DENIAL-3

1562 Kata
Hari-hari selanjutnya, Bara kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Seolah tidak ada hal yang menarik menghampiri hidupnya. Ia menyangkal telah tertarik pada Samantha dan menganggap jika perasaan tidak nyaman itu hanya sebuah rasa canggung. Bangun, pergi ke kampus, mengerjakan tugas hingga larut malam, lalu pulang. Itulah siklus hidup Bara sebulan terakhir karena ujian tengah semester sebentar lagi akan datang. Berbagai projek datang silih berganti membuat kesibukannya bertambah, sehingga tidak sempat mengurusi hal lain. Bahkan, Bara sempat beberapa kali merasa dirinya salah jurusan karena rumitnya tugas yang diberikan. Tetapi, di tengah fase keluhan itu muncul, Bara selalu mendapatkan 'hidayah' untuk tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi. Saat ini, Bara duduk bersama beberapa temannya di gedung lantai dua sambil menikmati pemandangan langit sore. Mereka tidak langsung pulang, melainkan istirahat sebentar setelah kelas berakhir sebelum mengerjakan tugas pratikum yang membuat Bara serta teman-temannya harus begadang sampai malam, bahkan mungkin hingga pagi hari. "Kayaknya gue bener-bener salah jurusan deh Bar. Harusnya gue ambil Sastra Indonesia," curhat Sena pilu. "Biar bisa bikin pantun, ya?" Sena berdecak mendengar pertanyaan Bara. "Engga, biar bisa bikin puisi romantis atau nulis novel cinta-cintaan terus gue terkenal deh jadi penulis." "Pantun bukannya bagian dari sastra ya. Terus kenapa tiba-tiba banget lo curhat salah jurusan?" tanya Bara heran. "Soalnya gue udah enek denger lo curhatan atau keluhan lo karena dapet UKT tinggi. Sekarang gantian dulu, kasi gue waktu buat ngeluh," ledek Sena. Bara tertawa oleh jawaban Sena. Dirinya memang sering mengeluh karena merasa terlalu membebani orang tuanya. "Anak itu gak minta dilahirin Bar. Kita lahir karena orang tua yang emang pengen punya keturunan. Gak salah kok kalo lo nganggep diri lo beban karena memang sedari lahir kita udah jadi beban dan tanggung jawab orang tua." Sena meletakkan tangan kanannya di atas meja untuk menumpu dagunya. "Nanti ada masanya kok lo bertanggung jawab sama orang tua lo dan menjadikan mereka beban. Tapi, beban yang gue maksud itu in positive value, ya, Bar. Beban tanggung jawab yang wajib untuk dilakukan sebagai bentuk berbakti kita sama orang tua," Sena berkata sungguh-sungguh dan berharap Bara mengerti. Bara masih tak percaya jika temannya, Sena, tengah menceramahinya. Bara memandang temannya sambil mengernyit. Kemudian, ia menempelkan punggung tangannya pada dahi Sena untuk memastikan jika temannya itu sedang baik-baik saja atau justru sebaliknya. "Kenapa, Bar? Gue bijak, ya?" ucap Sena seolah mengerti situasi. "Sebenernya itu bukan kata-kata gue sih, tapi kata-kata orang lain. Cuma lagi tepat aja nih momennya, makanya gue ceramahin lo biar jadi sadar. Gue aja makin berpikiran terbuka setelah denger kata-kata itu." "Emang lo dapet kata-kata itu dari mana?" tanya Bara ingin tahu. "Aduh, Bar gue lupa siapa yang jelas dari seorang cewe." "Lo punya pacar?" "Bukan pacar, Bar. Gue denger pas ikut UKM Sabtu lalu." Bara menghentikan aktifitasnya untuk mengonfirmasi apa yang ia baru saja dengar dari mulut Sena, "Lo ikut UKM apaan? Tumben banget lo rajin ikut kegiatan." Sena mendesis. "Kan gue udah bilang kalo gue salah jurusan makanya ikutan SasBud." Bara mendelik tidak percaya dan meyakini jika Sena pasti mengalami suatu hal hingga membuat dirinya 'aneh' di mata Bara. "Lo pasti ada sesuatu, kan?" tebak Bara berusaha mengorek informasi. Tatapannya menyeringai secara sengaja untuk menyudutkan Sena. Tak tahan dengan tatapan Bara, refleks Sena menjauhkan wajah Bara dengan tangannya. "Geli ih, Bar. Gue cuma ikut SasBud karena merasa salah jurusan. Kenapa gue merasa salah jurusan? Jawabannya adalah karena harusnya gue masuk Sastra Indonesia karena di sana ada cewe yang gue suka." "Udah gue duga lo aneh pasti karena suatu hal. Masa suka sama cewe langsung bilang salah jurusan. Tapi gue merasa lo lebih salah jurusan kalo milih sastra. Anak TKJ masuk sastra, aneh-aneh aja lo." Sena menghela napas kemudian langsung menepis omongan Bara yang terasa nyelekit di hatinya. "Gue udah lama banget suka sama dia Bar. Dari pas masih SMP. Kita satu sekolah waktu itu terus pas udah lulus pisah dan kebetulan ketemu lagi pas kuliah. Gak nyangka gue ketemu dia lagi padahal waktu itu sempet sedih." "Sedih karena gak satu sekolah?" Sena mengangguk. "Iya, gue sedih karena dia nyari SMA sementara gue nyari SMK. Huft, sedih abang. Kenapa dia gak nyari SMK ya," ucap Sena bertanya-tanya. "Terus nama cewe yang lo suka siapa?" ucap Bara penasaran. Namun, respon Sena justru terlihat tak suka. "Lo gak boleh tau, nanti lo liat sendiri di i********: gue. Pasti suatu saat gue post kalo udah jadian. Oke?" "Ya udah lah terserah lo aja. Gue doain semoga lo bisa dapetin cewe itu terus lo hidup bahagia sama dia. Gue gak akan nanya lagi itu cewe siapa, ntar juga lo keceplosan," timpal Bara. "Pokoknya ya Bar itu cewe lemah lembut, tinggi, pinter, pake kacamata juga terus aktif organisasi. Idaman banget kalo di cerita-cerita novel." "Kalo novel thriller atau bunuh-bunuhan juga termasuk?" Sena mendengus, gerah dengan pertanyaan Bara yang membuatnya kesal sedari tadi. "Yakali, novel cinta-cintaan maksud gue. Intinya tuh gue suka dia dari lama banget dan kabarnya sih dia lagi gak punya pacar. Seneng gue dengernya," ujar Sena berseri-seri. "Cukur dulu tuh rambut, gondrong banget sih. Gimana bisa sukses deketin cewe. Atau setidaknya kalo gak mau dicukur, lo rapihin kek berantakan banget. Lo jarang sisiran, ya? Atau jangan-jangan lo jarang keramas?" tuduh Bara. "Nuduh banget lo. Rambut gue emang gak rapi, nanti gue potong kalo udah selesai ujian. Lagian ya, Bar, cewe atau cowo kalo udah suka, itu gak bakalan mandang fisik. Percaya deh lo sama gue." "Kata-kata siapa tuh? Gue gak percaya. Kecuali ya Sen, kecuali...," Bara menekankan intonasinya di akhir ucapan. "Kecuali apa, Bar?" tanya Sena gemas. "Ya gitu deh pokoknya, masa gak ngerti sih. Harus banget gue blak-blakan" "Oh, gue ngerti maksud lo. Maksud lo itu kan, Bar?" tanyanya sambil menaik-menaikkan kedua alis. Bara mengangguk lalu menatap ke Sena, "Gue sih realistis aja kalo tampang gak mendukung setidaknya dompet harus mendukung. Balance," sambungnya. "Tapi pasti ada Bar dari seribu cewe yang ada di angkatan kita, pasti ada yang mau nerima apa adanya. Lo jangan keburu pesimis dong!" "Bukannya gue pesimis tapi gue ngeliat fakta yang ada. Lo kan ganteng Sen, jadi wajar lo pede. Beda sama gue yang gak ganteng," sahut Bara pesimis. "Ganteng sih emang gue, makasi ya Bar udah muji. Jadi makin yakin mau deketin dia," ungkap Sena penuh kesenangan. "Eh, tapi, Bar, lo jangan gak pedean kayak gitu dong. Jangan merasa diri lo gak pantes karena pastinya tiap orang punya kelemahan dan kelebihannya." "Masalahnya gue gak tau kelebihan gue apa, Sen." "Hm..., batu lo emang ya. Gini, belum tentu mata lo sama kayak mata orang lain. Penilaian orang beda-beda dalam menilai fisik karena itu gak ada ukuran pastinya. Belum tentu Adam Levine ganteng di mata gue, tapi bisa aja kan dia ganteng di mata lo. Gitu contohnya, Bar!" "Lo ngasi contoh gak tepat. Kayaknya hampir semua orang nilai Adam Levine ganteng." "Hampir kan, Bar? Bukan semua? Makanya lo jangan pesimis mulu. Ayo dong pede kayak gue," pinta Sena berusaha memotivasi Bara dengan kata-kata bijaknya. Bara hanya tersenyum dan memilih untuk tidak melanjutkan topik pembicaraan itu. Sejatinya, Bara sedikit terganggu dengan berbagai kata yang diutarakan oleh Sena. Terganggu karena pandangannya mulai digoyahkan oleh berbagai asumsi yang muncul di benaknya. Sejak dulu, Bara meyakini jika fisik adalah segalanya. Apabila fisik tidak mendukung atau tidak sesuai dengan standar yang ada, maka setidaknya isi dompet harus mendukung untuk menyelaraskan segala keinginan. Bara masih meragukan istilah 'menyukai dan mencintai apa adanya'. Untuk saat ini ia hanya mengetahui dua hal yang umum terjadi. Pertama, pria tampan berpasangan dengan wanita cantik, begitu pula sebaliknya. Kedua, jika salah satunya tidak sesuai dengan standar, artinya ada hal yang mendukung, yaitu isi dompet atau keunggulan fisik lainnya yang menonjol. Segala hal terkait asmara sebagian besar hanya berputar pada dua hal tersebut, pikir Bara. Ia masih belum percaya jika ada seorang wanita yang nantinya bersedia untuk dijadikan pacar oleh Bara. Entahlah. Bara malas mengurusi hal semacam itu, ia merasa masih memiliki tanggung jawab lain setidaknya untuk saat ini. Oleh sebabnya, Bara memilih untuk pergi lebih dahulu sebelum berniat mengejar. Atau sebelum benar-benar mencoba untuk mengejar, pasti membutuhkan waktu lebih baginya untuk membuktikan kepada diri sendiri. Apakah seseorang tersebut mampu ia kejar dan pantas dikejar olehnya? Itulah yang Bara pikirkan matang-matang sejak lama. "Sen dicariin tuh," panggil Evan dengan wajah tertekuk. "Lo sakit telinga deh kayaknya, gue panggil-panggil dari tadi." "Ya sorry abang ganteng, jangan galak-galak dong gue tadi lagi ngobrol sama Bara. Siapa nih yang nyariin gue?" Sena celingak-celinguk, sementara Evan tak langsung menjawab pertanyaannya. "Van, siapa?" tanya Sena lagi. "Itu anak SasBud, cewe yang waktu itu pernah lo omongin," sahut Evan berusaha mengingat namanya. "Mending langsung aja deh lo samperin, udah nunggu lumayan lama dia gara-gara kebudekan lo!" Bara yang sejak tadi hanya diam, sesungguhnya sedang menyimak percakapan antara kedua temannya. Saat Evan mengucap kata 'SasBud', Bara berpikir jika yang dimaksud bisa jadi adalah orang yang disukai oleh Sena. Bara pun diam-diam mengikuti dan mengintip siapa orang yang mencari Sena. Ia berjalan santai tapi berusaha melangkah panjang. Dari jarak sepuluh meter, Bara berhenti dan mulai mengamati Sena. Di sana ia berdiri dan tampak berbicara sambil sesekali tertawa dengan seorang perempuan. Tak jelas siapa perempuan itu karena posisinya membelakangi Bara. Namun, secara mendadak perempuan itu menoleh ke belakang dan Bara teringat dengan seseorang yang sebulan lalu ia temui. Merasa tak yakin, Bara memilih untuk tetap tinggal sampai akhirnya Sena mengucapkan beberapa patah kata. "Makasi ya Saman. Dah, sana lo pulang. Awes kesandung!" ucap Sena sambil tertawa. Begitu jelas suara Sena di telinganya. "Samantha?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN