Semerbak wangi kopi yang khas tercium jelas saat Bara baru menapakan kakinya pada sebuah ruangan bernuansa putih yang cukup luas. Pandangannya terarah pada sejumlah stand kopi yang berjejer dan dikerumuni oleh beberapa orang. Acara kampus yang baru diadakan tahun ini nampak ramai, pikirnya. Mungkin karena budaya minum kopi telah digemari oleh banyak muda atau bahkan menjelma menjadi sebuah kebutuhan yang sayang untuk dilewatkan.
Bara tidak tahu pasti tapi dirinya yakin alasan ramainya acara kali ini karena salah satu dari dua alasan di atas. Yang jelas Bara memang menyukai kopi sejak lama, tepatnya pada saat duduk di bangku SMK. Tak ingat pasti kapan dan apa penyebab dirinya mulai menjadikan aktifitas minum kopi 2 kali sehari sebagai rutinitas.
Bahkan, Bara cenderung menyukai kopi hitam pahit yang sedikit gula. Tiap kali berkunjung ke suatu tempat, ia pasti ingin disuguhkan dengan takaran ajaibnya, yakni dua banding satu. Dua sendok penuh untuk kopi original dan satu sendok berukuran lebih kecil untuk takaran gula. Mungkin selera Bara jauh berbeda dari kebanyakan anak muda pada umumnya.
Bara dikejutkan oleh tepukan pelan pada pundak kirinya, ia seketika menoleh lalu tersenyum menyapa teman-temannya yang juga datang.
"Akhirnya ya Bar dateng juga. Kita dari tadi nungguin lo dateng," sapa Evan, teman satu jurusannya sembari memotret ke arah Bara dengan kameranya.
"Orang yang suka kopi gak bakal ngelewatin acara ini," sahut Bara santai.
"Gak nyangka acara lo bakal serame ini Van, kok bisa sih inisiatif buat ngadain acara kopi kayak gini? Unik sih menurut gue," tanya Sena penasaran.
Selebihnya Bara tidak begitu mendengarkan obrolan teman-temannya. Hanya beberapa kata yang ia tangkap mengenai alasan dari pertanyaan Sena. Evan menjelaskan jika kopi merupakan sesuatu yang tengah 'happening' dan banyak digemari oleh anak muda. Sesungguhnya, alasan itu terlalu klasik, mudah ditebak, dan bernilai komersil.
Kini Bara melangkah semakin dalam melewati beberapa stand yang didirikan sejajar di sisi kanan dan kiri. Terdapat pula sebuah stage di tengahnya yang saat ini hanya diisi oleh pembawa acara. Stand yang ada sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya ada enam jumlahnya. Dan masing-masing stand menyuguhkan beberapa biji kopi andalan mereka serta menampilkan langsung proses racikan hingga kopi siap disajikan. Oh ya, tidak lupa juga terdapat mini station yang khusus menyajikan buku-buku tentang kopi dari berbagai penulis.
Walaupun baru diadakan pertama kali, Bara mengapresiasi ide serta penyelenggaraan dari acara kopi yang diusung oleh Evan dan teman-teman organisasinya karena berbeda dari acara kampus pada umumnya yang terkesan monoton. Bara sungguh bersemangat mengikuti acara ini sampai akhir karena tentu saja ia pantas menikmatinya sebagai seorang pecinta kopi yang tak mengenal trend.
Namun, niatnya untuk mencicipi atau sekedar melihat proses penyajian nampaknya sedikit terhambat karena jumlah stand yang sedikit menyebabkan kerumunan oleh mahasiswa dari berbagai fakultas. Sembari menunggu, Bara hanya berjalan melewati tiap stand sambil sesekali melirik sekilas penyajian kopi di tangan barista. Menarik, tapi ia sungguh malas jika harus berdesak-desakan. Jadi, lebih baik mengalah dan menunggu.
Pandangannya terhenti ke sebuah mini station yang menyajikan buku-buku tentang kopi. Tidak ada kerumunan sama sekali. Hanya terdapat seorang mahasiswi yang tengah berdiri dan serius menatap ke arah buku di tangannya.
Bara pun berinisiatif untuk menunggu di sana sambil menambah wawasan baru mengenai kopi, pikirnya dalam hati. Lima menit berlalu, Bara masih memilih dan membolak-balikan beberapa buku secara sekilas. Ia lanjut memperhatikan mahasiswi yang ada di depannya masih khusyuk membaca buku di tangannya. Bara meneruskan aktifitasnya hingga akhirnya menemukan buku yang berjudul 'A Perspective of Coffee'.
Sepuluh menit berlalu, Bara tampak menikmati bacaannya. Begitu pula dengan mahasiswi yang tidak diketahui namanya itu, masih setia membaca dengan fokus tanpa memalingkan wajahnya meskipun saat ini Bara tengah berada di sampingnya.
Awalnya, Bara tidak peduli, namun ia teralihkan oleh decakan pertama yang keluar dari mulut mahasiswi itu. Dahinya berkerut kemudian tangannya spontan membalikkan halaman buku. Bara tidak memperhatikannya lagi, namun selang beberapa detik mahasiswi itu mengeluarkan decakan lagi disertai kata-kata kesal yang diucapkan pelan dan terdengar samar.
Bara baru menyadari jika buku yang sedari tadi dibaca oleh mahasiswi itu berjudul 'Etika dan Filsafat Komunikasi'. Ternyata memang bukan buku tentang kopi. Sungguh berat judul serta isi buku yang tengah dibayangkan Bara tiap kali mendengar kata 'Filsafat' karena terlalu rumit baginya.
"Lagi belajar buat ujian?" tanya Bara memberanikan diri untuk membuka obrolan.
Samantha, mahasiswi semester enam yang berada disamping Bara menoleh sambil tersenyum tipis lalu mengiyakan.
"Dari fakultas apa? FISIP?" Bara bertanya lagi.
"Iya FISIP, komunikasi. Kamu?"
"Teknik," jawab Bara singkat yang hanya direspon 'oh' oleh Samantha.
Tak ada perkenalan diantara mereka seperti pada umumnya. Baik Bara ataupun Samantha, keduanya enggan untuk mengajak berkenalan lebih dahulu. Bara sengaja membuka obrolan untuk sekedar basa-basi belaka karena ia tak biasa berada dalam situasi yang teramat bisu. Toh, pada akhirnya mereka akan berpisah setelah acara ini selesai dan tidak akan bertemu lagi.
Situasi kembali senyap, namun Bara kembali mengucapkan sesuatu. "Filsafat itu rumit ya, untung jurusan gue gak ada belajar filsafat," Bara berucap penuh syukur.
"Hm, filsafat emang rumit kalo dipelajari secara teoritis dan banyak yang harus dihapal kalo mau ujian," jawab Samantha seraya menutup buku. "Tapi banyak kok filsuf-filsuf terkenal yang ngasi pandangan tentang kehidupan. Dan menurutku itu relevan banget sih sampai sekarang," sambungnya.
"Contohnya?"
"Pernah denger Nietzsche?"
"Nope, tapi kalo lo jelasin sekarang gue pasti bakalan tahu dia siapa. Ngomong-ngomong, gimana cara nyebut Nietzsche?" tanya Bara sambil menyebutkan nama itu dengan susah payah.
"Namanya Friedrich Nietzsche. Aku juga gak bisa nyebutinnya, tapi kalo dieja kurang lebih kayak gini F-R-I-E-D-R-I-C-H N-I-E-T-Z-S-C-H-E"
"Oh i see, sekarang kebayang. Terus gimana?"
"Nietzsche punya salah satu pandangan yang dikenal sebagai Amor Fati atau Love of Fate."
Bara sempat berpikir lalu kembali bertanya, "Love of Fate, mencintai takdir?"
"Kurang lebih begitu. Konsepsi ini sebenernya muncul sebagai penawar untuk perasaan duka akan takdir yang sebetulnya gak akan pernah kita duga kapan datangnya. How we learn, love, and accept the fate. Intinya, sebuah penerimaan atas apa yang harus kita terima dan jalani."
Mahasiswi yang masih tidak diketahui namanya oleh Bara itu, begitu antusias menjelaskan sebuah informasi yang cukup bermakna menurut Bara. Penjelasannya terlalu formal, tetapi dapat dipahami. Bara kemudian menyahut dan melontarkan kembali pertanyaan mengenai relevansi dari pandangan Nietzsche.
"Menurutku, ini tentang sesuatu yang esensial karena duka atas kematian itu absolut yang berjalan sesuai takdir. Waktu yang kita punya beda-beda, begitu juga dengan respon akan duka itu. Hanya keberanian dan keikhlasan saja yang bisa menguatkan kita. Berani untuk mencintai takdir lalu dengan ikhlas menjalani sisa waktu yang kita punya, cause life must go on!"
"Jadi relevansi yang lo maksud itu karena kematian dan hidup akan selalu ada. Atau bisa dibilang bersisian?" ungkap Bara mencoba mengonfirmasi.
Samantha mengangguk sembari lanjut berkata, "Betul, karena segala sesuatu yang hidup pasti akan mati." Samantha menarik napas panjang sebelum kembali berucap,"By the way, maaf ya kalo penjelasanku agak kaku."
Bara terkekeh sebentar, "Menurut gue nih yang baru ngobrol sama lo sekitar 15 menit, sebenernya lo gak begitu kaku, lebih ke terlalu formal aja. Pemilihan gaya bahasa saat kita komunikasi sama orang itu menurut gue masalah kebiasaan."
"Kebiasaan? Maksudnya gimana?"
"Ya kalo lo orangnya terbiasa ngomong formal sih fine aja walaupun mungkin gak semua orang bakal menilai lo 'gak biasa'. Dalam artian, bernilai 'gak biasa' bagi mereka karena itu di luar dari kebiasaan apa yang mereka pilih dan jalani."
"Tapi kalo cuma masalah 'kebiasaan' rasanya kurang balance dan mungkin bikin orang kurang nyaman. Maka dari itu kita perlu punya sikap buat bisa baca situasi alias peka," cerocos Samantha.
Bara mengernyit dan berpikir sebentar selagi mendengarkan mahasiswi itu berbicara panjang lebar. Bara menilai jika mungkin saja mahasiswi asing disampingnya ini mempunyai concern lebih untuk memikirkan kenyamanan orang lain. Entahlah, ini hanya asumsi dan kemungkinannya saja.
"Kalo kita tahu situasi kan kita bisa milih untuk pakai gaya bahasa kayak gimana buat ngomong sama orang lain. Contohnya kayak situasi sekarang ini. Aku berusaha peka karena kita baru pertama kali ketemu dan komunikasi. Makanya aku berusaha buat pakai gaya bahasa sesopan mungkin karena aku takut kamu gak nyaman dan ngira aku gak sopan."
"Kalo ngomong sama gue cukup dengan gak ngomong kasar. Yakali pertama kali ketemu dan ngobrol langsung ngumpat. Terus menurut lo dengan kita peka sama situasi itu artinya kita bikin orang yang diajak ngomong bakalan merasa nyaman dengan gaya bahasa yang kita pilih?"
"Hm..., iya menurutku. Karena disaat kita menyesuaikan dengan situasi dan kebiasaan orang yang kita ajak ngobrol itu artinya kita kasi mereka space untuk merasakan kenyamanan saat komunikasi. Ya gak sih?" tanya Samantha memastikan.
"Tau dari mana kalo orang yang kita ajak ngomong bakalan nyaman dan nyambung sama gaya bahasa yang kita bakal pakai?"
"Masalah itu bergantung dari kemampuan kita. Sejauh mana kita bisa membaca situasi. Kalo gak bisa nebak atau peka, tinggal ngomong pake gaya bahasa yang formal. Kalo udah kayak gitu, pasti merasa nyaman."
"Gini, nyaman atau engganya menurut gue itu relatif. Sama kayak kita punya sudut pandang masing-masing. Sesederhana kita mengidentifikasi suatu hal. Bisa aja gue bilangnya A dan lo bilangnya B. Kalo menurut gue, lo seakan-akan membatasi suasana 'nyaman' sesuai dengan kenyamanan yang lo buat sendiri. Bener gak? Padahal arti kenyamanan tiap orang beda-beda," ungkap Bara mempertanyakan.
Bara memang sengaja memperpanjang topik bahasan 'gaya bahasa' ini karena menarik baginya bisa berinteraksi dengan orang asing dan memilih topik obrolan yang berbobot. Selain itu, Bara ingin membuktikan apakah asumsinya itu benar atau justru keliru.
"Aku gak bermaksud menciptakan batasan atau mematok kenyamanan itu dengan kenyamananku sendiri karena menurutku gaya bahasa yang paling sopan itu ya gaya bahasa yang formal."
"Yes, gue setuju sama lo tapi gak sepenuhnya. Please jangan terlalu formal. Kadang orang pun malah jadi gak nyaman kalo situasi yang dibentuk terlalu gak biasa buat mereka. Jadi pesen gue buat lo adalah jangan terlalu formal nanti kesannya kaku dan lo pun menyadari kalo diri lo kaku. Itu bisa jadi kebiasaan yang menurut gue kurang baik, kadang lo juga harus menunjukkan kalo diri lo itu luwes dan adaptif. Terus yang kedua, jadilah diri sendiri karena bukan kewajiban lo untuk bikin orang lain senang atau nyaman. Yang penting lo gak menyakiti mereka," tandas Bara.
"Cara kita tahu kalo gak menyakiti mereka gimana?"
"Sebatas dengan lo gak ngomong berbau sensitif atau kata-k********r kayak yang gue bilang sebelumnya. Ini menurut gue sih."
"Wow, wow, wow!" hanya itu respon yang diberikan oleh Samantha. Tak lupa juga ia melanjutkan dengan menepuk kedua tangannya di depan wajah Bara, "Nice Bara!"
Bara mengerjap dan lanjut beriata, "Eh, kok lo tau nama gue?"
"Kan muka sama nama kamu ada di sana. Tuh... tuh..., coba liat ke belakang! Keputer dari tadi," tunjuk Samantha.
Astaga, bathin Bara. Dirinya baru menyadari jika sedari tadi penampakan wajahnya terpampang jelas serta berulang kali diputar pada layar yang terdapat di beberapa titik di ruangan ini. Sebenarnya tidak cuma wajah Bara saja, melainkan teman-temannya yang lain juga.
Bara jadi ingat permintaan Evan sebulan lalu yang memaksa untuk membantunya menjadi salah satu talent untuk teaser video acara kopi kali ini. Bara tidak malu, hanya saja ia cukup terkejut melihat wajahnya kembali ditayangkan pada layar cukup besar.