas Aliya terdengar memburu setelah meneriaki Jimin tepat didepan wajahnya. Sikap lembut dan sabar Aliya sudah lenyap dari dirinya. Tentu saja Aliya tersinggung saat Jimin tidak memberitahukan rencana pernikahannya dengan pelayan Kang lebih dulu. Memilih memberitahunya dengan semua orang istana. Tentu saja Aliya merasa tidak dianggap. "Saya mengerti jika Yang Mulia tidak mencintai saya, saya juga tau jika Yang Mulia tidak menganggap saya istri tapi setidaknya lihat saya sebagai permaisuri. Yang Mulia selalu bertindak sesuai keinginan Yang Mulia sendiri. Yang Mulia memang seorang penguasa tapi Yang Mulia tidak berhak berlaku semena-mena terhadap saya. Yang Mulia fikir semuanya akan baik-baik saja. Saya juga punya perasaan, dan setidaknya fikirkan itu" Aliya meluapkan semuanya dengan kasar. Tidak peduli Jimin akan marah. "Lebih baik Yang Mulia pergi untuk menyelesaikan malam pengantin dengan selir Kang. Bukankah Yang Mulia mencintainya?" Aliya mencoba melepaskan pelukan Jimin tapi tidak bisa karena sangat erat. "Sudah selesai?" Tanya Jimin sinis dan semakin menarik dagu Aliya. "Tolong lepaskan ini. Lebih baik Yang Mulia pergi dari sini" ujar Aliya dingin. "Pergi? Raja bebas pergi kemana saja dan permaisuri tidak berhak mengaturnya. 'Lihat saya sebagai Permaisuri' itukan yang tadi permaisuri ucapkan? Sekarang saya akan benar-benar memperlakukan permaisuri seperti pandangan saya" cetus Jimin dingin dan mendekatkan bibirnya pada bibir Aliya dan tepat saat bibir mereka akan bersentuhan Aliya lebih dulu memalingkan wajahnya. "Permaisuri menolak Raja?" Tanya Jimin dengan suara pelan. "Ini bukan saatnya Yang Mulia menunjukkan itu. Lebih baik Yang Mulia pergi untuk menghabiskan malam ini dengan Selir~~~emph" perkataan Aliya terhenti saat Jimin lebih dulu menyatukan bibir mereka dengan kasar. Jelas Aliya terkejut dan mencoba melepaskan ciuman mereka. Tapi Jimin justru menarik lebih dalam tubuhnya dan memegangi tengkuknya. "Uh!" Jimin meraih Aliya dalam gendongannya dan membawanya keranjang tanpa melepas cumbuanya. "Sejaaahh" Tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN