DENIAL-2

1549 Kata
Seminggu berlalu, Bara memulai kembali aktifitasnya seperti biasa. Acara kopi yang berlangsung kala itu membuatnya merasa kurang beruntung karena setelah menunggu beberapa saat, antrian dan kerumunan dari masing-masing stand tak kunjung berkurang. Bara pasrah bahkan ia sempat protes kepada Evan keesokan harinya. Bara mengatakan jika stand kopi yang disediakan panitia kurang banyak untuk melayani ribuan orang yang datang. Aksi protes Bara tentu tidak sembarang protes biasa karena ia mengklaim jika itu adalah bentuk masukan positif kepada temannya sebagai penyelenggara. Mungkin semacam pemberian review pada sebuah produk barang atau jasa. Begitulah kurang lebih analogi yang dijelaskan oleh Bara. Evan hanya mengiyakan saja saat itu karena dirinya merasa pening meladeni berbagai masukan yang mirip-mirip dengan apa yang Bara sampaikan. "Ya namanya juga usaha dan percobaan pertama. Lagian kalo dana dan sponsor mendukung, acara kemarin bakalan kita adain lagi kok," ungkap Evan. "Serius Van?" tanya Gian. "Kalo bisa sih tiap weekend gitu ngadain acaranya biar kita semua produktif," usul Sena. Evan mendelik, kesal dengan usul Sena yang sangat tidak manusiawi baginya. "Itu sih keenakan di lo. Kita yang jadi panitia gak dapet libur dong" "Ya bagus dong kan cuannya lancar, kas juga jadi banyak. Jadi gak perlu jual risol lagi," celetuk Gian yang membuat mereka semua tertawa. "Parah lo Gi walaupun itu emang fakta sih. Eh, tapi tema dan konsepnya bakalan tetep sama Van?" Sena kembali bertanya. "Maunya sih gitu biar panitia gak mikir dan nyusun ulang konsepnya cuma ya lagi dan lagi gue dikasi masukan dan saran tertulis sama anak media kampus." Gian menanyakan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dari perkataan Evan. Di sisi lain, Bara yang awalnya hanya menjadi pendengar, kini sedikit tertarik dengan pernyataan Evan. "Kemarin banget nih gue baca di artikel media kampus, mereka apresiasi acara kita sekaligus kasi masukan. Kalo bisa konsep dan tema buat acara selanjutnya itu yang lebih edukatif. Kalo yang kemarin itu udah bagus cuma katanya minim nilai edukasi," jelas Evan. "Minim edukasi gimana? Otak gue gak nyampe, please jelasin," sahut Gian. "Ya harusnya kayak nambahin perspektif kopi dari sudut pandang akademis gitu, misal kayak ngadain seminar yang ngundang pembicara dari kalangan pengusaha atau petani kopi barangkali." "Kalo kayak gitu jadinya gak jauh beda menurut gue sama ikut kuliah umum dari dosen," keluh Sena. "Gak gitu juga kali Sena ganteng. Mungkin maksudnya biar lebih seimbang. Impactful buat anak muda kayak kita biar gak sekedar nerima hiburan doang tapi dapet ilmu juga. Menurut gue sih bagus cuma harus dipikirin banget konsepnya biar gak ngebosenin," sahut Bara berusaha menengahi. "Nah, bener tuh kata Bara biar ada manfaatnya dan bisa jadi ajang juga buat anak-anak yang mau menyalurkan hobinya buat berwirausaha. Kan bisa aja ada yang minat buka kedai kopi atau jadi petani kopi. Gak tau lah, gue nurut aja yang penting masukannya positif." "Ya udah deh gue tunggu aja acara kopinya muncul lagi yang penting stand kopi plus barista cakepnya jangan lo ilangin ya Van. Ini keuntungan besar buat gue karena bisa nyoba kopi gratis sana sini terus sekalian cuci mata," pinta Gian. "Kalo itu gak mungkin gue ilangin, kan itu yang bikin rame. Udah ah, gue mau balik dulu mau rapat sama anak-anak. Duluan ya," Evan berucap sambil berlalu meninggalkan ketiga temannya. "Bar lo mau ke mana? Gue sama Gian mau pergi bareng makan soto Pak Acik. Ikut yuk, kita makan bareng," ajak Sena. "Skip deh, gue mau ke perpus utama balikin jurnal" "Ya udah kita pergi duluan ya Bar, baik-baik lo jangan diem mulu. Sariawan lo?" ledek Gian. Bara hanya tersenyum miring mendengar ledekan Gian. Setelah berpisah dengan kedua temannya, Bara mulai berjalan menuju perpustakaan yang letaknya cukup jauh. Sebagian besar mahasiswa teknik di kampusnya merasa bimbang jika harus bergegas mencari referensi ke perpustakaan ini karena letaknya cukup jauh bila harus berjalan kaki, namun membutuhkan peruntungan jika pergi menggunakan kendaraan. Terbatasnya lahan parkir kendaraan yang seringkali penuh karena banyaknya mahasiswa yang berkunjung, sehingga merasa lelah jika harus mencari tempat parkir yang kosong. Alasannya karena ini merupakan perpustakaan yang menyediakan buku dan jurnal paling lengkap. Bara pun lebih senang mencari referensi di sini dibandingkan dengan perpustakaan yang berada di fakultasnya sendiri. Bara beruntung karena ia datang di saat ada seseorang yang hendak pergi. Memasuki ruang perpustakaan, tatapannya menerawang dan bergegas menuju meja petugas. "NIM akhir 7899," ucap Bara sopan kepada petugas perpustakaan. Setelah selesai mengembalikan jurnal, Bara tidak langsung pulang. Ia berkeliling dan memperhatikan tiap rak yang menampung susunan buku. Nalurinya secara tidak sadar menuntun Bara untuk datang pada susunan rak berwarna biru tua. Masing-masing buku dikelompokkan pada beberapa rak besar yang warnanya disesuaikan dengan masing-masing fakultas. Matanya mulai mengamati satu per satu pengelompokkan buku berdasarkan keilmuan. Tangannya bergerak ke kiri menyentuh tiap permukaan buku yang dilewatinya hingga berhenti pada sekumpulan buku aliran filsafat. Bara teringat sesuatu saat membaca kata 'filsafat'. Jarinya mengetuk-ngetuk salah satu buku. Bara lanjut berpikir dan dalam benaknya ia menginginkan buku itu untuk dibacanya. Terlalu tiba-tiba, tapi apa boleh buat. Bara enggan duduk dan lebih memilih untuk menyenderkan tubuhnya pada tembok samping rak sembari tangannya membuka halaman demi halaman pada buku tersebut. Tak ada yang menarik sejauh ini, pikirnya. Bara pun memutuskan untuk mengecek rangkuman dan daftar isi. Buku apa yang sedang ia baca, keluhnya. Isinya membuat kepala pening karena membahas mengenai konsep ketuhanan dalam sudut pandang filsafat. Bara menyerah dan mengurungkan niat agar bisa menyelamatkan dirinya, sehingga tetap waras. "Kok ditaruh lagi?" Suara tidak asing muncul tiba-tiba dari belakang. Bara agak terkejut, tapi tetap bersikap santai. Ia menatap ke arah perempuan yang tengah duduk di pinggir meja dekat rak. Bara mengingat betul siapa dia. Sayangnya, Bara sejenak lupa dan tidak memikirkan interaksi serta intensitas obrolan mereka pekan lalu selepas berpisah. Tidak saling mengenal, namun menghabiskan waktu selama hampir dua jam hanya untuk membahas filsafat, gaya bahasa, sopan santun, dan hal-hal kecil lainnya. Parahnya lagi, Bara sama sekali tidak mengetahui nama dari mahasiswi tersebut. Sungguh aneh. Alih-alih menjawab, Bara justru melemparkan umpan untuk menciptakan obrolan panjang seperti sebelumnya. Bara merasa tertarik dan nyaman pada obrolan pertama mereka. "Ngerti tentang filsafat ketuhanan?" tanyanya tanpa basa-basi atau berniat berkenalan. "Gak begitu tapi pernah baca beberapa referensi sama jurnal. Kalo yang gak agamis mungkin bakalan lebih pusing kali ya," ucap Samantha hati-hati. "Gue gak agamis banget tapi pengen tau," sahut Bara. Ia nampak begitu ingin mendengarkan penjelasan dari mahasiswi asing di depannya ini. "Aku gak begitu paham tentang filsafat ketuhanan dan gak agamis juga jadi ngerasa gak pantes buat ngejelasin. Takutnya misleading" Tak menanggapi hal tersebut, Bara menoleh dan lebih tertarik untuk mempertanyakan suatu hal. "Nama lo siapa?" Tidak langsung menjawab pertanyaan Bara. Ia terlebih dulu membetulkan letak kacamatanya dengan seujung jari sebelum berucap, "Samantha. Sam atau Samantha. Jangan Saman," lanjutnya. "Kenapa gak boleh dipanggil Saman?" Bara bertanya sambil menahan tawa padahal tidak ada yang lucu dari penjelasan Samantha. "Ya aneh aja gitu menurutku dan biar lebih cepet juga. 'Sam' kan cuma tiga huruf, biar gak boros energi." "Lo makannya dikit sih jadi energi di tubuh lo sedikit," sahut Bara asal. "Jangan asal ngomong ya kalo belum liat porsi makanku seberapa banyak," Samantha memicingkan mata dan merasa tertantang dengan celotehan Bara. "Ya makanya buktiin dong ke gue porsi makan lo seberapa, kan gue belum liat." Seolah bingung dengan pernyataan Bara, Samantha pun bertanya bagaimana caranya ia menunjukkan ke Bara. "Makan bareng gue," jawab Bara tenang tanpa berkedip. Deng! Samantha dan Bara tak melepas pandangan selama beberapa detik. Bara pun merasa aneh dan mulai berpikir kenapa ia mengeluarkan sebuah pernyataan yang membuat suasana menjadi canggung. Samantha melepas pandangannya terlebih dahulu. Gadis itu mengetuk ujung sepatunya beberapa kali lalu kembali terdiam. Bara lanjut berpikir. Mungkin saja Samantha akan menilainya aneh karena tiba-tiba mengajaknya makan bersama. Tapi, Bara merasa dirinya mampu berdalih jika nanti respon yang diberikan Samantha tidak sesuai perkiraannya. Ah, tunggu dulu? Memang respon seperti apa yang diharapkan Bara? Kenapa dirinya merasa harus-dan-wajib hukumnya bagi Samantha untuk mengiyakan ajakan Bara tersebut? Bara mengeluh dalam hati. Lagipula, tidak ada salahnya kan makan bersama Samantha, meskipun mereka baru bertemu dua kali. Walaupun Bara sempat sengaja melupakan Samantha setelah pertemuan terakhir mereka. Samantha menggeser kursinya ke belakang, lalu menarik badannya dan berjalan. Bara mulai panik, apakah Samantha meninggalkannya begitu saja atau memang benar gadis itu menganggapnya aneh karena masih merasa asing karena baru bertemu dua kali? Pikiran buruknya kembali ia tepis karena Samantha terlihat berbalik dan menuju tempat duduknya semula. Tangannya merapikan seluruh buku dan alat tulis, lantas memasukannya ke dalam tas ransel hitam yang dibawanya. "Kok diem aja?" tanya Samantha heran. "Maksud lo?" "Katanya mau makan bareng gimana sih. Ayo biar gak keburu sore!" ajak Samantha yang ingin buru-buru pergi dari perpustakaan. Bara melamun, namun tak lama ia tersadar dan ikut berjalan karena ujung kemejanya ditarik oleh Samantha. Nampaknya gadis itu bersemangat karena tas Bara yang ringan pun ikut dibawanya. Bara melamun memikirkan apa yang barusan dikatakannya. Ini sama sekali tidak berlebihan, hanya makan bersama. Tidak ada salahnya bukan? Lagipula, bukan 'ajakan makan bersama' yang Bara pusingkan, namun 'perasaan' tidak tenang yang mulai menghampiri. "Bar, aku gak bawa helm. Jalan kaki ajak, yuk?" ajak Samantha. "Kok bisa gak bawa helm? Lo ke kampus naik apa? Terbang?" "Jalan kaki, kan kosanku deket sini. Di belakang kampus cuma dua ratus meter." Bara awalnya hanya menanggapi dengan ber-oh-ria. Namun, beberapa saat ia kembali mengungkapkan pernyataan yang kembali membuat Samantha tertawa. "Ya udah gak masalah naik aja, anggep kepala lo SNI," sahut Bara berusaha santai. Tapi tidak di dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN